TAMU TAK DIUNDANG

1488 Words
Gedoran di pintu ruang VIP itu memutus ketegangan antara Jace dan Noa. Jace segera menarik tangannya dari leher Noa, lalu merapikan jasnya dengan sempurna. Ia mengambil kunci kepala singa itu dari meja, menyembunyikannya di dalam saku, lalu menoleh ke arah Noa dengan tatapan yang bisa membekukan darah. “Simpan bualanmu tentang anak itu,” bisik Jace. “Kau mencuri kunci ini dari laci Ibu. Itu fakta yang akan membawamu ke jeruji besi, bukan ke gudang mana pun.” Noa hanya menarik napas panjang, membiarkan maskernya kembali menutupi luka bakarnya. Ia tidak membantah. Ia membiarkan Jace percaya bahwa dia hanyalah pencuri kecil yang terdesak. Jace membuka pintu. Sloan berdiri di sana dengan wajah yang basah oleh keringat. “Tuan, Eleanor... dia siuman. Dia menolak pemeriksaan lanjutan sebelum bicara dengan polisi. Kita harus ke sana sekarang sebelum media mencium ini,” ucap Sloan terburu-buru. “Aku yang akan ke sana,” sahut Jace. Ia menoleh ke belakang, ke arah Noa. “Sloan, bawa dia kembali ke kediaman. Kunci dia di paviliun bawah pengawasan ketat. Jangan biarkan dia bicara dengan siapa pun sampai aku kembali.” Sloan mengangguk, lalu memberikan isyarat pada dua pengawal untuk membawa Noa. Jace melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan aroma ketegangan yang masih tertinggal di ruangan itu. Dua jam kemudian, Noa sampai di kediaman St. John. Ia tidak dibawa ke paviliun seperti perintah Jace—Sloan tampaknya punya rencana lain. Noa justru diseret masuk lewat pintu belakang dan diminta menunggu di area staf sementara Sloan masuk ke dalam untuk menemui Rose. Di ruang tamu utama, suasana sangat berbeda. Sebuah mobil Porsche putih terparkir di depan teras. Seorang wanita dengan gaun Versace hitam dan kacamata hitam besar sedang duduk di sofa, menyilangkan kakinya yang jenjang. Namanya adalah Xaviera. Rose melangkah turun dari tangga dengan wajah yang masih pucat. Ia terkejut melihat sosok wanita itu di rumahnya. Xaviera adalah sahabat karib Rose, seorang kurator seni yang baru saja kembali dari Paris. Mereka telah berteman sejak sekolah asrama di Swiss—sebuah sejarah panjang yang tidak ada dalam arsip Rose yang sekarang. “Rose! Mon dieu, kau terlihat... berbeda,” Xaviera berdiri, membuka kacamata hitamnya dan menatap Rose dengan intensitas yang tidak nyaman. Rose memaksakan sebuah senyum. Ia mencoba mengingat-ingat siapa wanita ini dari foto-foto yang pernah ia pelajari, namun ia tidak yakin. “Kau sudah kembali? Kenapa tidak memberi tahu lebih dulu?” Xaviera mengerutkan kening. Ia melangkah maju dan mencoba memeluk Rose, sebuah ritual yang biasanya mereka lakukan dengan sangat akrab. Namun, Rose justru mundur selangkah, menolak kontak fisik tersebut dengan alasan yang kikuk. “Maaf, aku sedang tidak enak badan. Eleanor baru saja masuk rumah sakit,” ucap Rose dengan suara yang kaku. Xaviera menurunkan tangannya. Matanya memicing. “Sejak kapan kau menolak pelukanku? Dan suaramu... kau kena flu?” “Kecelakaan kecil merusak pita suaraku, Xaviera. Kau tahu itu,” Rose mencoba membela diri. “Aku tahu suaramu berubah, tapi caramu bicara... sangat formal. Di mana Rose yang biasanya memanggilku V? Di mana Rose yang selalu minta dibawakan macarons dari Ladurée?” Xaviera berjalan mengitari Rose, mengamatinya seolah-olah Rose adalah lukisan palsu yang sedang ia teliti keasliannya. Rose mulai merasa terpojok. Paranoianya kembali bangkit. “Aku sedang stres, V. Banyak hal terjadi. Jika kau datang hanya untuk mengomentari suaraku, sebaiknya kita bicara lain kali.” “Aku datang karena aku merindukanmu, Rose,” Xaviera meletakkan sebuah kotak kecil di meja. “Aku membawakan Eclair favoritmu. Yang isinya krim stroberi tanpa gula. Kau selalu bilang itu satu-satunya hal yang bisa membuatmu tetap waras.” Rose menatap kotak itu dengan bingung. Ia meraih satu, lalu menggigitnya. Xaviera terdiam, matanya tidak berkedip. “Enak?” “Sangat enak,” jawab Rose. Wajah Xaviera mendadak berubah dingin. “Rose St. John sangat benci stroberi. Dia alergi parah, sama seperti lobster. Dia hampir mati saat kita di Swiss karena tidak sengaja makan selai stroberi. Jadi... siapa kau sebenarnya?” Rose tersedak. Ia meletakkan kue itu dengan tangan yang bergetar hebat. “Aku... aku sudah melakukan terapi alergi. Dokter bilang sistem imun tubuhku berubah setelah pengobatan panjang.” “Bohong,” bisik Xaviera. Ia melangkah mendekat, auranya kini sangat mengancam. “Kau bisa merubah wajahmu, kau bisa merubah suaramu. Tapi kau tidak bisa merubah sejarah yang kita bagi, Rose. Kau bukan Rose yang dulu kukenal” Tepat saat ketegangan itu memuncak, Noa berjalan melewati koridor ruang tamu menuju area dapur, dikawal oleh seorang pelayan. Ia berjalan dengan kepala menunduk. Xaviera menoleh ke arah koridor. Ia melihat Noa. Ia melihat cara Noa memegang tali tas perawatnya—jari kelingkingnya menekuk dengan cara yang sangat khas, sebuah kebiasaan kecil yang hanya dimiliki oleh Rose saat merasa cemas atau tertekan. “Tunggu!” teriak Xaviera. Noa berhenti melangkah. Ia tidak berbalik, namun bahunya tampak menegang. Rose menatap Xaviera dengan tatapan penuh kebencian, namun ia juga takut jika Xaviera menyadari sesuatu. “Siapa dia?” tanya Xaviera, matanya kini tertuju sepenuhnya pada Noa. “Hanya staf baru. Dia perawat Eleanor. Dia cacat dan bermasalah. Jangan pedulikan dia,” Rose mencoba menarik perhatian Xaviera kembali. Xaviera tidak mendengarkan. Ia berjalan mendekati Noa. “Kau. Berbaliklah.” Xaviera melangkah satu kaki ke depan, matanya mengunci punggung Noa yang berdiri kaku di koridor. “Kau. Berbaliklah,” ulang Xaviera. Sebelum Noa sempat merespons, Rose bergerak cepat. Ia menyela di antara mereka, menghalangi pandangan Xaviera dengan tubuhnya. Napas Rose pendek-pendek, wajahnya yang cantik kini tampak sedikit terdistorsi oleh kepanikan yang ia tutupi dengan senyum paksa. “V, jangan ganggu dia,” ucap Rose, suaranya sedikit melengking. “Dia perawat baru Eleanor yang sangat sensitif karena wajahnya... hancur. Kau akan membuatnya trauma jika memaksanya berbalik. Ayo, duduklah kembali. Aku baru saja ingat, aku menyimpan sebotol Romanee-Conti tahun 1990 di gudang bawah. Kau bilang itu anggur favoritmu, kan? Mari kita buka sekarang.” Xaviera berhenti. Ia menatap Rose dengan tatapan datar yang menusuk. Keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa menyakitkan. “Aku berhenti minum alkohol sejak setahun lalu, Rose,” jawab Xaviera dingin. “Dan favoritku adalah Chateau Margaux, bukan Romanee-Conti. Kau tahu itu sejak kita merayakannya di tepi Danau Jenewa.” Rose membeku. Tangannya yang memegang lengan baju Xaviera perlahan merosot. Ia telah melakukan kesalahan lagi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah-olah menjadi bukti yang memberatkan dirinya sendiri di mata kurator seni ini. Xaviera tidak bicara lagi. Di dalam hatinya, sebuah alarm besar sedang berbunyi. Wanita di depannya ini memiliki wajah sahabatnya, namun jiwanya terasa asing, dangkal, dan penuh kebohongan. “Rose banyak berubah,” gumam Xaviera dalam hati. “Atau mungkin... dia memang?” “Aku rasa aku harus pergi,” ucap Xaviera tiba-tiba. Ia mengambil kacamata hitamnya dan memakainya kembali, menutupi kecurigaan yang berkilat di matanya. “Aku punya janji temu dengan kolektor di pusat kota.” “Oh, tentu. Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama,” Rose tampak sangat lega. Ia mengantar Xaviera menuju pintu depan dengan langkah terburu-buru. Namun, saat mereka sampai di koridor dekat pintu keluar, Noa masih di sana. Ia sedang merapikan beberapa peralatan medis di atas baki kayu, posisinya membelakangi mereka berdua. “Tunggu,” ucap Xaviera. Langkah Rose terhenti mendadak. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. Xaviera tidak menoleh ke arah Rose lagi, ia justru berbelok dan berjalan mendekati Noa. “Permisi,” ucap Xaviera melembut. “Bisa tunjukkan di mana letak pintu keluar samping? Aku memarkir mobilku di area taman, bukan di lobi utama.” Noa perlahan menegakkan tubuhnya. Ia tidak berbalik sepenuhnya, hanya memutar tubuhnya sedikit ke samping. Ia tidak bicara, hanya mengangkat tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kain tipis, lalu menunjuk ke arah lorong kiri yang menuju paviliun taman. Saat tangan Noa terangkat, kain sarung tangannya sedikit tersingkap di bagian pergelangan. Cahaya lampu gantung di koridor menyinari area kulit yang terbuka itu—sebuah bekas luka putih yang melingkar, kecil namun sangat jelas di antara jaringan parut kemerahan lainnya. Xaviera membeku. Matanya melebar di balik kacamata hitamnya. Ia mengenali bentuk luka itu. Itu bukan luka bakar. Itu adalah luka lama akibat jatuh dari kuda sepuluh tahun lalu saat mereka berlibur di Tuscany—sebuah insiden yang dirahasiakan Rose dari Jace dan publik karena takut merusak citranya sebagai penunggang kuda yang sempurna. Xaviera menatap tangan Noa, lalu perlahan mengangkat matanya menuju masker hitam yang menutupi wajah perawat itu. Detak jantung di ruangan itu terasa beradu. Rose berdiri tiga meter di belakang mereka, mengawasi dengan tatapan membunuh. Tangannya mencengkeram kusen pintu begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ia menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi, sebuah komunikasi tanpa kata yang ia tidak mengerti. Xaviera melangkah satu sentimeter lebih dekat ke arah Noa. Ia bisa mencium aroma obat-obatan yang bercampur dengan sisa-sisa parfum Mitsouko yang sangat tipis dari seragam Noa. Ia menundukkan kepalanya, mendekat ke telinga Noa, dan membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar oleh Rose. “Kau perawat baru?” bisik Xaviera. “Kenapa kau punya bekas luka yang sama dengan luka Rose saat dia jatuh dari kuda sepuluh tahun lalu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD