Noa melangkah menyusuri koridor panjang menuju kamar Eleanor. Sepatu perawatnya yang bersol karet tidak menimbulkan suara di atas karpet Persia merah marun. Di tangannya, ia membawa nampan perak berisi set teh porselen Meissen, warisan keluarga yang hanya boleh disentuh oleh orang-orang kepercayaan.
Ia berhenti di depan pintu kayu jati yang kokoh. Napasnya tertahan di balik masker medis hitamnya. Kejadian semalam, tentang masker berdarah dan teriakan wanita di gerbang, masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Namun, ia tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang. Eleanor telah memanggilnya secara pribadi, sebuah perintah yang jarang diberikan kepada staf baru.
“Masuk!” suara Eleanor terdengar dari dalam.
Noa mendorong pintu. Kamar Eleanor luas, namun temaram. Tirai beludru berat hanya dibuka sedikit, membiarkan seberkas cahaya matahari menyinari kursi roda Eleanor yang menghadap ke arah jendela. Sang Matriark duduk tegak, rambut peraknya disanggul rapi, mengenakan jubah sutra berwarna abu-abu mutiara yang membuatnya tampak seperti patung yang hidup.
“Letakkan di sana!” Eleanor menunjuk meja kecil di sampingnya tanpa menoleh.
Noa bergerak dengan presisi yang terlatih. Ia meletakkan nampan itu, lalu mulai menuangkan teh Earl Grey yang masih mengepul. Uap panasnya naik, menyentuh wajah Noa, namun ia tidak bergeming.
“Kau perawat yang dikirim agensi itu,” Eleanor akhirnya memutar kursi rodanya. Mata abu-abunya yang jernih—terlalu jernih untuk wanita seusianya—memindai Noa dari ujung kaki hingga ke masker yang menutupi wajahnya. “Jace bilang kau punya bekas luka yang mengerikan. Apa itu sebabnya kau tidak pernah bicara jika tidak ditanya?”
“Saya di sini untuk melayani, Nyonya, bukan untuk menghibur,” jawab Noa parau.
Eleanor tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang lebih menyerupai seringai pemangsa. “Menarik. Di rumah ini, semua orang berebut untuk bicara, berbohong, dan menjilat. Kau... kau justru seperti bayangan. Tapi ingat, bayangan hanya ada jika ada cahaya yang menyinarinya. Dan di rumah ini, aku adalah cahayanya.”
Tiba-tiba, dengan gerakan yang tampak seperti ketidaksengajaan yang kikuk, tangan Eleanor menyenggol cangkir porselen yang baru saja dituangkan air mendidih.
Prang!
Cangkir itu pecah di lantai, dan air teh yang sangat panas menciprat ke arah kaki Eleanor dan tangan Noa.
Reaksi Noa terjadi dalam sepersekian detik. Ia tidak memekik. Ia tidak melompat mundur karena terkejut. Alih-alih melakukan prosedur pertolongan pertama standar medis modern yang diajarkan di agensi, Noa justru menjatuhkan dirinya berlutut. Dengan gerakan yang sangat spesifik dan ritmis, ia menekan titik-titik saraf di sekitar pergelangan kaki Eleanor menggunakan ibu jarinya, lalu meraih botol minyak lavender yang selalu ia bawa di saku tersembunyi—bukan salep antiseptik kimia.
Ia mengoleskan minyak itu dengan pola melingkar yang aneh, sambil membisikkan hitungan kecil yang hampir tak terdengar.
Eleanor membeku. Matanya melebar, tangannya yang keriput mencengkeram sandaran kursi roda hingga kuku jarinya memutih. Tensi di ruangan itu mendadak naik hingga ke titik didih.
“Di mana...” Eleanor berbisik, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. “Di mana kau belajar cara itu?”
Noa mendongak. Ia menyadari kesalahannya. Cara penanganan luka bakar dan kompres saraf itu bukan cara medis umum. Itu adalah teknik kuno yang hanya diajarkan oleh mendiang ibu Eleanor, nenek Jace, kepada menantunya bertahun-tahun lalu. Sebuah rahasia domestik yang dianggap sebagai sentuhan penyembuh keluarga St. John yang asli.
“Saya... saya mempelajarinya dari seorang wanita tua di desa tempat saya berobat dulu, Nyonya,” Noa mencoba memperbaiki narasinya, namun matanya yang bergetar tidak bisa berbohong.
Eleanor tidak melepaskan pandangannya. Ia menatap tangan Noa yang masih memegang pergelangan kakinya. “Hanya ada dua orang yang tahu teknik itu. Ibuku, yang sudah lama meninggal, dan... menantuku, Rose. Dan Rose yang sekarang duduk di lantai bawah, dia bahkan tidak tahu cara memegang cangkir teh dengan benar tanpa menjatuhkannya.”
Noa menarik tangannya kembali, seolah baru saja menyentuh bara api. Ia segera berdiri dan menundukkan kepala sedalam mungkin. “Mohon maaf jika tindakan saya tidak sopan, Nyonya. Saya hanya ingin mencegah luka melepuh.”
“Siapa kau sebenarnya?” Eleanor bertanya, suaranya kini merendah, penuh dengan ancaman sekaligus rasa ingin tahu yang besar. Ia meraih dagu Noa dengan jari-jarinya yang kuat, memaksa wanita bermasker itu untuk menatapnya. “Luka bakar di wajahmu... apa itu cara mereka mencoba menghapus siapa dirimu?”
Sebelum Noa sempat menjawab, pintu kamar terbuka. Jace melangkah masuk dengan wajah yang tegang. Ia melihat cangkir yang pecah dan Noa yang berdiri gemetar di depan ibunya.
“Ada apa ini? Ibu, kau terluka?” Jace mendekat, namun matanya langsung beralih pada Noa. “Kau... apa yang kau lakukan pada Ibuku?”
“Dia menyelamatkanku, Jace,” sela Eleanor dengan suara dingin yang kembali pulih. Ia melepaskan dagu Noa dan kembali bersandar. “Perawatmu ini punya bakat yang sangat langka. Bakat yang mengingatkanku pada masa lalu.”
Jace mengerutkan kening. Ia menatap genangan teh di lantai, lalu menatap Noa. Aroma minyak lavender yang tajam memenuhi ruangan—aroma yang sama yang selalu tercium dari kamar ibunya dulu saat Rose masih sering merawatnya.
“Keluar!” perintah Jace pada Noa. “Biarkan pelayan lain yang membersihkan ini. Aku ingin bicara dengan Ibuku.”
Noa membungkuk singkat, lalu bergegas keluar. Namun saat ia melewati Jace, Jace mencengkeram lengannya. Jace menatap sarung tangan Noa yang basah oleh teh panas.
“Tanganmu melepuh,” ucap Jace pelan. Ada nada aneh dalam suaranya—bukan rasa kasihan, tapi sesuatu yang lebih dekat dengan obsesi. “Pergi ke klinik di bawah! Aku tidak suka staf yang cacat bekerja di sini.”
Noa menarik lengannya dengan kasar dan berjalan pergi tanpa kata. Begitu ia sampai di koridor yang sepi, ia bersandar di dinding dan merosot ke lantai. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia hampir saja membongkar semuanya. Eleanor bukan wanita bodoh, sang Matriark telah memasang jebakan, dan Noa masuk ke dalamnya dengan telak.
Di dalam kamar, Jace menatap ibunya. “Ibu, jangan terlalu dekat dengan perawat itu. Ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Sloan sedang menyelidiki latar belakangnya.”
Eleanor tertawa kecil, suara yang membuat bulu kuduk Jace berdiri. “Kau takut, Jace? Kau takut karena dia tahu cara merawatku lebih baik daripada istrimu yang cantik itu? Atau kau takut karena dia memiliki mata yang tidak bisa kau lupakan?”
Jace terdiam. Ia teringat tatapan Noa di cermin pagi tadi. Ia teringat simpul dasi yang sempurna. Ia teringat aroma lavender ini.
“Rose yang ada di bawah... dia istrimu, bukan?” tanya Eleanor tiba-tiba, matanya menatap tajam ke arah anaknya. “Lalu kenapa setiap kali aku melihatnya, aku merasa sedang melihat sebuah boneka porselen yang kosong?”
Jace tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah keluar, namun di pikirannya hanya ada satu hal—ia harus melihat wajah di balik masker Noa. Malam ini juga.
Saat Jace berjalan menuju ruang kerjanya, ia berpapasan dengan Sloan. Sloan membisikkan sesuatu yang membuat Jace berhenti bernapas sejenak.
“Tuan, hasil lab dari masker berdarah semalam sudah keluar. Darah itu milik seseorang yang secara genetik identik dengan istri Anda. Tapi masalahnya... Rose sedang bersamaku saat insiden itu terjadi. Jadi, darah siapa yang tercecer di lantai kamar Ibu?”
Jace menoleh ke arah koridor tempat Noa baru saja menghilang. Paranoianya kini mencapai puncaknya. Jika Rose ada di bawah, dan darah Rose ada di lantai atas, maka siapa sebenarnya yang sedang ia beri makan di rumah ini?