Di sayap barat mansion, Jace berdiri di depan layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV dari gerbang utama. Ia melihat mobil Sloan keluar tanpa izin di jam kerja—sesuatu yang belum pernah terjadi selama sepuluh tahun Sloan bekerja untuknya. Jace menyesap wiskinya, merasakan cairan hangat itu membakar kerongkongannya.
Tiba-tiba, laptop pribadinya yang terletak di atas meja kerja berbunyi. Sebuah email masuk dari alamat yang tidak terenkripsi. Subjeknya hanya berupa deretan angka koordinat: “Gudang X-12: Audit Rahasia Direktur Operasional”.
Jace meletakkan gelasnya. Ia membuka email tersebut. Di dalamnya terlampir beberapa foto dokumen digital—bukan dokumen penggelapan dana yang biasa ia lakukan, melainkan dokumen pembelian saham di perusahaan kompetitor, Vargas Group, yang selama ini menjadi musuh bebuyutan St. John Corp.
Dokumen itu atas nama perusahaan cangkang yang dipimpin oleh adik perempuan Sloan.
Jace menyipitkan mata. Ia memutar-mutar pemantik api emasnya. Jika Sloan mulai menanam modal di tempat lain, itu hanya berarti satu hal, Sloan sedang menyiapkan sekoci penyelamat sebelum menenggelamkan kapalnya.
“Kau ingin bermain-main denganku, Sloan?” gumam Jace.
Ia segera menekan tombol interkom untuk memanggil pelayan. “Bawa perawat Eleanor ke sini. Sekarang!”
Noa tiba lima menit kemudian. Ia masuk dengan kepala menunduk, menjaga postur tubuhnya tetap terlihat patuh dan tidak mengancam.
“Duduk!” perintah Jace tanpa menoleh. Ia masih menatap layar monitor yang kini menampilkan wajah Sloan yang terekam kamera dasbor saat keluar gerbang tadi.
Noa duduk di kursi di hadapan meja kerja Jace. Ia bisa mencium aroma wiski dan tembakau yang sangat kuat di ruangan ini—aroma d******i pria yang sedang terpojok.
“Tadi kau melihat Sloan sebelum dia pergi?” tanya Jace tiba-tiba. Matanya beralih dari monitor langsung ke mata Noa.
“Saya melihat Tuan Sloan di koridor dekat dapur, Tuan,” jawab Noa. Memberikan kesan bahwa ia masih trauma akibat konfrontasi semalam.
“Apa dia menerima sesuatu?”
Noa terdiam sejenak, memberikan jeda yang cukup untuk membangun tensi. “Beliau menerima sebuah kotak hitam kecil dari kurir internal. Wajahnya berubah sangat pucat setelah membukanya. Saya mendengar beliau menyebut nama nyonya Rose beberapa kali dengan nada yang... saya rasa bukan nada ramah.”
Jace membeku. Pemantik di tangannya berhenti berbunyi. “Rose? Kau yakin?”
“Saya yakin, Tuan. Beliau tampak sangat marah dan menyebutkan sesuatu tentang penjara dan pengkhianatan. Lalu beliau pergi dengan terburu-buru,” Noa menambahkan kebohongan yang dibungkus dengan fakta kecil secara cerdik.
Jace berdiri, berjalan perlahan menuju jendela yang menghadap ke arah taman. Ia mengepalkan tangannya di balik punggung. Pikirannya mulai menyatukan kepingan-kepingan informasi yang sengaja disajikan Noa.
Di kepalanya, skenarionya sudah terbentuk—Sloan merasa terancam oleh Rose yang mulai tidak stabil, dan Sloan sedang mengumpulkan bukti untuk mengkhianati Jace agar dia mendapatkan kesepakatan imunitas dari polisi. Sloan adalah orang yang tahu letak semua mayat yang ia kubur, secara harfiah maupun kiasan.
“Kau boleh pergi, Noa,” ucap Jace. “Dan ingat, jika kau membocorkan pembicaraan ini pada Rose, aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari besok.”
“Saya mengerti, Tuan.”
Noa keluar dari ruangan itu dengan langkah yang tetap tenang. Begitu pintu tertutup, ia menarik napas dalam. Umpan sudah ditelan. Jace sekarang tidak hanya curiga pada Rose, tapi dia mulai melihat Sloan sebagai musuh dalam selimut.
Jamuan makan malam hari itu menjadi ajang perang dingin yang paling menyesakkan di kediaman St. John. Meja makan marmer sepanjang lima meter itu hanya diisi oleh Jace dan Rose. Sloan, yang biasanya selalu hadir untuk melaporkan operasional harian, absen tanpa kabar.
Rose duduk dengan gelisah. Ia terus memainkan garpunya tanpa menyentuh steak wagyu di depannya. Ia berkali-kali melirik ponselnya, menunggu balasan pesan dari Sloan yang tak kunjung datang.
“Kenapa tidak dimakan, Sayang?” tanya Jace. Suaranya terdengar sangat manis, namun Rose tahu itu adalah nada ancaman yang disamarkan.
“Aku hanya kurang nafsu makan, Jace. Mungkin karena mengkhawatirkan Ibu,” jawab Rose cepat.
Jace meletakkan pisau dan garpunya dengan bunyi denting logam yang memekakkan telinga. Ia menatap Rose dengan intensitas yang membuat wanita itu ingin melarikan diri dari ruangan tersebut.
“Sloan pergi tanpa pamit padaku sore tadi,” ucap Jace santai. “Kau tahu dia pergi ke mana? Biasanya dia selalu memberitahumu segalanya, bukan? Bahkan hal-hal yang tidak aku ketahui.”
Rose menelan ludah. Ia bisa merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. “Aku tidak tahu, Jace. Kami hanya bicara soal audit perusahaan tadi pagi. Mungkin dia ada urusan keluarga yang mendesak.”
“Urusan keluarga?” Jace tertawa kecil. “Sloan tidak punya keluarga selain kita, Rose. Atau mungkin... dia sedang mencari keluarga baru di tempat lain?”
Rose tidak berani menjawab. Ia hanya bisa menunduk, menatap pantulan wajahnya yang sempurna di atas sendok perak yang berkilau. Ia merasa Jace sedang mengulitinya hidup-hidup dengan kata-katanya.
Di sudut ruangan, Noa berdiri mematung sambil memegang botol anggur. Ia melihat bagaimana Jace sedang bermain dengan mangsanya.
Pukul dua dini hari. Hujan badai telah mereda, menyisakan tetesan air yang jatuh ritmis dari atap mansion ke atas lantai paving.
Di paviliun, Noa tidak tidur. Ia berdiri di balik tirai, tatapannya tetap tertuju pada gerbang utama. Ia tahu Sloan akan kembali malam ini. Pria seperti Sloan tidak akan lari sebelum ia merasa memegang kartu as untuk menegosiasikan nyawanya.
Lampu sorot mobil menyambar aspal basah. Benar saja, mobil yang di kemudikan Sloan memasuki area garasi sayap barat. Noa melihat pria itu turun dari mobil. Di tangan kanannya, sebuah map kulit berwarna cokelat tua didekap erat.
Sloan menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada penjaga yang melihatnya. Ia tidak tahu bahwa sistem keamanan rumah ini sudah diambil alih sepenuhnya oleh Jace sejak sore tadi.
Begitu Sloan melangkah keluar dari bayang-bayang mobilnya, lampu neon di garasi mendadak menyala serentak, menyilaukan mata.
Sloan tersentak, tangannya secara refleks meraba pinggang belakangnya, tempat ia biasanya menyembunyikan senjata. Namun, langkahnya terhenti.
Jace berdiri di sana.
Pria itu sedang duduk di atas kap mobil Maybach hitamnya, mengenakan jubah mandi sutra berwarna gelap. Di tangannya, Jace memutar-mutar pemantik api emasnya.
Bunyi logam itu memecah kesunyian malam dengan presisi yang mengerikan. Di samping Jace, dua pengawal bertubuh besar berdiri seperti patung batu.
“Kau pulang terlambat, Sloan,” ucap Jace datar.
Sloan menelan ludah. Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan. “Ada urusan mendesak dengan vendor di pinggiran kota, Tuan. Saya tidak ingin mengganggu istirahat Anda.”
Jace tertawa kecil. “Vendor? Di jam dua pagi? Sejak kapan kau mulai berbohong padaku? Kau lupa siapa yang mengeluarkanmu dari selokan sepuluh tahun lalu?”
Jace turun dari kap mobil, berjalan perlahan mendekati Sloan. Sepatu rumahnya yang berbahan beludru tidak menimbulkan suara di lantai beton. Ia berhenti tepat di depan Sloan, matanya langsung tertuju pada map cokelat di tangan pria itu.
“Apa itu?” tanya Jace, menunjuk map tersebut dengan pemantiknya.
“Hanya laporan audit internal yang saya kerjakan sendiri, Tuan,” bohong Sloan. Ia mencengkeram map itu lebih kuat hingga kertas di dalamnya sedikit kusut.
“Berikan padaku!” perintah Jace.
“Tuan, ini masih draf kasar. Saya akan menyerahkannya besok pagi di kantor—”
Bugh!
Satu pukulan keras dari pengawal di samping Jace mendarat tepat di ulu hati Sloan. Sloan tersungkur di lantai, terbatuk-batuk mencari udara. Map cokelat itu terlepas dari tangannya dan meluncur ke arah kaki Jace.
Jace memungut map itu dengan tenang. Ia membukanya, membalik halaman demi halaman di bawah lampu neon yang berkedip. Matanya menyusuri catatan operasi plastik, foto-foto sebelum dan sesudah dari klinik ilegal, serta nama asli pasien yang tertera di sana.
Jace menutup map itu kembali. Ia menatap Sloan yang masih berlutut di lantai dengan napas tersengal.
“Kau mencari bukti bahwa istriku adalah seorang penipu?” bisik Jace, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Sloan. “Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak menyadari siapa yang tidur di sampingku setiap malam?”
Sloan mendongak, matanya melebar karena terkejut. “Tuan... Anda tahu?”
“Tentu saja aku tahu!” Jace meledak, suaranya menggema di seluruh garasi. “Aku yang membayar dokter itu melalui rekening pribadimu! Aku yang mengatur agar Rose yang sesungguhnya terbakar agar aku bisa mengendalikan asetnya lewat wanita penurut ini! Dan sekarang kau... kau mencoba mengumpulkan bukti untuk memeras kami berdua?”
Jace menarik kerah baju Sloan, mengangkat pria itu hingga berdiri. “Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri dengan membawa dokumen ini ke rumahku.”
Tiba-tiba, dari arah pintu masuk garasi yang terhubung ke dapur, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Rose muncul di sana dengan wajah yang pucat pasi, matanya menatap horor ke arah map di tangan Jace.
“Jace... apa yang terjadi?” tanya Rose dengan suara gemetar.
Jace tidak menoleh. Ia menatap Sloan dengan tatapan yang sangat dingin. “Sloan baru saja mencoba menjual sebuah rahasia pada polisi.”
Rose membelalak. “Rahasia?”
Rose mengalihkan pandang pasa Sloan. “Kau... kau mencoba mengkhianatiku, kami? Setelah semua yang kami berikan?!”
Sloan tertawa parau, darah keluar dari sudut bibirnya. “Kau hanya pion Jace, dan sekarang dia akan membuang kita berdua!"
Sloan tiba-tiba merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil. “Aku sudah mengirimkan salinan dokumen ini ke perawat itu! Jika aku mati malam ini, Noa akan membongkar semuanya ke publik lewat sahabatnya!”
Jace membeku. Ia kemudian, mencengkeram leher Sloan dan mendorongnya ke dinding beton dengan kekuatan penuh. “Apa katamu?! Kau memberikan bukti itu pada perawat?!”
Tepat saat itu, alarm kebakaran di seluruh mansion mendadak berbunyi dengan nyaring. Lampu garasi mati total, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang pekat. Dari arah paviliun, kobaran api kecil mulai terlihat menjilat jendela.
Jace melepaskan Sloan dan menoleh ke arah paviliun dengan ngeri. Di tengah kegelapan, ia melihat siluet perawat bermasker itu sedang berdiri tenang di tengah taman, memegang sebuah jeriken bensin kosong sambil menatap langsung ke arah garasi dengan mata yang berkilat dingin.