“Wahh, cakenya banyak sekali! Ini pasti enak, ah. Bukan yang ini, ini lebih enak!” kuambil satu persatu kue di atas meja prasmanan. Memasukkannya ke dalam mulut hingga mulutku penuh.
“Eh, tolong ambilkan minum untukku.” Kata wanita di belakangku. Aku menoleh. Sepertinya aku mengenalnya.
“Kau bicara pada siapa?” tanyaku dengan mulut yang masih penuh.
“Pada siapa lagi, kalau bukan dengan pelayan.” Jawabnya sambil mengangkat dagu.
“Maksudmu itu aku? Heh! kau tak tahu aku siapa?!” kurang ajar sekali wanita ini!
“Tahu, kau pelayan di coffee shop itu kan? Apa lagi yang kau lakukan di sini selain jadi pelayan.” Apa? Ooohh pantas saja rasanya aku kenal wanita ini, dia wanita sombong yang waktu itu. Ih, kenapa dunia sempit sekali.
“Aku ke sini sebagai tamu! Memang kau saja orang kaya di muka bumi ini! Dasar Sombong!”
“Oh tentu aku sombong, aku kaya dari hasil kerja kerasku sendiri. Bukan seperti seseorang yang menikmati kekayaannya dari hasil mencuri sesuatu dari orang lain!” wanita itu berbicara dengan mimik angkuh seperti penyihir jahat. apa maksudnya?! Apa yang dia katakan tadi?
“Apa yang kucuri?! Se enakkannya saja menuduhku sembarangan!” kuhampiri dia, rasanya darahku mulai naik ke kepala. Tak peduli dia. Lebih tua dariku, aku siap meladeninya.
“Mungkin kau lupa dengan apa yang terjadi, biar kuingatkan! Sampah akan selalu kembali ke tempat sampah meski dia berada di lantai marmer rumah mewah.” Wanita itu membuang tisue yang sedari tadi di genggamnya dan membuangnya ke lantai, setelah itu ia menginjaknya dengan kasar.
“Hihh, dasar wanita siluman!” Kukepalkan tangan bersiap untuk memukulnya.
Namun Wanita itu menggoyangkan gelas wine dari tangannya, terburu menyiramkan isi gelas itu ke arahku.
Clekk ...
“Ta-an.” Wanita itu terkejut ketika siramannya mengenai Tan yang menghalangi tubuhku. Dia segera mengambil tisue hendak mengeringkan jas Tan yang terkena siraman air.
“Sudah,” Tan menepis tangan wanita itu dengan kasar. Lalu menarikku menjauhinya. “Ayo pergi.” Katanya masih mencengkam lenganku.
“Sudah kubilang jangan jauh-jauh dariku.” Tan terus berbicara, masih menggandeng tanganku melewati keramaian.
“Maaf.” Jawabku. “Kita mau ke mana sekarang?”
“ke meja makan, bertemu dengan Ibu.” Ibu? Ibu siapa apa Ibu mertuaku?
Kami menghampiri meja besar di luar ruangan, di sana berkumpul orang-orang dewasa yang tidak kukenal, sebagian berdiri ketika Tan datang dan membungkukkan badan.
Tan menarik kursi agar aku duduk di sebelah Ibunya, “Sudah lebih sehat sekarang?” sapa Ibu mertuaku sambil menempelkan pipinya pada pipiku. Aku mengangguk, ia membalas dengan senyuman, mengusap punggung tanganku.
“Ayah, Ayah tidak ingin menyapa cucu mantu Ayah?” tanya Ibu Tan, pada Kakek tua di hadapannya.
“Oh, Moon sudah lama tidak bertemu, tapi tentu saja aku ingat. Biar sudah tua tapi ayah belum pikun.” Kakek tua itu tertawa. “Moon, Bagai mana rasanya menjadi putri tidur?” tanyanya padaku.
“Moon masih belum banyak mengingat pasca koma. Moon, ini kakek Tan, Co Foundetion yang juga dewan komisaris SUN Enterprise, dan di sebelah kiri dewan direksi. Ah, tentu kau masih bingung. Nanti pelan-pelan Tan akan menjelaskan.” Kini ibu Tan mengelus tanganku. “Oya, ayo kita bersulang sebelum memulai makan malam.” Ibu Tan menaikkan gelas di tangannya di ikuti tamu yang lain.
Makan malam macam apa ini? Sendok dan garpunya banyak sekali. Yang mana yang harus kupakai. Piringnya besar tapi hidangannya kecil-kecil, makan sepiring saja mana kenyang. Kuambil pisau dan garpu yang dekat dengan tangan. Memotong daging salmond asap yang berada di piringku. Memasukkan potongan daging itu ke mulut. Mengunyahnya perlahan seperti yang mereka lakukan.
Ternyata menjadi orang kaya tidak se enak seperti yang kubayangkan. Bagaimana ya Moon dewasa menjalani hidup membosankan seperti ini?
Acara makan malam selesai, para pelayan mengangkat piring-piring di atas meja, membersihkannya kembali. Mereka mulai membahas soal bisnis yang tidak aku mengerti. Membuat aku semakin bosan, dan mengantuk.
“Hoam..” kubuka mulutku lebar, menguap. Tan memelototiku. Aku lupa harus menjaga sikap, ku tutup mulutku cepat-cepat.
“Sepertinya Moon lelah. Tan, antarkan Istrimu pulang. lagi pula ini sudah sangat malam.” Tan patuh sekali pada Ibunya. Di perintah sekali saja langsung bergerak seperti robot yang di atur oleh remote control.
Aku mengikuti Tan menjauh dari meja besar itu. Berjalan di belakangnya, Tan berhenti berjalan, ia menoleh ke arahku.
“Berjalanlah di sampingku.” Ia melilitkan kembali lenganku pada lengannya berjalan menyelusuri lalu lalang tamu undangan yang ia kenal, hatiku sedikit melunak diperlakukan baik olehnya.
Tapi rupanya hanya sebentar, saat orang-orang sudah tidak terlihat lagi. Tan melepaskan genggamannya. Sesaat hatiku yang senang kini berubah. Rupanya dia melakukan kebaikan pada istrinya hanya untuk pencitraan. Ish, sungguh mengesalkan!
Pak Dir membukakan pintu mobil. Lalu kami memasukinya. AC di dalam mobil ini dingin sekali. Kuusap kedua lenganku agar terasa sedikit hangat. Kulirik Tan yang sedang memandangi jendela. Ih, si manusia es ini memang tidak punya perasaan. Dia yang memilih gaun serba terbuka seperti ini, tapi dia sama sekali tidak peduli saat aku kedinginan di sebelahnya.
“Hatchi ...”
“Hatchi ...” hidungku terasa gatal, kuturunkan panel Ac mobil.
“Kamu kedinginan?” Ya ampun, dia baru bertanya, padahal sudah dari tadi aku kedinginan begini. Benar-benar tidak peka!
“Bilang makanya.” Tan melepaskan jas nya dan memakaikannya ke bahuku. Menarik ke dua kerah jasnya untuk menutupi dadaku yang terbuka. Tiba-tiba wajahnya menegang ketika punggung tangannya menyentuh kulitku.
“Ehem,” ia berdehem kemudian, “Coba kamu kaitkan sendiri.” Ia membuang wajah dan melepaskan tangannya. Kenapa dia? Apa dia tidak pernah bersentuhan dengan wanita?
Terlihat dari spion dalam, Pak Dir yang sedang menyetir, tersenyum-senyum memegangi hidungnya.
Sesaat setelah tubuhku terasa hangat. Mataku menjadi berat, aku mulai memejamkan mata. Bersandar pada bantal yang tidak empuk, memakan es krim besar rasa marsmelow dengan toping coco chip. Hem, enaknya!
"Heh, bangun! Sudah sampai!" sayup-sayup, terdengar suara Tan membangunkanku menggoyangkan tubuh. Kasar sekali dia.
“Aa ahh, Aku nagntuk!” kugoyangkan kakiku seperti bayi merajuk.
“Yasudah, kutinggal nanti di dalam mobil!”
Ish, menyebalkan sekali orang ini! dia yang mengajakku pulang malam, tapi dia yang marah-marah. Aku keluar mobil masih dengan mata setengah terpejam. Berjalan seperti zombi. Hingga ...
Dubb!
Kepalaku terbentur pintu yang tertutup. “Hahh, Buka ...” ucapku lemas, kusandarkan kepalaku pada sisi pintu.
Clek!
Tan membuka knop pintu, membuatku hampir terjatuh. “Hih, anak ini!” gumamnya, sebelah tangan Tan menahan tubuhku agar tidak terjatuh.
Srekkkk...
Ia mengangkat tubuhku dalam gendongannya. Membuatku tersadar, tapi juga enggan melewati momen langka ini. Kupejamkan mata kembali, mengapa ... mengapa rasanya nyaman seperti saat aku bersama Bin. Begitu hangat bersandar pada dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya, mengirup wangi parfum mahal yang ia kenakan. Kubuka sedikit kelopak mata, memandang wajahnya yang datar. Mungkin Moon dewasa menikahi Tan, karena dia tampan. Ya, benar dia tampan ...
Tan menaruhku di atas ranjang. Menarik bantal menaruh kepalaku di atasnya. Kemudian ia pergi menutup pintu. Ah, mengapa aku memandanginya terus! Ada apa dengan aku?! Kupeluk guling dan menutup wajahku agar kembali tidur.
***
Hah, tubuhku terasa tidak enak karena pulang larut malam. Apalagi pagi-pagi harus bangun untuk sekolah. Seharian rasanya jadi lemas.
“Candy, kenapa pesanku tidak di balas oleh Bin?” tanyaku pada Candy, sambil menyenderkan kepala di meja.
“Coba Candy lihat,” Candy mengambil gawaiku dan membaca DM yang kukirim. “Bagai mana Bin mau menjawab, memang tante bertanya padanya? Tidak ada yang di tanya, hanya menulis namanya. Hihh, kalau aku jadi Bin, aku juga malas menjawabnya!” benarkah seperti itu?
“Lalu aku harus tanya apa?” kutaruh tanganku di atas meja sambil memukul-mukul.
“Bukannya tante ingin bertemu dengannya, coba saja tanya alamatnya. Nomor ponselnya atau ajak bertemu sekalian.”
“Hah, iya benar!” kutulis pesan pada Bin kembali.
[Bin, ini aku Moon. Bisakah besok kita bertemu? Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu]
[datanglah ke belakang taman galaksi seperti dulu, jam empat sore. Aku akan menunggumu.]
Pasti, pasti dia membalas. Kalaupun tidak, dia pasti membacanya dan menungguku di Taman seperti dulu.