06 Permulaan

1275 Words
“Kenapa kamu ngeliat saya seperti melihat hantu? Kamu lupa siapa pemilik perusahaan ini?” Pertanyaan bernada sinis yang Nathan lontarkan membuat Indah lagi-lagi menghela nafasnya. “Saya tidak lupa dengan Pak Nathan Mahajana Putra Rezyawan yang terhormat. Putra mahkota dari Sentosa Grup.” Nathan tersenyum miring. “Bagus kalau kamu sudah tahu. Sudah tahu apa tugas kamu di sini?” Indah mengangguk. “Sudah. Tapi ada yang ingin saya tanyakan.” “Apa?” “Kenapa saya ditempatkan sebagai aspri kamu?” “Perbaiki panggilan kamu!” sentak Nathan yang membuat Indah berjengkit kaget. “Tadi kamu bilang kamu sudah tahu siapa saya. Jangan panggil saya dengan kamu kamu seperti tadi. Saya tidak suka!” “Ja-jadi saya harus panggil apa?” “Boss. Seperti yang lainnya.” Kening Indah berkerut. ‘Boss? Kayak mafia aja?’ ejeknya dalam hati. “Maaf, Pak Boss.” “Apa tadi yang mau kamu tanyakan?” “Setahu saya, saya dipindahkan ke kantor ini karena ada posisi yang sesuai dengan jurusan saya. Tapi kenapa saya malah ditempatkan di bagian yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan saya?” Nathan mendengus. “Mungkin waktu itu saya salah ngomong. Maksud saya, di kantor ini ada posisi kosong yang sesuai dengan kemampuan kamu.” Mata Indah membulat. Ia baru sadar bila Nathan sedang mengerjainya. Dan itu sama sekali tidak lucu. “Tapi Pak Boss tidak bilang seperti itu sebelumnya. Ini tidak benar, Pak Boss.” “Masalah benar atau tidak itu keputusan mutlak dari saya. Saya Boss di sini, jadi semua aturan yang berlaku di sini, di perusahaan ini dan untuk kepada seluruh staff, adalah hak saya. Kamu jangan lupakan itu!” Indah mengetatkan rahangnya. Ia tidak terima dengan sikap bossy dan semena-mena Nathan. “Kalau begitu saya mundur. Saya tidak bisa menjalani pekerjaan itu. Maaf, saya permisi.” Indah langsung berbalik dan menggapai gagang pintu di depannya. “Terserah kamu saja. Toh, bukan saya yang rugi. Saya ingatkan sekali lagi, bila kamu terikat kontrak yang sebelumnya dengan perusahaan ini. Ketika kamu menyerahkan surat resign kamu, itu artinya kamu sudah siap dengan uang penalty yang harus kamu berikan langsung kepada HRD, cash dan lunas. Bukan dicicil.” Gerakan tangan Indah terhenti di udara. Yang dikatakan Nathan tidak ada yang salah, tapi … ia mungkin tidak bisa melewati hari-hari dengan pekerjaannya sebagai aspri Nathan. “Kalau saya jadi kamu, saya tidak akan berpikir panjang. Banyak orang yang akan mengantri untuk menjadi asisten pribadi saya. Di sini saya sama sekali tidak dirugikan dengan resignya kamu. Tapi kamu … kamu yang akan mengalami banyak kerugian kalau seandainya menolak pekerjaan ini.” Indah masih terus diam, dan juga tetap dengan posisinya tadi. Membelakangi Nathan. “Kamu sudah baca kontrak kamu yang baru kan? Saya membayar kamu cukup banyak, sepuluh kali lipat dari gaji kamu di pabrik. Persyaratannya pun ringan. Kamu hanya harus memuaskan saya dengan menuruti semua keinginan saya. Semuanya tanpa terkecuali. Dan kontrak itu berlaku selama lima tahun.” Indah langsung berbalik. “Lima tahun?” tanyanya dengan mata yang membulat. Nathan mengangguk dengan pongah. “Iya, gaji yang besar bukan? Pekerjaan mudah dengan gaji besar. Impian semua orang. Dan yang paling penting, kamu tidak perlu menjajahkan tubuh untuk mendapatkan uang segitu.” Padahal bukan itu maksud pertanyaan Indah. Bukan betapa besarnya gaji yang Nathan tawarkan tapi kontrak kerjanya yang sangat lama. Satu air mata lolos begitu saja dari manik bening Indah. Berulang kali Nathan mengatainya dengan predikat sebagai penjajah tubuh. Nafas Nathan tercekat. Ia melihat air mata itu. Sesuatu yang baru kali ini ia lihat, selama ia mengenal Indah, dan dulu ketika ia mendapati perselingkuhan Indah. Ada rasa pedih melihat Indah menangis. Ingin rasanya ia berlari untuk menenangkan wanita itu. Tapi Nathan terlalu keras kepala untuk itu. ‘Wake up, Nat! Itu cuma air mata palsu. Dia mau kamu mengasihani dia. Ingat sama niat awal kamu. Membuat perempuan itu menderita, seperti kamu yang menderita karena pengkhianatannya dulu. Dan ini baru permulaan.’ Nathan maju beberapa langkah mendekati Indah. Ia berhenti ketika mereka berjarak dua langkah. “Hapus air mata kamu. Saya tidak akan pernah tertipu dengan air mata buaya kamu!” Indah menelan ludahnya. Ia pikir tadi lelaki itu mendekatinya karena ingin meminta maaf padanya, merasa bersalah padanya, karena sudah menyakiti hatinya. ‘Stop mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, Ndah. Dia memang sebrengsek itu, dari dulu sampai sekarang. Jangan menunjukkan kelemahan kamu di depan lelaki itu.’ “Oke. Saya terima pekerjaan ini. Pak Boss memang benar. Saya tidak perlu capek-capek lagi membuka paha kepada berbagai laki-laki untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa. Dengan bekerja di sini, dengan posisi yang tersedia, saya tidak harus lagi memuasakan berbagai lelaki di atas ranjang. Tenang saja, saya akan segera menandatangani kontrak gila itu dan akan jadi b***k Anda sampai lima tahun ke depan. Mendampingi orang paling sombong dan egois yang pernah saya kenali di dunia ini.” Indah berbalik lagi, membuka pintu dan membantingnya dengan kencang. Meninggalkan Nathan yang terbakar emosi. Ia tidak suka dengan ucapan yang ia lontarkan pada Indah. Lebih tidak suka lagi dengan omongan Indah yang meng-iyakan ucapannya tadi. Nathan menendang sofa yang ada di dekatnya. Meja kaca di dekat sofa pun tidak luput dari amukannya. Gelas di meja kerjanya ia lempar ke televisi layar lebar di ruangan itu. Semua ia bongkar dan ia hancurkan. Sehancur hatinya saat ini. *** “Pak Rio, ini kontraknya sudah saya tandatangani.” Indah menyerahkan map yang tadi pagi Rio berikan padanya. Setelah menagis selama kurang lebih sepuluh menit. Ia sudah bertekad melawan dan tidak lagi menghindari Nathan. Indah akan menghadapi lelaki paling jahat dalam hidupnya, asal ia bisa melunasi hutang-hutang juga mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. Adiknya pun harus berkuliah di tahun ajaran akan datang. Indah akan menelan semua pil pahit yang Nathan berikan untuknya. Tidak perlu juga ia membela dirinya. Sungguh perbuatan tidak perlu, karena Nathan akan tetap men-capnya sebagai perempuan murahan. “Baik, akan saya sampaikan ke pihak HRD, Mbak Indah.” “Pak Rio, jangan panggil Mbak. Panggil Indah aja, sepertinya kita seumuruan.” “Saya lebih tua dua tahun dari Mbak Indah.” “Tuh kan, apalagi Pak Rio lebih tua. Masa jadi saya yang dipanggil Mbak. Kan aneh.” “Tapi …” “Udaaah, panggil Indah aja. Selanjutnya saya juga akan manggil Pak Rio dengan sebutan Mas Rio. Jadi gak kaku banget. Lagian kata Mas Rio tadi, kita akan bekerja sama untuk mengurus Boss itu. Jadi kita harus bisa mengakrabkan diri. Jangan terlalu di pikirin, lebih baik mikirin hal yang lebih berguna. Ya kan?” Indah memang terkenal ramah pada siapa pun. Ini juga yang membuat Nathan sering marah padanya dulu ketika mereka menjalin hubungan. Dan jadinya Nathan membatasi pergaulannya, karena lelaki itu selalu cemburuan. Tapi setelah berpisah, Indah kembali menjadi dirinya sendiri, bebas berekspresi sesuai keinginannya. “Oke, Indah.” Senyum Indah mengembang, membuat Rio sadar bila wanita di depannya ini memiliki paras seindah namanya. “Nah, gitu kan enak dengernya.” Intercom di meja Rio berbunyi. “Rio, suruh Indah ke ruangan saya. Sekarang!” Raut wajah Indah langsung berubah masam. Ia malas untuk masuk ke dalam ruangan yang membuatnya sesak dan juga menangis tadi, tapi ia tahu bila ia tidak bisa menghindar. Indah mengangguk lalu berjalan ke ruangan Nathan. Ia mengetuk pintu tiga kali dan memutar gagangnya. “Permisi, Pak Boss. Pak Boss manggil sa … ya?” Indah sungguh takjub dengan keadaan ruangan itu. Sekitar lima belas menit yang lalu ia meninggalkan ruangan itu, ruangan yang tertata dengan apik dan rapih, tapi sekarang sudah seperti kapal pecah. Terutama saat Nathan menyodorkan tangan yang sudah penuh dengan darah, hingga menetes ke lantai, di tempat lelaki itu berpijak saat ini. Nathan menjulurkan tangannya. “Obati tanganku! Sekarang!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD