Sstt, Diam!

1027 Words
"Ya semoga aja nggak ada niat terselubung dibalik semua ke absurd-an yang dilakukan oleh Candra lah ya, Aku takutnya tuh kalau misalkan dia itu ada kongkalikong atau apa gitu loh masalahnya si dosen itu juga agak beda. Maksudnya tuh kayak dia emang nyebelin cuma nyebelinnya yang kali ini tuh beda gitu loh. Nyebelinnya yang akhir-akhir ini tuh kayak gimana ya nyebelin tapi emang enak pusing yang penting aku sekarang mau bolos nggak mau mikirin si Candra lah atau si Davin lah si iya siapa kek yang bikin pusing aja kepala ini aduh ya Allah ...." Reflek, kedua tangannya tampak digunakan untuk mengusap-usap rambut yang terhalang oleh jilbab di kepala sana. Ponsel pintar yang sudah di tadi ya sibukkan untuk bergumam dan kesal tak jelas itu terhempas begitu saja di atas pangkuannya, terpental sedikit karena rok span miliknya yang sedikit membuat handphonenya itu sedemikian. Pandangannya gini kembali menatap ke arah depan sana, alih-alih mengambil handphone yang tergeletak begitu saja karena beberapa notifikasi yang tampak nyaring terdengar di telinga Nayla. Wanita itu justru kini tampak mengedarkan pandangannya kembali menatap ke arah sekitaran dimana dirinya berada dengan segala hal yang sedikit banyaknya cukup menguras pikirannya lebih-lebih terhadap seorang laki-laki yang ia duga mirip dengan dosen yang seharusnya mengisi mata kuliahnya namun malah ia gunakan untuk membolos. Yah, siapa lagi jika bukan Pak Bayu. Laki-laki dengan segala kharismanya yang beberapa menit lalu sempat membuat dirinya sedikit kaget karena pandangannya yang menatap juga mendapati seorang laki-laki berdiri tak jauh dari dirinya berada memiliki kemiripan hampir 90% namun entahlah semua itu berusaha untuk Nayla acuhkan dengan dalih. "Lagian nggak mungkin kalau misalkan tadi itu juga Pak Bayu, kan katanya cuti kalau misalkan beliau cuti juga kan biasanya cutinya tuh ke luar kota dan ini impossible banget kalau misalkan dia eh maksudnya beliau cuti tapi kelihatannya masih sekitaran daerah sini itu mustahil banget lah ya." Jari-jari lantainya itu kini tampak dihentak-hentakkan ke arah pinggiran kursi yang diduduki yang di tengah lapang ini seolah memberikan sebuah irama dari dentuman yang ia lakukan, "Kali ini tuh kalau misalkan kamu bolos tuh harusnya have fun dong Nay. Ya soalnya gimana ini udah rekor banget sih sebenarnya kayak misalkan ya udah lama banget sih kayaknya ya aku yang nggak bolos ya. CK, orang paling aneh itu kayaknya aku deh woles aja bangga gitu loh!" Geleng-geleng kepala sendiri tidak percaya atas semua hal yang terucap dari bibir manisnya itu, Nayla menghentikan bahunya acuk atas segala pernyataan-pernyataan yang terlontar dari mulutnya. "Tapi sih ya bodo amat sih lagian kan ya siapa sih yang bakalan beri aku nilai jelek itu kalau misalkan aku sampai bolos kayak gini, ya soalnya kan aku kan mau lihat paling pintar gitu loh eh maksudnya mahasiswi paling pintar gitu loh di kelas. Ck, mulaikan aku sombongnya kumat! Eh tapi kan Ya bener maksudnya tuh kayak Ya siapa sih dosen yang nggak bangga sama aku gitu loh secara kan ya walaupun aku agak sinting kayak gini terus kebanyakan nyari masalah walaupun kata orang sih aku kalem tapi ya menurut aku mah aku biasa aja sih maksudnya tengah-tengah lah dengan gitu. Tapi kan seenggaknya udah ada lah beberapa prestasi gitu ya yang aku bisa banggain gitu, Lagian kalau misalkan bolos di kelasnya si Davin mah nggak apa-apa kali ya. Orangnya juga nyebelin banget, pasti juga itu anak di kelas sana ngajarnya sambil gedung melain sendiri kalau nggak ya paling-paling kangen sama aku tuh orang hahaha. Udahlah udahlah Nayla, kamu tuh lama-lama sombong juga ya CK astagfirullah ...." Risih juga geli sendiri menyadari apa yang terlontar dari semua pernyataan yang hadir beberapa detik lalu itu sebuah tepukan pada jidat mulus miliknya menjadi korbannya sendiri. "Awas aja tuh anak kalau misalkan nyebelin nyebelin gitu ujung-ujungnya suka sama aku hahaha ya Allah ya walaupun nggak mungkin sih Ya karena aku juga kan nggak mau banget punya jodoh atau bahkan pacar atau apa kek yang hubungan-hubungan yang kayak gitu i ogah banget kalau misalkan punya cowok model yang kayak si Davin yang ada aku bisa stress lahir batin!" Menggerutu kesal sendiri dan tentang semuanya dilakukan oleh Nayla seolah-olah mengisi kegabutan yang ia ciptakan sendiri karena aksi gilanya itu, sampai tak ada yang menyadari sedikitpun sosok Davin yang sedari tadi bicarakan oleh Nayla sendiri dengan segala pertentangan-pertentangan yang ada dan juga kegilaan sekilas sukses membuat Davin di tempatnya terbatuk-batuk tak jelas bahkan sampai tenggorokannya gatal hingga membuat dirinya sukses menyita perhatian satu orang wanita di dalam kelasnya sana kini menatap penuh sosok dosennya itu dengan tatapan sedikit menyelidik. "Pak, kayaknya bapak ada yang lagi ngomongin deh." Yah, satu kalimat itu dalam sekejap sukses menghentikan aksi segala mahasiswa di dalam kelas itu bahkan juga sosok laki-laki bernama Davin yang tak lain tak bukan adalah dosen di ruangan itu kini seluruh mata mereka tertuju pada sang empunya suara hingga disadari penuh oleh sosoknya kini tertegun di tempat dirinya berada saat ini. "Eh mampus, aku salah ngomong kah?" bisiknya sendiri merutuki kecerobohannya. Hingga di detik setelahnya pandangan dirinya ya alihkan ke seluruh sudut ruangan dimana teman-temannya kini menatap intens ke arah dirinya yang refleks memberikan sebuah cemilan tak berdosa ke arah mereka semuanya, namun ada satu sosok wanita yang gini justru malah memberikan sebuah jeda kan ke kepala sosok itu hingga membuat sang empunya sedikit mengasuh karenanya. "Maksud kamu gimana ya?" sahut dosen itu dengan nada datarnya. Sampai-sampai dari sosok samping wanita yang berkata demikian itu diiyakan oleh Anisa. "Tahu ah kamu tuh juga aneh banget sih kenapa tiba-tiba nyaut gitu aja lagian kalau misalkan Pak Davin batuk-batuk atau ngapain kek itu mah urusan dia ngapain kamu tiba-tiba nyaut aja heh nyari masalah aja kamu tuh!" bisik Anisa menimbrung. Sosok wanita itu kini hanya bisa menyengir penuh kecanggungan dengan rasa sedikit bersalah yang terlihat jelas dari respon tangannya yang kini tampak menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal sama sekali itu. Pandangannya kini menatap kembali ke arah sang dosen di depan sana yang kini justru malah bangkit dari duduknya dan berjalan secara perlahan ke arah di mana dirinya berada yang membuat wanita itu sedikit kikuk dibuatnya. "Heheh, maaf Pak. Reflek bilang aja, biasanya kan kalau misalkan orang batuk-batuk atau ya sejenisnya gitu Pak terus dadakan kan biasanya ada yang ngomong atau ya ininya begitulah. Heheh, maaf ya pak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD