Memang Salah Dosen Menanyakan Mahasiswinya?

1120 Words
Dafin menghela nafas kasar, pandangannya kembali ia arahkan ke samping sana dimana keberadaan Anisa dan satu kawannya yang masih sedikit ribet sendiri dengan urusannya. "Ya sudah!" Semua kembali fokus dan terdiam dalam sekejap, Anisa dan temannya pun tertegun mendengar kata itu. Kata yang diucapkan dengan nada kesal juga marahnya membuat Anisa bergegas penuh ke arah temannya sekilas, sebelum kembali menatap ke arah depan sana lagi. "Udahlah, capek aku ribut sama kamu. Emang dasar teman laknat, lupa perjanjian ya gini!" Wanita itu tampak menghendikan bahunya acuh, seraya berbisik. "Lagian orang jelas Nayla salah juga dibela, aneh kamu ini Nis!" Sadar tak sadar, kalimat-kalimat itu terdengar di telinga Dafin. Kembali laki-laki itu menghela nafas panjang di sana, "Sudah sudah ...." "Saya nggak mau kelas ini ribut atau gaduh gara-gara satu orang!" lanjutnya tegas membuat seluruh mahasiswinya terdiam. "Kalau begitu mata kuliah hari ini kita mulai." ***** Detik demi detik berjalan dengan begitu cepatnya, hari pun semakin terik ditambah sinar matahari yang semakin naik di atas sana. Membuat satu orang wanita yang kini tengah berada di tengah lapang sana seketika menghentakkan badannya penuh ke sebuah kursi di sampingnya. Diusapnya penuh dahi yang sedikit bercucuran keringat itu, matanya sedikit menyipit beredar ke arah sekitaran dimana keberadaannya berada. Sebuah tas yang sedari tadi yang tenteng di bahunya, kini terlempar begitu saja di samping dirinya berada. "Gila ini hari kok panas banget ya," ujarnya mengeluh. Tangannya kini ia kibas-kibas ke arah muka penuh keringat itu, sampai rasa haus pun tiba-tiba menyerangnya. "Ini yang jualan minuman dimana ya, jam berapa sih ini. Panas banget perasaan heran deh, kayak masuk neraka aja padahal masih di dunia gila ah ...." Sebuah jam yang melekat di tangan kiri itu ditatapnya penuh gelengan. "Ya atu aslinya ini mah udah bukan siang lagi, tapi udah menjelang sore lagian juga jam segini mah biasanya langitnya itu udah mulai meredup gitu. Huh ... nggak panas banget kayak gini. Gila aja jam 01.30 panasnya masih kerasa kayak jam 11-an. Ck, lagian kamu sih Nay pakai segala kabur juga dari kelas. Huh, gini kan jadinya gembel kaya orang gila. Mana di tengah-tengah lapangan yang sepi banget kayak gini lagi, lagian ini juga kenapa sih. Biasanya kan rame atu di sini, kenapa sekarang jadi sepi kayak kuburan gini sih." "Apa iya tempat ini tahu kalau misalkan aku kebanyakan dosa terus jadi sepi? Mana pakai acara bolos segala lagi. Udahlah ini tuh kayak dunia tuh aslinya nggak mendukung, tapi juga mendukung gimana dong? 50 50 gitulah mungkin ya?!" Layaknya orang kebingungan, wanita itu tampak berbicara sendiri seperti itu. Nayla yang berhasil kabur dari jam kelasnya, kini seperti orang yang tak tahu arah ingin ke mana. Bahkan dirinya sendiri sedikit bingung atas apa yang dilakukan sampai detik itu, dan di tempat itu sampai segila itu juga. Ntahlah, mungkin dirinya memang menganggap ia sendiri ceroboh. Tapi itu bukanlah hal yang terlalu berat baginya, karena di sisi lain memang ia selalu menghindar terhadap apapun itu jika sudah berurusan dengan si dosen gila itu. Sosok yang selalu memberinya nilai nol, disaat dirinya masuk ataupun tidak. Bahkan di saat dirinya baik hati ataupun tidak terhadap sikap, perilaku, dan juga tindakannya kepada sosok itu. Nyatanya, semuanya tidak merubah keadaan hingga seperti sekarang inilah jadinya. Apapun yang terjadi, Nayla tetaplah Nayla yang jika sudah berada di jamnya orang yang sudah membuat dirinya kesal itu pasti sekuat tenaga juga ia akan kabur dari orangnya. Katanya sih, 'Aku nggak pernah bermasalah sama orang lain kecuali orang itu udah nyinggung hati ataupun kehidupan aku atau bahkan tentang apapun itu yang memang bagiku cukup pantas untuk diabaikan. Aku bukanlah orang yang senang atas kehilangan seseorang, tapi jika memang seseorang itu ingin kehilangan aku atau bahkan tak mau melihatku. Aku juga bisa pergi dari sosok itu tanpa aba-aba.' Yah, mungkin sedikit inti dari prinsipnya itu ada pada kebencian Nayla terhadap Dafin si dosen killer nya yang saat ini menjadi alasan wanita itu bolos mata kuliah. Pasrah dan hanya terdiam di tempatnya, kini Nayla memainkan ponselnya berharap bisa mengurangi sedikit kebosanannya terhadap diri sendiri dan juga tidak seperti orang hilang yang tidak tahu arah akan ke mana seperti apa yang dirasakan. Tanpa disadari dari arah sampingnya sana lurus, terdapat seorang laki-laki yang kini tampak beberapa kali mengerjapkan matanya secara penuh. Guna meyakinkan pada diri dan juga hati serta pikirannya, yang tiba-tiba dibuat terkejut atas seseorang yang berada tak jauh dari dirinya berdiri. "Itu Nayla atau bukan sih ya?" ujar laki-laki itu yang kemudian dijawab dengan gelengan oleh dirinya sendiri. "Ah tapi masa iya anak baik-baik kok bolos jam kuliah, kayaknya sih ya impossible banget. Kalau misalkan anak itu berani bolos jam kuliah saya ditambah lagi ini masih jam ...." Kembali laki-laki itu menggantungkan kalimatnya, hingga netranya tampak melirik ke arah sebuah jarum jam yang melekat di kanan kirinya itu. "Loh kan masih jam segini, tapi kalau misalkan itu bukan Nayla kenapa anaknya itu mukanya mirip banget sama anak itu. Ini benar-benar 11 12 banget malah, bisa plek ketiplek tiplek. 100% sama persis!" Mata itu diusap penuh kembali meyakinkan atas seorang wanita yang dipergokinya dan atas semua hal yang nyatanya seperti menjadi sebuah peperangan dalam batin laki-laki itu. Seorang laki-laki berkulit sawo matang dengan badannya yang kekar, disadarkan nya penuh diri itu sampai semua permisalan yang ada di otaknya, yang sudah ditarik muncul di dalam benak dan juga atas semua hal yang diandai-andaikan olehnya. Ia tak mau mengambil pusing atas hal itu, kembali laki-laki itu melangkahkan kakinya menyusuri jalan nan yang sedari tadi dipijak karena waktu yang membuatnya sedikit terburu-buru untuk memasuki mobilnya. Bayu Kusworo, itu adalah laki-laki yang sudah dari tadi bergeming sendiri menyadari seorang wanita yang ia pikir mirip dengan salah satu mahasiswi kesayangannya. Hari ini ia memang sedang cuti untuk hadir ke kampus, tetapi bukankah itu bukan menjadi suatu alasan jika sosoknya masih berkeliling di sekitar sana karena sebuah agenda yang lebih urgent di kesehariannya. Tanpa disadari dari tengah lapang tadi, Nayla sedikit bergumam tak jelas merutuki segala kebodohannya. Juga atas sebuah kenyataan jika dari pandangannya beberapa detik lalu, didapatinya seorang laki-laki berdiri tak jauh dari keberadaannya nampak seperti dosen yang pada aslinya sosok itu yang harus mengisi mata kuliahnya namun tergantikan oleh dosen menyebalkan yang membuat dirinya harus membolos pada kelas kali ini. Yakin tidak yakin sebenarnya dirasakan oleh Nayla saat ini, bagaimana tidak jika di antara semua kemiripan yang ia lihat ada sedikit perbedaan dan juga segala macam pro dan kontra hadir dalam benaknya. "Ah tapi kayaknya nggak mungkin ya kalau misalkan itu Pak Bayu, orang kenyataannya aja dia lagi cuti kok. Kalau misalkan cuti kan biasanya Pak Bayu juga ke luar kota, lah masa iya tiba-tiba berkeliaran di sekitaran sini. Mana masih belum jauh juga sih hitungannya dari kampus, cuma ya semoga aja bukanlah kalau misalkan bener itu Pak Bayu bisa mati habis aku. Huh ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD