“Hei, gadis boros!” Riu datang menghampiriku saat aku termenung di teras sekolah.
“Ya,” Jawabku tidak bersemangat.
“Kenapa? Kok tidak seperti biasanya?” tanyanya sambil memegang bola basket dan memantulkannya.
“Hu uh, hahhh... Aku juga tidak tahu! mungkin karena Bin tidak menjawab pesanku.” Jawabku dengan nada lemas.
“Siapa?” tanya Riu kembali. Duduk di sebelahku.
“Oh, temanku dia tidak menjawab DM dariku." Riu mana kenal dengan Bin. Seharusnya aku menjelaskannya biar dia tidak salah paham.
“Mungkin sudah di baca.”
“Bagaimana tahu pesannya sudah di baca apa belum?”
“Coba sini aku lihat?” kutunjukkan DM pada Riu. “Ini tandanya sudah di baca,” Riu menunjukkan tulisan ‘di baca pada bawah pesan tersebut. Hah benar...
“Kalau sudah di baca kenapa tidak di balas?” gumamku.
“Mungkin dia masih sibuk.” Betul juga kata Riu, apa Bin kini sudah bekerja? “Itu pacar mu ya?” tanya Riu, menarik garis bibirnya kebawah. Harus ku jawab apa? Mau kubilang iya tapi sudah lama berlalu, mau bilang tidak ... Tapi perasaanku masih padanya.
“Bukan.” Jawabku.
“Mmm .... Bagus kalau begitu.” Kini Riu chan kembali melebarkan senyuman sambil menggaruk kepalanya. Kenapa bagus? Aneh. “Moon, aku ke sana dulu ya. Temanku memanggil.” Kulihat ada dua orang anak lelaki yang melambaikan tangan pada Riu.
“Baik, terima kasih bantuannya!” teriakku pada Riu yang sedang berlari menghampiri temannya. Ia menoleh dan berisyarat pada ibu jarinya.
Hemn, kulihat lagi ponselku, membuka akun Bin yang sudah terpampang foto unggahan baru. Eh, dia bisa up date foto kenapa tidak menjawab pesan ku. Aneh kan ...
“Moon? Apa kau Moon?” seorang kakek menghampiriku semua helaian rambutnya berwarna putih di tumbuhi uban, namun anehnya jalannya masih terlihat gagah.
“Iya aku Moon.” Sepertinya wajah kakek itu tidak asing bagiku.
“Bukankah reuninya masih minggu depan? mengapa kau memakai seragam sekarang. Ah, apa aku lupa lihat tanggalan, tapi tidak ah sepertinya.” Dahi Kakek itu semakin berkerut, dia memegangi dagunya.
“Kakek siapa?” aku hafal suaranya, bukankah dia wali kelasku dulu semasa SMU. “Pak Guru Soe?”
“Haha, ya ampun kamu baru ingat? Apa aku se tua itu?” tanya Pak guru sambil tertawa. Dia duduk bersebelahan denganku.
“Bukan, aku saja yang tidak ingat. Loh Bapak masih mengajar di sekolah? Kenapa aku baru lihat Bapak sekarang?” tanyaku bingung, aku sudah sekolah hampir seminggu, kenapa baru tahu ada Pak soe.
“Oh iya, dua minggu yang lalu Bapak cedera tulang belakang sehingga tidak bisa mengajar, karena usia juga sudah tidak memungkinkan untuk itu Bapak lebih baik pensiun dini. Datang ke sini untuk mengambil berkas yang tertinggal sekalian mengucap salam perpisahan pada pengajar yang lain.”
“Yah, padahal aku baru sekolah kembali di sini. Bapak sudah pensiun saja.” Semua guru di sekolah ini baru tidak ada yang aku kenal selain Pak soe.
“Hah, sekolah kembali?!” Pak Soe terkejut mendengar penjelasanku. Aku bercerita padanya tentang amnesia yang ku idap. Cerita yang begitu panjang sehingga aku bisa kembali ke sekolah ini, serta kebingungan yang kuhadapi tentang teman-teman lamaku yang seolah tidak mengenalku. Aku begitu senang karena bertemu orang dari masa lalu yang masih berbaik hati mengingat dan berbicara padaku.
“Ya Bapak memahami persoalanmu Moon, beruntungnya suamimu adalah cucu pemilik yayasan di sekolah ini. Aku rasa para guru dan staf lainnya pun tidak ada yang berani membocorkan rahasiamu.” Ujar Pak Guru yang membuatku terkejut. Aku baru tahu kakek Tan pemilik Yayasan di sekolah ini. “Mungkin karena kau menikah dengan seseorang dari keluarga berpengaruh di negara ini, mereka jadi menjaga jarak.” Pantas, memang begitu terkenalkah keluarga Tan? Se kaya apa mereka?
“Lalu bagaimana aku mencari tahu apa yang terjadi dimasa lalu kalau mereka menjauhiku?” tanyaku lesu memandang Pak Soe.
“Kamu belum tahu? Empat hari lagi akan ada reuni akbar di selolah ini?” aku menggeleng. “Datanglah hari minggu jam tujuh malam, mungkin dari hari itu kau bisa mengingat sedikit demi sedikit dan bertemu teman-teman lamamu. ”
Mataku kembali berbinar mendengar informasi yang Pak Guru berikan. Ah waktu cepatlah berganti. Aku ingin bertemu teman-teman lamaku.
“Jangan terlalu khawatir Moon, jalanilah hari-harimu tanpa beban. Yang terpenting bukanlah bagaimana masa lalumu, tapi masa depan yang menunggumu, Moon.” Pak Soe menepuk kecil punggung tanganku. Sedikit membuatku merasa lega.
***
Taman Galaxi, sudah berapa lama aku tidak ketempat ini? Semua berubah begitu cepat. Tata letaknya, cat pada area bermainnya bahkan tanamannya. Hanya warna jembatannya saja yang tidak berubah. Huffftt ... Kupejamkan mata mengingat apa yang pernah kualami dengan Bin di tempat ini. Merasakan angin yang berembus, menerbangkan dedaunan yang gugur.
“Hei Moon, kamu pernah ke tempat ini sebelumnya?”
“Belum.”
“Orang berkata ini adalah jembatan cinta. Sepasang ke kasih yang bertemu di jembatan ini pasti akan menikah. Moon, bagaimana kalau kita bertemu kembali di sini ketika sudah lulus sekolah?”
“Mmmn, betulkah kamu akan menepati janjimu? Berikan kelingkingmu sini!”
“Tentu saja, jika aku tidak mendapatkan gadis lain yang lebih cantik darimu.”
“Ishh, dasar!”
“Ahahaha... Aku hanya bercanda. Baik aku berjanji ...”
Bin memberikan jari kelingnya dan melingkarkan pada kelingkingku. Hingga saat hari kelulusan akan segera tiba. Tempat ini yang menjadi saksi jalan pemisah di antara kami.
“Moon, setelah lulus apa kamu akan melanjutkan kuliah?”
“Aku tidak tahu, keuangan keluarga ku sedang tidak baik sekarang-sekarang ini. Mungkin aku akan bekerja dulu sambil mengumpulkan uang untuk kuliah. Kalau kamu ?”
“Mmm... Aku sudah ikut test beasiswa di luar negri, jika aku lulus mungkin aku akan melanjutkan kuliah di universitas Kanada. Apa ... Kamu akan menungguku?”
“Kenapa baru memberi tahu?! Bukakah itu curang?!”
“Aku takut membuatmu kecewa...”
“Bukankah kalau beri tahu sekarang, juga akan membuatku kecewa?!”
“Jangan menangis, aku akan tetap bersamamu meskipun jauh.”
“Bagaimana bersama jika jauh?!”
“Dengar Moon, sejauh apa pun jarak yang memisahkan kita. Tetaplah bersamaku..., tunggu aku ... Aku pasti akan kembali.”
Setelah hari itu, aku tidak ingat apa yang terjadi. Apa yang terjadi setelah hari kelulusan? Apa Bin menepati janjinya? Atau aku yang tidak menepati janjiku?
Matahari hampir tenggelam, sudah Pukul 18:00 berarti sudah dua jam aku menunggu. Apa dia begitu membenciku? Tidak, aku yakin Bin pasti datang, dia selalu menepati janji. Aku sangat mengenalnya, dia tipe orang yang selalu berpegang teguh pada komitmen yang telah dia buat. Meski kali ini hanya aku yang memintanya datang.
Tik Tik Tik
Kubuka telapak tangan, menadah rintik air yang turun dari langit. Melihat orang-orang berlari mencari tempat berteduh. Jika aku meninggalkan tempat ini, bukan kah akan membuat bin bingung mencariku. Lagi pula apa yang harus di takuti dari hujan. Aku yakin imunku lebih kuat dari pada penyakit yang akan menyerang. Aku putuskan untuk tetap menunggu Bin disini.
Gludgg Gludgg
Byurrr
“Hish, kenapa hujannya menjadi deras!” hujan Membuat tubuh dan seragamku basah semua. Semakin lama rasanya semakin dingin saja. Kulipat kedua tanganku menempel pada d**a. Ayolah ini tidak apa-apa, hanya hujan.
“Fhuuu...” kukeluarkan hawa panas dari dalam mulut, meniup kedua telapak tangan. Lalu menggosokkannya. Rupanya tidak terlalu berpengaruh. Aku masih saja kedinginan.
“Hatchi!”
“Hatchi!”
Alergi dinginku kambuh lagi. Badanku semakin terasa tidak enak. Kubungkukkan tubuhku, kakiku terasa lemas. Aku berjongkok memegangi kedua lutut, memeluknya. Menenggelamkan wajahku pada kedua tubuhku yang tertekuk. Sampai beberapa saat. Tubuhku mulai mengeluarkan reaksi yang tidak biasa.
“Aku tidak boleh menyerah, Bin pasti datang! Bertahan lah Moon!” kubuka kembali mataku yang berat, berusaha tetap terjaga. Hingga ...
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, suara itu berhenti di depanku. Hujan tidak lagi membasahiku Karena payung yang di bawa lelaki itu. Aku melihat sepatu orang tersebut. itu adalah sepatu pria. Aku tahu firasatku pasti benar, aku yakin dia datang ... Kukumpulkan tenaga untuk bangkit agar dapat memeluknya erat, Noe Binku datang ...
"Aku tahu, kamu pasti datang." ujarku begitu lemas, menunduk, memegangi lutut. Sulit untuk tetap terjaga. Hingga tubuhku melunglai, dan ...
SREKKKK!
“Moon...!”