Skin Care Anti Tua

1250 Words
“Wah apa itu?” aku menunjuk benda flat seperti layar namun seukuran telapak tangan. “Hah? Hilang ingatan membuat tante lupa juga dengan kemajuan Teknologi?” Candy menurunkan benda itu dan bertanya padaku. “Heh, aku bertanya bukannya di jawab malah bertanya balik!” “Ini Smartphone Tante, gadget, handphone masa kini.” “Benarkah ini handphone? Di mana keypad nya? Bagaimana cara menggunakannya?” kuambil ponsel dari tangan Candy. Ketika kusentuh, layar itu menyala. “Wah, hebat sekali!” aku terus menekan-nekan layar. “Jangan di tekan Tante! Nati rusak! Pakainya cukup di sentuh saja.” Candy mengajarkanku cara memakainya, “ponsel ini berhubungan dengan internet. Tuh ini tandanya ada chat masuk.” “YM?” “Heh, aplikasi semacam itu sudah ketinggalan jaman, sekarang jamannya w******p, Telegram, i********:, Twitter, Facebook.” Sahut kak Naru dari arah dapur. “FriendStar?” tahun 2006 paling keren itu. “Hahaha ... Susah bicara pada orang yang terdampar di masa lalu.” Celetuk Kak Naru. Hih, memang yang kutahu Cuma itu. “Kenapa Ibu masih menggunakan handphone jaman dulu kalau sudah canggih seperti sekarang?” tanyaku pada Kak Naru. “Ya tentu saja, orang tua susah untuk memahami teknologi jaman sekarang.” Jelas Kak Naru. “Kalu begitu, berarti Moon dewasa punya ponsel pintar juga?” tanyaku lagi. “Punya Tante, minta saja pada Om Tan. Tante juga punya akun Instagram.” Candy membuka logo berbentuk kamera. Lalu di carinya namaku dari daftar temannya. “Ini ...” Candy memberikan ponselnya padaku. “Wah, Fotoku banyak. ih ... cantik sekali.” Aku tersenyum-senyum memandang diriku yang sudah dewasa. Aku tidak menyangka, Moon dewasa terlihat anggun dan modis. Aku menggulir layar, hingga foto terakhir. Aneh, mengapa tidak ada foto pernikahanku? Mengapa tidak ada juga fotoku bersama Tan? Bukannya kami suami Istri? “Candy bisakah aku menemukan teman-teman lamaku? Atau ... Bin, tolong carikan Bin ...” Pintaku memelas pada Candy. “Mencari orang itu sulit tante, tapi kita coba dulu. Siapa nama aslinya?” “Binar...” “Ish, ada ribuan orang bernama Binar.” “Nao Bin?” itu panggilan sayangku padanya, tapi jika iya, dia masih menggunakan panggilan itu ... “Baik, nanti Candy cari.” “Hei, kalian jangan asik mengobrol saja! lihat sudah jam berapa ini. Sudah saatnya buka kedai!” teriak Kak Naru mengagetkan kami. Kubalik papan gantung bertulisan Close menjadi Open. Ternyata para pengunjung sudah menunggu di luar. Saatnya membuka pintu, dan memberi ucapan selamat datang. “Selamat Datang! Silakan masuk ke kedai Love ... Fam ...” “Hei, gadis boros!” ada lelaki berkaus hitam menghampiriku. Kulitnya putih seperti salju, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis berwarna merah jambu. Rambutnya di tersisir rapi menaikkan poninya ke atas hingga dahinya terlihat. Aku hampir saja tidak mengenalinya. Hari ini dia lebih tampan di banding pakai seragam. “Hahh, Riu San!” kupegang tangan Riu sambil melompat-lompat kegirangan. “Kamu bekerja di sini?” tanya Riu. “I-iya. Ayo masuk!” kugandeng tangan Riu, mengantarnya ke table. “Ma-mau pesan apa?” Candy datang mengantarkan menu pada Riu. Kenapa dia terlihat gugup? “Eh, kamu juga bekerja di sini?” tanya Riu pada Candy. “Orang tuanya pemilik kedai ini, dia temanku.” Jawabku sedikit berbohong. Candy menatapku penuh heran. “Oh, ya aku kenal dia, dia pernah membantuku membereskan perpustakaan saat aku di hukum di sekolah. Betulkan namamu Candy?” Hem, Riu San ini manis sekali. Melihat senyumnya bagai ingin memakan permen loly. “Be-betul.” Jawab Candy yang tiba-tiba menjadi pendiam. Wah, pasti ada makanan tersangkut di tenggorokannya. “Riu San, aku tinggal dulu sebentar ada pelanggan yang memanggil.” "Tunggu! Nomer ponselmu berapa?" Hah? aku mana punya? Mmmm ... "Beri tahu nomer mu pada Candy, ku hubungi nanti lewat ponselnya." "Baiklah ..." Riu San kembali tersenyum. Kutinggalkan Riu bersama Candy, sementara aku pergi ke meja sebelahnya. Ada wanita cantik berambut coklat keemasan mengangkat tangannya memanggilku. Wanita ini pasti sangat kaya. Terlihat dari pakain dan wajahnya yang glowing. “Aku pesan Coffelate satu.” Baru mau kuberikan menu, dia sudah lebih dulu memesan. Sepertinya wanita ini sudah sering ke sini. “Ada lagi Kakak?” “Tidak ada,” wanita itu mengibaskan jemarinya, menyuruhku pergi. Hih, sombong sekali dia. Tak tahu apa, aku juga orang kaya ... Suamiku kaya ... Pasti Moon dewasa juga senang menjadi orang kaya. Aku bisa melihatnya dari i********:, bahkan Moon dewasa bisa berfoto di kapal pesiar. Kuberikan catatanku pada Kak Naru. Ah, biar saja Kak Naru yang membawakan pesanan wanita kaya tadi. Aku gak sudi. Kulihat teman-teman Riu datang menghampirinya ke meja nomor enam. Mereka berbincang-bincang, tertawa kemudian. Sepertinya menyenangkan sekali punya banyak teman, aku jadi iri ... Aku ingin sekolah lagi ... Sungguh bosan hidup menjadi Moon dewasa. *** Rumah, pukul 17:00. “Ibu ... Moon ingin sekolah ...” “Ibu ... Tolong, Moon ingin sekolah ...” “Heh, kau sudah mengatakannya lebih dari seratus kali. Membuat Ibu pusing saja!” Ibu memukul pantatku. “Moon suamimu kan kaya raya, bisnisnya menggurita, sahamnya ada di mana-mana. pasti dia kenal dengan pemilik sekolahmu. Coba saja bilang pada Tan, mungkin dia bisa membantu.” Terkadang ide yang keluar dari mulut Kak Naru sangat brilian. “Mana mungkin Tan mengizinkan istrinya menjadi anak SMU. Kau ini ada-ada saja Naru!” Ibu tertawa mendengar perkataan Kak Naru. “Atau begini, Kau pura-pura saja sakit kepala lalu bilang ‘Tan, aku ingin jadi anak SMU kalau tidak, sakitku ini tidak bisa sembuh’ Ahahaha ...” Kak Naru tertawa begitu lebar, sampai-sampai lalat pun bisa hinggap ke dalam. “Itu konyol Naru!” Ibu ikut tertawa bersama Kak Naru. Lalu keluar dari kamar. Memang konyol tapi menurutku itu cara yang paling tepat untuk mendapatkan apa yang kumau. Hemm ... patut di coba! “Apa itu Kak?” kuamati botol spray berwarna emas yang sedang dipegang Kak Naru. Ia menekan spray itu dan memoleskan sesuatu ke tangannya. “Ini Serum, kau ini semua di tanya, sampai serum saja tak ingat?” “Memang. Apa gunanya serum ini?” tanyaku lagi. “Agar terlihat cantik dan awet muda. Kulitmu akan kencang, kenyal seperti remaja.” Awet muda? Mendengar kata-kata itu, mataku langsung berkaca-kaca. “Aku mau, aku mau ...” kuambil botol itu. “Heh! Punyaku tinggal sedikit. Mintalah pada suamimu!” Kak Naru memukul tanganku. “Ish, pelit sekali!” kuusap kulitku yang terasa pedas. “Mana terlihat muda? Buktinya wajah Kakak biasa saja!” Kukerucutkan bibir. “Ini karena gaji Kak Hendru tidak cukup untuk membeli serum yang mahal. Tapi kalau kau kan bisa, uangmu banyak Moon. Kau bisa oprasi plastik ke korea jika kau mau. Paling tidak tanam benang, atau perawatan setingkat lainnya.” “Apa semua itu bisa membuat wajahku kembali muda?” “Tentu saja.” Kak Naru mengusap kedua telapak tangannya dengan mimik wajah yang serius, dia berkata. “Hei, pintalah uang nafkah pada suamimu. Nanti kita bisa belanja apa pun yang kita mau.” Iya betul kata Kak Naru, kalau aku punya suami kaya kenapa aku tidak memanfaatkannya. “Bayangkan Moon ... Kau akan memakai pakaian mewah dan tampil lebih muda,” imbuh Kak Naru di telinga. “Baiklah aku akan minta sekolah, ponsel dan skin care mahal!” Tidak butuh waktu lama untuk berhitung. Aku segera menaiki tangga, memasuki kamar untuk meminta jatah nafkah pada si es batu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD