“Nyonya Rose?”
Pintu kamar mandi menjeblak terbuka. Rose berbalik dan menemukan Noa berdiri di belakangnya. Perawat itu memegang nampan kosong, matanya yang tajam menatap Rose dari balik masker hitam dengan intensitas yang tidak wajar.
Rose mundur selangkah, hingga tubuhnya terbentuk tepian wastafel. “Jangan mendekat! Siapa yang mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk?”
Noa tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung, kepalanya sedikit miring seolah sedang mengagumi ketakutan yang terpancar di wajah Rose. Dengan gerakan lambat, Noa melangkah masuk, melewati batas privasi yang membuat Rose merasa tercekik. Ia mengambil handuk bersih, lalu menyodorkannya pada Rose tanpa sepatah kata pun.
Saat Rose dengan gemetar meraih handuk itu, jari-jarinya yang dingin bersentuhan dengan sarung tangan Noa. Rose segera menarik tangannya kembali—rasanya seperti ia baru saja menyentuh mayat. Ia benci sensasi ini—sensasi bahwa wanita di depannya ini tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.
“Keluar!” usir Rose parau.
Noa membungkuk singkat. Saat ia berbalik dan melangkah keluar, di balik masker hitamnya, sudut bibir Noa tertarik ke atas membentuk smrik.
Noa menutup pintu kamar mandi dengan denting yang pelan, meninggalkan Rose yang kembali menatap cermin dengan paranoia yang semakin mengakar.
Keesokan paginya.
Decit kursi roda terdengar memasuki area lobi St. John Corp. Noa mendorong kursi roda Eleanor melewati barisan staf yang membungkuk hormat.
Di depan pintu ruang aula utama, Jace sudah menunggu. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis. Di sampingnya, Rose berdiri dengan gaun formal berwarna krem. Ia tampak sempurna, namun Noa menyadari cara Rose meremas tas jinjingnya—dia gugup saat berada di wilayah kekuasaan Eleanor.
“Ibu, terima kasih sudah bersedia datang,” ucap Jace datar sembari memberikan anggukan formal.
“Aku datang untuk melihat siapa yang kau pilih untuk mengelola uangku. Bukan untuk mendengar basa-basimu,” jawab Eleanor.
Jace memberikan kode pada petugas keamanan untuk membuka pintu aula. Di dalam sana, puluhan jurnalis ekonomi dan pemegang saham sudah duduk rapi. Sloan berdiri di podium, menyesuaikan letak mikrofonnya. Wajahnya penuh percaya diri. Pria yang setahun lalu hanyalah pesuruh, kini akan resmi menjadi Direktur Operasional.
Noa menempatkan kursi roda Eleanor di barisan paling depan, tepat di samping kursi Rose. Ia kemudian mundur dua langkah, berdiri di area bayangan di belakang mereka—posisi yang membuatnya bisa melihat segalanya tanpa terlihat.
“Hari ini, St. John Corp memulai era baru,” suara Jace bergema di seluruh ruangan. “Sloan bukan hanya rekan bisnis, dia adalah orang yang menyelamatkan stabilitas operasional kita saat... insiden tahun lalu terjadi.”
Noa mengepalkan tangannya di balik saku seragam perawatnya. Penyelamat? Jace menyebut pria yang menyiram bensin ke tubuh istrinya sebagai penyelamat.
Acara berlanjut ke sesi penandatanganan berkas pengangkatan. Sebuah map kulit berwarna hitam diletakkan di meja depan. Sloan menandatanganinya lebih dulu. Kemudian, giliran Rose sebagai perwakilan pemilik aset keluarga.
Rose mengambil pena emas dari meja. Ia menarik napas pendek, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Noa menajamkan penglihatannya. Dari jarak dua meter, ia bisa melihat goresan tangan itu. Itu adalah tanda tangannya. Lengkungan pada huruf S dan titik kecil di akhir nama John—itu adalah hasil latihan Rose yang berdiri di sana selama berbulan-bulan untuk meniru secara sempurna.
Selesai penandatanganan, Jace mengajak para tamu menuju ruang makan VIP. Saat kerumunan mulai bergerak, Sloan memberikan map hitam itu kepada seorang asisten untuk dibawa ke ruang arsip di lantai empat puluh dua.
“Noa,” panggil Eleanor tiba-tiba. Suaranya nyaris hanya bisa didengar Noa seorang. “Ikuti asisten itu. Aku butuh air minum dari dispenser di lantai atas. Pergilah!”
Itu bukan perintah untuk mengambil air. Itu adalah perintah untuk membuntuti dokumen tersebut.
Noa mengangguk patuh. Ia memutar tubuh dan keluar dari aula sebelum Jace menyadarinya. Ia masuk ke lift staf dan menekan tombol empat puluh dua. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tetap berusaha stabil.
Di lantai empat puluh dua, koridor begitu sunyi. Noa melihat asisten Sloan masuk ke sebuah ruangan bertuliskan Finance & Audit. Pintu itu tidak tertutup rapat. Noa berdiri di dekat dispenser, berpura-pura mengisi botol air, sambil matanya terus mengamati ke dalam ruangan.
Asisten itu meletakkan map hitam tadi di atas meja kerja, lalu ia keluar menuju ruang fotokopi.
Inilah kesempatannya.
Noa menyelinap masuk. Ia langsung membuka map hitam tersebut. Namun, di bawah surat pengangkatan Sloan, ia menemukan lembaran lain yang tidak dibacakan di aula tadi.
Itu adalah Account Closure Request—permintaan penutupan rekening pribadi atas nama Rose St. John.
Total saldo sebesar delapan puluh miliar rupiah diperintahkan untuk dipindahkan ke rekening offshore di Cayman Islands. Di bagian bawah dokumen itu, tanda tangan Rose St. John sudah tertera dengan tinta yang masih basah.
Darah Noa mendidih. Mereka sedang menguras setiap rupiah yang dikumpulkan kakeknya untuk dinasti St. John.
Tiba-tiba, suara langkah sepatu kulit mendekat dari arah koridor. Noa tidak punya waktu untuk keluar. Ia segera bersembunyi di bawah meja kerja yang besar, tepat saat pintu ruangan terbuka lebar.
“Kau sudah mengaturnya?”
Itu suara Sloan.
“Sudah, Tuan. Rose sudah menandatangani semuanya. Dia bahkan tidak bertanya untuk apa uang itu dipindahkan,” jawab suara asisten tadi.
Sloan tertawa kecil, terdengar sangat dekat dari tempat Noa bersembunyi. “Dia terlalu bodoh untuk bertanya. Dia hanya ingin hidup mewah dan tidur dengan Jace. Berikan dia berlian, dan dia akan menandatangani surat kematiannya sendiri jika perlu.”
“Lalu bagaimana dengan Tuan Jace?”
“Jace mengira uang ini untuk ekspansi perusahaan. Dia tidak tahu aku sudah menyiapkan rekening ketiga. Begitu uang ini mendarat, kita akan punya cukup modal untuk menghilang jika perawat gila itu mulai bicara pada polisi.”
Sloan berjalan mendekati meja. Noa bisa melihat ujung sepatu pantofel Sloan hanya berjarak sepuluh sentimeter dari tangannya.
“Tunggu!” Sloan berkata tajam. Ia terdiam sejenak. “Kenapa kursi ini bergeser?”
Sloan berdiri diam di samping meja. Sepatu pantofelnya yang mengkilap hanya berjarak beberapa inci dari jemari Noa yang tersembunyi di balik taplak meja panjang. Ia tidak takut, ia hanya menghitung kemungkinan jika Sloan menyingkap kain itu sekarang, ia akan mencolok mata pria itu dengan pena yang ia genggam di saku.
“Kursi ini bergeser,” ulang Sloan. Suaranya terdengar penuh selidik.
“Mungkin petugas kebersihan tadi belum merapikannya, Tuan,” sahut asistennya cepat.
Sloan mendengus. Ia menarik kursi itu dengan kasar hingga bunyinya mencicit tajam di atas lantai granit. Ia duduk, berat tubuhnya membuat kayu meja di atas kepala Noa sedikit berderit. Noa bisa mendengar suara gemerisik kertas di atasnya. Sloan sedang memeriksa dokumen pengalihan aset itu sekali lagi.
“Pastikan Rose tidak keluar rumah tanpa pengawasan mulai besok!” perintah Sloan. “Dia mulai banyak bicara soal mimpi buruk dan halusinasi. Kalau dia sampai mengacaukan audit minggu depan, kita semua habis.”
“Baik, Tuan.”
“Dan perawat itu... Noa. Cari tahu siapa dia sebenarnya. Jangan cuma percaya pada dokumen agensi. Aku tidak suka caranya menatap Jace.”
Suara langkah kaki asisten itu menjauh, disusul bunyi pintu yang tertutup. Sloan masih di sana. Noa mendengar pemantik api dinyalakan. Aroma cerutu mulai memenuhi ruang sempit di bawah meja. Sloan sedang merayakan kemenangannya sendirian.
Noa menunggu. Sepuluh menit berlalu seperti satu jam. Obsesinya pada angka-angka di dokumen tadi membuatnya tetap terjaga. Delapan puluh miliar, itu adalah angka yang cukup untuk membeli loyalitas siapa pun di kota ini, atau untuk melenyapkan seseorang tanpa jejak.
Sampai akhirnya, Sloan berdiri. Ia mematikan cerutunya di asbak kaca—suara gesekannya terdengar sangat dekat. Langkah kakinya menjauh, pintu dibuka, dan suara kunci yang diputar terdengar dari luar.
Noa terkunci di dalam.
Ia keluar dari bawah meja dengan tenang. Tidak ada kepanikan. Ia langsung menuju komputer Sloan yang masih menyala. Matanya memindai layar, mencari jejak transaksi Thorne Apex. Ia mengeluarkan ponselnya, memotret riwayat transfer yang menghubungkan rekening Rose ke rekening pribadi Sloan yang disamarkan.
Noa segera menuju jendela besar di ujung ruangan. Lantai empat puluh dua, ia tidak bisa keluar lewat pintu, tapi ia tahu gedung ini memiliki jalur pemeliharaan AC di balik panel dinding kayu. Ia membongkar panel itu dengan ujung gunting medisnya—sebuah celah sempit yang hanya bisa dilewati tubuh sekurus dirinya.
Saat ia merangkak di dalam lorong pipa yang pengap, ia mendengar suara dari balik dinding ruang rapat VIP di sebelah.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di belakangku, Jace?”
Itu suara Eleanor. Dingin dan berwibawa.
Noa berhenti merangkak. Ia menempelkan telinganya ke dinding logam yang tipis.
“Ibu, ini untuk kebaikan perusahaan,” sahut Jace. “Sloan punya koneksi yang kita butuhkan.”
“Sloan adalah anjing yang kau pelihara untuk menggigit istrimu sendiri,” tukas Eleanor. “Aku sudah melihat dokumen asuransi itu, Jace. Kau pikir kau bisa membodohiku dengan laporan palsu?”
Keheningan panjang menyusul. Noa menahan napas.
“Ibu terlalu banyak menghabiskan waktu dengan perawat itu,” suara Jace berubah menjadi ancaman pelan. “Mungkin sudah saatnya Ibu beristirahat di fasilitas yang lebih... tenang. Jauh dari rumah ini.”
“Kau ingin membuang ibumu sendiri?” Eleanor tertawa sengau. “Coba saja! Tapi ingat, aku memegang kunci brankas pusat. Tanpa tanda tanganku secara fisik, delapan puluh miliar yang sedang dipindahkan Sloan itu tidak akan pernah cair.”
Noa tertegun di dalam lorong gelap itu. Jadi, transaksi yang ia lihat tadi belum selesai. Jace dan Sloan sedang berpacu dengan tanda tangan Eleanor.
Noa segera melanjutkan merangkak menuju ujung lorong yang tembus ke toilet staf. Ia keluar, merapikan seragamnya, dan mencuci wajahnya yang bermasker. Ia harus segera kembali ke sisi Eleanor sebelum Jace melakukan sesuatu yang nekat.
Ia berlari menyusuri koridor lantai empat puluh dia menuju lift. Namun, saat pintu lift terbuka di aula utama, suasana sudah kacau.
Para staf berlarian. Jurnalis yang tadi tenang kini berebut mengambil foto ke arah lift pribadi.
Noa menerobos kerumunan. Di tengah aula, kursi roda Eleanor terbalik.
Eleanor tergeletak di lantai marmer, wajahnya pucat, dan tangannya mencengkeram dadanya. Di sampingnya, Rose sedang berlutut, berteriak meminta tolong dengan wajah yang tampak sangat hancur karena sedih—akting yang sempurna.
Jace berdiri di dekat mereka, memegang sebuah botol obat yang terbuka.
“Dia salah minum obat!” teriak Jace ke arah petugas medis yang baru datang. “Perawatnya... di mana perawatnya?!”
Jace menoleh dan matanya langsung mengunci Noa yang baru saja tiba. Sorot mata Jace bukan ketakutan, melainkan kilatan kemenangan yang mengerikan.
“Kau!” Jace menunjuk Noa. “Kau yang menyiapkan obat Ibu pagi ini! Apa yang kau masukkan ke dalam botolnya?!”
Dua petugas keamanan langsung mencengkeram lengan Noa. Di lantai, Eleanor sempat membuka matanya sedikit, menatap Noa dengan sisa tenaganya, lalu tangannya yang lemas menunjuk ke arah tas jinjing Rose yang tergeletak di dekat kursi roda.
Sebelum Eleanor sempat bicara, kedua kelopak matanya sudah terpejam sepenuhnya.
Petugas keamanan menyeret Noa ke ruang interogasi kantor, sementara Jace membisikkan sesuatu ke telinga Rose yang masih berpura-pura menangis. Rose kemudian berdiri, menghapus air mata palsunya, dan dengan tenang merogoh tas jinjingnya—mengeluarkan sebuah botol obat yang identik dengan milik Eleanor, namun dengan label nama Noa tertempel di sana.
“Dia mencoba membunuh Ibu,” ucap Rose dengan suara lantang di depan kamera wartawan yang masih menyala.