CERMIN YANG BERTERIAK

1024 Words
Kekacauan di gerbang semalam berakhir dengan pengusiran kasar oleh Sloan, namun gema dari teriakan wanita misterius itu masih menggantung di setiap sudut kediaman St. John. Jace membatalkan perintah untuk membuka masker Noa karena perhatiannya teralih sepenuhnya pada insiden tersebut. Bagi Noa, itu adalah keberuntungan yang tipis. Pagi ini, tugas Noa adalah membersihkan kamar rias utama setelah Rose berangkat menuju butik. Kamar itu masih dipenuhi aroma parfum Santal tiga puluh tiga yang memuakkan. Noa melangkah masuk, menutup pintu ganda yang berat itu, dan seketika ia merasa dikepung oleh hantu-hantu masa lalunya sendiri. Ia berdiri di depan cermin besar berbingkai perak—tempat yang dulu ia gunakan untuk menyisir rambutnya yang panjang dan sehat. Noa perlahan mengangkat tangannya, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan kaca yang dingin. Di balik pantulan itu, ia melihat seorang wanita dengan masker hitam yang menutupi separuh wajahnya. “Ini bukan kamarmu lagi,” bisik sebuah suara di dalam kepalanya. Noa membuka laci rias, mencari sesuatu yang ia tinggalkan setahun lalu. Di pojok paling dalam, di balik tumpukan kosmetik mahal milik si penyusup, jemarinya menyentuh sebuah celah kecil di kayu laci. Itu adalah ruang rahasia yang ia buat sendiri. Dengan kuku yang pendek, ia mencongkel kayu tersebut hingga terbuka. Di sana, masih ada sebuah cincin perak sederhana dengan inisial R. Itu adalah cincin yang Jace berikan saat mereka masih kuliah—jauh sebelum Jace terobsesi dengan kekuasaan dan citra St. John. Noa menggenggam cincin itu erat-erat hingga pinggirannya menusuk telapak tangannya. Si penyusup mungkin telah mengambil berlian-berliannya, tapi dia terlalu dangkal untuk menemukan kenangan yang sebenarnya. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah kamar tidur. Noa dengan cepat menutup laci dan menyembunyikan cincin itu di balik sarung tangannya. Pintu terbuka. Jace berdiri di sana, jasnya sudah terpasang rapi, namun dasinya masih menggantung lepas di leher. Ia tampak tidak tidur semalam. Kantung mata yang gelap mempertegas raut wajahnya yang keras. “Di mana dia?” tanya Jace parau. “Nyonya sudah pergi ke butik sejak satu jam yang lalu, Tuan,” jawab Noa, ia tetap menunduk, pura-pura menyeka debu di meja rias. Jace tidak pergi. Ia justru masuk lebih dalam ke kamar rias itu, mendekati Noa hingga ia bisa mencium aroma obat-obatan yang melekat pada seragam perawat wanita itu. Noa bisa merasakan kehadiran Jace yang mendominasi—pria yang dulu pernah menjadi seluruh dunianya, kini terasa seperti pemangsa yang berbahaya. “Kenapa kau tidak pernah melepas masker itu?” Jace bertanya, matanya menatap tajam pantulan Noa di cermin. “Bahkan saat kau hanya sendirian di ruangan ini?” “Luka saya tidak indah untuk dilihat, Tuan. Saya tidak ingin mengotori estetika rumah ini,” jawab Noa tanpa nada. Jace bergerak satu langkah lebih dekat. Ia mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh masker Noa, namun jemarinya berhenti tepat satu inci di depan wajah Noa. Ada keraguan yang sangat dalam di wajah Jace. Ia menatap mata Noa di cermin, mencoba mencari sesuatu yang terus-menerus menggelitik sanubarinya sejak kemarin. “Kau punya cara berdiri yang sangat... spesifik,” bisik Jace. “Setiap kali kau membelakangi aku, aku merasa seolah sedang melihat seseorang yang seharusnya sudah tidak ada.” Noa mematung. Detak jantungnya berdebum di telinganya seperti genderang perang. Ia harus mengalihkan perhatian Jace sebelum pria itu menyadari lebih jauh. “Mungkin itu hanya perasaan Anda, Tuan. Trauma karena insiden di gerbang semalam pasti sangat mengganggu,” Noa berbalik perlahan, menjaga jarak yang aman. “Apakah Anda ingin saya membantu memasangkan dasi Anda? Saya terbiasa melakukannya untuk pasien-pasien saya sebelumnya.” Jace terdiam sebentar, lalu dengan gerakan mekanis, ia mengangguk. Noa mendekat. Tangannya yang mungil dan terbungkus kain sarung tangan mulai melilitkan dasi di kerah kemeja Jace. Ini adalah jarak terdekat mereka setelah api itu melumat segalanya. Noa bisa merasakan kehangatan dari tubuh Jace, mendengar hela napasnya yang berat. Dulu, ini adalah rutinitas yang penuh kasih. Sekarang, setiap gerakan tangan Noa terasa seperti sedang menyiapkan tali gantungan. Jace terus menatap mata Noa dari balik masker. “Tanganmu... gemetar.” “Saya hanya merasa gugup melayani Tuan besar seperti Anda,” Noa menyelesaikan simpul dasinya dan segera mundur dua langkah. Jace tidak merespon. Ia menatap simpul dasi itu di cermin. Simpul Windsor ganda yang sangat sempurna, dengan lekukan di bagian tengah yang sangat khas—persis seperti cara Rose dulu selalu melakukannya untuknya. Jace mematung, tangannya menyentuh dasi itu dengan tatapan yang nyaris ngeri. Sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, ponsel di atas meja bergetar hebat. Nama Sloan muncul di layar. Jace menyambar ponselnya. “Ya, Sloan? Apa? Gudang itu? Kenapa bisa ada yang masuk ke sana?” Noa menajamkan pendengarannya. Ia tidak bergerak, berpura-pura sibuk merapikan botol parfum. “Cari siapa orangnya! Dan pastikan Eleanor tidak tahu apa-apa soal ini. Aku akan ke kantor sekarang,” Jace menutup telepon dengan kasar. Ia menatap Noa sejenak, tatapannya kini dipenuhi kecurigaan dan amarah yang baru saja tersulut. “Lanjutkan tugasmu. Dan ingat, kau di sini hanya untuk merawat ibuku. Jangan menyentuh barang-barang di kamar ini lagi.” Jace melangkah keluar dengan terburu-buru. Noa menunggu sampai suara langkah sepatunya menghilang di koridor sebelum ia akhirnya jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Ia membuka sarung tangannya dan menatap cincin perak di telapak tangannya yang memerah. Sloan sedang panik. Ada seseorang yang masuk ke gudang—tempat eksekusinya. Noa tahu itu bukan dia, karena dia sedang berada di rumah ini. Berarti, ada pihak lain yang sedang mengincar Jace dan Sloan? Atau mungkin, Eleanor diam-diam sudah mulai bergerak? Noa berdiri, mengusap air mata yang nyaris jatuh. Ia tidak boleh lemah. Perjalanan masih sangat panjang, dan ia baru saja menanamkan duri kecil di hati Jace. Duri yang akan tumbuh menjadi paranoia yang mematikan. Ia harus segera ke kamar Eleanor. Jika Jace menyembunyikan sesuatu tentang gudang itu, maka Eleanor adalah orang yang paling mungkin memiliki kuncinya. Saat Noa hendak keluar dari kamar rias, ia melihat sebuah amplop cokelat terselip di bawah pintu. Di atasnya tertulis namanya. “Untuk Noa”. Saat ia membukanya, hanya ada selembar foto lama yang terbakar di bagian tepinya—foto lama Rose saat sedang tidur, diambil secara sembunyi-sembunyi dari sudut gudang yang sama tempat ia hampir mati. Di bawah foto itu ada tulisan. “Aku melihatmu dari balik api.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD