Indah menarik nafas panjang, menatap bangunan megah di depannya. Bisa saja tempat itu akan menjadi neraka dunia baginya.
Baru pagi ini ia sampai di Jakarta, setelah menempuh perjalanan menggunakan kereta api dari Surabaya selama kurang lebih hampir sembilan jam.
Yah, memang aneh mendapati Indah berada di kantor pusat Sentosa Grup. Indah pun tidak menyangka bila dirinya akan senekat itu. Apalagi setelah mendengar kata-kata penghinaan dari Nathan malam kemarin.
Tapi Indah harus berpikir rasional. Hidupnya sudah memilik banyak masalah, dan tak ingin menambahnya lagi. Lagipula walaupun ia bekerja di Jakarta, berada di satu kantor dan juga satu kota dengan Nathan, bisa saja ia tidak akan sering-sering bertemu dengan mantan terburuk sedunia itu.
Indah tahu bila pasti Nathan akan sangat sibuk dan tidak akan sempat mengganggunya. Dan juga Nathan pernah berkata pada Ibunya bila kantor di depannya ini memerlukan staff sesuai dengan jurusan pendidikannya, dan itu berarti bukan di tempat yang berhubungan langsung dengan Nathan.
Indah tersenyum pada security yang berada di samping pintu yang otomatis terbuka ketika ia berada di dekatnya.
Lobby yang luas, dengan lantai dari granit dengan ukuran besar. Yang Indah yakin, harganya bisa mencapai hampir satu tahun gajinya di pabrik. Sebagai anak mantan pengusaha material, Indah tahu sedikit mengenai harga bahan bangunan.
Indah menyudahi kekagumannya, karena ia sadar bila dirinya sudah terlihat bodoh dengan sempat menganga tadi. Untung saja liurnya tidak sampai menetes. Ia kemudian berjalan menuju meja resepsionis.
“Pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Pagi juga, Mbak. Saya dari kantor cabang di Surabaya. Hari ini saya diminta menghadap ke sini, karena saya mendapatkan mutasi ke sini.” Indah menyerahkan surat keterangan mutasinya sebagai pendukung keterangan yang ia sebutkan barusan.
“Tolong tunggu sebentar ya, Mbak Indah. Saya telfon bagian terkait dulu.”
Indah mengangguk. Sambil menunggu, ia memeriksa ponselnya, ada jawaban pesan dari adiknya. Dan juga foto sang Ibu yang dikirim Indra.
“Mbak Indah. Mohon tunggu sebentar yah. Mbak Indah bisa menunggu sebentar di sana,” ujar Mbak Resepsionis menunjuk sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Indah mengangguk, kemudian berjalan ke arah sofa tadi. Ia membuka pesan dari Indra lagi. Ada sebuah voice note yang ia yakini bila itu adalah dari Ibunya, karena memang Ibunya tidak bisa mengetik pesan.
“Ndah, kerja yang baik yah, Nak. Kamu gak usah mengkhawatirkan Ibu dan Adik kamu. Kamu konsentrasi aja sama pekerjaan kamu. Jangan lupa makan yang teratur, dan juga istirahat yang cukup. Jangan karena bekerja, kamu jadi sakit karena terlalu diforsir. Jaga diri kamu juga, itu yang paling utama, kamu anak perempuan Ibu satu-satunya, kehormatan keluarga kita ada di pundak kamu, Nak. Kalau tidak sibuk, telfon Ibu ya, Ndah.”
Indah tersenyum, Ibunya adalah wanita terbaik dalam hidupnya. Itulah mengapa ia sangat menyayangi keluarganya, karena hanya mereka lah yang benar-benar menyayanginya. Dan karena rasa sayangnya itulah dia dulu sempat hampir saja terjerumus, ketika ingin menyelamatkan perusahaan Ayahnya.
Indah menghela nafasnya lagi. Hal ini sudah banyak kali ia lakukan, dimulai setelah ia bertemu dengan Nathan kembali.
“Mbak Indah.” Seseorang dengan setelan jas hitam dan juga kaca mata nonframe menghampiri dan menyebutkan nama Indah.
Indah berdiri, ia pikir mungkin saja orang ini adalah atasannya di kantor ini.
“Iya, Pak. Saya Indah.”
“Saya Rio.” Lelaki itu memperkenalkan diri dan mengangsurkan tangan pada Indah.
Indah menyambutnya dan menganggukkan kepala untuk bersikap hormat.
“Mbak Indah bisa ikut saya? Saya akan menunjukkan ruangan Mbak Indah.”
Tentu saja Indah mengangguk dan mulai mengekori Rio. Indah diam saja, karena Rio pun menutup mulutnya dengan rapat. Keduanya lalu masuk ke dalam lift. Indah melihat Rio menekan tombol dengan angka enam belas.
‘Tinggi juga ruanganku,’ ujar Indah dalam hati.
Lift itu sepertinya juga punya predikat mewah karena gerakannya yang begitu halus. Bahkan Indah tidak sadar bila benda itu sudah mengantarkannya ke tujuan, kalau bukan karena Rio keluar ketika pintu lift tebuka.
Indah masih terus mengekori Rio yang berjalan menyusuri sebuah koridor yang sangat sepi.
Lalu Indah masuk ke sebuah ruangan yang berisi satu sofa, dan juga meja, kursi kerja serta laptop di atasnya. Ada juga beberapa kabinet di sudut ruangan.
“Ini ruangan yang akan Mbak Indah tempati. Kalau butuh sesuatu, bisa beritahu saya,” ujar Rio.
“Maaf, Pak Rio. Jadi saya akan di sini? Sendirian?”
Rio mengangguk. Ia memberikan sebuah gadget dengan layar sekitar tujuh inch pada Indah. “Di dalam sini ada jadwal kerja, Boss. Tolong dipelajari dan diingat. Semuanya harus benar dan sempurna. Boss tidak suka dengan kesalahan sekecil apapun. Oh iya, password tab itu adalah tanggal ulang tahun Mbak Indah. Nanti bisa Mbak Indah ganti lagi, sesuai keinginan Mbak.”
Indah berpikir sebentar, semua ini sangat berbeda dengan yang ada di kepalanya dari kemarin. “Boss? Maksudnya apa ya, Pak?”
“Iya, Mbak Indah akan bekerja di sini sebagai asisten pribadi Boss. Sama dengan saya tapi saya lebih ke urusan pekerjaan. Sedangkan Mbak Indah akan mengurusi masalah yang lebih pribadi.”
Kening Indah makin berkerut. Ia sama sekali tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tapi Indah tahu bila ia harus bertanya agar semuanya lebih jelas.
“Maaf lagi, Pak Rio. Tapi bukannya saya dimutasi ke sini untuk ditugaskan di bagian finance? Sesuai jurusan pendidikan saya?”
Rio diam sesaat, tapi ia sudah memiliki jawabannya. Yang tidak ia miliki adalah alasan Bossnya meletakkan Indah sebagai asisten pribadi.
“Saya kurang tahu, Mbak. Saya hanya menjalankan perintah. Dan ini, adalah kontrak kerja Mbak Indah yang baru. Bisa dibaca sekarang dan nanti setelah ditandatangani, tolong dikembalikan kepada saya.”
Indah masih bingung, tapi ia tahu bila rasa bingungnya bisa mendapatkan jawaban nanti. Ia harus terlebih dulu melihat isi kontraknya yang baru. Karena hal ini tidak pernah dibahas dengannya, ketika ia mendapatkan surat mutasi itu.
Mata Indah terbelalak ketika membaca di lembaran haknya, yakni gaji yang akan ia terima perbulannya. Ia akan mendapatkan gaji sepuluh kali lipat dari gajinya di pabrik, tapi bila ia melanggar dan tidak memenuhi kewajiban yang menjadi tugasnya dalam mengurusi keperluan si Boss, ia akan dikenakan denda dua kali lipat dari gajinya sekarang, per tugas yang tidak ia kerjakan dengan benar.
“Ini benar, Pak Rio?” tanya Indah dengan sejuta rasa terkejut.
Rio akan menjawab tapi ponselnya kemudian berbunyi. “Iya, Boss. Sudah datang. Baik, Boss.”
“Mbak Indah, Boss sudah datang. Mbak diminta untuk ke ruangan beliau. Mari saya tunjukkan jalannya.”
Rio tidak menunggu, ia langsung berbalik, membuat Indah gelagapan. Indah meletakkan tab dan juga map kontraknya di atas meja, dan bergegas mengikuti Rio. Mereka berjalan ke ruangan yang ada di sudut paling dalam, di lantai itu.
“Ini ruangannya, Mbak. Silakan masuk, Boss sudah menunggu.”
Indah mengangguk kemudian mengetuk pintu ruangan itu. Setelah tiga kali ketukan, Indah mendorong pintu itu. Ada seseorang yang duduk di kursi besar, dengan posisi membelakanginya.
“Selamat pagi, Pak. Saya Indah Purnama Sari. Saya …”
Indah menghentikan kata-katanya, ketika kursi di balik meja kerja yang besar, yang letaknya di tengah-tengah ruangan, mulai berbalik.
“Tidak usah perkenalan. Saya sudah mengenal kamu. Sangat mengenal kamu, dengan sangat baik.” Suara bariton yang agak berat itu langsung memenuhi telinganya.
Indah menelan ludahnya, sambil berujar dalam hati. ‘Cobaan apa ini ya, Tuhan? Kenapa aku harus ketemu dia lagi?’