Kemarahan Raharja

1144 Words
Bim! Bim! Suara klakson mobil itu membuat Puspa segera bergerak keluar rumah dan berdiri di depan pintu. Kedatangan Demian memang sedang ditunggu-tunggu. Bukan hanya oleh dirinya, tapi juga oleh suaminya. “Akhirnya kamu datang juga, Dem,” ucap Puspa ketika Demian sudah berdiri di depan pintu. Tidak seperti biasanya yang akan tersenyum begitu menyambut kedatangan sang putera tunggal, kali ini tidak ada senyum itu. Menurut Puspa, ini bukan waktunya untuk menyambut Demian dengan manis setelah apa yang dilakukan anak semata wayangnya tersebut. Tapi ini adalah saatnya untuk serius. “Memangnya ada perlu apa sih bu sampai mendadak dipanggil begini?” tanya Demian dengan wajah bingung. Perasaannya sudah tidak enak. Raut wajah Puspa pencetusnya. Ibunya yang ramah dan lembut sekarang jadi nampak berbeda. “Jangan tanya di sini, langsung saja temui ayah di ruang keluarga. Dia sudah menunggu di sana.” Puspa berbalik dan melangkah masuk. Demian tercenung sejenak sebelum akhirnya ikut masuk. “Duduklah Dem, ayah ingin bicara serius kepadamu.” Raharja langsung menunjuk sofa di sisi kanannya kepada Demian yang baru menginjakkan kaki di ruang tengah. Demian mengangguk. “Baik ayah.” Dia pun duduk di sofa yang ditunjuk sang ayah. “Memangnya, ada hal serius apa sih, Yah? Ayah dan ibu hari ini tampak aneh.” Ujarnya begitu pantatnya menyentuh permukaan sofa. “Aneh bagaimana? Yang tampak aneh itu kamu bukan ayah dan ibu,” sahut Raharja langsung. Dadanya ini sudah bergemuruh dengan kemarahan sejak mendengar cerita dari Puspa. Kedua alis tebal Demian terangkat ke atas. “Aneh? Aku aneh? Aneh darimananya, yah? Ayah jangan bercanda.” “Ayah tidak bercanda, Dem! Ayah itu serius!” Nada bicara Raharja mulai meninggi. “Kamu tau kenapa ayah mengatakan kamu aneh? Otak kamu itu yang aneh!” Demian terhenyak mendapati nada suara Demian yang tiba-tiba meninggi. “Maksud ayah apa sih?” Raharja menghela nafas panjang, mencoba menstabilkan emosi yang rasanya sudah sampai di ubun-ubun. “Begini Dem, tadi pagi Zara datang ke rumah dan bercerita pada ibumu kalau kamu berniat untuk menikah lagi. Bahkan rencana pernikahan itu akan dilaksanakan dalam hitungan minggu. Pertanyaan ayah, benarkah yang diceritakan oleh Zara? Benarkah kalau kamu akan menikah lagi?” Demian menelan salivanya mendengar itu. Rupanya Zara bertindak dengan sangat cepat. Wanita itu sudah menemui orangtuanya dan menceritakan semuanya. Padahal, dia berencana untuk menyembunyikan pernikahan ini dari orangtuanya. Tapi jika keadaannya sudah begini, apa lagi yang harus dia sembunyikan? “Iya, ayah. Aku berniat untuk menikah lagi.” Mendengar itu, rahang Raharja langsung mengencang. Dia benar-benar merasa marah pada Demian. “Apa yang merasuki pikiranmu, Dem?! Kenapa kamu bisa berpikir untuk menikah lagi?!” Demian menatap ayahnya lekat. “Ayah, aku laki-laki dan aku seorang manager. Itu artinya aku laki-laki mampu dan agama kita memperbolehkan laki-laki menikahi lebih dari satu wanita. Jadi apa salahnya jika aku menikah lagi? Toh, aku akan tetap menyayangi Zara.” “Itu pikiran sesat! Baiknya kamu pahami dulu sebelum berpikir seliar itu! Menikahi lebih dari satu wanita itu tidak semudah yang kamu pahami! Apa kurangnya Zara hingga kamu ingin menikah lagi?! Dia cantik, dia melakukan tugasnya sebagai istri, dia istri yang baik, dan dia bisa memberimu keturunan! Jadi tidak ada alasan yang membuatmu harus menikah lagi!” “Jadi ayah setuju dengan pendapat Zara kalau aku melakukan hal yang salah?!” “Kamu memang salah, Dem! Kamu itu salah!” sahut Raharja. Nada suaranya semakin tinggi. “Mengapa kamu tidak seperti ayah yang menghargai ibu kamu yang menemani dari nol! Ketika ayah Berjaya, tidak sekali pun ayah berpikir untuk menduakan ibu kamu! Saat ayah belum jadi apa-apa, ibu kamu setia menemani dan ketika ayah jaya, ayah pun aku setia kepadanya! Harusnya kamu pun begitu! Ingatlah saat kamu belum jadi manager ada Zara yang setia untukmu, Dem! Ingat itu!” Demian seketika terdiam mendengar apa yang dikatakan ayahnya dengan wajah tidak terima. Mengapa dia harus disamakan dengan ayahnya? Ibunya dan Zara tentu saja berbeda. Lagian, dia berniat untuk adil. Jadi apa yang salah? . . Untuk beberapa saat, suasana hening. Demian terdiam dalam beribu tanya yang lebih mengarah ke pembenaran dirinya, sementara Raharja diam untuk memberi waktu pada Demian untuk berpikir jernih. Hingga akhirnya, keheningan itu terpecah oleh suara Raharja yang sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Demian. "Jadi bagaimana? Apakah kamu mau membatalkan rencana pernikahan kedua kamu?" tanya Raharja dengan suara yang dilembutkan. Tapi ternyata semua nasihat Raharja tidak dapat membuka pikiran Demian. Pria itu ingin mempertahankan rencananya dengan atau tanpa persetujuan kedua orangtuanya. "Maaf ayah, aku tidak akan membatalkan rencana pernikahanku. Aku sudah terlanjur mempersiapkan semuanya. Aku akan menyakiti perasaan Bella dan orangtuanya jika aku membatalkan rencana pernikahan ini." JEGGER!!! Bagai tersambar petir Raharja dan Puspa yang dari tadi diam mendengarkan obrolan di samping suaminya itu, mendengar jawaban Demian. Raharja sampai berdiri dan melangkah cepat ke arah Demian. PLAK! Raharja tidak bisa lagi menahan amarah yang sejak tadi ditahan dan sekarang diletupkan oleh jawaban Demian. Sebuah pukulan, mendarat dengan keras di pipi Demian. "KAMU TIDAK MAU MENYAKITI HATI CALON ISTRI KEDUA KAMU DAN KELUARGANYA, TAPI KAMU TEGA MENYAKITI HATI ISTRI KAMU, ANAK KAMU, DAN HATI KAMI SEBAGAI ORANGTUA KAMU! ORANG MACAM APA KAMU INI?! SEKARANG AYAH BERI PILIHAN, KAMI ATAU MEREKA? KALAU KAMU MEMILIH MEREKA, JANGAN INJAKAN KAKI KAMU LAGI DI RUMAH INI! AYAH SANGAT KECEWA PADAMU!" Mata Demian langsung melebar mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau ayahnya tidak main-main dengan penolakannya. Ayahnya ternyata memiliki pikiran yang sempit seperti Zara. Sementara itu, Puspa langsung mendekati Raharja dan mengusap punggung suaminya tersebut dengan lembut. "Sabar yah, sabar. Nanti jantung ayah kambuh jika ayah tidak bisa mengontrol diri. Tahan emosi ayah dan mencobalah untuk lebih santai." Raharja memegang d**a kanannya yang memang mulai terasa sakit. "Iya, Bu. d**a ayah memang mulai terasa sakit. Mari kita ke kamar dan ambilkan obat ayah." "Iya, ayah. Mari..." Puspa membantu Raharja melangkah meninggalkan tempatnya. Tapi ketika dia melewati Demian, dia menghentikan langkahnya sejenak. Dia menatap Demian sinis. "Sekarang lebih baik kamu pulang, Dem. Kamu renungkan kesalahan kamu. Jika kamu bersikeras mau menikah lagi, maka jangan injakkan kaki kamu lagi di rumah ini. Ini bukan lagi rumahmu, ini bakal jadi rumah Cahaya." Puspa kembali menuntun Raharja menuju kamar. Demian menelan salivanya. Sakit hatinya mendengar perkataan sang ibu. Dia jadi merasa kian tersudut. Zara memang pandai merangkai kata sehingga orangtuanya begitu menentang rencananya. Awas saja nanti jika sudah sampai di rumah. Dia akan memberi pelajaran pada Zara. Demian memiringkan bibirnya yang terasa perih. Dia menyentuh sudut bibirnya dengan jari telunjuk kanannya. Berdarah. "Pantas saja perih. Ayah memukul dengan begitu kuat sehingga bibirku berdarah. Ayah benar-benar payah! Tapi tidak apa, aku tidak akan pernah menyerah dengan keputusanku. Aku akan tetap menikahi Bella. Aku akan mengancam Zara untuk keluar dari rumah jika tidak mau dimadu. Wanita seperti itu sepertinya harus diberi ketegasan agar mengerti dan tidak jadi seorang pembangkang. Di mana-mana, istri itu harus patuh kepada suami," gumam Demian sendiri. Dia kemudian meninggalkan ruang tengah tersebut untuk bermaksud langsung pulang. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD