Shy

1296 Words
“Kenapa di depan pintu saja? Ayo masuk!” Tan menarik tanganku memasuki kamar. Mengapa dia bisa senaknya masuk ke kamarku tanpa izin. Tan melemparkan pakaian bersihnya ke atas kasur. Sedangkan aku hanya memperhatikannya sambil duduk. Aku bingung apa yang harus di bicarakan. Tan membuka semua kemejanya yang tadi terbuka sebagian. Apa yang mau ia laku kan? Haduh, mengapa pipiku jadi panas melihatnya. Apa ... Apa ini yang di maksud Kak Naru seperti pengantin baru? Memang apa yang di lakukan pengantin baru? Uwhh kan, aku jadi malu ... Tan berjalan mendekat, ia berdiri di hadapanku bertelanjang d*da, membungkukkan tubuhnya menutupi pandanganku, yang terlihat hannyalah kotak-kotak yang terbentuk di perutnya. A-ku belum pernah melihat tubuh lelaki sedekat ini, bahkan selama bersama Bin saja aku tidak pernah melihatnya membuka pakaian di hadapanku. Gawat ini! apa dia akan ... “Heh, minggir! Kamu menduduki pakaianku.” “Maaf!” Srekkkk Pria dewasa itu mengambil pakaiannya, lalu masuk ke kamar mandi. Haihhh ... Bodohnya Moon. Apa sih yang aku pikirkan?! Memalukan sekali! Kupukul-pukul kepalaku dengan kedua tangan. Membayangkan apa yang terjadi selanjutnya saat seorang suami sudah lama tidak berjumpa dengan Istrinya. Tidak, tidak ... Seram sekali! Ish, ini tidak benar! Seharusnya kuusir saja dia dari kamar! Tiba-tiba pria dewasa itu keluar dari kamar mandi. Cepat sekali mandinya? perasaan, aku baru membayangkan satu adegan dari drama korea yang baru kutonton. Beberapa menit kemudian dia sudah kembali ke kamar. Pria dewasa itu mengusapkan handuk ke kepala. Kemudian mengambil laptop dan dokumen dari dalam tasnya. Sedang apa dia? Lelaki itu duduk di kasur yang sama denganku. Menggunakan kaca mata, sebelum ia mulai mengetik di laptopnya. “Tidurlah duluan, aku masih ada pekerjaan.” Katanya terdengar seperti robot, kaku sekali. Apa dia memang selalu begitu terhadap Istrinya sendiri? Tapi bukankah itu lebih baik dari pada ia berbuat tidak senonoh? “A-aku tidur di luar saja.” Kuambil bantal dan guling di kasur, lebih baik aku tidur di kamar Candy. “Jangan! Apa kata orang tuamu nanti. Kamu tidur saja di sini, nanti aku akan pindah tidur di lantai.” Benarkah? Pengertian sekali dia. Aku masih tak mengerti mengapa Moon dewasa bisa memilih Tan. Memang dia tampan tapi, ke tampanannya menjadi sia-sia karena sifat dinginnya itu. Dari tadi bibirnya tak pernah terangkat untuk tersenyum. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Tidak ada tanda-tanda kelembutan. Setelah mengetik beberapa saat, akhirnya Tan berpindah ke lantai. Ia menutup laptopnya dan membereskan semua berkasnya, menaruh ke tempat semula. Tidur di lantai memiringkan tubuhnya, satu tangannya berada di bawah bantal. Kok aku jadi gak tega ya. Aku mulai berbaring mencoba memejamkan mata. Tapi sulit sekali untuk lelap, mungkin Tan juga merasakan hal yang sama. Dari tadi ia memindahkan posisi tubuhnya. “Kamu gak bisa tidur?” tanyaku padanya. “Aku gak nyaman.” Jawabnya berusaha tidur. “kalau gak nyaman kenapa mau nginap di sini?” “Karena kamu tanggung jawabku.” Begitu kah? Aku jadi merasa tidak enak tidur di kasur, sementara dia di lantai. “Ya sudah kamu tidur di kasur, aku tidur di tempat lain.” Jawabku. Ia kembali duduk, kemudian menghampiriku ke kasur. “Heh, kamu mau apa?!” “Tidur di kasur. Tadi kamu yang suruh.” Eh, iya aku lupa. Aku segera bangkit. Namun Tan memegang tanganku. “Mau ke mana?” “Mencari tempat lain untuk tidur.” “Tidur di sebelahku.” Jawabnya. “Apa?!” “Aku gak mau jadi bahan pembicaraan di keluargamu nanti, mereka akan berpikir aku tega menyuruh istriku yang sedang sakit tidur di luar.” Entah mengapa mendengar sebutan 'Istriku, membuatku ingin tersenyum. “Aku akan tidur menjauh darimu.” Imbuhnya lagi, Tan menaruh guling sebagai pembatas kami, lalu ia tidur memunggungiku. Tentu saja aku lega, sekaligus merasa sedikit aneh. Bukankah seharusnya suami normal yang mencintai istrinya pasti akan berusaha mendekatinya kembali? Ah, sudah jangan di pikirikan, tidur saja! *** “Moon! Heh bangun! Ya ampun anak ini membuat orang tua malu saja.” Suara berisik itu membuatku membuka mata. “Ah, Ibu ... Aku masih ngantuk!” aku kembali meram. Sehingga Ibu menggoyang-goyangkan tubuhku. “Ih ya ampun, cepat bangun!” Ibu menarik kupingku sampai terasa panas. “Sakit Ibu!” membuatku duduk memegangi telinga. “Cepat temani suamimu sarapan!” tubuhku di dorong oleh Ibu, agar segera berdiri. “Iya!” Kuturuni tangga, menyaksikan Tan yang sudah duduk di meja makan bersama Ayah, kak Hendru dan Kak Naru. Di sana sudah ramai, kenapa aku di bangunkan untuk menemani Tan? Ih, ibu terlalu memanjakannya lihat saja sampai menyendoki nasi untuknya segala. “Cepat, buatkan teh manis untuk suamimu!” bisik ibu di telinga. “Iya!” gumamku. Ternyata kehidupan setelah menikah itu buruk sekali. Aku harus bangun pagi, menyiapkan sarapan, membuat teh manis, menyiapkan pakaian. Ish, baru satu hari saja sudah membuat kesal! “Hei, Moon. Senang rasanya melihatmu kembali sehat.” Kak Hendru menyapaku. Kubalas dengan senyuman lemas. Kayaknya sih Efek mood yang turun karena harus bangun di pagi buta. “Wah Tan wajahmu lelah sekali, apa tidurnya semalam tidak nyenyak?” tanya Kak Hendru kembali. “Tentu saja, Tan tidak bisa tidur. Semalam kan mereka seperti pengantin baru.” Ledek Kak Naru. “Rasa-rasanya kita akan mendapat keponakan baru.” kak Hendru tertawa bersamaan dengan Kak Naru, meledekku. “Eh, sudah-sudah. Kalian ini gemar sekali membuat Tan dan Moon menjadi malu.” Ibu datang ke meja makan menyudahi tawa kak Hendru dan Kak Naru. “Ayo, Tan teruskan makannya, tak usah pedulikan kata mereka.” Sahut Ayah menormalkan suasana. “Sudah jam setengah tujuh, aku harus berangkat kerja dulu Bu, Yah.” Tan mengecek jam tangannya, menyempatkan menyeruput teh manis buatanku. Setelah itu ia berpamitan pada Ibu dan Ayah. Aku rasa dia pria yang cukup sopan. Ibu mencubit pinggangku, menyuruhku mengantarkannya ke depan. “Jangan lupa berpamitan dengan Suamimu.” Bisiknya kembali. Hemh, Repot sekali menjadi istri. Aku berjalan menunduk mengikuti Tan berjalan. Tiba-tiba ia berhenti berjalan memutar tubuhnya membuat dahiku terbentur dengan dadanya. “Moon, aku berangkat dulu.” Kuikuti perintah Ibu untuk mengantar Tan sampai ke depan. Tak lama, Tan menggenggam tanganku, mengejutkanku saja. Kenapa, dia? Kucoba melepaskan tanganku dari genggaman Tan, namun ia menariknya. Hingga membuatku sedikit membungkuk. Tan menempelkan bibirnya di dahiku, di depan Ibu. Haduhhh, aku jadi Malu!!! Pasti wajahku sangat merah saat ini. Kulirik ibu yang tersenyum-senyum membuang muka dari kami. Aih, apa-apa ini, jangan bilang kau menyukainya Moon?! *** Kedai Kopi LoveFam, Kulihat sekelilingku, ada belasan table, dalam ruangan bernuansa kayu. Di Kitchen terdapat mesin-mesin kopi otomatis. Beserta peralatan pastry. “Wah, sejak kapan kita punya kedai seluas ini? Kapan Ayah berhenti bekerja menjadi guru?” tanyaku penasaran akan perubahan yang banyak terlewat di kehidupanku. “Sejak kau menikah dengan Tan. Ia banyak membantu kita saat Ayah pensiun dini karena kesehatannya yang menurun. Kau sangat beruntung Moon, mempunyai suami kaya dan tampan seprti Tan.” Jelas Kak Naru sambil menekan tuas mesin kopi. “Apa aku menikahinya karena telah membantu ayah?” tanyaku kembali. “Bukan juga, kami tidak pernah memaksamu harus menikahi siapa. Bahkan ayah pernah menolak di buatkan restoran oleh Tan. Pilihanmu murni pilihanmu Moon tanpa campur tangan dari kekuarga.” “Apa aku bahagia?” “Tentu saja, Tan begitu memperlakukanmu dengan baik. Bahkan ketika kau koma, dia tidak meninggalkanmu.” Apa iya? Apa aku mencintainya? Apa dia mencintaiku? Tapi kenapa aku merasa Tan sangat dingin padaku. Bahkan saat dia menciumku di depan Ibu tadi, aku merasa itu seperti ciuman palsu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD