Mencari Tahu

1234 Words
“Tante?” aku menoleh pada anak perempuan yang berdiri di tangga memanggilku tante. Apa?! Tante?!   “Ngapain Tante ke sekolah Candy?, kok pake seragam dan tas Candy?” dia menghampiriku. Oh, namanya Candy. Sebentar,  siapa tadi namanya?    “Candy?” tanyaku sambil mengukur tinggi Candy yang sebenarnya. Seharusnya dia masih setinggi pinggangku. Candy kan masih 3 tahun.   Candy langsung menarik tanganku,  membawaku ke toilet. Lalu mengunci pintu.    “Eh,  apa yang kamu lakukan?!” tanyaku padanya.   “Biar yang lain gak tahu.” Bisik Candy. “Tante ke sini sudah izin nenek belum?”   “Nenek? Ibu maksudnya?” tanyaku menatap Candy besar. “Iya sudah. Aku bilang mau sekolah.” Kuperhatikan saksama wajahnya. Dia mirip sekali dengan kak Naru. Benar, dia ... Apa dia benar ...   “Candy?! Candy keponakanku? Kamu sudah besar?!” kupeluk Candy, begitu lega akhirnya aku menemukan tempat untuk bertanya.   “Ish, biasa aja Tante!” Candy  melepaskan pelukkanku.   “Tahun berapa ini?” tanyaku sambil memegang kedua bahunya.   “2020.”   “APA?!!!” aku kembali memegang kedua pipiku,  mulutku mengaga. Bu-bukannya ini tahun 2006?   “A-apa yang terjadi?!” tanyaku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Candy. “Hah,  apa aku menaiki mesin waktu?” kulepaskan tanganku,  kemudian memegang kepala yang mulai pusing dengan pertanyaanku sendiri.   Tok   Tok   Terdengar suara ketukan pintu.   “Tante pulang aja.” Pinta Candy masih berbisik, “oya Candy lupa, tante gak bisa pulang ya? Karena pintu gerbang di kunci. Baiknya tante tunggu di perpustakaan dulu,  nanti jam istirahat Candy jemput.”   Tok   Tok   Tok   “Candy mau masuk kelas dulu ya!” Candy membuka pintu toilet dan kembali ke kelas. Beberapa siswi masuk memandangku dengan tatapan aneh.   “Apa?!” kupelototi mereka sambil berjalan ke luar.   Aa ah! Aku tak tahu kenapa jadi seperti ini. Mengapa mendadak hidupku menjadi bermasalah dan membosankan!    Aku masuk ke perpustakaan yang sudah berbeda wujud. Mengisi buku pengunjung. Menaruh tasku di loker. Berjalan dengan lemas,  tak peduli ada beberapa pasang mata yang menyorotiku. Kuambil beberapa buku untuk di baca. Menaruhnya di meja.   “Sssttt!”   “Sssttt!”   “Ssssssttttt!” Aku berdesis memanggil pria di hadapanku. Ia mulai menurunkan buku yang menutupi wajahnya. Sambil menunjuk dirinya.   Ohhh,  ya ampun!  Rupanya dia tampan!  Ahhh,  seketika hatiku menjadi senang melihat  wajahnya yang menyejukkan. Kurapikan rambutku dengan jari. Berusaha tetap terlihat memukau.   “Ehem,  kamu pasti terlambat ya? Gak boleh masuk kelas?” tanyaku sok cantik.   “Kakak siapa?” tanyanya.   Apa?! Kakak?! Tenang, tenang Moon, masih untung di panggil kakak bukan tante.   “Huffttt ... Kenalkan aku Moon. Panggil aku Moon saja. Aku dul...” Ish, hampir saja keceplosan. “Aku sekolah di sini!”   “Aku baru lihat,  kamu murid pindahan?” tanyanya.  “Wajahmu boros sekali. Aku pikir kamu guru, coba kalau gak pakai seragam itu. Kamu lebih cocok jadi Ibu guru.”   “Heh!”   “Sssttt ... ini perpustakaan jangan berisik!” Pria berponi itu meletakkan telunjuk ke bibirnya yang tipis.    “Aku bosan.” Ujarku sambil menaruh kepalaku di meja.   “Baca saja buku yang kamu bawa.” Kata anak lelaki tadi masih terus membaca buku.   “Aku sukanya baca komik,  di sini gak ada. Eh iya,  siapa namamu?” tanyaku sambil engelus-elus cover buku.   “Aku Riu.”   “Waaa, namamu kayak tokoh-tokoh komik. Haaa,  Riu San!  Kupanggil Riu San saja ya?”   “Hih,  itu kekanak-kanakkan.” Hah,  bukannya dia  memang  masih anak-anak sama sepertiku. Tapi dulu.   “Gak apa-apa,  itu cute banget. Riu ... Riu San ...”  ledekku kepadanya,  ia membuang muka.   Tukkk   Riu memukul kepalaku dengan ujung buku.   “Awww!” Kuusap kepalaku.  Ternyata Riu tertawa,  ishh manisnya ...  Bisa juga dia tertawa.   Kring   Kring   “Hah, dari dulu bel sekolah tidak pernah berubah suaranya. Apa tidak pernah rusak? Pelit sekali Kepala Sekolahnya. Kenapa tidak beli bell yang lebih canggih!”   “Apa kamu bilang?” Riu menggaruk kepalanya. Gawat! Aku salah bicara ...   “Maksudku,  bunyinya bellnya  sama seperti di sekolah lamaku.”   “Ohh,” Riu merapikan buku-bukunya. “Kamu mau ikut ke kantin?”   AAA...  Pasti mau! Eh,  ingat Moon.  Gadis yang memikat itu gadis yang punya harga diri tinggi. Aahh,  tapi,  sayangnya itu bukan gayaku ...   “Aku mau Riu San!!!” Jawabku sambil meletakkan tangan di bawah dagu.   “Ssssssttttt!!!” Sekali lagi Riu menyuruh agar tidak berisik,  ia menggandeng tanganku sambil berjalan. Aaaa ...  Akhirnya Moon punya teman baru!   Namun, tiba-tiba saja Candy datang melambaikan tangan. Terpaksa deh, aku harus menghampirinya.   “Hei, Tant ... !”  kubungkam mulut Candy agar tidak memanggilku dengan sebutan Tante, memalukan sekali! Candy melepaskan tanganku yang menutupi mulutnya. “Aku gak bisa nafas, Tant...! “ kubungkam lagi dia,  agar berhenti bicara.   “Eh,  sepertinya aku gak jadi ke kantin. Lain kali saja ya Riu San.”  Kulambaikan tangan pada Riu,  sambil menarik Candy ke luar.   “Iiih, lepaskan!” Candy menarik tanganku kembali.   “Jangan panggil aku Tante!  Panggil saja Moon.”   “Baiklah Tante Moon,  kita harus pulang sekarang!”   “Kenapa? Aku baru saja masuk sekolah.”   “Aku sudah izin,  Nenek tadi telepon ke kantor sekolah, menyuruh aku pulang membawa Tante.” kini berganti, Candy yang menarik tanganku untuk keluar gerbang.   “Baiklah.” jawabku melemas.   Entah mengapa Candy seolah lebih dewasa dariku, Candyku yang lucu sekarang berubah seperti Ibunya yang galak. Kok malah terbaik? jadi aku yang menuruti perintahnya?   ***   “Moon! Ya ampun Ibu sangat mencemaskanmu ...” Ibu memelukku sangat erat, sampai aku kesulitan berbapas. Seolah kami sudah lama tidak bertemu.   “Ibu, kenapa Ibu jadi sangat tua?” kupegang rambut Ibu yang terurai. “Ibu? Rambut Ibu kini putih semua?”   Peletak!   “Awch!  Kenapa Ibu memukul kepala Moon?!”   “Kau ini,  memangnya usiamu berapa sekarang,  ya pantaslah kalau Ibu sudah tua.” Ibu mengusap kepalaku.   “Nenek,  dari tadi Tante Moon terlihat aneh.” Candy menyenggol pundak Ibu.   “Hah,  benar! Ibu baru ingat,  kenapa kamu pergi ke sekolah Candy dan memakai semua peralatan sekolahnya?”   “Moon juga tidak tahu apa yang terjadi.” Kuhempaskan tubuhku ke sofa. Meletakkan tas di lantai.   “Nenek, tante bilang, usianya masih 17 tahun,  dan dia tidak ingat sekarang tahun 2020.” Candy berbisik di telinga ibu.   “Heh,  aku bisa dengar tahu!” Candy kembali menarik dirinya menjauh dari ibu.   Ibu memeriksa kening dan pipiku menyamakan suhu pada ketiaknya. “Tidak panas.” Lalu ia mulai memeriksa bola mataku, lalu menarik ke bawah kantung mataku.   “Ibu,  aku sehat.  Hanya saja aku tidak ingat apa yang terjadi,  aku hanya mengingat masa-masa sekolah dan usiaku yang masih 17 tahun.”   Ibu mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari,  lalu mengambil ponsel menelepon seseorang.  “Coba sebentar,” gumam Ibu masih terus mengupingkan gawainya. “Ah,  nadanya sibuk.” Ibu mematikan ponselnya dan duduk di sebelahku.    “Baiklah Moon, ibu akan mencari tahu,  Apa kamu ingat sedikit saja hal yang terjadi di tahun 2020?”   Aku menggeleng keras. “Tidak tahu.”   “Benar tidak ingat?”   “Iya.”   Ibu pergi ke kamar dan mengambil album foto besar.  “Coba lihat ini.” Ia membuka lembaran foto masa kecilku.  Foto yang ini kamu ingat?”   “Iya pasti Ibu,  ini foto kita tamasya ke kebun binatang kan?”   “Iya betul.” Ibu membuka lembaran yang terakhir.  “Kalau ini?” Ibu menunjukkan fotoku yang terlihat cantik dengan gaun putih, beserta mahkota di kepala.  Ah, sangat cantik dan terlihat bahagia bersama seorang pria. Pria?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD