“Si-siapa ini?” tanyaku pada Ibu.
“Hah, kau tak ingat?!” ibu terkejut. “Coba lihat baik-baik.” Pinta Ibu.
“Dia bukan Bin.”
“Ya tentu bukan, hubungan mu dan Bin sudah lama berakhir,” perkataan Ibu membuatku terkejut.
“Ba-bagaimana bisa? Di SMU saja aku sudah bersamanya tiga tahun.”
“Heh, orang yang menikah lama saja bisa cerai, apalagi hubunganmu dengan Bin. Itu karena kau memilih menikah dengan Tan.”
“Peria ini bernama Tan? Tunggu, tunggu ... Apa tadi Ibu bilang? Aku menikah dengan Tan?!” mataku membelak tak percaya. Bagaimana bisa?
“Kau tidak memperhatikan jari manismu memangnya?” Ibu mengambil punggung tanganku dan memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manis.
“Aaaahh! Aku sudah menikah?!!!” lagi-lagi aku memekik sambil meringis, begitu tidak percaya pada kenyataan.
“Nenek, Tante Moon kenapa?” bisik Candy yang pasti masih terdengar karena ia berdiri tidak jauh dariku. Ibu hanya diam memperhatikanku yang mulai menangis.
“Kenapa kau menangis, itu berlebihan.”
“Ibu, aku tidak ingin menikah. Aku ingin bertemu Bin!”
“Terimalah kenyataan Moon. Sebentar, Ibu akan menghubungi dokter lagi.”
Ibu mengambil gawainya, sibuk mondar-mandir menunggu teleponnya di angkat. Sedangkan Candy menyendok nasi dan lauk ke piring. Menaikkan satu kakinya ke atas kursi makan. Hih, ya ampun!
“Memang aku sakit apa?” tanyaku pelan.
“Tante itu koma sudah satu bulan setelah kecelakaan. kata dokter kondisi tante sudah membaik tapi masih saja tidur berminggu-minggu membuat semua orang khawatir. Kami pikir Tante tidak akan bangun lagi, jadi kakek memutuskan untuk membawa Tante pulang ke rumah.” Ujar Candy sambil mengunyah. Nasinya pun ikut terpental dari mulutnya. Ih, jorok sekali.
“Moon!” teriak seseorang dari luar, “Haaahhh Moon sudah siuman.” Wanita Itu berlari masuk ke dalam rumah, meletakan dua kantung belanjaan di lantai dan langsung memelukku.
“E-ehh ... Kak, aku tidak bisa bernafas.”
“Akhirnya, Moon kembali! Ah, ternyata dunia tanpa Moon sepi sekali.” Kak Naru melepaskan pelukkannya. “Apa Ayah sudah tahu?” tanyanya padaku.
“Belum. bagaimana bisa tahu, telepon kedai tidak di angkat. Pasti Mama tidak bekerja malah mengobrol dengan teman-teman.” Candy kembali bergumam. Wah, ibu dan anak ini, bagai saudara kembar.
“Kedai ramai, Mama ke sini karena di suruh kakek membawa makanan ini ke rumah. Ini juga mau kembali lagi ke sana.” Kak Naru menaruh dua kantung tadi ke atas meja dan membuka nya, memasukkan makanan ke dalam kulkas. “Kau sudah menghubungi suamimu Moon?” tanya Kak Naru.
“Ma, tante Moon saja gak kenal siapa suaminya. Bagaimana mau telepon.” Celetuk Candy.
Kak Naru terdiam, sesaat kemudian memperhatikan pakaianku, "ya ampun, bukankah itu seragam Candy?”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan kak Naru, semua perhatian sekarang tertuju pada kehadiran Ibu yang sedang menunjukku dengan gawainya. “Nanti sore dokter dan Tan akan datang ke rumah, untuk melihat mu. Kita tunggu saja, mudah-mudahan ingatan mu bisa kembali normal.”
***
“Amnesia Disosiatif.” Dokter memeriksa cedera pada kepalaku. Lalu menyenteri mataku. “Ini bisa terjadi karena benturan dan trauma pada sesuatu.”
“Apa bisa sembuh?” tanya Ayah.
“Bisa, dengan melakukan psikoterapi. Namun perlu waktu untuk memulihkan kembali ingatannya.” Dokter merapikan peralatannya, memasukkannya ke dalam tas. “Moon, tidak usah takut dan bingung. Jalanilah harimu penuh bahagia dalam ingatanmu yang sekarang.” Dokter berambut putih itu tersenyum kepadaku. Kemudian ayah dan Ibu mengantarnya keluar.
“Maaf kami terlambat datang.” Terdengar suara seorang pria dari luar.
“Oh, gak apa. Ayo, masuk besan.” Ibu berbicara pada seseorang.
Ada wanita tua yang terlihat modis memakai busana dan tas bermerk. Ia datang bersama lelaki tinggi yang ... Tampan ... Ah, tidak-tidak, Bin lebih tampan dari lelaki itu. Sepertinya aku pernah melihatnya. Bukankah dia lelaki yang ada di foto tadi siang? Apakah mungkin dia yang bernama Tan?
“Moon bagaimana kondisimu sekarang?” wanita tua itu tersenyum dan memegang tanganku. Harus aku jawab apa, bahkan aku tidak mengenalnya.
“Kata Dokter, Moon terkena amnesia dis..." kalimat Ayah terhenti, pasti dia lupa apa namanya. Aku pun, sulit untuk mengucapkannya.
“Disosiatif.. Ah, tapi tenang saja Amnesia ini hanya bersifat sementara. Moon hanya perlu melakukan Psikoterapi.” Ibu melanjutkan pembicaraan.
“Oh, malang sekali Moon. Apa pun yang kamu butuhkan, katakanlah pada suamimu.” Ternyata benar, lelaki tanpa ekspresi itu adalah Tan.
“Tan, ajaklah istrimu pulang!” Ibu Tan menengadahkan kepalanya berseru pada Tan yang kaku seperti robot.
“Ya, hari ini Moon pulang.” Jawab Tan sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana. Ish, wajahnya kaku sekali seperti kanebo kering. Jika benar dia suamiku, bukankah seharusnya dia lebih khawatir dari ibu mertuaku?
“A-aku masih ingin di sini.” Jawabku segera. Bagaimana aku bisa satu rumah dengan lelaki dingin dan kaku seperti itu. Sungguh mustahil!
“Owh, baiklah mungkin Moon masih rindu dengan keluarganya. Tan, temanilah Istrimu selama tinggal di sini. Dia pasti banyak mengalami kebingungan.” Pinta Ibu Tan.
“Ah, benar ... Mungkin dengan adanya Tan, ingatan Moon akan segera pulih.” Ibu menimpali.
Hah? Apa aku gak salah dengar? bagaimana ini?! Lalu jika benar dia suamiku, dia akan tidur di mana? Sedangkan kamar di rumah ini semuanya sudah terisi. Mana mungkin kami tidur dalam satu kamar! Ahhhh, ini gawat!!!
***
Ibu Tan sudah pulang, sedangkan Tan masih berada di ruang TV bersama ayah. Aku? Tentu saja mengumpat di kamar ibu.
“Hei, sedang apa di sini. Cepat sana temui suamimu!” Kak Naru menarik kausku.
“Aku takut! Bagaimana aku punya suami, usiaku masih 17 tahun,” gumamku.
“17 tahun dalam impianmu!” Kak Naru menimpukku dengan bantal.
“Sudah Naru, dia memang sedang sakit.” Ibu menyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. “Moon biasa kan dirimu menerima perubahan ini, dulu ibu juga menikah muda. Biar alam bawah sadarmu mengatakan usiamu masih 17, tapi kau tetap Moon yang berusia 31tahun.”
“Lagi pula Moon, bukannya penyakitmu itu menguntungkan? Kau akan merasa kembali menjadi pengantin baru. Uwhh, itu seru!!!” entah mengapa jadi Kak Naru yang bersemangat.
Kreak ...
Ayah membuka pintu, mendongakkan kepalanya.
“Moon, ayo ... siapkan pakaian dan handuk untuk suamimu mandi.”
“Sudah sana!” Kak Naru mendorong tubuhku untuk keluar kamar.
Ibu membantu mengambil handuk dan pakaian Tan yang tertinggal di sini. Memberikannya padaku untuk di bawa ke kamar atas, kamarku.
Dug ... Dug ...
Dug ... Dug ...
Jantungku berpacu berirama beriringan dengan langkah kaki. Bulu kudukku merinding, perasaan gelisah melanda. Ya, ampun bagai mana mungkin anak 17 tahun bisa sekamar dengan lelaki yang belum pernah di kenalnya? Aku harus bicara apa? Melakukan apa?
Kugigit bibirku, memejamkan mata, menarik nafas dalam. Huffttt ...
Kreak ...
“Haaaa!!!
"Ke-kenapa kau buka baju!" teriakku, menutup mata, sedikit mengintip.
"Kenapa memangnya? Aku kan mau mandi. Mana hadukku?!"
Bagaimana aku tidak terkejut pria tinggi yang berdiri di hadapanku sekarang sedang bertelanjang d**a.
"Ini ...!" kuberikan semua pakaian yang ada di tangan kepadanya.
"Siapa namamu?!" tanyaku kembali dengan wajah tertunduk, tidak berani menatapnya.
"Apa?" tanyanya, mungkin dia lupa aku amnesia. "Namaku Tantra Dhakwan, panggil aku Tan."