Helaan nafas kasar tampak di hembuskan oleh Nayla sebelum setelahnya badan itu ia hentakkan kembali ke punggung kursi sana. Tangannya kembali memainkan sebuah ponsel pintar yang dari tadi ia genggam, netranya terfokus pada layar ponsel yang kini menunjukkan sebuah pesan w******p dari sosok sahabatnya yang sukses membuat keningnya berkerut setelah membaca pesan itu.
'Woy, Pak Dafin nyariin kamu tuh ....'
'Ya ellah ini anak, kabur sampai mana ha?'
Menyadari beberapa pesan yang terpampang nyata di ponselnya itu di detik setelahnya pandangan Nayla tampak ya alihkan sejenak ke arah samping sana dimana tempat keberadaan seorang laki-laki yang kini sudah menghilang dari hadapannya. "Mampus, kok aku jadi tiba-tiba takut sendiri ya?"
"Ini juga kenapa sih tuh anak w******p nya sampai segini banget. Lagian ngapain juga itu dosen gila pakai segala nyariin aku segala mau ngajak ribut kali ya dia ya?"
"CK!"
Tak menghiraukan pesan tersebut dan kembali asik memainkan ponselnya, jari-jari itu kini kembali menscroll layar pintarnya sampai ditemui lagi beberapa pesan yang cukup menyita perhatiannya hingga reflek tangan itu menekan room chat itu hingga menampilkan beberapa pesan yang sukses membuat dirinya berkedip beberapa kali karena terheran-heran juga sedikit tak percaya atas pesan tersebut.
'Heh, dicariin tuh sama Dafin! Kemana kau? Bolos ya, nggak ngajak-ngajak lagi nih anak. CK!'
"Stress kali ya ini anak!" ujarnya mengumpat setelah sadar penuh atas apa yang dibacanya di dalam hati itu hingga kepalanya kini geleng-geleng tak percaya merespon hal tersebut.
"Mentang-mentang sepupuan ini sebenarnya ngebedain siapa sih heran aku udah kadang sama ini anak, agar cepat amat heran aku lama-lama itu jadi kayak mikir ini orang ngurusin hidup aku banget gitu loh. Mana kayak semangat banget lagi kayak seneng banget gitu kalau misalkan aku sama itu si dosen gila agak dibahas-bahas gimana gitu lah."
Tak mau terlalu mengambil pusing atas apa yang dibacanya beberapa detik lalu itu, tanpa ada sedikitpun niat untuk membalas pesannya. Nayla kini kembali keluar dari room chat sosok laki-laki bernama Candra, dimana orang itu memiliki keterikatan penuh dengan satu dosen yang kini sedang ia jauhi keberadaannya.
Tetapi dunia seolah tak mau tinggal, sebuah notifikasi kembali hadir menyapa telinganya. Jari-jarinya yang sudah dari tadi sibuk mengetik beberapa pesan yang ia balaskan untuk orang lain di kontak w******p-nya sana seketika terhenti. Matanya melotot tak percaya, saat nentranya membaca beberapa kata yang terlontar dari notifikasi cowok sialan itu.
"Kampret emang nggak kakak nggak adiknya sama aja, suka banget bikin masalah suka banget bikin aku naik darah suka banget bikin aku kesel heran deh!"
Yah, kalimat itu sukses membuat Nayla bergeming tak henti-hentinya saat ini. Sampai niat hati yang ingin membalas pesan orang lain sebelumnya itu tak jadi ia balas yang justru membuat jari-jarinya dengan penuh greget membuka kembali room chat teman kampretnya itu.
Dia ketikkan beberapa kalimat berbunyi. 'Apaan sih?! Nggak usah ngatur-ngatur hidup aku ya, aku tuh izin nggak bolos dan biarpun aku bolos emang apa sih untungnya buat kamu? Nggak ada kan? Jadinya ya udah please stop buat Sok pahlawan atau apapun itulah tentang aku ataupun tentang sepupu kamu itu entah kamu tuh bilangin dia atau bilangin aku atau gimana. Ya karena aku nggak tahu niat kamu tuh baik apa buruk, apalagi kamu tuh sebelas dua belas sama sepupu kamu yang nyebelin banget itu. Jadi ya udahlah stop buat ngurusin hidup aku, oke?!'
Benci orangnya si tidak, hanya sedikit kesal yang dibuat semakin memuncak dan memuncak karena beberapa kalimat yang baru saja ya dapati dari sosok itu kurang lebihnya berbunyi. 'Woy Nay, sombong amat pakai segala di read aja lagi. Kamu tuh kalau bolos tuh yang elit dikit, pakai segala izin izin. CK, norak kau!'
Bagai dibuat tak percaya secara terus-menerus, Sampai detik ini Nayla masih geleng-geleng kepala. Room chat dari sosoknya masih setia dipantau oleh wanita itu, kata permata penuh tak percaya dan juga sedikit gedeg atas sikap laki-laki yang terlalu mencampuri urusannya membuat wanita itu tak sadar sedikit mengepalkan tangannya karena kesal terhadap hal itu.
"Lagian ini orang kenapa sih lama-lama kok jadi sama banget sama kayak sepupunya, udah paling sok suci lagi soalnya dia nggak punya dosa seolah dia nggak pernah buat salah mana sok-sokan ngajarin lagi ya tuh terserah aku lah aku mau bolos kek atau aku mau ngapain kek selagi aku nggak ngerugiin dia mukanya itu nggak masalah buat orang lain?"
Sejenak, ucapannya itu terhenti. Pandangannya ia edarkan sejenak ke arah sekitaran dimana dirinya berada saat ini, tak jauh dari itu tangan kirinya masih setia memegangi sebuah ponsel yang menjadi media kesalnya.
"Ck, lama-lama nggak habis pikir juga aku sama ini anak. Padahal dirinya sendiri juga stress, udah tahu jam kuliah ngapain dia pegang HP malah segala fast respon lagi balas chatnya aku. Kan sinting!"
Yah ... Memang benar, pesan terakhir dengan segala kekesalan yang seolah diungkapkan penuh oleh Nayla kepada laki-laki itu kini memang sudah terjawab dengan begitu cepatnya. Semakin membuat dirinya yang sebelumnya sudah dibuat syok tak percaya kini semakin lagi ditambah ternganga menyadari hal tersebut.
"Woh, gila emang nyari mati ni anak sama aku?"
Tanpa berbahasa-basi sedikitpun Nayla kembali mengetikkan beberapa kalimat yang kini sudah tersusun rapi di layar keyboard-nya sana hingga di dalam hati kembali dibaca oleh sosoknya itu dengan penuh kemantapan dan percaya diri sebelum pada akhirnya kembali dikirimkan kepada sosok laki-laki yang menjadi alasan dirinya kesal di seberang sana.
'Lagian kenapa sih ha? Biarpun misalkan aku bolos ataupun enggak itu kan nggak ada hubungannya sama kamu,, mau aku nggak lulus kuliah pun atau ya nilai jelek ajalah di mata kuliah nya yang sekarang ini itu juga kan bukan urusanmu. Terus kenapa lu tuh pakai segala ngurusin hidup gua gitu loh!'
Dan dalam satu tekanan pesan itu terkirim, tak tinggal diam jari-jari lentiknya masih sibuk menari-nari di keyboard layar ponselnya sana.
'Lagian kenapa sih Ya akhir-akhir ini tuh kamu tuh ya kayak terlalu bersinergi banget kalau misalkan tahu ya apapun itu deh pokoknya yang hubungannya tuh ada aku sama itu si sepupu gilamu itu. Kenapa ha? Kok kayaknya tuh kayak semua tentang aku sama sepupu sintingmu itu tuh kayak jadi semangat bagi kamu banget gitu loh. Ada apaan? Sinting kali kau ya?!'
Send, lagi lagi dikirimkan balasan itu kembali kepadanya.
Bagaikan ingin melontarkan segala emosi jiwa dan raganya, tanpa disadari sebuah pesan kembali dituliskan oleh Nayla kepada sosok itu.
'Lagian kuliah bukannya fokus sama mata pelajarannya malah fokus ke hp, balesin chatku. Mending tuh urusin hidupmu daripada ngurusin hidup orang mulu kerjaannya!'
"Fyuh ... Kayaknya emang ada yang gak beres nih sama ini anak. Tak perhatiin akhir-akhir ini emang agak sinting juga ini, 11 12 banget sama sepupunya. Tapi sebenarnya ini tuh belain dia atau belain aku atau mau cari gara-gara sama aku atau gimana sih, pusing juga deh lama-lama mikirin anak. Udah beban hidupku nambah malah ditambahin lagi sama ini anak cari gara-gara mulu dari kemarin-kemarin, argh bisa gila aku lama-lama."