BAB 1 — Salju Pertama dan Janji di Bawah Benteng
Salju mulai turun perlahan di atas pegunungan yang mengelilingi ibu kota kekaisaran. Butiran‑butiran kecil berwarna putih jatuh menutupi atap‑atap ubin biru benteng besar, menempel pada ujung bendera‑bendera kekaisaran yang bergambar naga emas, dan menumpuk di celah‑celah batu tembok yang sudah berdiri selama ratusan tahun. Udara dingin menusuk tulang, namun hal itu tidak mengurangi keramaian di halaman dalam istana. Para prajurit berjalan beriringan dengan langkah berat, suara besi zirah yang saling berbenturan terdengar berirama, sementara pelayan‑pelayan istana bergerak cepat membawa nampan berisi minuman hangat untuk para pejabat yang baru selesai rapat.
Di sebuah paviliun kecil yang terletak di sisi barat istana, jauh dari keramaian aula utama, Lian duduk di dekat jendela kayu yang terbuka sedikit. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu mengenakan gaun sutra merah tua dengan bordiran bunga peony berwarna emas yang menjalar di lengan dan bagian d**a. Rambut hitam panjangnya diikat rapi dengan hiasan perak berukir bunga plum. Tangannya yang ramping sedang menggerakkan jarum jahit, menyulam pola naga kecil di ujung syal wol tebal yang berwarna hitam. Ia sering membuatkan pakaian tambahan untuk suaminya, karena ia tahu betapa dinginnya udara di garis depan saat musim salju tiba.
Lian sesekali mengangkat kepala, menatap ke arah jalan batu yang menuju gerbang utama benteng. Matanya yang lembut tampak menanti. Sudah tiga hari sejak suaminya, Jenderal Kai, pergi memeriksa pos pertahanan di perbatasan utara. Tidak ada surat yang datang, tidak ada pesan singkat yang dibawa prajurit pengantar. Setiap kali langkah kaki terdengar di luar paviliun, jantungnya berdebar berharap itu adalah langkah Kai, namun berkali‑kali harapannya harus sirna ketika ternyata itu hanya pelayan atau penjaga yang lewat.
Ia meletakkan jarum jahitnya sejenak, lalu mengusap ujung syal yang belum selesai. Ingatannya kembali pada hari pertama mereka bertemu, tujuh tahun yang lalu. Saat itu Kai baru saja kembali dari pertempuran besar yang memenangkan wilayah selatan. Ia terluka di lengan kanan, dan Lian yang saat itu bekerja sebagai perawat sukarela di rumah sakit darurat istana yang merawatnya. Awalnya Kai tampak dingin dan sulit diajak bicara; ia terbiasa berurusan dengan pedang dan pasukan, bukan dengan percakapan lembut. Namun kesabaran Lian perlahan meluluhkan hatinya. Setelah luka sembuh, Kai sering datang berkunjung, membawa bunga plum yang ia petik sendiri dari lereng gunung, hingga akhirnya ia melamarnya di bawah pohon yang sama.
“Kau selalu menunggu terlalu lama,” bisiknya pada diri sendiri sambil tersenyum tipis. Ia tahu tugas suaminya berat. Sebagai jenderal tertinggi pasukan naga emas, Kai bertanggung jawab atas keselamatan seluruh perbatasan kekaisaran. Banyak pejabat istana yang iri dengan kedudukannya, banyak pula yang mencoba menjatuhkannya dengan fitnah. Namun Kai tidak pernah peduli pada gosip‑gosip itu; yang paling penting baginya adalah rakyat dan orang‑orang yang ia cintai.
Sinar matahari mulai meredup, warna langit berubah menjadi jingga keunguan. Butiran salju semakin banyak jatuh, menutupi jalan‑jalan batu. Tiba‑tiba terdengar suara derap kuda yang mendekat, diikuti suara langkah kaki berat yang dikenalinya. Lian segera berdiri, berlari ke pintu paviliun.
Di sana berdiri Kai. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu mengenakan zirah hitam berhias naga emas yang sedikit berdebu, rambut panjangnya terikat mahkota kepala naga. Wajahnya tampak lelah, ada goresan kecil di tulang pipinya, namun matanya yang tajam berbinar saat melihat istrinya. Ia melepaskan sarung tangan besinya, lalu mengulurkan tangan.
“Lian,” ucapnya dengan suara serak karena dingin.
Lian berlari mendekat, lalu memeluk pinggangnya. “Aku menunggumu tiga hari penuh.”
Kai mengangkat tangannya yang dingin, mengusap rambut istrinya. “Maaf, jalannya licin karena salju. Ada gangguan kecil di pos utara, tapi sudah selesai. Tidak ada yang terluka parah.”
Mereka masuk ke dalam paviliun. Pelayan segera membawa teh jahe hangat dan kue beras kukus. Kai duduk di kursi kayu, melepaskan bagian bahu zirahnya agar lebih nyaman. Lian duduk di sampingnya, mengambil syal yang sedang ia buat tadi.
“Aku belum selesai menyulam naga di ujungnya. Tapi kau bisa pakai dulu, agar lehermu tidak kedinginan,” katanya sambil melingkarkan syal di leher Kai.
Kai menggenggam tangan Lian, menatap wajahnya lama‑lama. “Kau tahu, setiap kali aku berada di perbatasan, yang ada di pikiranku hanyalah kau. Aku bermimpi setelah aku berhenti bertugas, kita bisa pindah ke sebuah desa kecil di kaki gunung. Kita akan menanam pohon buah, tidak ada lagi pedang, tidak ada lagi perintah dari istana. Hanya kita berdua.”
Lian tersenyum, matanya berkaca‑kaca. “Aku juga selalu bermimpi hal yang sama. Tapi kau harus berhati‑hati. Ada hal‑hal aneh yang kudengar dari para pelayan belakangan ini. Mereka berbisik bahwa para menteri besar saling berselisih memperebutkan kekuasaan, dan pasukan dari kerajaan utara mulai bergerak mendekati batas wilayah kita.”
Ekspresi wajah Kai berubah menjadi serius. Ia menghela napas panjang. “Aku juga sudah menerima laporan itu. Beberapa menteri di istana terlalu rakus akan kekuasaan. Mereka tidak peduli jika rakyat menderita, selama kepentingan mereka terpenuhi. Kaisar sekarang sudah tua, kesehatannya menurun, dan tidak ada putra mahkota yang tegas. Itulah yang membuat mereka berani berebut pengaruh.”
“Apakah peperangan akan datang?” tanya Lian dengan suara bergetar.
Kai mengusap punggung tangannya dengan lembut. “Aku akan berusaha mencegahnya. Tapi kita tidak bisa menjanjikan apa‑apa. Jika hal terburuk terjadi, kau harus pergi ke desa tempat keluargamu tinggal. Jangan menungguku jika keadaan sudah tidak aman.”
Lian menggeleng kuat. “Aku tidak mau berpisah darimu. Ke mana pun kau pergi, aku ingin tetap di dekatmu.”
Kai menariknya ke dalam pelukan. “Jangan bicara begitu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu. Kau adalah satu‑satunya alasan aku bertahan di tengah semua kesulitan ini.”
Malam semakin larut. Salju turun semakin lebat, angin berdesir di antara celah jendela. Setelah Lian tertidur lelap, Kai bangkit perlahan. Ia berjalan ke meja kayu, membuka gulungan surat yang dibawanya dari perbatasan. Isinya laporan rahasia dari pengintai: faksi menteri yang berkuasa mulai bekerja sama dengan pasukan musuh dari luar, dengan janji akan mendapatkan sebagian wilayah jika mereka berhasil menggulingkan kaisar. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka pengkhianatan sudah sedalam ini. Ia menulis balasan singkat untuk pengintai, lalu menyembunyikan gulungan itu di dalam kotak kayu di bawah tempat tidur. Ia tidak ingin Lian mengetahui hal ini, karena ia tidak ingin wanita itu takut tanpa alasan yang pasti.
Keesokan paginya, berita mendadak datang dari istana. Seorang utusan kaisar tiba di paviliun dengan wajah tegang. “Jenderal Kai, Kaisar memanggilmu segera ke aula utama. Ada laporan serangan kecil di perbatasan timur, dan ada bukti bahwa pasukan musuh mendapatkan informasi rahasia dari dalam istana.”
Kai segera mengenakan kembali zirahnya. Sebelum berangkat, ia memeluk Lian sekali lagi. “Jangan khawatir. Aku akan kembali secepat mungkin. Jangan keluar paviliun tanpa penjaga.”
Lian mengangguk, matanya tampak cemas. “Berjanjilah padaku, kau akan selalu berhati‑hati.”
“Aku berjanji,” jawab Kai, lalu berjalan pergi mengikuti utusan itu.
Beberapa hari berikutnya, suasana di seluruh ibu kota berubah. Penjagaan di setiap gerbang diperketat, orang‑orang tidak lagi berani berbicara bebas di jalan. Berita‑berita buruk datang satu per satu: beberapa pos pertahanan di timur jatuh dengan cepat, banyak prajurit tewas, dan desa‑desa di dekat perbatasan mulai dibakar. Lian terus menunggu di paviliun, setiap hari menyiapkan makanan dan pakaian hangat untuk kepulangan Kai. Kadang‑kadang ia berjalan ke halaman luar, melihat salju yang semakin tebal menutupi tanah, berharap sosok suaminya muncul di ujung jalan.
Suatu sore, seorang prajurit berpakaian compang‑camping datang berlari ke paviliun. Wajahnya penuh luka dan wajah pucat pasi. “Nyonya Lian… cepat bersiap! Para menteri pengkhianat membuka gerbang belakang benteng untuk pasukan musuh. Peperangan sudah pecah di dalam kota! Jenderal Kai sedang bertempur di gerbang utama, ia menyuruhku membawa mu pergi!”
Darah seolah membeku di tubuh Lian. Ia segera mengambil syal yang belum selesai ia berikan pada Kai dan jimat perak pemberian suaminya, lalu mengikuti prajurit itu keluar. Namun saat mereka baru berjalan setengah jalan, suara ledakan dan teriakan keras terdengar. Api mulai menjalar ke bangunan‑bangunan istana, bendera musuh mulai berkibar di atas tembok. Prajurit yang menemaninya terluka oleh panah, dan Lian terpisah dalam keramaian yang kacau. Ia berlari ke arah tempat pertempuran berlangsung, berteriak nama Kai, tapi suaranya tenggelam di tengah suara pedang yang berbenturan dan tangisan orang‑orang.
Sementara itu, Kai sedang bertempur di gerbang utama. Pedangnya bergerak cepat menangkis serangan musuh, zirahnya sudah terkena banyak goresan. Ia melihat api yang menjalar ke arah paviliun tempat Lian tinggal. Hatinya panik. Ia mencoba melepaskan diri dari kerumunan prajurit musuh untuk mencari istrinya, namun pasukan lawan terus menghalangi jalannya. Ia tidak tahu bahwa di tengah kekacauan itu, sebilah pedang musuh telah menusuk pinggang Lian saat wanita itu mencoba mencari jalan untuk menemuinya.