Aaron mengepalkan tangan mendengar isak tangis Kate dari balik pintu. Ia sadar sudah menyakiti Kate dengan ucapannya tapi sentuhan tadi memang semata ditujukan untuk Kate bukan mencari bayang Lisa hanya karena mereka adik kakak atau sebagai istri pengganti. Tapi yang bisa Aaron lakukan sekarang hanya memberi privasi untuk Kate dan meninggalkannya sendiri.
❤❤❤
Kate terjaga di pagi hari dengan mata sembab dan kedinginan. Harusnya ia berada dipelukan Aaron yang sudah resmi menjadi suaminya seperti yang dirasakan pasangan suami istri umumnya. Tapi sayangnya hubungan mereka tak seperti yang lainnya bahkan mereka tak merasakan indahnya bulan madu dan terpaksa menjalani hari-hari tanpa warna warni cinta seperti foto monokrom, terlihat membosankan.
"Aku lapar.." Kate bergumam dan menelan air liur setelah mencium aroma roti panggang dari arah pantry.
Kate bangkit hanya mengenakan celana pendek dan tanktop putih tanpa bra. Ia tak dapat menahan lapar lagi karena kebiasaannya saat pagi hari di Bali adalah sarapan nasi goreng dan sesekali menyantap bubur ayam atau sandwich.
Ia membuka pintu dan mendapati Aaron sedang menyiapkan sarapan. Dua gelas s**u, roti panggang dan beberapa lapis sandwich sudah siap santap di atas meja.
"Kau sudah bangun?" Sapa Aaron tersenyum menatap Kate dan terkejut melihat matanya sembab dan bengkak. "Aku ingin mengajakmu sarapan bersama," ujarnya lagi, tak ingin mengatakan apa yang ia lihat tentang kedua mata Kate karena tak ingin menyinggungnya seperti tadi malam.
Kate menelan air liur melihat beberapa sandwich yang berhasil membuat perutnya keroncongan lagi. "Aku cuci muka dulu." Balas Kate lalu melangkah menuju kamar mandi.
"Hah!" Kate terkejut melihat kedua matanya sembab dan sedikit bengkak akibat menangis tadi malam. "Aku jelek sekali," gumamnya lalu membasuh wajah dan menggosok gigi. Setelah selesai, ia berjalan menuju meja makan yang berukuran persegi dan Aaron duduk dikursi menghadap arah balkon. Tepat dihadapannya. "Thanks," ucap Kate, Aaron sudah menyiapkan sarapan untuknya dan tahu benar jika perutnya kelaparan.
Kate meneguk pelan s**u lalu mengambil sandwich dan memakannya.
"Kau ingin kita kemana?" Tanya Aaron sambil mengunyah roti panggang dan menatap Kate yang fokus pada sandwichnya.
Kate menatap dan terheran. "Maksudmu?"
"Bulan madu. Selagi aku masih cuti, kau ingin kita pergi kemana?" Aaron memperjelas ajakannya walau tak berharap banyak.
Kate setengah tertawa lalu menghabiskan sandwich. "Apa itu penting?" Tanya Kate tanpa menatap Aaron.
Aaron mengangguk. "Jika kau mau kita pergi ke Maldives atau.. Bali?" Tawar Aaron yang seketika Kate menoleh dan memandangnya setelah mendengar kata Bali.
Kate menggeleng sementara tangannya meraih roti panggang. "Aku belum terpikir kesana. Aku ingin menyiapkan surat lamaran dan melamar kerja di sebuah agent travel. Apa kau keberatan?"
Kali ini Aaron menggeleng. "Tidak. Lakukan apa yang kau suka. Tapi jika kau berubah pikiran aku akan segera memesan tiket dan kita segera berangkat secepatnya." Balasnya lalu meneguk habis s**u.
Aaron bangkit lalu menuju kamar dan tak lama keluar mendekati Kate. Ia menyodori sebuah kartu kredit. "Ini untukmu. Pakailah untuk kebutuhanmu. Kau membutuhkan biaya dan ongkos untuk mencari pekerjaan."
Kate terdiam, mendongak dan memandang Aaron lalu melirik tangannya yang terjulur memegang kartu. "Kau tak perlu repot-repot, Aaron. Aku masih punya tabungan dan itu cukup untuk kebutuhanku," tolaknya lalu meneguk s**u.
Aaron mengeraskan kedua rahang. Tangannya meraih telapak tangan Kate lalu menaruh kartu itu di tangan Kate. "Terimalah. Bagaimanapun juga kau tanggung jawabku." Ia sedikit memaksa dan menatapnya serius.
Kate menghela nafas pasrah walau sebenarnya tak ingin mengandalkan Aaron. Bagaimanapun juga mereka tidak saling mencintai walau ciuman dan sentuhan itu sudah terjadi.
Hangat dan penuh hasrat.
Kate bangkit. "Baiklah aku terima. Thanks sudah memikirkanku." Ujarnya memandang lekat Aaron yang tak lama tersenyum dan mendekat.
Aaron menarik pinggang Kate dan tubuh mereka hanya berjarak setengah jengkal. Ia menelan air liur melihat bibir Kate yang seketika darahnya berdesir kencang ketika d**a bidangnya terbentur dengan d**a Kate yang empuk dan hangat tanpa bra.
Nafas Kate menjadi cepat. Lagi-lagi hasratnya bangkit melihat kedua mata Aaron yang memerah dan laju nafasnya menjadi cepat. Tubuh Aaron yang hangat dan hembusan nafas yang menerpa wajahnya membuat Kate tersihir dan menurut.
Aaron mendekatkan wajahnya pada Kate dan hidung mereka beradu. Tangannya meraih wajah Kate lalu memiringkan wajah dan mengulum lembut bibirnya.
Lagi-lagi Kate seperti orang bodoh yang terdiam menikmati kuluman bibir Aaron yang mendarat hangat dibibirnya.
Seperti magnet.
Ciuman Aaron membuatnya terlena lagi, lagi dan lagi.
Kate membalas seperti tadi malam. Kali ini ia tak ingin memikirkan Lisa atau statusnya sebagai istri pengganti karena Aaron sudah memikat hatinya dengan kebaikan, ketulusan meskipun tak ada lagi ruang di hatinya.
Ia menepis semua dan ingin bertindak egois kali ini. Biarlah hari ini Lisa melihat dan mencap dirinya sudah merebut Aaron karena yang memulai semua bukan dirinya tapi Aaron.
Tangan Aaron perlahan masuk kedalam tanktop Kate lalu berbisik, "Aku menginginkanmu, Kate." Ia mengusap lembut kulit punggung Kate.
Kate menelan air liur mendengar kalimat Aaron. Ia ragu tapi penasaran. Sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan hingga usianya kini yang sudah menginjak 27 tahun.
Cinta dan s*x.
Kate mengangguk pelan lalu memandang bola mata Aaron. "Mata ini..dimana aku pernah melihatnya?" Bisik batinnya yang lagi-lagi merasakan Dejavu. Bola mata Aaron yang tak asing, tapi kedua mata itu terpejam sekarang dan sekali lagi bibir Kate terasa hangat.
Kate melingkarkan kedua lengan di leher Aaron dan membalas ciumannya lagi. Tubuhnya terangkat setelah kedua tangan Aaron mengangkat pantatnya dan Kate melingkarkan kaki di pinggulnya. Sementara bibir mereka bersatu dan saling mengulum.
Aaron membawa Kate kedalam kamar. Menjatuhkannya di ranjang, menindih dan mencumbu.
Kate mengerang ketika bibir Aaron sudah berada di leher dan meninggalkan bekas merah disana. Kedua tangan Aaron mengangkat tanktop Kate dan mengeluarkannya dari tubuh Kate lalu bangkit membuka kaos dan training.
Aaron memandang Kate penuh hasrat dan tangannya kembali mengeluarkan celana pendek Kate lalu merangkak dan berada di atas tubuhnya.
"Kau tak apa-apa kita melakukannya?" Bisik Aaron memandang Kate yang tak lama mengangguk pelan.
Hawa dingin London yang kembali di guyur hujan di pagi ini membuat Kate menginginkan dekapan Aaron tapi kali ini lebih dari dekapan yang akan ia rasakan. Sebuah sentuhan yang sejak lama membuatnya penasaran. Sentuhan Aaron yang tak pernah bisa ia tolak.
Aaron mengusap rambutnya. "Aku akan melakukan pelan-pelan, Kate. Bersiaplah." Ia memberi aba-aba sementara Kate melebarkan kedua pahanya.
"Hah!" Kate tersentak kaget merasakan sesuatu hangat memasukinya. Ada rasa sakit dan geli ketika merasakan hentakan demi hentakan hingga membuatnya kedua tangannya meremas seprai dan tubuhnya setengah bangkit lalu terjatuh lagi.
"Apa aku harus menghentikannya?" Bisik Aaron.
Kate menggeleng. "Tidak perlu. Lakukan saja pelan-pelan," pintanya dengan suara pelan sambil menatap wajah Aaron yang tersenyum lalu mencium bibirnya lagi.
❤❤❤
Aaron mencium kening Kate ketika wanita itu tertidur. Ia menarik ke atas selimut untuk menutupi tubuh Kate yang naked.
Merasakan tubuhnya hangat, Kate membuka mata dan melihat Aaron berdiri di dekat ranjang lalu tersenyum. Pria itu sudah rapih mengenakan jaket kulit melapisi kemeja hitamnya dan dipadukan dengan celana jeans. "Kau mau kemana?" tanyanya terheran melihat penampilan Aaron yang seperti akan pergi menuju sebuah tempat.
"Mengunjungi seseorang," jawabnya. "Kau tak apa-apa kutinggal sendiri kan?"
Kate bangkit lalu duduk sambil bersandar di kepala ranjang dengan kedua tangan menarik selimut menutupi tubuh hingga batas d**a. "Ya. Pergilah." Ia mengangguk dan tersenyum. "Aku juga akan pergi ke rumah Mama untuk mengambil bajuku dan makan siang disana."
"Perlu ku jemput?" Tawar Aaron.
Kate menggeleng tak setuju dan tak ingin merepotkan. "Tidak, terima kasih."
Aaron mengangguk pelan dan paham. "Baiklah. Aku pergi dulu."
"Hati-hati." Balas Kate, melambaikan tangan.
Aaron beranjak keluar kamar dan tak lama berbalik lalu mendekati Kate dan mencium bibirnya lagi.
"Bye.." pamit Aaron setelah menghentikan ciumannya.
Kate mengangguk. "Bye.."
Aaron beranjak lagi dan kali ini ia meninggalkan apartemen dan menuju basement untuk menaiki mobil menuju sebuah tempat.
❤❤❤
Aaron mengendarai mobil dengan kecepatan sedang dan sesekali melirik buket mawar putih yang berada di jok sampingnya. Hatinya bahagia dan tak terasa ia bersenandung sambil mengendarai mobil untuk mengunjungi seseorang.
Bahagia Aaron tak terkira mengenang apa yang baru saja terjadi dengan dirinya bersama Kate. Dan ia tak sabar untuk menceritakan bahagia itu dengan seseorang, bahkan beberapa kalimat sudah ia rangkai ketika mereka akan bertemu sebentar lagi.
Di sebuah tempat.
Setelah setengah jam mengendarai mobil, Aaron memarkirkan mobil di pelataran parkir lalu turun sambil menggenggam buket mawar putih.
Ia melangkah tergesa-gesa menyusuri beberapa barisan batu nisan dan langkahnya terhenti pada sebuah batu nisan yang bertuliskan 'Rest in peace Lisa Jhonson'.
Aaron menaruh buket di atasnya lalu tersenyum. "Aku datang, Lisa. Aku sudah memenuhi janjiku untuk mengunjungimu setiap minggu." Ia menyapa dan bicara didepan batu nisan Lisa. "Ada sesuatu yang ingin kuceritakan tentang adikmu. Kate. Kuharap kau mendengarkan aku, Lis."
❤❤❤
"Aku membelikanmu tiramisu cake kesukaanmu, Mom." Ucap Kate mengangkat sekotak cake setelah tiba di rumah Nancy.
"Terima kasih, Sayang." Wanita paruh baya itu mencium kedua pipi dan keningnya lalu terdiam melihat tanda merah yang melekat di ceruk leher Kate.
Nancy menerima lalu menaruh di atas kitchen set. "Apa Aaron baik padamu?" Ia menoleh menatap Kate yang duduk di kursi meja makan.
"Ya. Dia baik, bahkan memberiku kartu kreditnya untuk memenuhi semua kebutuhanku, Mom." Kate tersenyum membayangkan wajah Aaron yang seketika wajahnya memerah.
"Aku sudah bilang padamu, Kate. Aaron itu baik dan bertanggung jawab lagipula dia.."
"Dia kenapa, Mom?" Kate penasaran.
Nancy terdiam sebentar lalu menggeleng. "Di--dia setia, Kate," jawabnya terbata-bata. "Kau mau aku buatkan jus jeruk?" Tawar Nancy, mengalihkan pembicaraan lalu membuka rak untuk mengeluarkan juicer.
"Aku tak pernah menolak buatanmu, Mom. Tapi aku harus ke kamar menemui, Dad. Dia pasti tak sabar menungguku."
"Pergilah, Kate. Temui ayahmu, karena hanya kau yang kami miliki sekarang."
Kate terdiam mendengar ucapan Nancy. Dia baru menyadari apa yang Nancy katakan memang benar. Kini dirinya sendiri, tak memiliki kakak dan Lisa sudah meninggalkan mereka disaat menanti hari bahagianya bersama Aaron.
Kate mengusap air mata di sudut matanya lalu beranjak meninggalkan Nancy yang terdiam menahan tangis. Ia melangkah menuju kamar disamping ruang tengah tempat ayahnya berada.
'Tok tok tok tok'
Kate membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. "Hai, Dad. Boleh aku masuk?" sapa Kate tersenyum walau hatinya sedih melihat tubuh Steve terlihat kurus dan lemah tidak seperti dulu, sebelum Lisa tiada.
Steve mencoba bangkit dan duduk sambil bersandar di kepala ranjang. "Masuklah, Kate. Aku merindukanmu," ucapnya lemah.
Kate mendekat lalu mencium kening Steve dan duduk di sebuah single chair disampingnya. "Bagaimana keadaanmu, Dad? Aku tak sabar membawamu travelling ke India, melihat Taj Mahal." Ia menggenggam erat tangan Steve yang pucat dan dingin.
Steve menghela nafas pelan. "Seperti inilah keadaanku, Kate. Tuhan sedang menghukumku sekarang." Pandangan Steve nanar menatap Kate yang tak lama menggeleng.
"Tidak, Dad. Kematian Lisa bukan kesalahanmu tapi sudah takdir." Tolak Kate. "Tuhan memberimu sakit agar kau beristirahat sebagai jurnalis. Agar kau bisa menghabiskan waktu dengan Mom dan aku. Dan Lisa.." Kate tak bisa menahan tangisnya lagi. "Dia sudah tenang disana." Air matanya menetes dan memandang Steve yang mengusap pipinya yang basah.
"Aku yang salah, Kate. Seandainya aku melerai mereka pasti--"
"Melerai? Maksud Dad, Lisa kecelakaan karena bertengkar dengan Aaron?! Apa itu benar?" Kate menebak dan terkejut tentang penyebab kecelakaan Lisa.
"Tidak. Itu tidak benar!" Celetuk Nancy yang mendadak masuk ke kamar dan sempat menggeleng ke arah Steve. "Seperti yang sudah aku ceritakan padamu jika Lisa kecelakaan karena bertabrakan dengan perampok yang sedang melarikan diri. Bukan karena yang lainnya." Terang Nancy berjalan mendekati mereka lalu berdiri disamping Kate. "Minumlah jus mu, Kate. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan ayahmu,"
Kate bangkit walau di wajahnya menyimpan sejuta pertanyaan. Tapi jika Nancy sudah memintanya sebuah privasi, Kate tak bisa menolak dan harus menurut.
Kate keluar kamar meninggalkan mereka. Ia sengaja tak menutup rapat pintu karena tatapan Nancy pada Steve menyembunyikan sesuatu yang tak boleh ia ketahui.
"Sebaiknya kau tak perlu menceritakan itu, Honey. Bagaimanapun juga Kate tak perlu tahu tentang pertengkaran itu." Ucap Nancy pelan setelah memastikan Kate tak ada didekat mereka. Tapi Nancy salah, Kate berdiri diluar tepat disamping pintu dan mendengar jelas suaranya.
Kate mengepalkan tangan. Saat ini pikirannya hanya satu.
Bertemu Aaron.