Undangan Acara Makan Malam

1344 Words
Malam kian larut, tetapi Willy masih juga belum pulang, sedangkan Rachel masih dalam posisi yang sama. Kedua pelupuk matanya bengkak karena terlalu lama menangis, ia mengembuskan napas yang terasa sangat berat. Perlahan, manik matanya menatap ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Willy tak menandakan bahwa ia akan pulang malam ini.  "Kamu ke mana, Mas?" Suara Rachel terdengar parau. Perlahan, ia merebahkan diri di kasur dengan pandangan menatap nanar ke langit-langit kamar. Suasana sangat hening, tak ada suara di rumah itu, entah kemana perginya Vera dan Riva. Embusan napas berat kembali terdengar, rasa sesak di dalam dadanya kian bertambah setiap harinya. Semakin hari, maka semakin berat pula hidup di dalam rumah ini. Jujur, di dalam hati Rachel, ia sangat mencintai Willy karena Willy adalah pria pertama yang ada di dalam hidupnya setelah sang ayah. Sikap manisnya sangat membuai Rachel kala itu, tetapi sekarang sikapnya benar-benar berbeda. Semakin lama, kenangan buruk Rachel terlintas di pikirannya. Teringat jelas saat dirinya baru berusia 20 tahun, sang Mama tiba-tiba saja divonis kanker stadium akhir oleh para dokter. Walaupun Stefan sudah membawa Clarissa--istrinya--untuk berobat ke berbagai macam dokter, penyakitnya semakin parah. Saat itu, Rachel merasa bahwa dirinya berada di titik terendah saat sang mama dinyatakan meninggal. Namun, dugaan Rachel salah. Titik terendah dalam hidupnya terus berlanjut, tak berselang lama setelah Clarisa meninggal, Stefan pun mulai sakit-sakitan. Stefan merasa bahwa ia tak memiliki banyak waktu, ia tahu bahwa dirinya tak akan bisa lagi menjaga Rachel, sehingga Stefan memutuskan untuk menikahkan Rachel dengan seorang karyawan kepercayaan yang bernama Willy, dengan harapan jika Willy akan dapat menjaga putri satu-satunya. Di awal masa pernikahan, semua terasa sangat manis. Rachel terbuai dan merasa menjadi wanita paling beruntung karena dinikahi oleh seorang pemuda yang sangat baik hati dan memperlakukan dirinya layaknya putri. Namun, rupanya semua itu hanyalah topeng di balik iblis yang sebenarnya. Setelah Stefan meninggal karena serangan jantung, Willy memperlihatkan sikap aslinya. Ia menguasai perusahaan serta aset berharga milik Stefan yang mencapai milyaran.  Seolah tak puas, takdir kembali mempermainkan Rachel, takdir kejam itu menghunjam Rachel berkali-kali, hingga semangat hidupnya mulai terkikis habis. Kini, Rachel hanya bisa pasrah dengan keadaannya. Ia terlalu mencintai Willy hingga tak berani membantah semua perkataan Willy. "Aku ... mencintaimu, Mas. Tolong ... kembalilah padaku," lirih Rachel dengan air mata yang kembali menetes di sudut pelupuk mata. Perlahan, wanita itu pun terlelap dalam kesedihan. *** "Heh! Bangun! Jangan tidur terus!" teriak seseorang sembari melemparkan bantal ke tubuh Rachel. Wanita itu pun mengerjapkan mata yang masih terlihat sembab, ia segera meneliti siapa yang berteriak padanya sepagi ini. "Mas Willy, kamu sudah pulang?" tanyanya dengan senyum lembut. "Gak usah banyak omong. Cuci semua pakaianku dan siapkan jas mahal," perintah Willy sembari melemparkan kemeja yang dikenakannya pada Rachel. "Iya, Mas." Rachel menjawab sembari mengambil kemeja di tubuhnya. Akan tetapi, sejenak Rachel mencium bau aneh dari pakaian itu, seperti wangi-wangian. Rachel sangat tahu, jika suaminya itu tak menyukai parfum dengan wangi menyengat. "Kenapa diam? Cepat kerjaan!" hardik Willy lagi. "Iya, Mas. Aku cucikan," jawab Rachel menurut. Dirinya bahkan tak sempat untuk bertanya dari mana saja ia semenjak kemarin. Pandangan Rachel buram saat hendak mencuci kemeja Willy, ia masih mengantuk, tetapi dirinya tak bisa menolak perintah Willy jika tidak ingin Willy kembali membentaknya dengan suara keras. "Apa ini?" tanya Rachel ketika tangannya menyentuh secarik kertas di saku jas Willy. Rachel memperhatikan isi dari kertas itu. Ia tampak senang ketika menyadari ternyata kertas itu adalah undangan makan malam antar perusahaan. Senyum terlintas di wajah lelah Rachel. "Acara kantor Papa, aku harus ikut mendampingi Mas Willy. Sudah lama aku bermimpi untuk bisa pergi ke perusahaan Papa bersama Mas Willy," ucapnya senang, "aku harus bersiap-siap." Setelah memasukkan semua pakaian kotor ke mesin cuci, Rachel bergegas menuju ke kamar untuk bertanya pada Willy, tetapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat Willy tertidur dengan sangat pulas. Rachel memutuskan untuk menyiapkan jas mahal milik Willy yang akan digunakan pada acara nanti malam. "Mas Willy pasti tampan sekali memakai jas ini," ucapnya sembari mengusap jas yang terbuat dari bahan terbaik itu. "Ah, apa yang harus aku pakai saat acara nanti malam? Tidak mungkin aku pergi dengan daster ini," gumamnya sembari memperhatikan daster lusuh di tubuhnya. "Aku harus mencari pakaian yang bagus agar tidak membuat Mas Willy malu." Senyum terlintas di wajahnya, ia teringat dengan butik yang sering didatangi oleh sang mama saat masih hidup dulu. Rachel yakin, jika di butik itu ada banyak baju bagus yang bisa ia kenakan untuk acara makan malam perusahaan nanti. Hari ini, dirinya sangat bersemangat. Tanpa ingin menunda pekerjaan rumahnya, Rachel segera bergegas memasak sarapan serta membersihkan area rumah. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang, tetapi Willy masih tertidur di ranjang kamar. Tak ada kesempatan untuk Rachel bertanya pada Willy tentang acara malam nanti. "Jika aku terlambat ke butik itu, aku tidak akan punya baju untuk ke acara malam nanti. Mungkin, aku harus pergi membelinya sendiri dan membuat kejutan untuk Mas Willy," gumamnya senang. Setelah menyiapkan makan siang, Rachel segera pergi mengendarai mobil pemberian sang ayah untuk menuju ke butik yang jaraknya cukup jauh. *** Denting jam berbunyi, waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Setelah mencari baju dengan waktu yang lama, akhirnya Rachel memilih sebuah dress hitam dengan ukuran oversize yang sangat pas di tubuhnya. Rachel pun tak lupa untuk merias wajahnya agar terlihat lebih cantik dan segar, kini ia sudah siap untuk pergi ke acara makan malam perusahaan bersama dengan Willy. "Aku harus cepat pulang, sebelum acara dimulai," gumam Rachel sembari melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Memilih baju serta merias diri di butik membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga kini dirinya harus bergegas pulang ke rumah agar tak terlambat ke tempat acara. Perjalanan memakan waktu hingga satu jam, sedangkan acara akan dilaksanakan pada jam delapan malam ini. Rachel tak ingin terlambat, ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa peduli jalanan yang sedikit curam karena memang Kota Dauna terletak tepat di pesisir pantai dengan banyak jalan yang berbatas langsung dengan laut lepas.  Setelah melakukan perjalanan yang panjang, Rachel tiba di rumah ketika matahari sudah terbenam. Ia bergegas masuk untuk menemui Willy dengan tergesa-gesa, tetapi langkahnya terhenti ketika sang ibu mertua duduk menunggunya dengan ekspresi marah. "Rachel! Dari mana saja kamu, hah?! Keluyuran sampai malam begini, apa orang tua kamu tidak mengajarimu tentang etika?" tanya Vera keras. Rachel menunduk, ia ketakutan mendengar suara Vera yang membentaknya dengan suara yang keras. "Ma-maaf, Ma. Aku tadi pergi hanya untuk membeli baju," jawab Rachel. Vera meneliti tubuh Rachel dari atas hingga bawah. "Kenapa kamu dandan, buat siapa? Apa jangan-jangan kamu selingkuh di belakang Willy?" Vera mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan tuduhan. "Bukan, Ma. Aku tidak pernah selingkuh," balas Rachel membela diri. "Gak perlu membela dirimu, sekali tercela memang selamanya tercela," sindir Vera dengan mata liciknya. "Tidak, Ma. Aku tidak--" "Ada apa ini? Kenapa kalian ribut sekali?" tanya Willy yang datang dengan pakaian rapi. "Willy, lihatlah istrimu. Dia keluar dari siang dan pulang malam hari dengan dandanan begini, pasti dia berselingkuh," tuduh Vera lagi. "Bukan begitu, Mas. Aku tadi pergi untuk membeli baju karena semua bajuku sudah tidak muat lagi. Aku ingin memberimu kejutan karena malam ini kita, kan, akan pergi ke acara makan malam perusahaan Papa," jawab Rachel. Willy mengernyitkan dahi. "Acara makan malam? Siapa yang bilang padamu?" "Tadi aku melihat undangan di saku jas milikmu." Senyum terlintas di wajah Willy. "Ya, itu benar, tapi aku tidak pernah mengajakmu." Rachel terkejut, lalu bertanya, "Kenapa, Mas? Di dalam undangan itu diwajibkan membawa pasangan masing-masing dan aku adalah anak dari pemilik perusahaan itu. Apa kamu akan pergi sendiri?" "Siapa bilang aku pergi sendiri. Aku pergi bersama dengan pacarku," jawab Willy yang membuat Rachel terkejut setengah mati. "A-apa maksudmu, Mas?" tanya Rachel tergagap. Tok! Tok! Tok! Willy berjalan untuk membuka pintu ketika mendengar suara ketukan. Namun, saat membuka pintu, Rachel terkejut saat melihat seorang gadis dengan tubuh yang indah serta wajah yang cantik berada di depan pintu. Manik mata Rachel semakin membelalak ketika Willy menggenggam tangan gadis itu dengan erat dan mesra. "Si-siapa dia?" tanya Rachel. "Perkenalkan, ini adalah pacarku. Namanya Ammara, dan dia yang akan pergi bersamaku malam ini. Tentunya, dia akan aku perkenalkan sebagai istri sah," jawab Willy tanpa merasa bersalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD