Api kecil sudah menyala, namun amarah mereka justru semakin berkobar.
“Kau mencari sesuatu yang bukan urusanmu, Sloan?” bisikan Jace menyapu kulit leher Sloan. “Atau kau sedang mengumpulkan bukti untuk menjualku kepada polisi?”
Sloan menelan ludah. Ia ingin membantah dengan menyusun kebohongan yang logis, namun tatapan Jace mengunci setiap sel di tubuhnya. Dua pengawal bertubuh besar di belakang Jace melangkah maju, mempersempit ruang gerak Sloan.
“Tuan, saya hanya... saya hanya ingin memastikan tidak ada celah yang bisa merugikan kita,” dalih Sloan.
Jace tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah maju, merampas map itu dari tangan Sloan. Jace kembali menatap map itu, memindai isinya sejenak, lalu menyulut sudut kertas itu dengan api dari pemantiknya.
Lidah api mulai melahap dokumen medis tersebut. Jace memegang map yang terbakar itu tepat di depan wajah Sloan.
“Kau hanyalah anjing yang bertugas menjaga gerbang, bukan anjing yang menggali kuburan majikannya sendiri.”
Jace menjatuhkan sisa map yang sudah hangus itu, lalu menginjaknya hingga hancur. Ia menoleh ke arah salah satu pengawalnya.
“Sita semua perangkat komunikasinya. Mulai besok, akses Sloan ke brankas pusat dan sistem audit perusahaan dicabut. Dia tetap Direktur Operasional, tapi hanya di atas kertas. Berikan dia meja di sudut ruangan tanpa koneksi internet.”
“Dan... bereskan kekacauan paviliun!”
“Kau pikir dengan membakar Noa masalah akan selesai?”
Wajah Sloan memucat. “B..bukan saya yang melakukan itu tuan Jace!”
Rose membeku di tempat. Ia menatap Sloan, lalu melirik dokumen yang sudah berantakan di lantai. Ia penasaran, dokumen apa yang dibawa Sloan sehingga membuat Jace begitu murka?
Keesokan paginya. Pintu paviliun yang didobrak paksa dengan bahu membuat Noa terkejut.
Sloan masuk dengan napas memburu. Matanya merah, penampilannya yang biasanya rapi kini berantakan, dasinya sudah dilepas, dan kemejanya basah oleh keringat. Di tangannya, ia menggenggam sebuah botol wiski yang sudah tinggal seperempat. Ia menutup pintu dengan tendangan kaki, lalu menguncinya dari dalam.
“Kau...” Sloan menunjuk Noa dengan telunjuk yang bergetar. “Kau adalah iblis yang dikirim untuk menghancurkanku, bukan?”
Noa tidak mundur. Ia berdiri tegak di balik meja kayu, menatap Sloan dengan ketenangan yang menghina. “Anda yang menghancurkan diri Anda sendiri, Tuan. Saya hanya memberikan sedikit dorongan pada kebenaran.”
“Kebenaran?!” Sloan tertawa parau, suaranya pecah karena frustrasi. Ia melangkah maju, menabrak kursi hingga terjungkal. “Jace mengambil segalanya dariku hari ini. Aksesku, hartaku, kekuasaanku... semuanya karena pesan-pesan sialan itu! Kau pikir aku tidak tahu itu berasal darimu?”
Sloan menerjang maju melewati meja. Ia mencengkeram leher Noa dengan tangan kirinya dan mendorong wanita itu hingga punggungnya membentur dinding paviliun dengan keras. Noa terkesiap, tangannya secara refleks mencengkeram pergelangan tangan Sloan yang terasa sekeras besi.
“Aku tahu kau bukan perawat biasa,” bisik Sloan tepat di depan wajah Noa. Bau alkohol yang tajam menusuk indra penciuman Noa. “Mata itu... cara kau menatapku... kau menikmati kekacauan ku ini, kan? Kau menikmati melihatku terpojok?”
Noa mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun Sloan justru semakin mempereratnya. Oksigen mulai menipis di paru-paru Noa.
“Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya,” desis Sloan. “Jika aku harus jatuh, aku akan memastikan kau tidak akan ada di sini untuk merayakannya. Aku akan mengirimmu menyusul Rose ke neraka malam ini juga!”
Tangan kanan Sloan meraih sebuah gunting medis yang tergeletak di atas meja. Ia mengangkat benda tajam itu tinggi-tinggi, siap untuk menghunjamkannya ke d**a Noa. Noa memejamkan mata, tangannya meraba-raba ke arah sakunya, mencari sesuatu untuk membela diri.
Tepat saat ujung gunting itu nyaris menyentuh seragam Noa, sebuah suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang mantap terdengar di koridor luar.
Sloan membeku. Ia tidak melepaskan Noa, namun kepalanya menoleh ke arah pintu dengan ekspresi ngeri. “Jace? Tidak... Jace tidak berjalan seperti itu.”
Pintu paviliun yang terkunci dari dalam itu tiba-tiba terbuka dengan derit yang menyayat telinga, seolah kuncinya baru saja dibuka dari luar dengan kunci induk yang hanya dimiliki oleh pemilik sah rumah ini.
Sosok itu berdiri di ambang pintu, disinari oleh lampu koridor yang terang benderang.
Eleanor St. John.
Ia tidak lagi berada di kursi roda. Ia kini berdiri tegak dengan tongkat berkepala perak di tangan kanannya. Wajahnya yang pucat karena sakit kini tampak segar, tajam, dan penuh dengan aura kemarahan yang agung. Di belakangnya, berdiri dua orang pria berpakaian trench coat abu-abu—detektif swasta dari firma hukum paling elit di kota.
“Lepaskan tangan kotor itu dari perawatku, Sloan!”