Pernikahan Seperti Apa Ini?!

1325 Words
  Aku tidak tahu apa sandi akun media sosialku,  jadi Candy membuatkan akun yang baru. Ia juga mengajariku cara menggunakan media sosial hingga bisa mengirim pesan.   [Bin aku rindu]  Ah,  tidak ini terlalu murahan! Kuhapus dan mengetik ulang.   [Bin bisakah kita bertemu?] Tapi ini terlalu gambalang,  jangan!   [Noe Bin ...] ya,  aku rasa cukup ini. Kirim ...   Kuletakkan gawai pada meja,  merapikan buku yang harus di bawa esok ke sekolah.  Oh,  iya.  Aku mau meminta uang saku untuk besok.  Memalukan saja, masa aku harus pinjam uang pada Candy terus untuk jajan.   Kuhampiri kamar Tan,  mengetuk pintu.   Tok Tok Tok ...  Hihh,  lama sekali di bukanya.   Tok Tok Tok!!!  Kukeraskan ketukan pintu.   Clek   “Ada apa?” Tan mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.   “Aku mau masuk!” kudorong pintunya,  namun Ia menahan. "Iiihhh!" kudorong kembali lebih kencang dari tadi.   Srekkkk! Tan menarik pintunya sehingga tubuhku menimpa tubuhnya. Mencium harum sabun dari kulitnya. Telapak tanganku menempel pada dadanya yang terbuka.   “Heh!”  Sontak kami berteriak, sama-sama terkejut   “Ehem ...” aku menjauh darinya. Merasa Kikuk, membuat lupa tujuan awalku datang ke kamarnya.   “Ada apa?” Tan mengulangi pertanyaan yang sama.   “Aku ...  Aku ingin memulangkan ini.“ Kuberikan kartu kredit dan elektrik money padanya. “Aku butuh uang cash!” Ucapku dengan penekanan.   “Merepotkan sekali!” rutuk Tan,  membuatku kesal.  Apa katanya? Aku merepotkan?! “Hei,  aku hanya pinjam!  Nanti akan kukembalikan!”   “Bagai mana caramu mengembalikan?” tanyanya. Iya juga, bahkan A-ku  tak tahu bagai mana cara mengembalikannya. Kugaruk kepalaku yang tidak gatal.   “Apa kau selalu perhitungan pada Istrimu?! Hish,  kenapa aku bisa menika dengan Pria seperti ini.” Gantian kini aku yang mulai merutuki nasib.   “Apa katamu?!” wajah kanebonya semakin terlihat emosional.   “Hiii...” aku hanya bisa menyengir menunjukkan barisan gigiku. Mudah-mudahan dia tidak marah. Kalau marah,  hanguslah uang jajanku.   Sejenak pria itu membalik badan,  rupanya Tan mengambil sejumlah uang dari dalam brankas miliknya. Kemudian memberikannya padaku. Wah,  uangnya banyak sekali.  Aih,  dengan uang ini aku bukan hanya bisa membeli bakso tapi juga bisa membeli sepuluh gerobaknya sekaligus.   “Ini untukmu ...” Ia juga memberikan kotak besar dengan hiasan pita di atasnya.  Apa ini? Tumben,  kenapa dia baik padaku, “ada pakaian dan aksesoris di dalamnya. Pakailah,  kita akan pergi malam ini.”   “Malam ini?” bukankah itu terlalu cepat untuk pendekatan. “Mau ke mana?”   “Social Occasion dan Gala Dinner”   “Apa itu?” otakku kini berisikan tanda tanya besar.  Acara apa itu,  namanya aneh.  Dinner? Bukankah itu artinya makan malam?   “Dijelaskan juga kamu gak ngerti. Cepat sana! ganti pakaianmu. Sebentar lagi datang penata rias yang akan membantumu berdandan.”   Tan memegang pundakku dan menggiringku keluar dari kamarnya. Apa-apaan ini,  mengapa dia tidak bertanya dulu, apa aku mau ikut atau tidak. Memangnya aku harus ikut? Menyebalkan!   ***   Aku kembali ke kamar,  membuka ponsel yang tadi kutinggalkan. Membuka direct Message, ternyata Bin belum menjawab pesanku. Kubuang napas panjang sambil termenung, sebenarnya apa yang terjadi antara aku, Bin dan juga Tan? Aku terus berusaha mengingat, memundurkan semua ingatanku pada hari terakhir aku menemui Bin. Tapi Kapan? dan apa yang kukatakan padanya? Aku sama sekali tidak ingat.  Yang teringat hanya sisa bayangan masa lalu saat aku masih SMU, masa bahagia ketika aku masih bersamanya. Masa pertama kali aku bertemu dengannya.   “Siapa namamu?”   “Moon Light...”   Dan saat aku mulai dekat dengannya.  Suara itu seperti menggema, membekas dalam telinga. “Noe Bin,  mulai sekarang aku memanggilmu Noe Bin!”   “Apa artinya?”   “Noe itu nyaman,  aku merasa nyaman bersama Bin!”   Lalu aku merindukan suara itu ... Suara yang menghangatkan seluruh tubuhku,  suara yang mengatakan... “Moon, bolehkah aku menyukaimu?”   “Jangan menangis lagi ...”   “Aku akan terus berada di sisimu ...”   "Suatu hari kita akan menikah dan menua bersama ..." Semua janji manis yang masih tersimpan rapi,  tapi mengapa? Mengapa dia tidak bersamaku sampai saat ini? Ada apa dengannya? Ada apa dengan kami? “Arhhh!” kepalaku terasa sakit,  semuanya menjadi gelap dan kosong.  Aku tidak bisa mengingat lagi.  Kutaruh kepalaku pada sisi meja,  mengepalkan tangan,  menahan rasa sakit.  Membuatku berhenti untuk berpikir. Berdiam diri sejenak hingga sakitnya hanya tinggal terasa sedikit.   Aku bangkit dari kursi sambil memegangi kepala,  kubuka kotak besar yang berada di atas kasur.  Mengambil gaun berwarna putih,  dan mengenakannya. Sesaat pusingku berubah menjadi rasa heran. Ketika aku mendapati bayanganku di cermin.   "Hah !" pekiku tidak percaya. Pakaian apa ini,  dasar lelaki berotak m***m!  Mengapa dia memberi pakaian seperti ini pada gadis 17 tahun?!   TOK TOK TOK   “Nyonya ...”   “Ya, Masuk ...” jawabku. Sambil menggunakan semua mantel yang ada dalam lemari.   Pak His mengantar seorang lelaki, tampan,  terawat,  sekilas maskulin dengan jenggot tipis yang mengiasi wajahnya, tapi ketika berjalan pria itu tampak gemulai bak peragawati memasuki kamarku.   “Awww ya ampun!” lelaki itu berteriak menutupi mulutnya melihat aku mengenakan gaun di lapisi jaket tebal,  “mau berlibur ke Kutub Utara Nyonya ...?” tanyanya lagi dengan suara nyaring.   “Kenapa?!” jelas saja aku pakai jaket,  gaunnya sangat vulgar untuk remaja sepertiku.   “Itu jaketnya buka dong ah!” Lelaki gemulai itu membuka resleting jaketku. Mau tak mau,  sebetulnya aku risi. Tapi apa boleh buat.   “A-aku malu! Pakaian ini terlalu terbuka.” Kataku mengerucutkan mulut.   “Ish,  Ish Ish ...  Jangan begitu, ini gaun pilihan Tuan Muda,  bayangkan banyak wanita cantik yang mengejar Tuan di luar sana.  Tunjukkan kalau Nyonya memanglah pemenangnya!” Pria itu mengepalkan tangannya menaruh di bawah dagunya,  berbicara penuh semangat. “Mari sekarang kita rias wajah Nyonya agar terpancar aura keanggunan dan kecantikan  yang paripurna ...”   Pria itu menarik kursi meja rias,  mendudukkanku di kursi itu. Membuka koper peralatan make up nya. Mulai memoles wajahku, dengan fondetion. Menaburkan bedak,  memoleskan eye shados,  juga blush on.  Satu lagi sentuhan terakhir, lipstik ber warna pach yang segar, “ala wanita-wanita korea”, katanya.   “Tarrraaa ... Cantik kan? Sungguh Flawless memesona ...”   Kupegang kedua pipiku,  tak percaya memandang wajah polosku kini menjadi segar bagai bunga yang baru merekah.   “Tapi aku gak Percaya diri dengan penampilan seperti ini.” Kututupi dadaku dengan tangan.   “Ish,  Eike ini MUA dan Fashion stylish terfamous dan faboulous se Indonesia,  Please Nyonya Moon jangan menjatuhkan kredibilitas eike dengan rasa ke tidak percayaan diri anda!” Lekaki itu menarik tanganku keluar kamar.  “Cuss,  ah cap cuss!”   Tak ... Tak ...  Tak ...   Kuturuni satu persatu anak tangga,  mengangkat gaunku yang menjuntai agar tidak menghalangi langkah. Rupanya Tan sudah rapi dengan stelan jasnya, menungguku di depan mini bar. Ia menoleh, memegang gelas yang tidak jadi di minumnya, tertegun memandangiku beberapa saat. Membuatku semakin merasa canggung.   Tan meletakkan gelasnya,  menghampiriku. “kita berangkat sekarang.” Ia mengulurkan tangannya,  membantuku menuruni satu anak tangga lagi.    ***   Kami turun dari mobil limosin,  tidak seperti biasanya.  Kini Tan meraih tanganku meletakkan pada lengannya melangkahkan kaki di karpet merah. Tan mengangkat simpul bibirnya di hadapan semua orang.   Aku berhenti melangkah,  mengumpat di balik punggung Tan ketika cahaya lampu kamera menyorot mengambil gambar kami.   "Bersikaplah wajar.  Lama-lama kamu akan terbiasa." Kata Tan pelan.   “Senyumlah ...” Tan menyuruhku tersenyum ketika para wartawan membidikkan kamera ke arah kami kembali. Kuturuti keinginannya sebisa yang aku lakukan,  meski tempat ini membuatku merasa tidak nyaman.   “Tempat apa ini?” bisikku pada Tan.   “Kita sedang berada di perhelatan besar SUN Enterprise,  pertemuan dengan para dewan direksi, pemegang saham beserta mitra bisnis,  akan ada peluncuran produk baru di perusahaan yang sedang ku kelola. Dan satu lagi kita akan bertemu dengan CO Foundetion SUN Enterprise.” Sungguh membingungkan,  aku tidak mengerti apa yang Tan katakan.   “Aku tau bagimu pesta ini sangat membingungkan,  ikuti saja apa yang kuperintahkan.  Jaga wibawaku di depan semua orang. Bersikaplah seolah kita pasangan yang sempurna.”   Apa yang Tan katakan? Apa firasatku selama ini benar,  pernikahan ini bukanlah di dasari oleh rasa cinta.  Melainkan karena alasan kepentingan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD