Masker berdarah itu tergeletak di lantai, tampak seperti bangkai gagak yang baru saja disembelih. Jace menatap Noa dengan sorot yang menuntut penjelasan, sementara Eleanor tetap tenang di kursi rodanya, seolah darah di lantai itu hanyalah tumpahan anggur merah biasa.
“Aku bertanya padamu, Ibu! Siapa wanita ini?” suara Jace merendah, namun getarannya mampu meruntuhkan kewarasan siapa pun. “Tadi aku melihat perawat serupa di lantai bawah, berlari keluar dengan luka di lehernya setelah Sloan mencoba menghentikannya. Lalu sekarang, ada satu lagi di kamarmu?”
Noa menahan napas. Jantungnya berdentum kencang. Ada perawat lain? Seseorang mencoba menyusup malam ini, atau mungkin Sloan sengaja menciptakan pengalih perhatian untuk menguji kewaspadaan Eleanor.
“Dia perawat baruku, Jace. Yang kau lihat di bawah mungkin hanya staf dapur yang ketakutan karena sikap Sloan yang seperti anjing pelacak,” jawab Eleanor dingin. Ia menunjuk ke arah pintu. “Pergi! Dan bawa sampah berdarah itu bersamamu. Kau mengganggu waktu istirahatku.”
Jace mendengus, matanya sempat memicing ke arah Noa sekali lagi sebelum ia menyambar masker berdarah itu dan melangkah keluar. Pintu tertutup dengan dentuman keras.
“Jangan hanya berdiri di sana,” Eleanor berbisik pada Noa. “Bersihkan diri! Besok adalah hari pertamamu bekerja di kamar utama.”
Keesokan paginya, matahari yang terik menembus jendela kamar utama St. John melalui tirai sutra emas. Noa berdiri di sudut ruangan, memegang nampan perak berisi kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang disukai Jace setiap pagi.
Pemandangan di hadapannya adalah racun murni.
Di atas ranjang king size dengan sprei sutra putih, Rose menggeliat pelan. Ia terbangun dalam pelukan Jace. Tangan Jace yang dulu selalu membelai rambut Rose dengan lembut, kini melingkar di pinggang wanita yang memiliki wajah identik dengannya.
Noa harus mencengkeram nampan itu dengan jemari yang gemetar. Ia menyaksikan Rose bangun, dan melirik ke arah dirinya dengan tatapan merendahkan, lalu sengaja mengecup bibir Jace dengan manja di depan matanya.
“Kopi, Nyonya?” suara Noa terdengar datar, padahal di dalam hatinya ia ingin menjerit.
Rose turun dari ranjang, mengenakan negligee transparan miliknya. Ia berjalan menuju meja rias, lalu menyemprotkan parfum Le Labo Santal tiga puluh tiga ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma itu memenuhi ruangan, aroma yang dulu adalah identitas Rose.
Tak berhenti di situ, Rose membuka kotak perhiasan di atas meja. Jemarinya yang ramping mengambil sepasang anting berlian berbentuk tetesan air mata.
“Itu milik ibuku,” batin Noa menjerit.
Perhiasan itu adalah warisan terakhir yang Rose terima sebelum ibunya wafat. Melihat anting itu dikenakan oleh wanita yang mencoba membakarnya membuat luka di wajah Noa terasa seperti disayat silet kembali.
“Perawat, ambilkan jubahku!” perintah Rose tanpa menoleh.
Noa bergerak lambat, membantunya mengenakan jubah sutra. Melalui pantulan cermin rias, Jace yang masih bersandar di kepala ranjang tiba-tiba menatap Noa. Mata mereka bertemu di cermin. Jace terdiam lama, matanya menyusuri garis masker hitam Noa hingga ke bekas luka yang mengintip di dahinya.
Ada kilatan kebingungan di wajah Jace—sebuah rasa familiar yang kembali menyiksanya. Jace merasa seolah bayangan Rose yang sesungguhnya sedang mengawasinya melalui tubuh perawat cacat itu. Namun, sebelum Jace bicara, Rose segera menghalangi pandangannya, merangkul leher Jace dari belakang.
Malam harinya, meja makan marmer sepanjang lima meter itu diselimuti suasana yang lebih dingin daripada mesin pendingin ruangan. Jamuan makan malam keluarga adalah ritual wajib yang dipimpin oleh Eleanor.
Di sana duduk Jace, Rose dan Sloan—yang hadir dengan alasan urusan bisnis mendesak. Noa berdiri di belakang kursi Eleanor, bertugas menyajikan hidangan pembuka, Lobster Thermidor dengan saus krim lemon.
Noa menyajikan piring itu di depan Rose. Ia tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun di ruangan itu kecuali dirinya sendiri.
Rose sangat alergi pada udang dan lobster. Satu suapan kecil akan membuat tenggorokannya bengkak dalam hitungan menit.
Tapi kini, Rose mengambil garpunya, memotong sepotong kecil daging lobster, dan memasukkannya ke mulut dengan anggun. Ia mengunyah, menelannya, dan tetap tersenyum sambil memuji rasa masakannya.
Detik demi detik berlalu. Tidak ada reaksi, apalagi ruam. Bahkan tidak juga sesak napas.
Noa mematung. Eleanor yang duduk di ujung meja, meletakkan gelas anggurnya dengan pelan. Suasana meja makan mendadak membeku. Eleanor menatap Rose yang asyik makan, lalu perlahan mengalihkan matanya yang tajam ke arah Noa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sloan, yang sedari tadi hanya mengamati dari sudut mata, berdehem. Ia menoleh ke arah Rose dan berbisik dengan nada yang cukup keras untuk didengar oleh Noa yang berdiri di dekat mereka.
“Hati-hati dengan makananmu, Sayang,” bisik Sloan sambil tersenyum licik. “Kita tidak ingin ada masalah kesehatan sebelum kita menyelesaikan masalah di gudang yang belum tuntas itu, bukan?”
Rose tertawa kecil, melirik Sloan dengan penuh rahasia. “Gudang itu sudah bersih, Sloan. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan!”
Tangan Noa yang memegang botol anggur gemetar hebat. Masalah di gudang yang belum tuntas. Jadi, mereka tahu dia mungkin masih hidup?
Tiba-tiba, Jace meletakkan sendoknya dengan kasar, membuat denting logam yang memekakkan telinga. Ia menatap Noa yang berdiri di belakang ibunya.
“Kenapa kau terus menatap kami seperti itu, Perawat?” tanya Jace, suaranya penuh selidik dan kemarahan yang tertahan. “Buka maskermu saat melayani di meja makan. Aku tidak suka ada orang asing yang menyembunyikan wajahnya di depan makananku.”
Sloan menoleh, matanya berkilat penuh kemenangan. Rose berhenti makan, menunggu dengan seringai tipis. Sementara Eleanor tetap diam, menunggu reaksi Noa.
Noa terjebak. Jika ia membuka maskernya sekarang, penyamarannya berakhir di depan Jace dan Sloan yang haus darah. Jika ia menolak, Jace akan mengusirnya malam ini juga.
“Buka!” Jace memerintah lagi, kali ini lebih keras.
Noa perlahan mengangkat tangannya menuju telinga, menyentuh kaitan masker hitamnya. Di dalam ruangan itu, suara napasnya terdengar seperti deru angin di padang pasir yang sunyi.
Saat jari Noa mulai melepaskan kaitan maskernya, pintu ruang makan terbuka dengan kasar. Seorang pelayan masuk dengan wajah pucat pasi.
“Tuan Jace! Nyonya Besar! Maafkan saya... tapi ada seseorang di depan gerbang. Dia... dia mengaku sebagai Rose St. John yang asli dan menuntut untuk masuk!”