Meminta Bantuan Mertua

1132 Words
Setelah sarapan, Zara mengantar Cahaya ke sekolah. Yaitu sekolah khusus untuk anak usia dini atau PAUD. Karena Cahaya akan pulang jam 12 siang nanti, dengan sepeda motornya Zara pun menuju tempat yang sudah dia rencanakan. Yaitu ke rumah masa kecil Demian, rumah ke dua orangtua suaminya atau rumah mertuanya. Puspa, ibu mertuanya menyambutnya dengan baik dan penuh senyuman. Ah, ibu Demian ini sebenarnya ibu mertua yang sangat baik. Tidak pernah marah dan selalu tersenyum kepadanya. Mereka lalu duduk di teras samping, menghadap halaman yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran. Puspa menyukai bunga dan keindahan. Itu sebabnya, mertuanya itu juga mempunyai sifat yang lembut. "Aya tidak dibawa sekalian ke sini, Zar?" tanya Puspa sembari menuangkan gelas kosong Zara dengan air teh yang baru saja dibuatnya. Zara menggeleng. "Tidak Bu, Aya di sekolahnya." Puspa terkekeh menertawakan kepikunannya. "Aduh... bagaimana ibu bisa lupa kalau Aya itu sudah sekolah. Serasa masih balita saja." Zara tersenyum melihat kekehan Puspa. Begitu renyah dan tulus. Mungkin Puspa adalah ibu mertua yang paling baik dari ibu-ibu mertua yang lain. Selama dia menjadi istri Demian, tidak sekalipun Puspa menyakiti hatinya baik dengan perbuatan maupun perkataan. Puspa memperlakukannya seperti anaknya sendiri, tidak lebih berat kasih sayang pada Demian. Jika memikirkan ini, maka berat sekali berpisah dari Demian. Puspa sudah seperti ibu kandung sendiri baginya. Tapi... untuk apa bertahan dengan pernikahan yang sepertinya sudah tidak sehat. Tidak sehat karena jika diteruskan akan menyiksa diri sendiri. Agama melarang kita untuk mendzalimi diri sendiri karena itu dosa. Terlepas dari itu, sebenarnya dia bukan wanita yang akan kuat untuk dimadu. Hatinya terlalu rapuh. Jangankan dimadu, melihat Demian dekat dengan wanita lain saja dia sudah cemburu. Intinya, dia akan mencari pahala dari cara yang lain selain mengikhlaskan suami menikah lagi. "Oya, kamu ke sini pasti bukan sekedar main doang bukan?" tanya Puspa ketika kekehannya reda. Sedari Zara datang, dia sudah melihat kabut di wajah menantunya itu. Dan kabut itu tidak bisa ditutupi hanya dengan segaris senyum manis Zara. Sebagai seorang wanita, dia seperti bisa membaca perasaan wanita lainnya. "Ada masalah apa? Kamu tidak sedang bertengkar dengan Demian bukan?" sambungnya sembari menatap lekat wajah Zara yang cantik dan tidak membosankan untuk dipandang. Zara adalah istri yang selalu menjaga kecantikannya. Puspa tahu akan hal itu. Zara menelan salivanya. Sulit sekali rasanya untuk mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan. Dia takut ini akan melukai Puspa. Tapi hati kecilnya terus berteriak untuk tidak memperdulikan rasa takut. Demian sudah mantap untuk memilih menikah dengan Bella, maka dia juga harus mengambil ketegasan. Zara menggenggam tangan Puspa dan meremasnya lembut. Dia akan mengatur cara bicaranya agar tidak terjadi kesalahan yang membuatnya menyesal karena telah menyakiti ibu mertua sebaik Puspa. "Bu, sebelumnya aku minta maaf. Kedatanganku ke sini, bukan untuk menyampaikan hal yang bahagia. Tapi justru sebaliknya. Aku sendiri masih berharap semua kembali seperti sebelum ini. Tapi sepertinya Mas Demian sudah tidak perduli dengan perasaan aku. Dia memilih untuk mengikuti kemauannya." Puspa mengerutkan keningnya. Matanya yang menyipit, menatap Zara kian tajam. Tentu saja saat ini hatinya berdebar tak menentu. Perkataan Zara sudah mengarah ke masalah berat. "Memangnya apa yang Demian lakukan kepadamu, Zara? Kenapa kamu bicara seperti itu?" Wajah Puspa kini tampak serius. Garis-garis senyum yang sebelumnya masih tersisa, pudar begitu saja. Zara menarik tangannya dari tangan Puspa, lalu menundukkan wajahnya. "Mas Demian... Mas Demian sudah berselingkuh di belakangku. Dan sebentar lagi dia akan menikahi wanita itu." Bagai tersambar petir Puspa mendengar itu. Wajahnya sampai memucat. "I-ini benaran, Zar?" Zara mengangguk pelan. "Benar Bu. Bahkan Mas Demian sudah mengakuinya. Aku juga mempunyai buktinya. Aku sudah bicara dengan Mas Demian, memintanya untuk mengurungkan niat menikahi wanita itu. Tapi... Mas Demian menolak. Dia tetap bersikeras akan menikahi selingkuhannya dan memintaku untuk menerima keputusannya ini. Namun... maaf Bu, maaf sekali. Aku tidak sanggup dimadu. Jadi jika Mas Demian bersikeras menikah dengan wanita itu, aku mengalah. Aku... memilih berpisah. Tolong jangan paksa aku menerima pernikahannya Mas Demian, Bu. Aku tidak akan sanggup, sekali lagi aku tidak akan sanggup untuk dimadu." Pandangan Puspa bergulir meninggalkan wajah Zara dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu terdiam dan sedih. Dia tidak menyangka kalau putra sulungnya akan melakukan itu pada menantunya. Menurun pada siapa si Demian itu karena suaminya adalah lelaki yang sangat setia dan menghargai istri. "Ibu tidak akan memaksamu untuk bertahan jika itu menyakitimu, Zara. Tapi kamu jangan mengambil keputusan di saat masih emosi. Ibu sendiri sangat terkejut mendengar ini, tak menyangka Demian akan melakukan itu padamu." Zara kembali mengarah pandang pada Puspa. "Aku tau itu Bu. Karena itu aku tidak akan meninggalkan Mas Demian sekarang. Aku masih menunggu Mas Demian kembali menjadi Mas Demian yang dulu. Aku akan pergi jika Mas Demian benar-benar menikahi wanita itu. Itu sebabnya aku datang ke sini, aku berharap ayah dan ibu bisa menasehatinya. Semoga saja dengan begitu Mas Demian sadar akan kesalahannya." Puspa menghela nafas berat. "Ya, nanti ibu dan ayah akan bicara dengannya mengenai hal ini. Tapi kamu jangan buru-buru ingin meninggalkannya. Kita beri dia kesempatan untuk berubah." Zara mengangguk. "Iya Bu, aku mengerti. Itu sebabnya aku bilang tadi kepada ibu bahwa aku tidak akan pergi sebelum memastikan Mas Demian menikah dengan wanita itu." Puspa memaksakan senyum. Dia lalu mengusap tangan Zara. "Kamu berdoa ya Zara. Berdoa agar semua akan baik-baik saja seperti selama ini." Zara kembali mengangguk. "Iya, Bu." . . "Bagaimana kalau yang ini, sayang? Kamu suka?" "Suka sih mas cuma... yang ini lebih elegan. Sepertinya aku mau yang ini saja deh, tidak mau yang itu." Demian memaksakan senyum. Ternyata Bella tahu barang mahal. Sedari tadi pilihannya pasti yang mahal-mahal. Agak berbeda dengan Zara yang lebih ikhlas dengan apapun yang diberikan olehnya. Termasuk uang bulanan. Berapa pun jumlah uang yang dia berikan, selalu cukup. Bahkan Zara masih bisa ke salon untuk mempercantik diri dengan uang itu. Tapi tidak apa. Setiap orang itu berbeda. Begitu pun dengan Zara dan Bella. Mungkin ini karena barang-barang untuk hantaran pernikahan dan mahar nikah, jadi Bella ingin yang special. Batin Demian. "Ya sudah kalau itu maumu. Demi kamu mas turuti," jawab Demian kemudian. Bella tersenyum puas. "Makasih mas." Ini juga alasannya mau menikah dengan Demian, karena Demian banyak uang. Bella tidak akan mau dengan Demian jika bukan karena jabatan manager pria itu. "Jadi berapa mbak?" tanya Demian pada wanita yang sedari tadi melayani mereka yang saat ini sedang ada di toko perhiasan. Tangannya bersiap mengeluarkan dompet dari dalam kantong celana. Sang wanita tersenyum dan menyebutkan jumlahnya. Jumlah yang tidak sedikit dan bisa dipastikan tagihan kartu kreditnya akan banyak. Demian pun memberikan kartu kreditnya pada sang wanita, tepat pada saat itu ponselnya berdering. Ayahnya yang menelpon. "Ya, yah?" ucapnya begitu panggilan dari sang ayah dia terima. "Nanti kamu mampir ke rumah ya. Ayah ingin bicara. Ini penting." balas di seberang. "Oh, iya yah, iya. Nanti aku akan mampir ke rumah ayah." Demian menarik ponselnya menjauhi daun telinga dengan kening mengerut. Dia merasa ada yang aneh dengan nada bicara ayahnya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD