ALIANSI DALAM GELAP

1179 Words
Gema suara Jace yang terburu-buru masih membekas di udara kamar rias yang dingin itu, namun jantung Noa—berdetak jauh lebih kencang karena benda di tangannya. Foto itu, di sudut gudang sebelum api melumat segalanya, membuat Noa merasa bahwa ada seseorang sedang mengawasinya. Noa menyembunyikan amplop cokelat itu di balik seragamnya, tepat di atas jantungnya yang berdebar. Ia tidak bisa pergi ke kamar Eleanor sekarang. Jika Jace atau Sloan sedang memburunya, tempat paling aman adalah tempat yang paling tidak terduga, ruang kerja pribadi Jace di sayap barat mansion. Tempat di mana semua rahasia disembunyikan di balik folder-folder kulit dan brankas baja. Malam telah jatuh di kediaman St. John. Cahaya bulan masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang merayap di atas lantai parket. Noa menunggu hingga jam menunjukkan pukul satu dini hari—saat di mana Eleanor biasanya sudah terlelap di bawah pengaruh obat tidurnya, dan Rose kemungkinan besar sedang menenggelamkan diri dalam kemewahan di kamar utama. Noa melangkah tanpa suara. Sepatu perawatnya yang bersol karet sangat membantu dalam misi senyap ini. Ia menyusuri koridor panjang menuju sayap barat, area yang Sloan peringatkan agar tidak pernah ia masuki. Pintu ruang kerja Jace terbuat dari kayu ek hitam yang berat. Noa mengeluarkan sebuah kunci duplikat yang ia buat dari cetakan lilin beberapa hari lalu—sebuah keterampilan yang ia pelajari dari seorang narapidana saat ia bersembunyi di pinggiran kota untuk memulihkan luka bakarnya. Saat pintu terbuka, ruangan berbau cerutu mahal, wiski tua, dan aroma maskulin Jace yang dominan itu menyambutnya. Noa masuk dan segera menutup pintu di belakangnya. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya dari lampu taman di luar sudah cukup untuk memberinya navigasi samar. Ia langsung menuju meja kerja besar milik Jace. Tangannya mulai menggeledah laci-laci. Ia mencari bukti tentang penyelesaian gudang yang sempat ia lihat sekilas tempo hari. “Di mana kau menyembunyikannya, Jace?” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar di keheningan malam. Jemarinya menyentuh sebuah tombol rahasia di bawah pinggiran meja—sebuah detail yang Rose ketahui karena dialah yang mendesain interior ruangan ini bertahun-tahun lalu. Sebuah laci tersembunyi bergeser terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah folder hitam tebal. Noa membukanya dengan tangan bergetar. Di sana terdapat laporan audit St. John Corp yang asli. Angka-angkanya jauh berbeda dengan laporan publik. Jutaan dolar dialirkan ke sebuah perusahaan cangkang bernama Thorne Apex. Namun, ada sesuatu yang lebih mengerikan di bawah tumpukan kertas itu. Sebuah polis asuransi jiwa atas nama Rose St. John dengan nilai fantastis, yang diklaim hanya tiga bulan setelah kejadian kebakaran. Dan penerima manfaatnya bukan hanya Jace, melainkan juga sebuah rekening atas nama Valerie Thorne. Valerie Thorne. Nama itu terasa asing, namun tajam di telinga Noa. Apakah itu nama asli Rose yang ada di ranjang bersama Jace setiap malam? Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari koridor. Noa membeku. Langkah itu tidak teratur, berat, dan berhenti tepat di depan pintu ruang kerja. Sloan. Noa tidak punya waktu untuk menutup laci rahasia itu dengan sempurna. Ia hanya sempat menyambar folder hitam tersebut dan menyelipkannya ke balik tirai beludru tebal yang menutupi jendela besar di belakang meja kerja. Tubuhnya yang mungil ia tekan rapat-rapat ke sudut dinding, tertutup sepenuhnya oleh kain tirai yang berat. Pintu terbuka dengan kasar. Cahaya dari koridor menyerbu masuk, menciptakan siluet raksasa di lantai. “Tuan Jace tidak ada di sini, Sloan. Dia sedang menenangkan istrinya yang sedang histeris di atas,” sebuah suara wanita terdengar. Itu adalah salah satu staf senior yang tampaknya bekerja untuk Sloan. “Aku tidak peduli. Jace harus tahu pergerakan saham Thorne Apex mulai tidak stabil. Seseorang sedang melakukan short selling besar-besaran terhadap aset kita,” suara Sloan terdengar kasar dan penuh tekanan. Ia berjalan masuk, menyalakan lampu meja, dan duduk tepat di kursi tempat Noa berdiri beberapa detik lalu. Noa menahan napas hingga dadanya terasa sakit. Melalui celah kecil di kain tirai, ia bisa melihat punggung Sloan. Pria itu mulai menelepon seseorang melalui speakerphone. “Halo? Ya, ini Sloan. Lupakan soal audit. Kita harus memindahkan sisa dana dari gudang itu sebelum polisi mencium baunya. Si penyusup yang kau lihat semalam... dia bukan orang asing. Dia tahu detail lokasi gudang dengan sangat baik,” Sloan bicara dengan nada rendah yang mengancam. “Apa maksudmu?” ucap suara di seberang telepon. “Aku curiga Rose tidak benar-benar mati. Jace mulai gila karena bayang-bayang perawat itu, tapi aku tidak percaya hantu. Jika wanita yang terbakar itu kembali, aku akan memastikan kali ini tidak ada satu inci pun kulitnya yang tersisa,” Sloan mematikan telepon dan membantingnya ke meja. Tensi di ruangan itu meroket. Noa bisa merasakan hawa panas amarah Sloan dari jarak satu meter. Sloan tiba-tiba berdiri, ia tampak gelisah. Ia mulai berjalan mengelilingi ruangan. “Ada yang tidak beres di sini,” gumam Sloan. Ia berhenti tepat di depan tirai tempat Noa bersembunyi. Noa memejamkan mata, memeluk folder hitam itu erat-erat. Ia bisa mendengar bunyi napas Sloan yang berat. Sebuah tangan besar mulai menyentuh pinggiran tirai. Satu detik lagi, dan tirai itu akan tersingkap. "“uan Sloan? Nyonya Eleanor memanggil Anda ke kamarnya sekarang. Dia bilang ini mendesak,” suara pelayan lain memecah ketegangan di ambang maut itu. Tangan Sloan berhenti. Ia mendengus kesal, menarik tangannya dari tirai. “Tua bangka itu... selalu tahu cara menggangguku.” Sloan mematikan lampu meja dan melangkah keluar, membanting pintu hingga debu di atas meja beterbangan. Noa luruh ke lantai di balik tirai. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia baru saja mendengar konfirmasi bahwa Sloan dan Jace memang berniat membunuhnya, dan mereka kini sedang mengincar penyusup lain yang mengintai gudang. Noa segera keluar dari persembunyiannya. Ia harus mengembalikan folder itu atau membawanya? Jika ia membawanya, Jace akan sadar ada pencuri. Jika ia mengembalikannya, ia kehilangan bukti. Ia memutuskan untuk memotret setiap lembar dokumen itu dengan ponselnya sebelum mengembalikan folder itu ke posisi semula dengan presisi milimeter. Saat ia menyelinap keluar menuju kamarnya, ia melewati lorong gelap di dekat dapur. Tiba-tiba, sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang. Noa mencoba meronta, namun tenaga orang itu terlalu kuat. Ia diseret ke dalam ruang penyimpanan gelap di bawah tangga. “Diam jika kau ingin hidup!” sebuah bisikan dingin masuk ke telinganya. Orang itu melepaskan bekapannya. Noa berbalik dengan napas terengah, siap untuk menyerang dengan gunting kecil yang ia simpan di saku. Namun, ia tertegun. Di hadapannya berdiri wanita yang semalam berteriak di depan gerbang. Wanita yang mengaku sebagai Rose St. John asli. Tanpa riasan, wanita itu tampak lelah, namun matanya memancarkan ketakutan yang sama dengan Noa. “Kau... siapa?” bisik Noa. Wanita itu mencengkeram bahu Noa. “Aku adalah orang yang membayar agensi untuk mengirimmu ke sini. Aku butuh bantuanmu, Noa. Mereka tidak hanya mencuri wajahmu... mereka mencuri anakku.” Noa terpaku. Anak? Rose tidak pernah memiliki anak dengan Jace. Ataukah ada rahasia lain yang bahkan Rose sendiri tidak tahu selama sepuluh tahun pernikahannya? Wanita misterius itu memberikan sebuah kalung kecil berbentuk hati yang di dalamnya terdapat foto seorang bayi laki-laki. Di balik foto itu tertulis: “Jace Jr. - St. John Trust”. Noa baru menyadari bahwa selama Rose menjadi istri sah, Jace telah menyembunyikan sebuah keluarga lain di balik punggungnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD