Menemukan Bin

1271 Words
“Bu pesan baksonya dua.” Pinta Candy pada wanita tua bernama, Ibu Mar penjual bakso di kantin sekolah.   “Heh,  pesan saja tiga.  Bukannya makanmu banyak? Nanti aku yang bayar.” Ujarku pada Candy,  maklumlah Tan baru saja memberikan uang jajan padaku. Ah, aku merasa jadi orang kaya baru. Bahkan seisi kantin ini bisa kubeli sekarang.   “Benar Tante?!” Mata Candy berbinar-binar,  kasihan sekali dia, apa kak Naru memberi uang jajan yang sedikit pada Candy?   “Ish, sudah di bilang jangan panggil aku Tante!” alisku naik turun menyadari panggilan Tante,  membuat wajahku bertambah tua saja rasanya.   “Baik, Moon ...” jawab Candy tersenyum lebar. Tentu saja dia senang sekarang, mempunyai teman orang kaya seperti aku.   Kami mencari meja makan yang kosong. Ah,  itu dia ... Sayangnya  di sebelah meja itu ada sekelompok anak perempuan yang kelihatan sombong.  Lihat saja cara mereka mengangkat dagunya.  Sok cantik.   “Candy mereka siapa?” bisikku pada Candy,  ketika beberapa anak perempuan itu menatapku dengan tatapan tajam.   “Mereka itu geng cewek populer di sekolah kita,  lihat saja gayanya yang belagu. Rok dan pakaiannya mini,  pakai cat kuku,  rambutnya Berwarna-warni.  Ish,  mereka terkenal sombong Tante.” His, sudah berapa kali kubilang jangan panggil Tante masih di sebut juga.   “Pantas kepalanya tengleng. Dari tadi mereka mengibas-ngibaskan rambut terus seperti kuda betina yang mengibaskan buntut. Sok cantik sekali.” Kumasukkan bakso ke dalam mulut sambil mengunyahnya dengan pasti. Melihat para gadis itu membuat selera makanku meningkat.   Kulihat mereka berhenti berbicara,  menaruh tangannya di bawah dagu, mulutnya menganga menatap seseorang yang berjalan ke arah kami. Seolah terkesima dengan ketampanan anak lelaki yang melambaikan tangannya ke arahku.   “Moon!” pemuda itu menghampiriku sambil melebarkan senyuman.   “Hai Riu San! “ kubalas lambaian tangan Riu,  menyuruhnya menghampiri kami.   “Apa aku boleh duduk di sini?” tanya Riu kemudian.   “Boleh.” Jawab Candy pelan,  matanya tidak berhenti berkedip memandang Riu San.   “Sejak kapan kamu masuk sekolah?” Riu menarik kursi lalu duduk berhadapan denganku. Terdengar para gadis di sebelah kanan dan kiri saling berbisik.   “Hari ini.  Oya kamu mau bakso? biar ku pesan lagi.” Pasti uangku masih tersisa banyak. Tenang saja,  aku bisa membeli bakso dengan grobak-grobaknya segala.   “Sepertinya aku mengganggu ya? kalian menunggu seseorang bukan? buktinya ada tiga mangkuk bakso di sini.” Jawab Riu.   Candy menundukkan wajahnya,  aku rasa dia malu makan terlalu banyak di depan pria. “Tidak kok,  ini untukmu saja Riu San.” Kataku sambil menyenggol Candy.   “Hehe,  iya betul tadi kami kelebihan beli.” Sahut Candy dengan tawa terpaksa. Kudorong mangkuk itu ke arah Riu.   “Aku jadi gak enak,  tahu-tahu di traktir bakso. Terima kasih ya.” Riu menggaruk kepalanya. “Oya, mana nomor ponselmu Moon? Katanya mau menghubungiku.” Tanya Riu sambil menyuap bakso ke mulutnya.   “Iya, aku lupa.” Jawabku sambil mengernyih,  “aku baru punya ponsel. Jadi belum tahu cara menggunakannya.”   “Mana ponselmu,  biar kumasukkan nomorku.” Kuberikan ponselku pada Riu.  Dia menekan layar dan menelepon nomornya sendiri. “Sudah ku simpan. Kalau butuh bantuan, kamu bisa menghubungiku.” Wahh,  baiknya dia.   “Trimakasih Riu San! Ah,  kamu memang teman yang baik!” kucubit kecil kedua pipinya dengan gemas.   “Eh, sakit!” Riu memegangi ke dua pipinya sambil tertawa.   Ah,  kenyang ...  Tak terasa bakso kami sudah habis.  Padahal sewaktu SMU, untuk membeli bakso saja aku tidak mampu.  Karena Ibu hanya memberi sedikit uang saku. Itu juga hanya bisa untuk membeli sebungkus roti seharga seribu dan segelas air mineral. lalu aku menatap teman-temanku yang sedang melahap mie ayam sambil menahan liur yang menggenang.   “Bu, berapa semua baksonya?” tanyaku memanggil Ibu Mar,  si penjual bakso.    Ibu Mar, menghampiri kami sambil berhitung. “Tiga puluh ribu Mbak.”   Kurogoh kantung seragam untuk mengambil uang,  namun aku hanya menemukan satu benda berbentuk pipih di dalamnya. Hah,  gawat! aku lupa meminta uang cash pada Tan!  Apa benda ini bisa di pakai untuk membayar juga ya? Ah,  biar lah kuberikan saja padanya.   “Eng, ada uang cash gak? Ini bukan Mall,  bayarnya gak bisa pake credit card.” Kata ibu Mar mengembalikan kartu padaku.   “Tante ... Katanya punya uang? memalukan saja!” bisik Candy sambil mencubit kecil pinggangku. Hiii,  aku mana tahu,  aku pikir jaman ini sudah sangat canggih sehingga semua barang bisa di beli pakai kartu kredit. Ih,  berarti ini salah Tan! Kenapa dia tidak memberikan uang cash padaku. Keterlaluan!   “Biar aku saja yang bayar.” Riu mengambil uang di sakunya sambil mengulum senyum. Aduh! aku malu sekali jadinya.   “Terima-kasih-Riu-San. Lain kali pasti aku yang teraktir.” Kataku sambil menundukkan wajah,  mengernyit karena malu.   “Dasar gadis aneh,  sudah gak apa ...” Riu tertawa, meletakkan telapak tangannya di atas kepalaku. Mengacak-ngacak rambut. “Sudah ya,  aku masuk kelas dulu!” Riu San tersenyum manis, meninggalkan kami yang masih terpaku melihatnya dari kejauhan.   “Tante,  dia tampan sekali!” Candy meremas tanganku tidak berhenti memandangi Riu sampai bayangannya menghilang.   Ngrett!  Terdengar suara meja bergeser. “Heh! Anak baru!” Panggil salah satu anak perempuan yang bersuara nyaring seperti bantingan kaleng. Sekelompok perempuan di sampingi kami kini memutar mengelilingiku.   “Dengar Ya,  Riu itu sedang dekat  dengan Siska ketua geng kami!  Jadi siapa pun cewek di sekolah ini,  gak ada yang boleh mendekati Riu!” kata salah seorang gadis yang bertubuh besar seperti algojo.   “Aku tadi gak melihat di kening Riu ada lebel nama temanmu!” aku berdiri mentangnya kembali. Dia pikir dia siapa bisa-bisanya menakutiku.   “Oh,  kamu mau berurusan dengan kami ya?!” gadis besar itu berjalan mendekatkan tubuhnya padaku.   “Kenapa memangnya? Aku gak takut!” jawabku lagi seraya mengangkat dagu.   “Berani sekali Kamu menantangku!” perempuan yang bernama Siska itu mendekat, mendorong tubuhku hingga nyaris terjatuh.  Cih, Ternyata nyalinya besar juga.   Aku kembali maju mendekati wanita berambut pirang itu,  “Heh  lihat, di sini banyak orang yang bisa menjadi saksi kalau kamu yang mendorongku tadi,  akan ku laporkan nanti ke guru konseling bahwa ada tindak pem bully an di sekolah ini!”   Siska tersenyum sinis,  lalu memberi kode pada teman-temannya agar mundur.  “Urusan kita belum selesai!” ucapnya lagi sambil berlalu dari kami.   “Wahh ...  Tante Moon hebat!” Candy bertepuk tangan di sebelahku.   “Untuk apa takut kalau kita benar!”  kuusap kedua lenganku,  merapikan seragam. “Ia tante Moon pemberani!”  seru Candy merangkulku,  lalu kami sama-sama berjalan meninggalkan kantin. Coba saja ada yang berani mengusikku! Akan ku patahkan tulangnya menjadi sembilan bagian lalu kubagikan tulang-tulang itu panda anjing di sekitar kompleks rumah agar mereka kenyang. Kita buktikan saja nanti! Moon tidak boleh kalah dengan bocah ingusan!   ***   Kring ...   Jam pulang sekolah berbunyi,  semua siswa meninggalkan kelas kecuali aku dan Candy.  Kami masih merapikan buku.    “Tante,  Candy sudah menemukan teman tante yang kemarin itu.” Ujar Candy menutup resleting tasnya.   “Teman yang mana?” tanyaku sama sibuknya dengan Candy.   “Hih,  dia yang minta di carikan tapi lupa!  Binar! Noe Bin !” jawab candy. Membuat aku berhenti merapikan buku.   “Mana?”   Candy mengambil ponselnya dan menggulir layar.  Membuka aplikasi i********: dan menunjukkan Bin yang dia maksud padaku.  Kuambil ponsel dan melihat foto pria dengan rambut berbelah tepi, tidak berbeda jauh dari Bin sewaktu SMU. Apa benar ini Bin?!   “Bin.” Mataku mulai berkaca-kaca,  benar ini Bin orang yang kucari selama ini. Pria yang masih menggunakan nama akunnya dengan panggilan sayang dariku. Semuanya tidak berubah dia masih tampan seperti dulu.  Hoh,  Noe Bin ku ...  Kupeluk ponsel Candy sambil tersenyum bahagia,  akhirnya aku bisa menemukan Bin dan mungkin saja kembali padanya seperti dulu. Noe Bin ...  Aku akan segera menemukanmu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD