Jari-jari tangan Davin yang sebelumnya tampak beberapa kali meja di samping dirinya berdiri saat ini kini aksi itu terhenti, beberapa gelengan tampak dilayangkan olehnya menyadari jawaban tak masuk akal dari sosok mahasiswinya itu.
Kedua matanya berputar malas merespon hal tersebut, sampai sebuah deheman terlontar dari mulutnya. Seolah merasa paling berwibawa di hadapan mahasiswi semuanya di dalam kelas itu, Davin kini menghentikan bahunya dengan sebuah hal nafas panjang juga diberikan sosok itu menyadari banyak tatap mata memandang ke arah dirinya berada.
Nentranya sedikit ia alihkan sejenak ke arah samping, ke arah dimana keberadaan meja yang beberapa menit lalu sempat ia duduki sebelum adanya aksi absurd dari mahasiswa di hadapannya itu karena ketidaksengajaan dirinya yang tiba-tiba batuk di ujung sana.
Tanpa disadari oleh sosok wanita itu, yang sebelumnya sempat terekam juga di penglihatan Davin jika wanita itu tampak berbisik-bisik sejenak sebelum pada akhirnya menjawab pertanyaan darinya terdengar jelas di telinga Davin sangkawan dari wanita itu tampak berkata sedemikian rupa yang membuat Davin menarik sedikit bibirnya itu hingga tercipta sebuah lengkungan senyum miring dari sosok laki-laki yang semenjak beberapa menit lalu berada di kelas ini dengan segala ocehan dan juga banyak ketidak terimaan dari mereka-mereka terhadap dirinya yang menimbulkan beberapa orang pun kabur untuk memilih tidak mengikuti mata kuliahnya.
"Fyuh ...." hembusan nafasnya nampak jelas terdengar di telinga beberapa mahasiswi yang berada lebih dekat dengan Davin.
Tanpa disadari, dirinya yang beberapa detik terakhir ini tampak bingung juga ingin merespon apa terhadap pernyataan yang keluar dari wanita tadi. Entah disadari Davin ataupun tidak yang kini malah asik kembali memainkan jari-jarinya di atas meja sana yang membuat sang empunya meja sedikit gugup dan juga takut atas hal itu tapi berbeda lagi dengan teman dari Anisa tadi.
Kini badannya tampak sedikit ya condongkan ke arah dimana Anisa berada, sangatlah cuek dan tidak peduli atas sekitarannya yang kini beberapa dari Mereka tampak menatap penuh tingkah polah dari dirinya kini dengan begitu santainya sosok itu justru malah memberikan hadiah sebuah cetakan kepada Anisa.
"Udah deh Nis, ya iya emang bener itu urusan dia tapi kan aku juga ini agak keganggu juga aslinya telingaku. Ya gimana enggak orang Pak Davin aja dari tadi tiba-tiba batuk-batuk kayak gitu kok emang kalau kamu nggak keganggu ha? kan aku juga jadi refleks ini ngomong kayak tadi, mana kok ujung-ujungnya malah jadi kayak buronan gini aku, asem banget emang!"
"Ya Allah, ya misal pun keganggu juga nggak usah sampai diungkapkan gitu kali. Kamu tuh terlalu jujur jadi orang, udahlah mending itu diam aja kenapa sih lagian kok aku pikir-pikir bukannya kamu dulu antusias banget ya kalau misalkan ada kelasnya Pak Davin di sini. Malah udah kayak yang paling ditunggu-tunggu banget sama kamu keberadaan ini nih si dosen ganteng mu ini, ya walaupun pada aslinya sih menurut kita semua ya yang ngefans sama dia tapi ya gimana kok dari pengamatanku kamu tuh akhir-akhir ini agak sebel gitu kayaknya tuh sama Pak Davin. Emang kenapa? Sensi ya kau, gara-gara akhir-akhir ini pada pin lagi dikit-dikit ngomongin yang Nayla terus?!"
Damn, bagai disambar petir di siang bolong entahlah mengapa sosok itu bisa sebegitu sensinya dirinya juga sadar tapi dirinya juga tidak tahu kenapa bisa demikian. Dan jika itu karena masalah sang dosen yang memang beberapa hal hari terakhir sering beradu argumen bahkan lebih terlihat romantis dan ya itu menimbulkan kecemburuan mungkin bagi sosok itu dan juga mereka kaum wanita di kampusnya itu juga tidak dipungkiri karena memang mereka semua kalangan wanita yang memang mengincar dosen itu sadar betul jika sebelum-sebelumnya kedua orang itu antara Nayla dan juga Davin memang sering cekcok dan sebagainya tetapi jika urusan nya begini mereka juga sedikit curiga karena banyak perbedaan di antara keduanya beberapa hari ini yang membuat satu diantaranya yaitu sosok wanita itu sedikit sensi dan entahlah ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal itu.
Refleks, sosoknya berdecak penuh menatap Anisa. "Nggak usah mulai deh ya mentang-mentang aja nggak usah disambung-sambung in lah sama keadaan, ya kalau misalkan urusan itu mah ya bodo amat sih aku mah Lagian juga Nayla kan benci sama Pak Davin terus juga kan kalau misalkan Nayla suka atau apa kayaknya juga nggak mungkin kan kalau misalkan dia suka tuh ya pasti dia nggak bakal bolos tapi nyatanya apa dia mah udah benci keras kakak udah setinggi langit udah kelar sampai ke langit ketujuh dia mah bencinya. Lagian buat apa sih aku sensi atau cemburu atau apa kek itu enggak mungkin banget gitu. orang juga aku tuh ngomong gitu juga karena keganggu telinga doang Ih gitu aja di panjang-panjang in emang ya kamu juga rada-rada stress Nis!"
"Dih, ngaca dodol! Udahlah. Puyeng aku jadinya, udah udah mending itu fokus tuh sama materi kamu awas aja tuh nanti kalau misalnya kamu disuruh deskripsikan ini sama itu Pak Davin nggak bisa mainnya punyaku. Tak tendang kamu!"
"Idih, nggak bakalan. Udahlah, nggak usah bahas si onoh lagi. Fokus fokus fokus ...."
Yah, kalimat itu sukses dilontarkan oleh sosok wanita tadi karena memang menyadari respon Davin yang sangat biasa saja ditambah dengan dirinya juga yang malah sibuk ngobrol sendiri dengan Anisa membuat dirinya sadar ini tak seharusnya terjadi di jam sekarang. Dan ini juga bukan waktu yang tepat untuk berkata apapun itu tentang mereka terlebih dirinya juga kan hanya berkata sedikit seolah-olah semua itu menjadi kesalahan yang begitu besar hingga berbuat sosok itu seketika malah dibuat kesal sendiri oleh dirinya.
Beberapa detik berlalu kelas kembali hening, beberapa dari mereka di sana tampak kembali acuh atas sedikit insiden yang terjadi di kelas itu walaupun beberapa dari mereka juga masih sibuk dengan keponya seolah menatap penuh makna ke arah Davin yang mana tatapan-tatapan itu sedikit meneliti dan ya tak jarang dari mereka masih ada yang berbisik-bisik walaupun bisa dihitung dengan jari tapi itu membuat Davin merasa jika kelas yang ia bimbing di siang hari ini nampaknya tak seperti suasana sebelum-sebelumnya dimana mereka yang selalu antusias terhadap keberadaan dirinya kini malah semuanya seperti berubah dalam hitungan detik karena mungkin keteledorannya.
"Saya ke kamar mandi sebentar, kalau ada materi yang buat kalian pusing nanti bisa diskusikan bareng-bareng setelahnya. tetapi saya tetap minta sama kalian untuk tetap mempresentasikan materi itu ke depan jika saya sudah meminta nantinya harus sudah pada siap semuanya."
"Baik Pak ...."