Manusia Sok Rajin

1001 Words
Alih-alih senang karena sang dosen yang izin ke kamar mandi sebentar karena kode alam itu, seluruh mahasiswa di dalam kelas itu tampak menganggukkan kepalanya penuh pasrah karena pernyataan tersebut. Berbeda jauh dengan sosok Annisa yang kini tampak menghilangkan nafasnya berat. "Tau gini mendingan aku ikut bolos Nayla aja tadi," ujarnya penuh penyesalan. Netranya kini tampak melirik ke arah sebuah jarum jam yang berada di tembok sana lurus dengan pandangannya kini baru menunjukkan pukul sekian dimana hal itu baru ada pertambahan sekitar 30 menit dari waktu sebelumnya dosen itu masuk ke dalam kelas. "Mana waktunya juga masih lumayan lama lagi, ini mah kalau misalkan Pak Davin ke kamar mandi mentok-mentok juga paling cuma 5 menit ini mah jam kuliah juga 2 jam lebih baru setengah jam-an juga masih 1 jam lebih hampir 2 jam paling. Gila aja sih ah, nggak asik ini mah jadinya salah kan nggak ikut merah kabur pelajaran ini. Mana materinya pas kayak gini lagi, bukannya masuk tapi malah mumet yang ada. Orang gak paham belum sama sekali, ini mah kalau misalkan Nayla ada juga materi paling disukai sama dia ini maksudnya yang buat kayak gini kayak gini nih udah kesukaannya Nayla banget. Ya atuh kalau ada dia mah enak ya bisa gitu ada bantuan sedikit dari dia lah kalau kayak gini kan susah. Fyuh ...." Celotehan demi celotehan diumpat kan Annisa karena hal tersebut, tangan-tangannya sibuk membolak-balikkan beberapa lembar kertas yang berada di atas mejanya. Seolah benar-benar dibuat pusing karena materi tersebut sampai dirinya dengan penuh kesal bahkan tanpa berbahasa-basi sedikitpun lembaran kertas itu dihempaskan begitu saja di atas sana. Tangannya menyahut dengan segera sebuah tas tote bag yang berada di samping dirinya berada saat ini. "Jadi kepo aku bocah itu ke mana ya sekarang ya," lirihnya kembali. Sebuah ponsel berhasil diambil dari dalam tas tersebut, hingga sedapatnya benda itu kembali ia lemparkan begitu saja dengan asal sangat punya tas ke bawah lantai sana. Tangannya kini sibuk menggulir layar ponselnya guna mencari sebuah nama di kontak w******p miliknya, "Asli kalau misalkan ini mata kuliahnya Pak Bayu mah Nayla bakal jadi orang paling semangat di kelas ini buat presentasikan materi ini. Yakin deh!" Acuh bahkan sangat tidak peduli dengan sekitarnya dan beberapa teman di kelasnya itu Anisa kini sibuk mengotak-atik ponselnya sendiri di bangku tempat dirinya terduduk, tak menghiraukan sedikitpun beberapa teman darinya yang ada memanggil dirinya juga tentang beberapa teman lainnya yang kini sibuk ngoceh sendiri layaknya anak SMA yang senang ditinggal pergi oleh gurunya pada saat jam pelajaran. Mereka sebenarnya sama saja, di semester sekian dan juga di umur-umur yang bisa dibilang lebih dewasa dari bocah SMA. Namun kelakuan tetaplah kelakuan, nyatanya mereka semua sama saja bahkan lebih parah dari anak SMA dengan segala kebiasaan-kebiasaannya saat ditinggal pergi oleh sosok yang mengajarnya. Jari-jari Anisa kini tampak mengetikkan beberapa kata di layar keyboard-nya sana, bibirnya tampak bermain-main penuh dengan segala gerakannya seolah sangat putus asa juga pasrah dan sebagainya menjadi sebuah pertanda yang mewakili isi hatinya kali ini. "Tinggal, send terkirim deh!" Yah, sebuah kalimat berbunyi. 'Nay, kabur sampai mana kamu heh? Ini nih dosenmu nyari gara-gara. Masa nggak ada angin gak ada hujan tiba-tiba nyuruh buat presentasi materinya Pak Bayu sih kan nggak masuk akal banget! ya walaupun emang dia di sini buat gantiin Pak Bayu sih cuma kan biasanya kan nggak nyampe segini juga gitu loh maksudnya nggak sampai segitunya juga ....' sebuah icon pesawat dipencet dalam sekejap oleh Anisa hingga pesan itu pun benar-benar terkirimkan di ponsel Nayla saat ini yang sedang sibuk menatap ke arah langit cerah di atas sana. Mengusik dirinya yang sedang tenang menikmati suasana siang dengan angin sepoi-sepoi yang menyapa dirinya, benar-benar terasa saat sebuah notifikasi hadir mengetuk telinganya dalam sekejap sampai iya dibuat kalang kabut sendiri mencari keberadaan ponsel pintarnya yang lupa ya taruh dimana. "Ish, kok nggak ketemu sih ...." gerutunya sendiri sembari sibuk mencari keberadaan benda itu sampai ke dalam tas ya buka bahkan sampai ia keluarkan semua isi tas itu dan beberapa barang yang memungkinkan Nayla biasa menaruh ponselnya. "Ini Annisa sampai wa gitu ada apa ya kan kepo, kalau misalnya nggak ketemu gimana nih dasar teler banget jadi orang naro hp aja sampai lupa padahal yang baru kamu sendiri emang gila kamu Nay!" Memang benar, meskipun keberadaan benda itu belum ditemukan oleh Nayla tapi ya sadar betul jika notifikasi itu ada dari sahabat dekatnya. Ia tak mungkin salah mendengar dan ia tak mungkin salah menebak siapa orang itu, karena memang notifikasi dari sahabatnya dibedakan secara penuh oleh Nayla dari suara notifikasi dan juga dirinya juga sering main feeling atas siapa orang itu. "kampret banget sih nggak ketemu terus ...." Hampir saja menyerah, tiba-tiba sebuah ingatan kembali menelisik di kepalanya. Reflek tangannya mengetuk jidatnya sendiri dengan begitu keras sampai Nayla pun mengadu atas aksinya yang sangat absurd itu. "Geblek banget deh, orang HP ditaruh di saku celana juga ke atas sih dasar emang gila kamu Nay! Rada-rada memang, gara-gara dosen error itu tuh jadinya kayak gini kan ikutan error aku jadinya." Tak mau terlalu dibuat tambah gila oleh dirinya sendiri, ponsel yang beberapa detik lalu sempat ia ambil dengan segera dari saku celananya setelah menutupi semuanya juga jari-jari lentiknya berhasil menggulir layar ponselnya hingga terpampang lah satu pesan dengan banyak titik-titik di ujung notifikasi sana membuat Nayla mengerutkan dahinya penuh kebingungan seolah menambah pusing dirinya melihat apa isi pesan itu. Menebak? jelas dilakukan olehnya namun tak berhasil dan justru malah dibuat semakin bingung. And see .... Matanya dibuat melotot tak percaya menyadari isi pesan tersebut yang memang berasal dari sahabat dekatnya yang kini ia tinggalkan di mata kuliah mereka karena alasan tadi hingga sebuah gelap tawa yang beberapa detik setelah itu ditahan kini terlepas juga dari diri Nayla. "Mampus sih, lagian sama siapa sih tadi juga disuruh apa namanya diajak buat bolos dianya nggak mau emang soal rajin ini anak sebenarnya tuh. Mana pakai segala sok-sokan nasehatin aku lagi tadi, ck sekarang anaknya malah kebingungan sendiri kan. Haduh emang ya Anisa itu orang paling error setelah itu dosen killer. Huh ... balas apa ya enaknya hahaha ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD