BENIH KERAGUAN

2221 Words
Laras senjata api milik Sloan masih mengarah tepat ke kening Noa. Logam dingin itu berkilau tertimpa cahaya lampu kristal yang baru saja dinyalakan. Di seberang meja, Rose berdiri dengan napas yang masih tersengal, matanya menatap tajam ke arah pena medis yang baru saja ia hancurkan di bawah tumit sepatu hak tingginya. Noa tidak bergerak. Ia tidak menunjukkan ketakutan yang diharapkan Rose. Ia justru menatap Jace, yang kini sedang menyeka darah di lehernya dengan saputangan sutra. “Kau pikir menghancurkan plastik itu akan menghapus suaramu, Rose?” tanya Noa, nyaris tanpa emosi. “Itu hanya alat pemutar. File aslinya sudah berada di server awan yang terjadwal. Jika aku tidak memasukkan kode verifikasi setiap dua jam, email berisi rekaman itu akan terkirim secara otomatis ke tim pengacara Eleanor dan pihak kepolisian.” Sloan mempererat cengkeramannya pada senjata. Ia melirik Jace, menunggu perintah untuk menarik pelatuk. Jace terdiam. Ia adalah seorang pria yang hidup berdasarkan kalkulasi risiko, dan saat ini, membunuh Noa adalah risiko yang tidak bisa ia tanggung. “Turunkan senjatamu, Sloan!” perintah Jace. “Tapi Tuan, dia—” “Aku bilang turunkan!” bentak Jace. Sloan menurunkan senjatanya dengan enggan, namun tatapannya tetap mengunci Noa dengan penuh kebencian. Di sampingnya, Rose tampak tidak puas. Ia melangkah maju, wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena amarah. “Jace! Dia hampir membunuhmu! Kita tidak bisa membiarkannya tetap di sini!” Jace tidak menghiraukan istrinya. Ia berjalan mendekati Noa, berhenti tepat di depannya hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. “Kau sangat percaya diri untuk seseorang yang hidupnya berada di tanganku, Noa. Atau siapa pun kau sebenarnya.” Noa mendongak, menatap Jace tepat di matanya. “Hidupku sudah berakhir setahun lalu, Jace. Yang tersisa sekarang hanyalah keinginan untuk melihat keadilan ditegakkan. Sekarang, pilihannya ada padamu. Kau ingin hancur bersamanya, atau kau ingin menyelamatkan apa yang masih tersisa dari namamu?” Jace tersenyum tipis. “Bawa dia kembali ke paviliun. Kunci pintunya. Pasang dua penjaga di depan. Jangan biarkan dia menyentuh perangkat elektronik apa pun.” Sloan segera mencengkeram lengan Noa dan menyeretnya keluar dari ruang kerja. Rose mengikuti mereka dengan pandangan mata yang membara. Begitu pintu tertutup, suasana di koridor sayap barat kembali sunyi, menyisakan Jace sendirian di tengah sisa-sisa mimpinya yang hancur. Noa didorong masuk ke dalam kamar paviliunnya yang sempit. Pintu besi di belakangnya dikunci. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menenangkan detak jantungnya. Tangannya meraba panel dinding kayu di samping tempat tidur. Dengan kuku yang pendek, ia mencongkel sebuah celah kecil dan mengeluarkan ponsel cadangan yang ia sembunyikan di sana beberapa hari lalu. Ponsel itu adalah satu-satunya jembatan baginya untuk menghancurkan aliansi Sloan dan Rose. Noa tahu bahwa kesetiaan Sloan hanya sebatas uang. Dan jika Sloan merasa Rose mengkhianatinya, dia akan menjadi orang pertama yang akan menghancurkan wanita itu. Noa mulai mengetik pesan singkat ke nomor pribadi Sloan yang ia dapatkan dari riwayat telepon kantor. “Rose sedang menyiapkan rekening ketiga atas namanya sendiri di bank Swiss. Delapan puluh miliar itu tidak akan pernah sampai ke tanganmu, Sloan. Dia berencana melarikan diri ke Paris setelah audit selesai dan meninggalkanmu untuk menghadapi polisi sendirian.” Pesan terkirim. Noa segera mematikan ponselnya dan menyembunyikannya kembali. Ia tahu benih keraguan itu akan tumbuh subur di dalam kepala Sloan yang serakah. Sementara itu, di bar pribadi di lantai utama, dengan sedikit gemetar, Sloan sedang menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Rose duduk di sampingnya, mencoba merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Kita harus segera melenyapkannya, Sloan,” ucap Rose. “Jace mulai ragu. Aku bisa merasakannya. Dia tidak menatapku dengan cara yang sama lagi sejak perawat itu datang.” Sloan tidak menjawab. Ia justru menatap Rose dengan tatapan yang dingin. Ia teringat kata-kata Noa di ruang kerja tadi—tentang bagaimana Rose tertawa saat melihat Noa terbakar. Sloan menyadari bahwa wanita di sampingnya ini adalah ular yang bisa menggigit siapa pun, termasuk dirinya. Tiba-tiba, ponsel di saku jas Sloan bergetar. Ia membacanya, dan wajahnya mendadak kaku. Ia melirik Rose yang sedang asyik memeriksa kuku lentiknya yang merah. “Ada apa?” tanya Rose saat menyadari perubahan ekspresi Sloan. “Hanya urusan kantor,” jawab Sloan singkat. Ia segera mematikan ponselnya. “Aku harus ke ruang keamanan untuk memastikan perawat itu tidak melakukan hal yang aneh.” Sloan berdiri dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban Rose. Rose menatap punggung Sloan dengan perasaan tidak enak. Ia merasa kendali yang ia bangun selama setahun ini mulai retak di segala sisi. Di balkon kamarnya, Jace berdiri menatap kegelapan malam. Ia menyentuh luka di lehernya. Rasa sakit itu nyata. Namun yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa dia tidak lagi tahu siapa yang bisa ia percayai di rumah ini, termasuk dirinya sendiri. Setiap gerakan di kediaman St. John kini memiliki makna ganda. Dan di setiap bisikan adalah ancaman. Sementara itu, Sloan melangkah terburu-buru menyusuri koridor marmer yang panjang, langkah sepatunya bergema di antara dinding-dinding tinggi yang penuh dengan lukisan klasik. Ia baru saja melewati ruang makan utama saat ia melihat Rose sedang berdiri di depan jendela besar. Rose tidak menyadari kehadirannya. Wanita itu sedang menggigit kuku jempolnya—sebuah kebiasaan yang muncul hanya saat dia merasa terpojok. Sloan meraba ponsel di sakunya. Pesan anonim tadi terus berputar di kepalanya. Jika itu benar, maka selama ini dia hanya dijadikan tameng sementara Rose menyiapkan sekoci penyelamatnya sendiri. “Rose,” panggil Sloan. Rose tersentak, bahunya menegang saat ia berbalik. Ia segera menurunkan tangannya dan memasang senyum manis yang tampak dipaksakan. “Sloan? Kau mengejutkanku. Jace sudah tidur?” “Dia sedang mengunci diri di ruang kerja. Dia tidak ingin diganggu,” jawab Sloan. Ia berjalan mendekati Rose, berdiri cukup dekat hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di pupil mata Rose yang lebar. “Aku baru saja memikirkan tentang audit minggu depan. Kau sudah memastikan semua dokumen pengalihan aset itu bersih, kan?” Rose mengangguk cepat. “Tentu. Semuanya sudah sesuai rencana kita. Kenapa kau bertanya lagi?” Sloan tidak segera menjawab. Ia memperhatikan bagaimana mata Rose sedikit beralih ke arah tas jinjingnya yang tergeletak di atas meja. “Aku hanya tidak ingin ada kejutan. Terutama kejutan yang melibatkan rekening yang tidak aku ketahui.” Senyum Rose membeku, ada jeda tiga detik. “Apa maksudmu? Kita sudah sepakat membagi semuanya melalui Thorne Apex. Tidak ada rekening lain.” “Bagus kalau begitu,” ucap Sloan, meski hatinya tidak merasa tenang sama sekali. “Karena jika aku menemukan satu sen pun yang mengalir ke tempat lain tanpa seizinku, aku tidak akan segan-sepakat untuk menyerahkanmu pada Jace sebagai dalang tunggal.” Rose tertawa kecil, suara yang terdengar hambar dan penuh kepura-puraan. “Kau terlalu paranoid, Sloan. Perawat itu sudah meracuni otakmu dengan omong kosongnya.” Sloan hanya memberikan anggukan singkat sebelum berbalik pergi. Ia tidak menuju ruang keamanan seperti yang ia katakan tadi. Ia justru berbelok menuju area servis di belakang dapur, menuju paviliun tempat Noa dikurung. Ia butuh jawaban, dan perawat itu adalah satu-satunya orang yang memegang kunci kotak pandora ini. Di dalam paviliun, Noa sedang duduk mematung di kegelapan. Ia mendengar langkah kaki yang mendekat—langkah yang berat dan tidak sabar. Itu bukan langkah penjaga yang sedang berpatroli. Itu adalah langkah pria yang sedang dibakar oleh rasa curiga. Kunci pintu paviliun diputar dengan kasar. Sloan masuk sendirian, menutup pintu di belakangnya, dan berdiri tepat di hadapan Noa yang tetap duduk dengan tenang. “Siapa kau sebenarnya?” tanya Sloan parau oleh amarah. “Dan dari mana kau tahu tentang detail transaksi Thorne Apex?” Noa mendongak perlahan. Cahaya rembulan yang masuk lewat celah jendela menyinari separuh wajahnya yang bermasker. “Aku hanyalah bayangan dari masa lalu yang tidak pernah kau selesaikan dengan bersih, Sloan. Kau pikir bisa menghapus jejak digital dengan mudah? Kau salah.” Sloan mencengkeram kerah seragam Noa, menariknya hingga wanita itu berdiri. “Jangan bermain teka-teki denganku! Pesan yang kau kirim tadi... tentang rekening Swiss. Berikan aku buktinya, atau aku akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari ruangan ini hidup-hidup!” Noa tidak gentar. Ia justru menyeringai di balik maskernya. “Bukti itu tidak ada di tanganmu sekarang, Sloan. Tapi jika kau pergi ke kamar rias Rose sekarang, di balik laci kosmetiknya yang paling bawah, ada sebuah kunci kecil berwarna perak. Itu adalah kunci brankas deposit di Zurich. Periksa sendiri jika kau punya nyali.” Sloan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Napasnya memburu. Ia menatap Noa dengan kebencian yang bercampur dengan rasa haus akan kebenaran. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan keluar dari paviliun, membanting pintu besi itu hingga bergetar. Noa luruh kembali ke tempat tidur. Ia tahu tidak ada kunci di sana. Yang ada di sana hanyalah sebuah jebakan fisik yang sudah ia siapkan sebelumnya lewat bantuan kecil dari pelayan yang ia suap dengan perhiasan simpanannya. Sloan menyelinap masuk ke kamar utama di lantai dua saat Rose sedang mandi. Ia langsung menuju kamar rias, tangannya yang gemetar mulai menggeledah laci-laci kosmetik yang mewah. Ia membuang botol-botol parfum mahal ke lantai, mencari benda perak yang disebutkan Noa. Tiba-tiba, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras di balik tumpukan kain sutra. Sebuah kotak beludru hitam kecil. Ia membukanya, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Bukan kunci perak yang terdapat di dalamnya. Tetapi, sebuah foto lama Sloan saat ia masih menjadi supir rendahan, sedang menerima amplop cokelat dari Jace di sebuah bar gelap—bukti bahwa Sloan-lah yang memulai pengkhianatan ini sejak awal. Dan di bawah foto itu, ada selembar kertas bertuliskan tangan Rose. “Sloan harus segera dilenyapkan setelah audit. Dia saksi yang terlalu berbahaya.” Wajah Sloan memucat. Ia menggenggam foto itu hingga kusut. Pengkhianatan di depan matanya terasa jauh lebih panas daripada api gudang mana pun. Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Rose keluar dengan hanya mengenakan jubah mandi, rambutnya basah, dan ia membeku saat melihat Sloan berdiri di kamar riasnya dengan kotak beludru di tangan. “Sloan? Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Rose takut. Sloan berbalik perlahan. Matanya merah, penuh dengan kegilaan yang mematikan. Ia mengangkat foto dan catatan itu di depan wajah Rose. “Jadi... ini rencanamu? Membuangku setelah kau mendapatkan segalanya?” “Aku tidak tahu apa itu! Aku tidak pernah menulis itu!” teriak Rose, mencoba merebut kertas tersebut. Namun, Sloan justru mencengkeram leher Rose dengan satu tangan dan mendorongnya hingga membentur cermin rias yang besar. Prang! Cermin itu retak, membentuk pola sarang laba-laba di belakang kepala Rose. Di saat yang sama, Jace berdiri di ambang pintu kamar, menatap pemandangan itu dengan wajah yang benar-benar kosong, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan teater yang membosankan. Jace tidak menolong Rose. Ia justru menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya. Jace berjalan perlahan menuju sofa, duduk dengan santai, lalu mengambil sebuah kamera kecil dari sakunya. “Lanjutkan!” ucap Jace dingin sambil menyalakan kamera tersebut. “Aku butuh alasan yang sah untuk memasukkan kalian berdua ke penjara atas tuduhan saling membunuh.” Sloan tersentak dari kursi meja kerjanya. Napasnya memburu oleh ketakutan. Ternyata ia hanya bermimpi mencekik Rose. Pesan anonim tentang rekenjng itu terus bergelayaut di kepala, menghantuinya hingga membuatnya kurang tidur. Setiap kali ia melihat Rose melintas di koridor, ia merasa sedang melihat seorang algojo yang siap memenggal lehernya. Tiba-tiba, seorang kurir internal masuk dan meletakkan sebuah kotak hitam tanpa label di atas meja Sloan. “Dari siapa ini?” tanya Sloan. “Tidak ada nama pengirim, Tuan. Hanya tertulis Pribadi untuk Direktur Operasional,” jawab kurir itu sebelum membungkuk dan pergi. Sloan menatap kotak itu cukup lama. Tangannya yang gemetar perlahan membuka tutup kotak. Begitu kotak terbuka, aroma yang sangat spesifik segera menyerbu indra penciumannya—aroma sisa kebakaran, kain yang hangus, dan bensin yang menguap. Di dalam kotak itu tergeletak sebuah syal sutra Hermes bermotif bunga bakung. Syal itu robek di beberapa bagian dan ternoda jelaga hitam yang pekat. Jantung Sloan seolah berhenti berdetak. Ia mengenali benda itu. Itu adalah syal yang dikenakan Rose saat ia menyeretnya masuk ke Gudang X-12 setahun lalu. Syal yang seharusnya sudah menjadi abu bersama pemiliknya. Sloan meraih syal itu dengan ujung jari yang dingin. Di balik lipatan kain yang hangus, ia menemukan selembar kertas putih kecil dengan tulisan tangan yang sangat rapi—tulisan tangan Rose yang asli. “Dia memberitahuku segalanya sebelum dia mati. Kau adalah target berikutnya, Sloan.” Sloan melepaskan syal itu seolah benda itu adalah bara api. Napasnya memburu. Pikirannya langsung tertuju pada Rose. Siapa lagi yang tahu detail malam itu kalau bukan wanita yang kini memakai wajah Rose? Baginya, pesan itu sudah jelas, Rose sedang mencoba mencuci tangannya. Rose sengaja mengirimkan bukti ini untuk mengingatkan Sloan bahwa jika polisi datang, Sloan-lah yang menarik pelatuk dan menyiram bensin, sementara Rose bisa berpura-pura menjadi korban penculikan yang selamat. Sloan berdiri, mencengkeram pinggiran meja hingga kuku jarinya memutih. Ia menatap ke arah pintu ruang kerja Jace, lalu beralih ke arah koridor menuju kamar rias Rose di lantai atas. “Kau ingin menjebakku, Noa?” desis Sloan, memanggil nama asli si penyusup yang menggunakan wajah tuannya—dengan penuh kebencian. “Kita lihat siapa yang akan membusuk di penjara lebih dulu.” Sloan menyambar ponselnya, ia tidak lagi peduli pada loyalitas. Ia mulai mengetik pesan untuk detektif swasta langganannya: “Cari bukti keberadaan Rose St. John di rumah sakit luar negeri setahun lalu. Aku butuh catatan operasi plastik yang tidak terdaftar di sistem pusat.” Di paviliun, Noa berdiri di dekat jendela, melihat mobil Sloan yang melesat keluar dari gerbang dengan kecepatan tinggi. Ia tahu paket yang ia titipkan pada kurir tadi telah sampai ke sasarannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD