RAHASIA DI BALIK MASKER

1824 Words
Lobi kantor St. John Corp mendadak senyap setelah jeritan Rose pecah. Dua petugas keamanan mencengkeram lengan Noa dengan kasar, menyeretnya menjauh dari tubuh Eleanor yang masih terkapar di lantai marmer. Noa tidak meronta. Ia membiarkan tubuhnya diseret, matanya tetap terpaku pada Jace yang kini sedang memegang botol obat di samping ibunya. Jace tidak menatap Noa dengan amarah seorang anak yang ibunya diracun. Tatapannya adalah kalkulasi. Ia sedang menghitung seberapa cepat berita ini akan sampai ke bursa saham, dan seberapa efektif tuduhan ini bisa melenyapkan Noa dari rumahnya selamanya. “Bawa dia ke ruang transit VIP. Jangan biarkan polisi menyentuhnya sebelum aku memberi perintah,” perintah Jace mutlak. Rose berdiri, menyeka air mata di pipinya yang masih merona sempurna. Ia menatap Noa yang diseret melewati kerumunan staf yang berbisik-bisik. Rose memberikan anggukan kecil pada Sloan yang berdiri di kejauhan. Sebuah kesepakatan tanpa kata telah tercapai. Noa didorong masuk ke dalam ruang transit di lantai dasar. Ruangan itu kedap suara, dindingnya dilapisi panel kayu ek gelap dengan cermin-cermin besar yang mengelilingi setiap sudut. Pintu dikunci dari luar dengan denting elektronik yang dingin. Noa berdiri di tengah ruangan, merapikan seragam perawatnya yang sedikit kusut. Ia menghampiri wastafel kecil di pojok ruangan, mencuci tangannya yang gemetar karena sisa adrenalin, lalu menatap pantulannya. Sepuluh menit kemudian, kunci pintu berdenting. Rose melangkah masuk. Ia menutup pintu dan menguncinya kembali dari dalam. Ia tidak lagi tampak seperti istri yang berduka. Ia berjalan dengan angkuh, meletakkan tas jinjing mahalnya di atas meja marmer. Sepatu hak tingginya berbunyi dengan ketukan yang ritmis, mendominasi keheningan ruangan. “Kau pikir kau sangat pintar, bukan?” Rose membuka pembicaraan. Ia berdiri tepat di depan Noa, hanya terpisah jarak satu meter. “Parfum itu, sikap diammu, caramu merawat Eleanor... kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau mainkan?” Noa tetap diam. Ia hanya menatap Rose melalui masker hitamnya. “Jace ingin memenjarakanmu. Dia ingin kau membusuk karena mencoba membunuh ibunya,” Rose tertawa kecil, suara yang kering dan penuh penghinaan. “Tapi aku punya rencana lain. Aku tidak suka ada hantu yang berkeliaran di rumahku. Aku ingin tahu siapa yang mengirimmu. Siapa yang memberimu aroma itu?” Rose melangkah maju, memperpendek jarak. Bau parfum Le Labo miliknya kini beradu dengan aroma antiseptik yang melekat pada Noa. “Buka maskermu!” “Saya tidak bisa, Nyonya,” jawab Noa datar. “Ini bukan permintaan,” Rose menyentak. “Aku adalah Nyonya St. John. Di gedung ini, aku bisa membuatmu menghilang tanpa ada yang bertanya. Buka, atau aku sendiri yang akan merobeknya!” Noa mundur satu langkah, namun punggungnya membentur cermin besar. Rose kehilangan kesabaran. Paranoia yang menumpuk sejak insiden di kamar mandi tadi malam meledak. Ia menerjang maju, tangannya yang berkuku panjang dan terawat mencoba meraih kaitan masker di telinga Noa. Noa menangkap pergelangan tangan Rose. Tenaganya jauh lebih kuat dari yang Rose duga. Rose terkesiap, wajahnya memerah karena amarah dan keterkejutan. “Lepaskan!” teriak Rose. “Nyonya, Anda sedang tidak stabil,” bisik Noa. Rose menggunakan tangan kirinya untuk menampar wajah Noa, namun Noa mengelak. Dalam pergulatan singkat itu, baki kosmetik di atas meja rias tersenggol dan jatuh berantakan ke lantai. Botol-botol kaca pecah, mengirimkan aroma tajam ke udara. Rose berhasil menjambak poni Noa, dan dengan satu sentakan kasar, ia menarik tali masker hitam itu hingga putus. Kain hitam itu jatuh ke lantai, mendarat di antara pecahan kaca. Rose terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia berdiri tegak, bersiap untuk melihat wajah mata-mata cantik yang ia bayangkan selama ini—mungkin seseorang dari masa lalu Jace yang ingin memeras mereka. Namun, saat Noa perlahan mendongakkan kepalanya di bawah sorotan lampu ruang rias yang sangat terang, Rose membeku. Wajah di depannya bukan wajah seorang wanita cantik. Sisi kiri wajah Noa tampak normal, namun sisi kanannya adalah peta bencana. Jaringan parut yang menebal, kulit yang tertarik secara tidak alami hingga ke sudut mata, dan sisa-sisa luka bakar yang menghitam di beberapa titik. Itu adalah wajah yang hancur, wajah yang seharusnya menjadi milik mayat yang terbakar. Noa tidak memalingkan wajah. Ia justru melangkah mendekati Rose, membiarkan wanita itu melihat setiap inci kehancuran fisiknya. “Apa yang kau lihat, Nyonya?” tanya Noa. “Apakah wajah ini tidak sesuai dengan standar kecantikan di rumah St. John?” Rose mundur hingga kakinya menabrak kursi. Rasa jijik yang murni terpancar dari matanya. Ia menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah ingin muntah melihat pemandangan di depannya. “Kau... kau monster.” Noa tersenyum. Sisi bibirnya yang hancur tertarik secara asimetris, menciptakan seringai yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. “Monster diciptakan oleh api, Nyonya. Dan api itu dikirim oleh orang-orang yang sangat dekat dengan kita.” Rose mencoba memalingkan wajah, namun ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata Noa. Mata itu tidak hancur. Mata itu tetap tajam, jernih, dan penuh dengan kebencian yang sudah matang. “Kenapa kau... kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Rose. Intonasinya mengecil, penuh ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. “Aku hanya sedang membandingkan,” bisik Noa. Ia kini berdiri sangat dekat dengan Rose, hingga napasnya terasa di kulit wajah Rose. “Pisau bedah yang membentuk hidungmu itu... dokter yang melakukannya kurang teliti di bagian tulang rawan kiri. Jika kau bersin terlalu keras, kau bisa merasakannya bergeser, bukan?” Rose membelalak. Itu adalah rahasia medis yang bahkan Jace tidak tahu. Rasa sakit yang sering ia rasakan saat cuaca dingin—rasa sakit di tulang hidungnya yang baru. “Siapa kau?!” teriak Rose parau oleh ketakutan. Noa tidak menjawab. Ia hanya membungkuk, mengambil masker hitamnya yang sudah putus dari lantai, lalu menyampirkannya kembali ke wajahnya dengan santai. Rose masih mematung, jemarinya mencengkeram pinggiran meja hingga sendi-sendinya memutih. Bau parfum yang tumpah di lantai bercampur dengan aroma obat-obatan yang menguap dari seragam Noa. Ia menatap kain masker hitam yang kembali menutupi wajah hancur itu. Rose tertawa. Awalnya hanya sebuah dengusan kecil, lalu berkembang menjadi tawa kering yang menggema di ruang yang kedap suara itu. Ia menyeka sudut matanya yang tidak berair, lalu menatap Noa dengan pandangan yang kini penuh dengan penghinaan yang murni. Ketakutannya tentang hantu menguap seketika saat melihat kenyataan fisik Noa. “Jadi... ini?” Rose melangkah mendekat, kali ini dengan keberanian yang baru. Ia mengamati Noa dari kepala hingga kaki seolah sedang melihat barang rongsokan. “Ini alasan kau menyembunyikan wajahmu? Aku sempat mengira kau adalah ancaman. Aku sempat berpikir Jace mungkin tertarik padamu karena matamu.” Rose mendekatkan wajahnya yang sempurna ke arah Noa. Kulitnya yang kencang dan hidungnya yang proporsional berkilat di bawah lampu. “Tapi lihat dirimu. Kau monster, Noa. Kau sampah yang terbakar. Jace tidak akan pernah sudi melihatmu, apalagi menyentuhmu. Pria seperti Jace St. John tidak punya ruang untuk sesuatu yang... rusak.” Noa tidak bergerak. Di balik maskernya, ia membiarkan Rose menumpahkan seluruh kesombongannya. Ini adalah bagian dari rencana—membiarkan musuh merasa berada di puncak rantai makanan. “Saya hanya seorang perawat, Nyonya,” suara Noa kembali datar terkontrol. “Ya, kau memang perawat. Dan sebentar lagi, kau akan menjadi narapidana,” Rose merapikan rambutnya di depan cermin, mengabaikan pecahan botol-botol yang pecah di bawah sepatunya. “Jace sudah menyiapkan segalanya. Tuduhan malpraktik terhadap Eleanor akan menghancurkanmu. Tidak ada yang akan percaya pada kata-kata wanita cacat sepertimu.” Rose mengambil tas jinjingnya, bersiap untuk keluar. “Nikmati sisa waktumu sebagai orang bebas, Noa. Karena setelah pintu ini terbuka, duniamu berakhir.” Rose memutar kunci pintu dan melangkah keluar dengan dagu terangkat. Di koridor, Jace dan Sloan sedang berdiri menunggu. Wajah Jace tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang ibunya baru saja dilarikan ke rumah sakit. “Bagaimana?” tanya Jace singkat. Rose tersenyum manis, menggelayut manja di lengan Jace. “Dia hanya wanita malang yang terobsesi, Sayang. Wajahnya... mengerikan. Aku merasa jijik melihatnya. Dia bukan siapa-siapa. Hanya pion yang mencoba menakut-nakuti kita.” Jace menatap pintu ruang VIP yang tertutup. Matanya menyipit. “Kau yakin dia tidak membocorkan apa pun?” “Dia tidak tahu apa-apa, Tuan Jace,” potong Sloan dengan nada tegas. “Dia hanya perawat agensi yang kebetulan tahu resep lama Eleanor. Masalah utamanya sekarang adalah laporan medis Eleanor. Jika dokter menemukan zat asing di darahnya, perawat itu harus segera dijadikan kambing hitam.” Jace tidak menjawab. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop kecil yang tadi ia temukan terjatuh di koridor saat Noa diseret. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada sebuah kunci kecil berbahan kuningan tua dengan gantungan berbentuk kepala singa—kunci paviliun pribadi Eleanor yang selama ini hilang. Jace menoleh ke arah Sloan, lalu kembali ke arah Rose. Kilatan aneh muncul di matanya. Ia menyadari bahwa perawat cacat itu memiliki sesuatu yang tidak mungkin dimiliki oleh orang asing. “Kalian berdua, kembalilah ke rumah!” perintah Jace. “Aku akan mengurus administrasi di sini dan memastikan polisi tidak ikut campur dulu.” “Tapi Jace—” Rose mencoba memprotes. “Pulanglah, Rose! Aku butuh ketenangan,” nada suara Jace tidak menerima bantahan. Setelah Rose dan Sloan pergi, Jace kembali masuk ke ruang VIP. Ia menemukan Noa sedang duduk tenang di kursi, seolah ia adalah nyonya di ruangan itu. Noa tidak memakai maskernya dengan benar, membiarkan Jace melihat bayangan luka bakarnya dari pantulan cermin. Jace menutup pintu, menguncinya, lalu meletakkan kunci kepala singa itu di atas meja di depan Noa. “Hanya Rose yang tahu di mana kunci ini disimpan,” ucap Jace. Suaranya merendah, sangat dekat dengan bisikan yang mematikan. Noa menatap kunci itu, lalu beralih ke mata Jace” di cermin. “Mungkin Nyonya Rose melupakannya. Jace tidak mundur. Ia justru membungkuk, tangannya mencengkeram sandaran kursi Noa dengan kuat. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau punya kunci brankas pribadi ibuku?” Jace terkekeh. “Kau mencurinya?” Tiba-tiba, lampu di ruang VIP itu kembali berkedip tak beraturan. Dari balik saku seragam Noa, terdengar suara rekaman audio yang sangat jernih—suara percakapan Sloan dan Rose di kamar mandi tadi pagi, tentang bagaimana mereka membagi uang delapan puluh miliar itu tanpa sepengetahuan Jace. Wajah Jace memucat. Ia menatap Noa dengan rasa tidak percaya yang mendalam. “Aku bukan musuhmu, Tuan Jace,” bisik Noa. Ia berdiri, membuat Jace terpaksa mundur selangkah. “Aku adalah satu-satunya orang yang tahu di mana Sloan menyembunyikan istri keduamu dan anakmu.” Jace membeku. Nama itu adalah rahasia terdalamnya yang bahkan Sloan pun seharusnya tidak tahu lokasinya secara tepat. “Kau...” Jace mencengkeram leher Noa, bukan untuk membunuh, tapi karena guncangan emosi yang luar biasa. “Dari mana kau tahu itu?!” Noa tersenyum di balik luka bakarnya. Ia merogoh sakunya lagi dan mengeluarkan sebuah benda yang membuat napas Jace terhenti sepenuhnya—sebuah cincin kawin yang masih menyisakan bekas hangus api, dengan ukiran nama mereka di bagian dalam. “Jawab aku!” teriak Jace kalap. Tepat saat itu, pintu ruang VIP digedor dengan keras dari luar. Suara Sloan terdengar panik. “Tuan Jace! Buka pintunya! Rumah sakit baru saja menelepon... Eleanor siuman, dan dia meminta untuk bertemu dengan polisi sekarang juga! Dia bilang... dia tahu siapa yang mencoba membunuhnya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD