Noa berdiri di balkon lantai dua, tersembunyi di balik pilar besar, mengawasi ruang tengah yang luas. Di bawah sana, Rose sedang duduk di sofa beludru, menyesap teh dengan keanggunan yang dipelajari. Rose mengenakan gaun sutra berwarna emerald, warna yang dulu selalu dihindari oleh Rose karena membuatnya tampak pucat. Namun wanita ini, tampaknya sangat menyukai warna-warna mencolok yang membuatnya seperti haus akan perhatian.
Noa menyentuh saku seragamnya. Di sana, ada sebuah botol kecil berbahan kristal. Guerlain Mitsouko edisi terbatas tahun 1920-an. Parfum itu bukan sekadar wewangian, itu adalah warisan. Hanya ada sepuluh botol di dunia, dan salah satunya adalah milik mendiang ibu Rose. Aromanya sangat spesifik, perpaduan antara peach, melati, dan rempah-rempah yang meninggalkan jejak powdery yang tak terlupakan.
Rose dahulu akan selalu memakainya saat menghadiri acara-acara penting bersama Jace. Bagi Jace, aroma ini adalah sinyal bahwa istrinya ada di dekatnya.
Noa menunggu Rose meninggalkan ruangan untuk menerima telepon di taman belakang. Begitu ruang tengah kosong, Noa turun dengan cepat. Gerakannya sangat efisien, tanpa suara. Ia meletakkan botol parfum itu di bawah meja kopi marmer, tepat di dekat ventilasi udara yang akan menyebarkan aromanya ke seluruh ruangan saat sistem pendingin menyala. Ia membuka tutupnya sedikit, membiarkan cairan berharga itu menguap perlahan.
Satu tetes.
Dua tetes.
Aroma itu mulai merayap, mengisi kekosongan ruang tengah yang megah. Noa segera kembali ke bayang-bayang sebelum Rose masuk kembali.
Rose kembali ke sofa beberapa menit kemudian. Ia tampak kesal, mungkin karena pembicaraan telepon dengan Sloan yang tidak berjalan lancar. Ia meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja, lalu menyandarkan kepalanya.
Tiba-tiba, tubuh Rose menegang.
Ia menghirup udara di sekitarnya.
Sekali. Dua kali. Hidungnya berkerut.
Matanya yang besar mulai bergerak liar ke seluruh penjuru ruangan. Rose bangkit berdiri, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih.
“Siapa?” bisik Rose.
Ia menciumnya. Aroma itu... rasanya sangat familiar.
Rose mulai berjalan mengelilingi ruangan seperti binatang yang terjebak dalam sangkar. Ia mengendus gorden, bantal sofa, hingga ke arah tangga. Kepanikan mulai merayap di wajahnya yang cantik. Aroma itu justru membuatnya merinding, entah kenapa.
“Siapa di sana?!” Rose berteriak, suaranya pecah di tengah keheningan rumah.
Tidak ada jawaban. Hanya deru pelan dari sistem pendingin ruangan yang terus memompa aroma Mitsouko ke seluruh penjuru rumah.
Di atas, Noa memperhatikan dengan tatapan dingin. Ia melihat bagaimana Rose mulai kehilangan kendali. Noa tidak perlu menyentuh wanita itu untuk menyakitinya. Ia hanya perlu mengingatkannya bahwa dia adalah seorang pencuri.
Saat itu, pintu utama terbuka. Jace melangkah masuk. Ia tampak lelah, dasinya sudah longgar, dan wajahnya menunjukkan tanda-tanda frustrasi setelah pertemuannya dengan Sloan. Namun, langkah Jace terhenti tepat di ambang pintu.
Jace mematung. Kepalanya mendongak, menghirup udara yang sama yang baru saja membuat Rose panik. Ekspresi wajah Jace berubah drastis—dari kelelahan menjadi keterkejutan yang murni, lalu paranoia itu merambat ke dalam kepalanya.
“Rose?” Jace memanggil, namun matanya tidak tertuju pada wanita yang berdiri di tengah ruangan. Matanya menyapu setiap sudut, seolah mencari sosok lain yang seharusnya ada di sana.
“Jace... kau kau sudah pulang?” Rose menghampiri Jace.
Jace tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju pusat ruangan, tempat aroma itu paling kuat. Ia berdiri tepat di depan meja kopi. Jace menutup matanya sejenak, membiarkan memori tentang malam-malam gala, dansa pertama mereka, dan janji pernikahan membanjiri benaknya melalui aroma tersebut.
“Urusan kantor hari ini membuatku lelah.”
“Kamu mau pergi? Kenapa wangi sekali?” tukas Jace sembari menaikan satu alisnya.
“Aku? Aku tidak memakainya! Aku bahkan tidak pernah mengoleksinya,” jelas Rose.
Jace membuka matanya dan menatap Rose. Ada kilatan kebencian yang tipis di mata Jace—sebuah keraguan yang mulai mengakar. “Apa itu ibu? Kenapa aromanya seolah-olah dia baru saja berdiri di sini satu menit yang lalu?”
Rose mundur selangkah. “Jangan bicara seperti itu, Jace. Kau menakutiku.”
Jace terdiam sejenak. Aroma itu menusuk ingatannya, begitu khas, dan tak mungkin salah. Sudah bertahun-tahun ia tak menciumnya lagi, namun kini hadir begitu nyata.
Ia kembali menatap Rose, mencari jawaban yang mungkin disembunyikan. Namun, mengapa Rose tampak begitu tidak pernah memiliki ketidakcocokan identitasnya melalui aroma tersebut?
Noa, dari posisinya di atas, tersenyum di balik maskernya. Kehancuran mental mereka adalah musik yang paling indah yang pernah ia dengar. Namun, ia tahu ia harus berhati-hati. Jace bukan orang bodoh. Jace harus menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan orang yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba, Jace melepaskan Rose dan menoleh ke arah tangga. Matanya menangkap bayangan Noa yang berdiri di kegelapan lantai dua.
“Turun ke sini!” teriak Jace
Rose menoleh bingung ke Jace. “Siapa?”
Jace tidak mejawab. Ia melihat kemungkinan, jika Noa sedang menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya saat keberadaannya terdendus, lalu mulai melangkah turun.
Noa menjaga kepalanya tetap tertunduk, namun matanya tetap tajam mengawasi pantulan Jace pada permukaan marmer lantai yang mengkilap.
“Kau... menguping?” tanya Jace. Nada dingin itu seolah menguliti Noa dalam-dalam.
Noa tidak segera menjawab. Ia membiarkan keheningan itu menarik saraf Jace hingga tegang. “Maaf, Tuan! Saya tidak berniat demikian.. Saya—”
“Pergi!” Jace menotong.
Noa memutar tubuhnya tanpa suara, meninggalkan ruang tengah yang kini dipenuhi oleh ketegangan yang ia ciptakan sendiri. Ia bisa merasakan tatapan Jace menusuk punggungnya hingga ia menghilang di balik tikungan koridor.
Sementara itu, Rose duduk dengan bahu menegang. Ia mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat memburu. Bau parfum itu masih terasa tajam di indra penciumannya.
Ia tidak pernah memiliki parfum itu. Ia bahkan tidak tahu itu milik siapa. Tapi reaksi Jace barusan membuatnya sadar bahwa aroma ini punya arti penting bagi suaminya.
Diam-diam, Rose melirik Jace dari sudut matanya. Pria itu masih menatap tajam kepergian perawat ibunya. Rose merasakan keringat dingin mulai merembes di balik gaun sutra emerald-nya. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah Jace mulai membandingkannya dengan Rose yang dulu hanya karena aroma sialan ini?
“Jace?” panggil Rose pelan. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali.”
Jace tidak langsung menoleh ke arah Rose. Ia justru menatap ke arah ventilasi udara di atas langit-langit bangunan sejenak.
“Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?” tanyanya kembali.
“Kupikir kau hanya kelelahan...” Rose tidak tahan lagi, ia bangkit. “Aku akan meminta staf menyiapkan teh untukmu..”
Tanpa menunggu jawaban Jace, Rose melangkah pergi. Alih-alih menuju arah dapur sepertu yang dikatakan di depan Jace tadi, Rose malah menuju kamar mandi. Begitu pintu tertutup dan terkunci, ia langsung bersandar di pintu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia segera menuju wastafel dan mengguyur wajahnya dengan air dingin berkali-kali.
Ia menatap pantulannya di cermin. Wajah cantiknya tepampang di sana, ia berusaha menenangkan diri. “Ingat! Hanya aku pemilik wajah ini satu-satunya!”
Rose memejam, ia menyeka air di pelipisnya, namun saat membuka mata ia melihat sesuatu di pantulan cermin di belakangnya.
Seberkas bayangan dirinya dengan gaun putih yang compang-camping tampak berdiri tepat di belakang bahunya.
Rose tersentak dan berbalik dengan cepat. Namun, kosong. Hanya ada bilik toilet dan handuk bersih yang tergantung rapi.
Ketakutan kini menyergap, napasnya memburu.Ia kembali menghadap cermin. Namun kali ini, di atas permukaan kaca yang sedikit berembun karena uap air, ia kembali melihat pantulan dirinya melotot di balik bahunya sendiri.
“Arrghh!” Rose memekik histeris.
“Nyonya Rose?”