"Ada apa?” Tan menurunkan buku yang ia baca, saat melihatku berdiri di hadapannya.
“Aku mau minta jatah nafkahku!”
“Uhuk... Uhuk...” setelah mendengar permintaanku Tan malah tersedak air putih yang di minumnya. Ia menaruh gelas di meja. Mengernyitkan hidung dan dahinya.
“Na-nafkah a-pa maksudmu?” mengapa tiba-tiba ia menjadi kikuk?
“Nafkah itu ...” aku menundukkan wajah, sebetulnya aku malu meminta jatah uang belanjaku. Dia paham gak yah?
“Erm, ke-kenapa setelah tujuh tahun menikah kamu baru memintanya?” kulirik Tan yang menegakkan punggung, menggaruk lehernya. Menutupi wajahnya kembali dengan buku. Kenapa dia?
“Apa? aku tidak pernah meminta uang belanja selama tujuh tahun menikah?! Jadi selama itu juga kau tidak pernah memberi nafkah untuk istrimu?!" Aku tidak percaya, jadi selama tujuh tahun tidak ada nafkah.
"Hah, itu keterlaluan!” yang benar saja dia jadi selama ini apa fungsinya menikah dengan orang kaya.
“Bu-bukan, aku kira kamu membicarakan nafkah yang lain.” Sangkalnya.
“Memang ada yang lain?”
Aku pun tidak tahu kalau nafkah itu ada yang lain, memang ada berapa banyak nafkah? Hih, memusingkan.
“Baik, berapa yang kamu minta?” Akhirnya...
“Aku mau punya ponsel, dan skin care mahal!” masa Cuma itu, itu terlalu sedikit Moon, “Aku mau beli pakaian baru, tas baru, sepatu baru dan pergi ke salon!”
Tan mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. “Ini credit card, dan uang elektronik. Beli apa saja yang kamu butuhkan.”
“Satu lagi ... Aku mau sekolah.” Kutarik ujung baju Tan dan menggerakkannya.
“Sekolah? Kuliah maksudnya?”
Aku menggeleng, “Bukan, aku mau sekolah di SMU ku yang lama.” Kugigit bibirku menunggu jawaban dari Tan.
“Hemph ...”
Apa itu?! Si wajah es tertawa, bisa juga rupanya. Tan menutupi mulutnya dengan punggung tangan. “Bagai mana mungkin?”
“Bukankah kamu orang kaya dan sahammu ada di mana-mana, pasti punya kenalan di sana. Tolong bantu aku, Aku mohon ..."
“Itu konyol!” wajahnya kembali membeku.Ia menyibukkan diri, melanjutkan membaca buku.
BRAKKK
“Kamu kenapa?!” Tan terkejut ketika tiba-tiba aku menjatuhkan diri ke lantai.
“Kepalaku sakit.” Kupegangi kepalaku memasang wajah lesu. Ia membantuku naik ke atas tempat tidur. Xixixi ... Aku harap actingku ini berhasil mempengaruhinya.
“Bukankah dokter bilang, aku tidak boleh terbebani pikiran. Aku jenuh berada di rumah. Sedangkan aku tidak bisa melakukan pekerjaan orang dewasa yang menguras tenaga dan pikiran, karena yang kuingat usiaku baru tujuh belas. Tolong bantu aku Tan.” kupasang wajah memelas seperti wanita yang tidak berdaya, agar dia meluluh.
Ish, muka tanpa ekspresinya seolah tidak ingin menggubris permintaanku.
“Sebagai gantinya kamu boleh minta apa saja padaku, please ...” kuturunkan harga diriku, memegang tangannya, menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Pulanglah ke rumah, nanti akan kuturuti keinginanmu.” Jawabnya melepaskan tanganku darinya.
“Berati, aku boleh bersekolah?!” tanyaku lagi. Tak ada jawaban.
“Benar aku boleh sekolah?” pertanyaan kedua kulayangkan. Namun dia masih asik merapikan pekerjaannya. Ya ampun ini orang!
“Maksudmu tadi, setelah aku pulang ke rumah, aku bisa masuk sekolah?” kuhampiri ia, mendekatkan wajahku padanya.
Ia mendorong dahiku agar menjauh, “Apa perkataanku kurang jelas!”
“Aaahhh, rupanya kau merindukan Istrimu bukan?!” tanyaku menyenggol bahu Tan sambil tertawa.
“Aku tidak nyaman tidur di kamar ini, jika kau pulang aku bisa kembali tidur nyenyak di kamarku."
Hish, sombong sekali dia. Aku jadi penasaran memang senyaman apa kamarnya.
Kamarnya? Jadi ... Apa kamar kami terpisah?
***
Mall Sentral Plaza.
“Wahh, ini bagus Moon!” Kak Naru menempelkan baju bermerek di tubuhnya sambil bercermin.
“Ya sudah, Kakak ambil saja yang Kakak mau.”
“Wahh, kamu memang adik yang baik ...”
Memangnya selama ini aku gak baik? Ternyata Kak Naru lebih boros dariku ... Aku hanya membeli tiga pakaian, dia banyak sekali. Semoga uang yang Tan beri, cukup untuk membayar belanjaan kami.
“Hih, harganya mahal sekali. Sayang kan cuma untuk beli kaus saja semahal ini.” kulihat baju-baju yang tergantung, menurutku tidak ada yang istimewa, ini sih karena mereknya terkenal saja jadi mahal.
Srekkkk
Kudorong gantungan baju hingga berbunyi, sepertinya aku melihat seseorang yang kukenal dari balik gantungan ini. Dia berjalan bersama anak kecil.
“Rara!” wanita dewasa itu menoleh. Berarti itu betul Rara teman SMA ku. Aku berlari kecil menghampirinya.
“Rara?!” kuperhatikan wajahnya dan itu memang Rara yang kukenal.Ah, rasanya bahagia bisa bertemu teman dekatku kembali. Kupeluk Rara erat, banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.
“Lepas, Moon!” Ia mendorong tubuhku. Kenapa dia? Rara mundur membentangkan jarak. Anak kecil yang bersamanya pun menatapku asing dan mengumpat di balik kaki Rara.
“Apa ini anakmu?” aku membungkuk dan tersenyum pada gadis kecil itu.
“Iya.”Jawab Rara singkat, “ada keperluan apa? Aku sudah mau pulang.”
“Aku.” Aku rindu padanya. Tapi mengapa dia seolah membenciku. “Apa kau tahu kabar Bin?”
“Utntuk apa menanyakan dia lagi, apa kau belum puas menyakitinya?!” Rara menarik putrinya menjauh dariku, ia pergi meninggalkanku bersama tanda tanya besar.
Apa yang Moon dewasa lakukan? Mengapa? Apa karena aku memilih menikah dengan Tan dan menyakiti perasaan Bin?
“Heh, kenapa bengong?” Kak Naru menepuk pundakku. “Ayo kita pulang!” ia menggandengku dan berjalan membawa banyak kantung belanjaan.
***
“Benarkah ini rumahku?” mulutku tidak berhenti-berhentinya menganga melihat rumah bercat putih dengan list emas seperti istana. Langit-langitnya sangat tinggi di hiasi lampu kristal besar. Lantainya terasa dingin karena terbuat dari marmer, ada air mancur di belakang rumah beserta taman yang sangat luas. Wah, ini baru lantai paling bawah, bagaimana dua tingkat lagi di atasnya. Luas rumah ini, sepuluh kali luas rumah Ayah dan Ibu. Pantas saja Tan tidak nyaman berada di kamarku yang sempit.
“Apa aku tinggal ber dua saja dengan Tan di rumah sebesar ini?”
Kak Naru mengangguk, “tapi kau punya banyak Asisten rumah tangga.”
Ada lelaki tua yang menghampiri kami, pakaian nya sangat formal. Rambutnya tersisir rapi. Aku berbisik pada Kak Naru. “Apa ini Ayah mertuaku?” Kak Naru menahan tawa.
“Selamat datang Nyonya ... senang mengetahui Nyonya sudah kembali pulih.” Pria tua itu membungkuk.
“Pak His, sudah tahu Moon hilang ingatan?” tanya Kak Naru.
“Ya, saya dengar dari Nyonya besar. Terima kasih Nyonya sudah mengingatkan.” Pria itu tersenyum pada Kak Naru. “Hem, nama saya Hisnanto Nyonya Moon. Saya bekerja di sini sebagai kepala Asisten rumah tangga. Mari, saya antar ke kamar Nyonya Moon.”
“Ada berapa kamar di rumah ini?” tanyaku pada Pak His.
“Ada tujuh kamar tidur. Dua kamar utama. Sisanya kamar tamu. Di lantai dua kamar Nyonya Moon dan tuan. Lantai tiga terdapat ruang olah raga dan hiburan.”
Pak His mengajak kami berkeliling rumah, ternyata fasilitas rumah ini sudah seperti hotel. Dari kolom renang, tempat spa, fitnes, bahkan teater. Aku rasa aku akan betah tinggal di sini. Kulihat foto besar yang terpajang di dinding, mengapa foto pernikahan ku dan Tan kaku sekali. Seharusnya Moon tersenyum ... Bukan ... Menahan tangis.