Dosen Ganteng vs Mahasiswi Kalem?

1135 Words
Langkah demi langkah dilayangkan oleh Anisa mendekati sebuah ruangan dimana kelasnya akan dimulai beberapa menit lagi. "Loh Sa, Nayla mana kok nggak kelihatan. Bukannya tadi udah berduaan ya di taman?" tanya seorang wanita dengan dirinya yang duduk di samping pintu sibuk menghias kuku-kukunya dengan nail art. Anisa terdongak. "Ya elah kayak nggak tahu Nayla aja," jawabnya singkat yang mudah dipahami temannya itu. "Pasti karena Pak Bayu yang izin lagi kan, terus digantikan sama Pak Dafin? Mendengar itu Anisa mengangguk, pertanda iya atas ucapan yang dilontarkan sosok itu. Hingga di detik setelahnya Annisa tampak bergabung di sampingnya sana. Duduk berdua menatap ke arah sekitaran mereka berada. "Lagian aku tuh heran deh sama Nayla, kok bisa ya orang seganteng itu dibenci." Lagi-lagi sosok wanita itu kembali mengutarakan curahan hatinya, terhadap segala hal yang selalu dihindari oleh Nayla atas sosok dosen yang memang memiliki banyak fans dan terkenal baik di kampus itu. "Ya kayak nggak tahu Nayla aja, orang juga emang paling aneh tuh dia. Udahlah pokoknya nggak usah dibuat pusing-pusing lagi, intinya Nayla izin katanya teh." "Alah, izin apa izin. Izin bolos tuh malah percaya ...." "Huss, jangan kencang-kencang ngomongnya." "Loh, kan benar Bambang!" "Ya iya emang benar, cuma kan ya ... udahlah udah. Nggak usah dipusingin lagi, intinya cuma aku sama kamu aja yang tahu kalau misalkan Nayla tadi sempat udah berangkat tapi malah kabur duluan kayak gini. Oke?! Toh juga kalau misalkan siapa namanya? Misalkan, Pak Bayu tahu pasti dia marah karena Nayla udah bolos jam mata pelajarannya hampir berapa kali sendiri cuma gara-gara digantikan sama Pak Dafin. Kan kalau misalkan itu terdengar sampai ke rektor kasihan Pak Dafin ya kan, nanti kalau misalkan nggak dibolehin ngajar di kelas kita gimana coba? Secara walaupun beliau itu emang dosen mapel kita tapi kan ya bukan di kelas kita aslinya ...." "Iya iya udahlah tenang, nanti yang ada kita nggak bisa lihat cogan lagi di kelas. Huh, biarin aja Nayla benci yang penting kita mah Untung ya bisa cuci mata gitu hahaha ...." **** "Nayla Putri, bolos lagi?" Deg, kaget dirasakan Anisa saat ini. Menyadari jika nama dari sahabatnya itu terucap oleh sosok laki-laki di depan sana dengan begitu tegasnya. Terlebih saat tatapan mata tajamnya itu mengarah ke netra Anisa، membuat dirinya tampak tertegun penuh atas hal itu. Batinnya berkata, 'Tuh kan benar, Nayla itu mau bolos ataupun enggak pasti tetep aja kelihatan sama itu dosen. Mau orangnya benci kek ataupun apa kek, ini kayaknya Nayla itu udah melekat juga di pikirannya Pak Dafin. Nyatanya loh, nggak kelihatan sedetik aja langsung tahulah dia. Padahal di kelas ini ada dua orang yang izin, kenapa cuma Nayla aja yang ditanyain gitu loh heran aku. Ya walaupun Nayla bolos sih nggak izin, tapi kok tau si? Apa gara-gara Nayla suka bikin gara-gara sama itu orang ya, jadinya Pak Dafin ingat terus sama Nayla?' "Anisa, Nayla kemana?" Lagi dan lagi, Anisa tampak tertegun di tempatnya. Menatap ke arah bangku kosong di sampingnya yang memang aslinya itu adalah tempat duduk Nayla. 'Tapi ya bener sih kalau misalkan Pak Dafin langsung ngeh Nayla nggak ada, orang juga bangkunya aja hitungannya kelihatan banget pasti dari depan. Emang anak itu ya, kalau nggak cari gara-gara pasti nggak afdol kali ya. Mana ujung-ujungnya aku yang kena lagi, kayak sekarang nih. Duh aku harus jawab apa kalau kayak gini ya kali aku jawab iya gitu aja, mati dong ntar!' Pandangannya kembali menatap ke arah depan sana, dimana keberadaan sosok dosen yang kini seolah masih menunggu jawaban dari Anisa tentang keberadaan lain yang ditanyakan beberapa detik lalu itu. Sedangkan wanita itu masih bingung ingin menjawab apa, tiba-tiba sebuah kaki terasa menendangi kursi dimana tempat dirinya duduk, hingga ia yang paham langsung menoleh sedikit ke arah belakang di mana keberadaan temannya yang tadi sempat berbisik-bisik berdua di depan kelas. "Jujur aja lelah Nis, daripada mati kutu kan kayak sekarang. Udahlah jujur aja nggak papa, tinggal jawab iya aja udah. Nggak usah repot-repot gitu, nggak usah bingung mikirin kalau apa namanya ketahuan gimana gitu. Orang ini aja udah ketahuan." "Ya iya, tapi masa iya dijawab iya gitu aja. Apa ya nggak matiin teman tuh namanya ha?" jawab Anisa ikut berbisik ke arah belakang sana dimana sang kawan juga tampak membungkuk ke depan sedikit. Hingga tak disadari oleh keduanya, Dafin mengamati penuh segala gerak-gerik yang dilontarkan oleh keduanya. Alisnya tampak terangkat sebelah, hingga di detik setelahnya pandangan mata itu kini mengarah ke keberadaan sebuah jam mini yang melekat di tangan kirinya. "Apa telat ya?!" tanyanya lagi, namun kini pertanyaan itu dilontarkan ke seluruh mahasiswinya yang berada di kelas. Kelas pun kini mulai riuh, berbisik dan berisik dirasakan oleh Dafin menyadari pertanyaannya yang konyol. Sampai menimbulkan sedikit kegaduhan di kelas ini, yang terdengar penuh dari telinganya. 'Apa aku salah omong?' tanyanya sendiri di dalam hatinya sana. Sampai sebuah panggilan pun terdengar kembali menyapa telinga Dafin, hingga sosok itu kembali menatap ke arah depan lurus dimana keberadaan seorang wanita yang tampak mengacungkan tangannya. "Tadi sih saya lihat Nayla Pak, tapi cuma sebentar paling juga itu anak bol-" "Huss, nggak Pak. Nayla izin kok tadi udah bilang sama saya kalau misalkan ada acara dadakan gitu," sahut Anisa penuh penekanan. Hingga lagi dan lagi alis dari sang dosen itu kembali terangkat, menyadari segala keanehan yang terlontar antara dua mahasiswinya itu seperti saling menutupi satu sama lain. "Yang benar yang mana?" Damn it, pertanyaan itu sukses membuat seluruh isi kelas kembali riuh dalam sekejap. Merasa dosennya itu terlalu banyak tanya tentang Nayla yang padahal kenyataannya mereka semua pun tahu jika ada Nayla di hadapan Dafin pasti hanya akan ada keributan dan kelas pun sedikit tidak efektif. Tapi entah kenapa di kesempatan kali ini justru sosok dosennya itu yang kembali bertanya, dan terus bertanya tentang keberadaan Nayla. Lebih-lebih para perempuan di sana, merasa iri dan sangat kesal banyak dirasakan di antara mereka. Sampai sebuah kalimat terlontar dari salah satu mahasiswi di sana. "Lagian kenapa sih bapak nanyain Nayla mulu dari tadi orang jelas-jelas juga nggak ada orangnya di kelas juga, jangan-jangan bapak suka ya sama Nayla?" Sukses, pertanyaan konyol itu membuat Dafin melotot tak percaya. "Nggak usah ngaco kamu, lagian bukannya wajar jika saya menanyakan nayla. Karena di sini saya yang bertanggung jawab atas kelas ini di jam kelas sekarang. Karena saya yang diamanahkan oleh Pak Bayu, bukan begitu? Beliau tidak bisa hadir jadi saya yang menggantikan." Tegas, dan sangat padat dilontarkan Dafin kepada mahasiswinya itu. Mempertegas semuanya agar tidak ricuh, mengalihkan segala kefokusannya pada dua orang mahasiswi yang ia tahu sangat dekat dengan Nayla. Kini tanpa disadari olehnya, dua wanita itu masih sedikit cekcok menpeributkan segala hal tentang apa yang dibahas oleh keduanya perihal Nayla kepada sosok laki-laki itu saat ini. "Lagian kan yang nggak ada di kelas ini dua orang Pak, kenapa bapak cuma nanyain Nayla hayo?" sahut satu orang dari belakang sana seolah sinis dan iri merasa Nayla sangat diperhatikan oleh crush nya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD