Bukan Untukku

1754 Words
 Kate menyeruput espresso sambil memandangi hujan dari balik jendela kafe. Ia bertopang dagu dan sesekali memakan sepotong red velvet sebagai pengganti makan malamnya hari ini.  Suasana kafe yang ramai tak mengubah suasana hati Kate dari kekesalannya terhadap Aaron dan Suzy. Berkali-kali ia mengutuk dirinya telah menerima wasiat Lisa dan meninggalkan Bali, tempat ternyaman dan merasakan hidup tanpa beban.  Ingin rasanya ia pergi secepat mungkin meninggalkan London dan kembali ke Bali, tapi mengingat Ayahnya sering sakit-sakitan semenjak Lisa tiada, lagi-lagi Kate berkorban demi orang yang ia cintai. "Boleh aku duduk disini?" Tanya seorang pria memakai topi kupluk, kaos merah dilapisi jaket hitam yang senada dengan celana jeans rippednya. "Aku melihat hanya kursi ini yang kosong." Ujarnya lagi membuyarkan lamunan Kate yang seketika memandangnya dengan tatapan datar. "Ya. Silahkan." Kate menjawab singkat dan bersikap dingin walau pria yang duduk didepannya seorang pria tampan dengan bola mata berwarna biru, dan wajahnya di tumbuhi bulu-bulu halus tepat pada bagian kumis dan janggut. Kate kembali melanjutkan lamunannya dan memandang jalanan yang di basahi hujan. Sementara pria didepannya memesan secangkir kopi latte setelah seorang waiters wanita berambut pirang berhenti lalu mencatat pesanan. Kate tertegun melihat handphone di atas meja bergetar dan sebuah simbol pesan muncul di layar itu. Ia membuka dan terkejut melihat pengirim pesan itu adalah Aaron.  Aaron : Kau dimana? Kate menghela nafas kesal. "Untuk apa dia menanyakan keberadaanku sekarang? Memangnya mau menjemputku?!" Batinnya, sambil mengetik. Kate : Coffee shop Tak lama Aaron membalas.  Aaron : Coffee shop mana? Mau ku jemput? Kate setengah tertawa membaca balasan Aaron. Menjemputku? Bukankah kau membutuhkan privasi sekarang, Aaron?! Kate : No, Thanks. Aku bisa pulang sendiri.  Kate membalas pesan sambil mencibir. Aaron : Oh. Okey. Hati-hati dalam perjalanan pulang. Kate menggeleng lalu mengangkat sebelah bibirnya. Kate : Okey. Kate membalas singkat dan mengakhiri pesan. Ia tak menyangka Aaron mengkhawatirkannya sekarang. Walau pria itu mulai memberi perhatian, Kate menganggap Aaron hanya khawatir pada adik dari mantan tunangannya bukan pada istri. Ia sudah terlanjur kesal dengan Aaron yang menjaga dan membuat jarak di antara mereka. Seakan pernikahan mereka hanyalah permainan belaka atau sandiwara yang semata-mata menjalani wasiat Lisa saja. Tapi Kate sadar diri, sampai kapanpun Aaron takkan bisa mencintai wanita selain Lisa. Dan ia merasa hanya wanita yang tak berati apa-apa di matanya. Kate menaruh handphone dalam saku jaket lalu meneguk habis kopinya yang perlahan menjadi dingin.  Pria didepannya melirik disela-sela ia memainkan handphone. Bukan Kate tak mengetahui, ia hanya bersikap acuh karena suasana hatinya tidak sedang ingin berbicara banyak dengan seseorang. Tidak seperti saat menjalankan pekerjaannya sebagai guide saat di Bali. Sepuluh menit kemudian, hujan sedikit reda tapi Kate tak ingin pulang cepat malam ini. Ia membutuhkan sebuah tempat yang tenang dan jauh dari keramaian. Dan pikirannya tertuju pada satu tempat yang akan membuatnya nyaman sekarang. Kate bangkit lalu beranjak dari sana dan menjadi perhatian pria yang duduk didepan yang sejak tadi memperhatikannya. Pria itu mengikuti gerak Kate yang keluar dari kafe lalu berlari kecil menuju trotoar. Setelah bayangan Kate menghilang melalui jendela kafe, ia kembali menyeruput kopi dan terkejut melihat gantungan kunci bertuliskan 'Bali' tergeletak di atas meja. Ia bangkit setelah meraih gantungan kunci itu lalu berlari keluar kafe bermaksud mengejar Kate menuju halte bus terdekat, tapi sayangnya ia kehilangan jejak  dan mengira bus yang baru saja berjalan adalah bus yang membawa Kate menuju sebuah tempat. Pria itu menghentikan taksi lalu menaiki. "Tolong ikuti bus itu," titahnya pada supir. "Anda yakin, Pak?" Tanya si supir sambil melajukan mobil mengikuti bis yang jaraknya hanya 10 meter. Pria itu mengangguk. "Ya. Kenapa memangnya?" Ia jadi penasaran. Supir melirik kebelakang dan menatapnya sebentar. "Bis itu menuju Hanbury street. Anda pasti tahu jika disana terdapat sebuah tempat yang ternama," Balasnya. Pria tampan itu mengeryitkan dahi. "Apa itu?" Supir meliriknya lagi dan tersenyum lalu menjawab pertanyaannya yang seketika mengembangkan senyum. ❤❤❤ Pandangan Kate menyusuri tiap buku pada rak yang bertuliskan 'Love'. Ia mengambil salah satu novel romantis dan membaca blurb di buku itu. "Sepertinya bagus." Gumamnya lalu berjalan menuju kursi dan mulai membaca. Tak lama, sebuah taksi berhenti tepat di sebuah toko buku ternama di London. Libreria adalah salah satu toko buku ternama di Handbury street yang menerapkan 'zona detok digital' atau melarang pengunjung memakai handphone dan tablet didalamnya. Pria tampan bermata biru tadi turun dari taksi lalu memasuki Libreria. Saat didalam ia mematikan handphone, sesuai peraturan toko buku itu. Ia berjalan menyusuri tiap rak dan mencermati tiap pengunjung yang ada disana. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat tiba di rak 'Love' dan melihat wanita cantik duduk sambil membaca novel bergenre romantis. Ia berjalan mendekati Kate sambil tersenyum. "Ini milikmu bukan?" Bisiknya pelan sambil mengeser kursi dan duduk di hadapan Kate lalu menyodori gantungan kunci di atas meja. Kate memandangnya lalu melirik gantungan kunci itu. "Ambil saja jika kau suka," balasnya dengan tatapan datar seperti tadi. "Aku sudah tak memerlukannya lagi." Ia melanjutkan membaca novel dan mengacuhkan pria itu. "Kenapa?" Tanya pria itu. "Apa Bali menyimpan memori yang ingin kau lupakan?" Kate menutup novel kasar sambil menghela nafas lalu memandangnya. "Itu bukan urusanmu karena kau bukan temanku," jawabnya ketus tapi pria itu tersenyum lalu bangkit dan mengulurkan tangan. "Perkenalkan, aku Kendrick Benson," ucapnya menanti Kate membalas. Kate melihat tangan Kendrick yang terjulur lalu menatap lekat pemilik bola mata berwarna biru itu tanpa senyum. Ia bangkit dan menggenggam erat novel. "Kate Jhonson." Balasnya tanpa membalas uluran Kendrick. Kate melangkahkan kakinya menuju kasir, sementara Kendrick tersenyum sambil menggaruk kepalanya dan bergumam, "Dingin sekali. Apa aku sudah salah bicara?" Ia memasukkan gantungan kunci itu kedalam saku celana lalu mencoba mengingat ucapannya tadi dan mengikuti Kate dari belakang. "Apa kau akan terus mengikutiku?" Kate membalikkan tubuh, membuat Kendrick berhenti melangkah dan terkejut lalu menggeleng. "Tidak. Aku--" Kendrick menunjuk buku bergenre olahraga raga. "Ingin melihat buku itu." Membela diri dari tuduhan Kate lalu bergegas menuju rak buku olahraga. Kate terdiam memandang Kendrick lalu ke kasir membayar novel dan beranjak dari Libreria. Sekali lagi Kendrick memperhatikan Kate yang keluar dari toko lalu berjalan menuju halte bus.  Kendrick berjalan mengikuti Kate yang berada 10 meter didepannya dan sebisa mungkin tak terlalu dekat. Entah mengapa Kate membuat Kendrick tertarik dan penasaran, walau wanita itu bersikap dingin, acuh dan ketus.  Yang bisa Kendrick lakukan saat ini hanya melihat dan membuntuti Kate seperti penguntit, meski tak ada niat jahat sama sekali hanya ingin mengenal lebih dekat. Sebagai teman. Walau hari sudah memasuki jam 10 malam dan udara dingin menyelimuti kota London, tidak menyurutkan kota itu sepi. Semakin malam London semakin ramai tapi Kate tetap merasa kesepian. Ia merasakan sedang berada di sebuah tempat antah berantah seorang diri, tanpa kekasih dan teman. Walau London tempat kelahirannya, tapi jiwanya seakan berada di Bali. Dan ia sungguh-sungguh merindukan Bali. Udara yang dingin membuat Kate merapatkan jaketnya dan menanti bis yang tak lama tiba. Ia menaiki lalu duduk dan termenung memandang perjalanan melalui jendela samping.  Tak ada lagi tujuan Kate untuk menghabiskan malam ini kecuali pulang. Menuju apartemen Aaron. ❤❤❤ Kate turun dari bis lalu mendongak ke atas melihat gedung apartemen dan pandangannya terhenti pada lantai 23, tempat Aaron berada. Ia berjalan menuju loby tapi langkahnya terhenti ketika seseorang mendekat dan menyapa. "Kau sudah pulang?" Kate menoleh melihat Aaron berjalan mendekat sambil tersenyum. "Sedang apa kau disini?" Tanya Kate yang terheran melihat Aaron berada di luar gedung sementara udara malam semakin dingin sekarang. "Menunggumu. Aku takut kau tersesat dan lupa jalan pulang." Gurau Aaron tertawa kecil melihat Kate yang hanya terdiam. Itu lebih baik, Aaron. Dibandingkan aku kembali lagi padamu, Pikir Kate. "Itu akan terjadi jika aku amnesia, Aaron," sahut Kate ketus sambil melangkah masuk kedalam gedung. Aaron menarik tangan Kate yang spontan menoleh kebelakang. "Kau marah padaku?" tanyanya. "Apa karena ucapanku tadi kau marah padaku?" Kate memandang lekat Aaron. Melihat bola matanya yang seakan tak asing, seperti pernah bertemu di sebuah tempat yang ia tak ingat. Entah di London atau Bali. "Tidak." Kate menggeleng. "Aku pun membutuhkan privasi. Sama sepertimu." Genggaman Aaron merengangg mendengar jawaban Kate. "Maaf. Maafkan aku, Kate. Aku hanya tak terbiasa tinggal bersama seseorang di apartemen. Maaf jika ucapanku menyinggungmu." Aaron memohon dan tebakannya tepat. Kate memang kesal karena ucapannya yang spontanitas. Tak ada jawaban dari Kate, hanya tatapan matanya yang bicara, Aku kecewa padamu, Aaron. Kate kembali melangkah menyusuri loby dan menuju lift, sementara Aaron mengiringi langkahnya lalu memasuki lift.  "Kau sudah makan?"  "Hanya sepotong red velvet." Kate menjawab, menatap pintu lift yang tertutup. Hanya berisi mereka berdua. "Aku akan memasakkan mu steak lagi. Kau mau?" Tawar Aaron. Kate menggeleng. "Aku tak semangat untuk makan sekarang. Hari sudah terlalu malam. Aku hanya ingin istirahat." Ia menolak walaupun perutnya terasa kosong tapi tak ada hasrat untuk mengisi dengan makanan. Aaron menghela nafas dan terdiam hingga saat pintu lift terbuka mereka berjalan menuju apartemen. Aaron memberitahu Kate kunci kombinasi apartemen jika sewaktu-waktu Aaron tak ada di rumah. Mereka memasuki apartemen dan Kate langsung bergegas menuju kamar. Aaron menghentikan langkah Kate dan menarik tangannya. "Tunggu, Kate," pinta Aaron. Saking terlalu kuat tarikan tangannya membuat Kate membentur d**a Aaron dan meringis. Kate mendongak menatapnya. "Ada apa?" Ia merasakan tangan Aaron menarik pinggang lalu meraih wajahnya. Aaron tak menjawab hanya menatap Kate lalu mencium bibirnya pelan. Hangat..aku mencium aroma wine dari mulutnya, Kate berbisik dalam hati dan terlena merasakan lembutnya ciuman Aaron, lebih lembut dari ciuman James kekasih yang ia pacari 10 tahun yang lalu. Kate terlena dan tanpa terasa kedua tangannya sudah melingkar dileher Aaron dan membalas ciumannya penuh hasrat. Aaron memeluk Kate erat tanpa menghentikan ciuman mereka. Entah mengapa udara dingin malam ini berganti menjadi hangat terlebih lagi setelah Kate membalas ciumannya sama antusias dengan dirinya. Tangan Aaron membuka jaket Kate dan melemparnya ke lantai. Ia mendorong Kate menuju kamar sambil berciuman dan menjatuhkannya di atas ranjang. Kate mengerang ketika bibir Aaron mendarat di ceruk leher dan menciuminya dengan nafas tersengal-sengal. Sudah lama sekali ia tak merasakan cumbuan seperti ini karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, tapi ciuman dan cumbuan Aaron menyakinkan Kate jika ia kini tak sendiri. Statusnya bukanlah lajang tapi istri dari Aaron Williams. Pria yang menikahinya tanpa cinta. "Kate." Kate tersentak setelah samar-samar mendengar suara Lisa lalu menghentikan ciumannya. Aaron terkejut lalu memandangnya. "Ada apa?" Tanyanya terheran Kate menghentikan ciumannya.  Kate menggeleng. "Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Aku mengantuk," pintanya mendorong pelan Aaron lalu duduk di bibir ranjang. Aaron menghela nafas kecewa berdiri didepan Kate yang kembali seperti semula. Menatapnya dingin. Ia menggangguk lalu berkata, "Baiklah. Good night, Kate." Ia pamit lalu keluar meninggalkan Kate yang tak lama tertunduk lalu menangis. "Apa yang sudah kulakukan, Tuhan. Dia tunangan Lisa dan hatinya hanya untuk Lisa bukan untukku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD