Tepi Tebing Karang

1069 Words
Detak jantung Rachel semakin tak karuan, setetes air matanya terjatuh, sedangkan hatinya terasa sangat perih melihat Willy dan juga Ammara. "Kenapa, Mas? Aku adalah istri kamu, kenapa kamu ajak dia?" tanya Rachel. "Bukannya sudah jelas? Dia lebih cantik daripada kamu," sela Vera, "toh, ini juga untuk kebaikanmu. Agar kamu tidak malu dengan tubuh itu, apa kata klien nanti kalau lihat badanmu itu." Hatinya semakin perih, rasanya seperti teriris oleh ribuan pisau. Sakit, sangat sakit, hingga ia tak bisa menjawab semua perkataan menyakitkan itu. "Sudahlah, Sayang. Ayo, kita pergi dari sini, nanti terlambat," ajak Ammara sembari tersenyum licik. "Iya, Sayang." Keduanya bergandeng tangan sembari keluar dari rumah. Rachel tak bisa menahan amarahnya. Ia berlari menuju ke arah sang suami dan menarik rambut Ammara hingga ia tersungkur ke lantai. "Aku tidak akan membiarkan kamu merebut milikku!" teriak Rachel yang membuat semuanya terkejut. "Apa yang kamu lakukan?!" bentak Willy dengan suara keras. Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Rachel, hingga membuat wajahnya memerah dan terasa perih. "Beraninya kamu memukul dia! Dia adalah pacarku! Kalau bukan karena dia, aku sudah mati kebosanan karena kamu!" hardik Willy. "Aku istrimu, Mas! Aku berhak marah jika kamu selingkuh dariku!" jawab Rachel. "Kamu salahkan saja dirimu, jika saja tubuhmu tidak seperti itu, aku pasti tidak akan mendua." "Tidak! Aku tidak rela dia merebut posisiku!" balas Rachel marah. Dirinya hendak kembali memukul Ammara yang bersembunyi di belakang Willy, tetapi Willy dengan sigap mendorong tubuh Rachel hingga tersungkur. "Jangan paksa aku untuk berbuat kasar padamu," ancamnya. "Mas, ayo kita pergi. Aku takut di sini," ajak Ammara. "Ayo," jawab Willy menetralkan amarahnya. Keduanya berjalan meninggalkan Rachel, tetapi Rachel dapat melihat senyum licik di wajah Ammara sebelum dia pergi. Deraian air mata mengalir deras. Suara tangisan Rachel terdengar pilu, hatinya benar-benar hancur saat melihat orang yang dikasihinya lebih memilih orang lain. "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, apa yang menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku," gumamnya sembari bangkit. Sementara itu, Vera terus saja menghardik dirinya. Akan tetapi, Rachel sama sekali tak memedulikan makian Vera, ia berusaha untuk menghentikan suami bersama dengan selingkuhannya. Namun, saat keluar, ia terlambat karena mobil Willy sudah meninggalkan rumah itu. Rachel tak putus asa, dirinya segera mengejar mereka menggunakan mobilnya. Mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi adalah salah satu kelebihan yang Rachel miliki, dalam beberapa menit dirinya sudah berada tepat di belakang mobil milik Willy. "Aku tidak akan membiarkan kamu merebut perusahaan Papa bersama dengan selingkuhanmu itu, Mas," gumam Rachel dengan tekad yang kuat. Ia sengaja tak menghentikan Willy saat di jalan, dirinya akan mengikuti Willy hingga ke tempat acara. Selama ini, Rachel tak pernah menunjukkan diri pada orang di perusahaan itu, tentu saja mereka akan percaya ketika Willy mengatakan bahwa Ammara adalah istrinya. Hal itu tak boleh terjadi, sehingga Rachel akan berusaha untuk membongkar kebohongan Willy di depan semua karyawan dan klien perusahaan. "Kenapa Mas Willy mengambil jalan ini? Bukannya perusahaan ada di pusat kota?" tanyanya ketika menyadari bahwa Willy mengambil jalan yang salah dan tujuannya sangat jauh berbeda dari arah ke perusahaan. Semakin lama, Willy melajukan mobilnya ke jalan curam yang berada di pesisir pantai. Jalanan ini terkenal sangat mengerikan karena sepi akan pengendara dan juga tebing karang di sisi jalan. Willy semakin mempercepat laju mobilnya, sehingga Rachel cukup tertinggal jauh di belakang. "Aku tidak boleh membiarkan mereka pergi," ucap Rachel. Dirinya pun segera melajukan mobil dengan kecepatan tertinggi tanpa memedulikan jalanan yang ada di sekitarnya. Jarak pandang semakin kurang karena jalanan di pinggir laut ini terhalang oleh kabut samar. Akan tetapi, Rachel tak menyerah, ia sama sekali tak berpikir untuk membiarkan Willy dan selingkuhannya merampas semua miliknya.  Kedua mobil melaju kencang, tak peduli jalanan yang curam, sedangkan jarak pandang yang semakin kurang membuat Rachel tak bisa leluasa mengamati jalan, ia hanya bergantung pada GPS di mobilnya untuk mengetahui keadaan jalan. Tiba-tiba saja mobil Willy melaju dengan sangat kencang hingga tak terlihat lagi oleh Rachel. Entah apa yang dipikirkan oleh Willy melaju dengan kecepatan itu di jalan curam begini. "Di mana mobil Mas Willy? Aku harus menemukannya," gumam Rachel lagi semakin mempercepat laju kendaraannya lagi. Saat menemukan mobil Willy berada di depannya, Rachel merasa cukup aneh. Tiba-tiba saja mobil Willy yang masih melaju dalam kecepatan tinggi berbelok ke arah kanan hingga badan mobil menghadang jalan. Rachel yang berada tepat di belakang terkejut, ia berusaha untuk menghentikan mobilnya. Akan tetapi, terlambat karena kecepatan mobil berada di yang tertinggi. Tanpa berpikir panjang, Rachel segera membanting setir ke arah kiri hingga mobilnya melaju tak terkendali. Aaaarrrggghhh! Rachel berusaha untuk menginjak pedal rem sekuat tenaga, tetapi semuanya sia-sia. Mobilnya terbanting hingga menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya terjun bebas ke tebing karang tajam yang menghadap langsung ke laut lepas. Mobil berwarna silver itu pun terguling di antara karang hingga kaca dan badan mobil rusak parah. Hanya dalam hitungan detik, deburan ombak tinggi menelan mobil itu hingga tenggelam tak terlihat lagi di permukaan air. Angin malam berembus dengan sangat kencang hingga membuat air laut semakin ganas, sedangkan pepohonan di sekitar laut meliuk-liuk, membuat kesan di sekitar menjadi sangat suram. Mobil Willy mendekat ke arah tepi tebing, tepatnya di sisi pembatas jalan yang rusak karena kecelakaan tadi. Sang pemilik mobil keluar dan melihat ke arah lautan ganas di hadapannya.  Sejenak, ia terdiam menatap lautan yang menenggelamkan istrinya itu. "Rachel, inilah akibatnya jika kamu menentang diriku. Selamat tinggal, istriku," ucapnya lirih. "Sayang, kita harus bagaimana?" tanya Ammara yang keluar dari mobil. Willy mengembuskan napasnya pelan, di dalam lubuk hati, ia merasakan sesuatu yang sangat berat. "Kita harus pergi dari sini. Tak ada yang boleh tahu, kita terlibat dalam kecelakaan Rachel," ucapnya sembari memegang bahu Ammara. "Aku tidak ingin masuk penjara, Sayang." Ammara memeluk tubuh Willy. "Kita tidak akan masuk penjara, tak akan ada yang tahu kecelakaan ini perbuatan kita." "Tapi ... gimana kalau Rachel masih hidup?" tanya Ammara lagi. "Itu tidak mungkin, dia mungkin sudah mati di dalam air," jawab Willy sembari menatap ganasnya ombak yang menerjang karang. "Setelah ini, kita bisa menikmati semua harta warisannya dan aku akan segera menikahimu." "Yang benar, Sayang?" tanyanya senang. "Tentu saja, apa, sih, yang enggak buat kamu," ucap Willy menggoda Ammara. "Makasih, Sayang. Kamu yang terbaik," balas Ammara. "Ayo, kita pergi ke acara makan malam perusahaan. Mereka pasti menunggu kita." Keduanya pun kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Rachel bersama dengan mobil hancur itu di laut lepas tanpa tahu bagaimana keadaan Rachel yang sebenarnya. Harta membutakan mata dan hati manusia, bahkan terkadang mereka tak segan menghilangkan nyawa hanya demi kebahagiaan dunia yang sementara, sungguh hina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD