Hah ternyata mempunyai rumah besar bisa membosankan jika hanya aku saja yang tinggal sendirian. Eh, aku melihat para pelayan sedang bercakap di dapur. Wah, sepertinya seru sekali. Apa yang mereka bicarakan ya? Aku mengintip dari balik dinding untuk bisa mendengarkan mereka.
“Ini tidak enak ... buat yang baru ...” salah satu gadis berseragam pelayan duduk di meja makan dan mendorong piring kosong, yang lain tertawa melihat aksi gadis itu.
“Ini Tuan Jusnya.” Dan satu wanita tua mengantarkan gelas kosong kepada gadis yang duduk.
Si gadis itu berekspresi datar mengambil gelas lalu meminumnya. Kemudian ia memanggil pelayan tua itu dan memberikan gelasnya kembali. “Gelas ini masih terasa sabun, cuci kembali semua gelas dan piring yang ada di lemari makan.”
“Ahahahha ..." yang lain ikut tertawa. Maksud mereka itu Tan? Lucu sekali sampai pelayannya saja tidak menyukainya.
“Hahaha ...” aku ikut tertawa bersama mereka, namun seketika suasana jadi berubah menjadi hening. Mereka langsung berbaris berdiri tegak.
“Kenapa? Lanjutkan saja, aku tidak keberatan.” Kuhampiri mereka.
Salah satu dari mereka maju dari barisan dan berkata, “maafkan kelancangan kami Nyonya, kami pantas menerima hukuman.” Wanita itu membungkukkan badan di susul yang lainnya.
“Sudah gak apa. Memang si manusia es, begitu. Bukan kalian saja yang merasakannya, aku juga.” Aku duduk di kursi makan, dan mereka mengelilingiku. Ternyata begini rasanya jadi orang kaya, tidak nyaman sekali.
Prokk Prokk
Pak His datang bertepuk tangan,
“Sudah waktunya makan malam, siapkan makanan untuk Nyonya.” Pak His langsung menyuruh anak buahnya menyiapkan makanan.
“Memang Tan sudah pulang?” tanyaku pada Pak His.
Sambil melihat jam tangannya, Pak His berkata, “Sebentar lagi Nyonya.”
Beep!
Terdengar bunyi klakson mobil dari luar, Pria tua itu berlari ke depan, walaupun sudah ada security yang membuka gerbang. Para pelayan datang membawakan makanan. Mengatur piring dan peralatan makan lainnya. Aku bangun dari kursiku membantu mereka.
“Jangan Nyonya! kami di bayar untuk bekerja, biarkan kami yang melakukan pekerjaan kami.” Kata pelayan yang paling tua, sedangkan dua lainnya mencoba menuntunku duduk kembali ke kursi.
“Sudah tidak apa, di rumah aku juga sama, melakukan perkerjaan rumah seperti kalian.” Aku mengambil piring dari tangan pelayan itu.
“Jangan Nyonya ...” namun mereka menariknya kembali.
“Ehem ...” terdengar suara berdehem Tan, yang memperhatikan kami, kemudian para pelayan bergegas membereskan meja lalu pergi.
Tan menarik dasinya, membuka kancing kerahnya. Pak His menghampirinya dan membawakan tas berserta blezer yang tadi Tan kenakan. Bukannya seharusnya itu tugas ku sebagai Istri? Baiklah ...
“Biar aku saja Pak His ...”
“Tidak usah, kamu makan saja.” Perkataan Tan membuatku duduk kembali ke kursi. Mengapa kami duduk sangat berjauhan. Ah, meja ini terlalu besar untuk di pakai dua orang. Membuatku canggung saja.
SRETT
Aku berpindah kursi di sebelah Tan, bukankah harusnya kami bisa berteman, tidak berjauh-jauhan seperti musuhan saja. Melihatku berpindah Tan sedikit terkejut.
“Kenapa?” tanyaku saat Tan melihatku dengan tatapan aneh. Ia kembali mengambil lauknya. “Heh, bagaimana? aku sudah di rumah kan? Jadi besok aku bisa sekolah?” tanyaku pelan pada Tan.
“Kalau makan tidak boleh berbicara.” Jawabnya singkat.
“Ish, tolong berhentilah bersikap formal!” kuletakkan sendok dan garpu yang tadi kupegang. Menyuap nasi dengan tangan kosong, dan mengangkat satu kakiku ke atas kursi. Argh! Rasanya bersikap formal bukalah diriku yang sesungguhnya.
“Hei!” Tan melebarkan matanya, “Turunkan kakimu! dasar tidak sopan!”
“Tidak mau!” aku melanjutkan makanku.
“Aku jadi tidak berselera makan.” Tan bangkit dari duduknya, dengan wajah yang tidak menyenangkan dia pergi meninggalkan ruang makan. Ish, dasar manusia aneh!
***
Aduh, pinggangku sakit sekali. Dari tadi siang aku hanya mengitari rumah besar ini. Tidak ada yang mau bicara padaku bahkan para pelayan pun. Haahhhh, mana betah aku berlama-lama tinggal di sini! Sebaiknya aku pergi ke kamar saja.
CKLEK
Aku memasuki kamar besar yang juga bernuansa putih. Merebahkan tubuhku di kasur. Pantas saja Tan tidak nyaman di kamarku, ternyata kasur di rumah ini sangat empuk. Kutatap langit-langit rumah yang tinggi, merasakan mataku mulai mengantuk. Kuraba guling yang tertutup selimut. Memeluknya. Mmm ... Kenapa gulingnya keras.
Srekkkk
Tiba-tiba saja selimut tersingkap, ternyata yang berada di balik selimut bukanlah guling, karna dia bisa duduk.
“Heh! Singkirkan kakimu dari tubuhku!” kuangkat kakiku perlahan. “Kamarmu di sebelah sana! ini kamarku! Bukankah Pak His sudah memberi tahu?”
“Dia bilang, kamar aku dan juga kamarmu ada di lantai dua. Cuma itu, tidak bilang ada dua kamar di lantai ini.” Aku pikir ... Karena sudah menikah, bukankah seharusnya satu kamar seperti Ayah dan Ibu, juga seperti Kak Naru dan Kak Hendru. Aku juga berpikir dia akan mengalah dengan tidur di kamar tamu.
“Pergilah ke kamarmu sekarang, aku ngantuk!” hih dia kasar sekali. Enak saja memperlakukanku seenaknya, aku sudah menuruti maunya untuk tinggal di rumah besar ini. Tapi dia tidak juga mengabulkan keinginanku.
“Aku akan pergi, kalau aku di izinkan bersekolah! Kalau tidak, aku akan terus berada di kamar ini. Dan terus mengganggumu.”
Tan beranjak dari kasurnya membawa bantal. Ah, aku tahu, dia pasti ingin tidur di tempat lain. Kututup pintu kamar.
Blam!
“Kenapa di tutup?!” aku menghalanginya keluar.
“Kalau kamu tidak menepati janji, aku akan pulang lagi ke rumah!” pekikku.
“Hufftt, baiklah ... Besok berangkatlah bersama orang suruhanku.” Akhirnya dia menyerah. “Sekarang pergilah ke kamarmu.”
***
Ke esokan harinya,
Untung saja aku sudah mempersiapkan seragam, aku tak sabar sampai ke sekolah. Pak His membukakan pintu mobil untukku masuk. Sedangkan mobil di kemudikan oleh supir yang bernama Pak Parnowo yang biasa di panggil Pak Par. Pak His duduk di kursi bagian belakang. Dialah yang menjadi orang suruhan Tan untuk mengurusku masuk sekolah.
Hahhh, udara yang segar di pagi hari, langit begitu cerah menyelimuti. Hari ini aku datang terlambat. Pak His membawa surat tertutup untuk di berikan kepada kepala sekolah. Aku pun tidak tahu apa isi surat itu. Mereka hanya menyuruhku mengikuti Bu Riska, wali kelas. Menuju kelas yang akan menjadi tempatku menghabiskan masa SMU yang baru.
“Selamat Pagi anak-anak.”
“Pagi Bu...” Sahut mereka beramai-ramai.
“Hari ini kita kedatangan murid baru, “ Para murid berbisik-bisik, mungkin mereka menganggap aku orang yang aneh karena tua. Tidak! Bukan tua! Wajahku hanya sedikit dewasa.
“Perkenalkan ini Moon, dia akan belajar di kelas ini bersama kalian. Tolong batu Moon untuk beradaptasi di sekolah ya?”
“Baik bu...” Sahut mereka bersamaan.
“Silahkan Moon duduklah bersama teman-temanmu.” Dari kejauhan ada yang melambaikan tangan di kursi paling belakang. Ahhh, itu Candy ... Untunglah aku sekelas dengannya. Candy menyuruh teman lelakinya untuk menyingkir dari kusi di sebelahnya.
“Ayo! Tante duduk sini.” Bisik Candy tanpa bersuara hanya mulutnya saja yang bergerak. Kuikuti Candy dan duduk di sebelahnya.
“Heh, ingat jangan panggil aku Tante! Panggil aku Moon! Karena mulai saat ini kita se umur.”
Kupeluki meja belajarku, mencium aroma buku, membuka tutup kotak pensiku. Betapa bahagianya hari ini. Terus berdecap riang dalam hati ...
Yayy ... Akhirnya Moon menjadi anak SMU!