“Bu-ku Su-si a-da di a-tas me-ja.”
“Betul. Pinter…” seru Zara senang begitu mendapati Zara yang masih duduk di PAUD sudah mulai lancar membaca. Itulah kebahagiaan seorang ibu yang tak terukur oleh apa pun dan tak terungkapkan dengan kata-kata. Meskipun ini adalah hal yang terkesan remeh, tapi melihat buah hati tercinta pandai akan sesuatu hal, pastilah ibu sangat bahagia. Sejenak, permasalahannya dengan Demian terlupakan hanya karena Cahaya.
“Coba sekarang kamu baca kalimat yang ini.” Zara menunjuk kalimat selanjutnya yang ada di baris terakhir.
Cahaya mengangguk penuh percaya diri. “Oke, ma.”
Cahaya lalu menundukkan kepalanya sedikit, mengarah pandangan ke buku, meletakan jari telunjuk di kalimat yang akan dia baca, dan mulai membaca.
“Di me-ja ju-ga a-da tas Su-si dan pen-sil A-di.”
BRAK!
Zara dan Cahaya tersentak kaget mendengar suara pintu kamar yang dibuka dengan keras itu. keduanya menoleh dan mendapati Demian berdiri di ambangnya. Mata pria itu merah dan rahangnya mengencang. Pandangannya lurus pada Zara.
Deg.
Melihat Demian pulang tiba-tiba dengan wajah seperti itu, hati Zara mendetak tak enak. Dia merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Sementara itu, berbeda dengan Zara yang tak enak hati melihat kepulangan Demian, Cahaya justru tampak sumringah. Gadis kecil 4 tahun itu segera berdiri dari duduknya dan berlari memburu Demian. “Papa! Papa! Aku sudah bisa baca! Kata mama aku pinter!”
Cahaya melonjak-lonjak kegirangan ketika mengatakan itu untuk mencari perhatian Demian. Tapi bukannya menanggapi Cahaya, Demian justru bergerak mendekati Zara. Tentu saja itu membuat Cahaya langsung cemberut. Dia sangat kecewa dengan sikap sang papa yang tidak memperdulikannya sedikitpun.
Melihat Demian mendekatinya dengan wajah marah seperti itu, Zara yang semula duduk di atas karpet beludru, langsung berdiri. Dan benar saja dugaannya, Demian langsung menyemprotnya dengan perkataan yang kasar.
“Suruh siapa kamu menceritakan masalah pernikahanku dengan Bella pada ayah dan ibu, hah?!”
Mata Zara melebar mendengar itu. Jadi ini karena pengaduannya. Tapi apa salahnya dia melapor pada orang yang benar? Itu adalah orangtua Demian sendiri.
Zara melirik Cahaya yang masih berdiri di tempatnya dan nampak serius mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Demian.
Zara menoleh pada Demian lagi. “Mas, kita bicara di kamar kita, bukan di sini. Ada Aya, mas.”
“BIARKAN SAJA DIA DENGAR!” Suara Demian tiba-tiba menggelegar penuh nafsu. “BIAR DIA SEKALIAN TAU KALAU DIA BAKAL PUNYA MAMA BARU!”
Cahaya terhenyak mendengar ucapan Demian. Tapi dia tetap terdiam di tempatnya seperti patung.
“Mas ini apa-apaan sih? Istighfar mas! Mas tau perkataan mas tadi menyakiti perasaan Aya!” balas Zara dengan nada yang agak tinggi demi menyeimbangi suara Demian. Dia berharap Demian tidak melanjutkan amarahnya di depan putri mereka.
“Alaah! Jangan sok nasehatin aku! Aya tidak akan tersakiti karena dia akan terus mendapatkan kasih sayangku dan Bella juga akan menyayanginya! Ini sekarang soal kamu!” tunjuk Demian tepat di wajah Zara.
“Apa maksud mas ini soal aku?” Zara tidak terima.
“Ya jelas salah kamu! Jika saja kamu itu bisa menerima pernikahanku nanti dengan Bella dan tidak mengadu kepada kedua orangtuaku, aku tidak akan pulang dengan marah-marah seperti ini! Kamu itu sebagai istri tidak bisa bersyukur ya! Kamu istri pembangkang! Bukannya merestui suami menikah lagi, kamu malah sibuk mau menggugat cerai dan mencari pembelaan pada kedua orangtuaku!”
“Siapa yang mencari pembelaan orangtua mas?!” sanggah Zara. “Maksudku menceritakan ini kepada ayah dan ibu adalah agar mereka bisa menasehati mas sehingga mas tidak jadi menikahi Bella. Dan soal pernikahan mas, sampai kapanku aku tidak akan menerima! Terserah mas mau bilang aku adalah istri pembangkang!"
“Jadi kalau aku tetap menikah dengan Bella, kamu akan tetap menggugat cerai?!”
“Ya, tentu saja. Seperti apa yang aku sampaikan kepada mas kemarin.”
“Kamu itu ternyata terlihat polos di luar tapi hatinya busuk ya! Bisa-bisa kamu berpikir untuk cerai dan melawan kepada suami!"
“Aku tidak sedang melawan, aku sedang mempertahankan harga diriku, mas. Tidak seharusnya mas dengan begitu mudah mengambil keputusan untuk menikah lagi tanpa persetujuanku. Mas tidak menghargai aku sebagai seorang istri dan tidak menghargai kesetiaanku.”
“Lalu nafkah yang selam ini aku berikan kepadamu apa bukan bentuk dari penghargaan aku kepadamu?! Hah?!”
“Itu bukan penghargaan mas! Itu kewajiban mas sebagai seorang suami! Sekali lagi sebagai suami!”
Gigi Demian bergemeretakan mendengar ucapan Zara. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun karena istrinya itu terus menjawab perkataannya. Dia sangat tidak suka itu. Baginya Zara sudah kelewat berani kepadanya. Wanita itu tidak lagi ada rasa segan seorang istri kepada suami.
Plak!
Tanpa bisa ditahan lagi, Demian melayangkan sebuah tamparan ke wajah Zara. Seorang wanita mendapat tamparan sekuat itu dari seorang laki-laki, tentu saja langsung membuat Zara tersungkur ke atas karpet. Dengan wajah hampir menyentuh permukaan karpet.
Melihat mamanya ditampar, Cahaya membekap mulutnya sendiri yang hampir saja menjerit karena syok dengan apa yang Demian lakukan. Tapi bukannya menangis atau mendekati Zara, Cahaya justru berlari keluar kamar untuk melakukan sesuatu yang baru terbersit dalam pikirannya.
Hancur lebur hati Zara mendapat tamparan dari Demian. Dia tidak menyangka selain sudah berubah cara pandang terhadap pernikahan, Demian juga jadi sekasar ini. Tamparan Demian memang meninggalkan rasa perih dan panas di pipinya, tapi yang lebih perih lagi adalah hatinya.
Zara menengadahkan wajahnya pada Demian yang berdiri menjulang di depannya. Setetes bening mengalir bersamaan dengan kalimat yang kemudian menguar dari bibirnya dengan lirih. “Kamu sudah keterlaluan, mas. Kamu tau tidak apa yang sudah kamu lakukan barusan adalah sebuah bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Kamu sudah melakukan KDRT mas.”
Demian menyeringai mendengar itu. Dia lalu membungkuk dan menjambak rambut Zara hingga wanita itu menjerit karena rasa perih yang luar biasa di kulit kepalanya.
“Ini bukan KDRT, tapi ini pelajaran untuk kamu agar menurut pada suami. Sekarang dengarkan aku, kamu harus memilih. Merestui pernikahanku dengan Bella atau silahkan kemu tinggalkan rumah ini.” Demian menunjuk pintu kamar.
Bella menggeleng tegas. “Tidak! Aku tidak akan meninggalkan rumah ini karena masih ada hakku di sini. Ingat, harta yang didapatkan suami ketika sudah menikah, itu adalah hak istri juga. Mas mendapatkan rumah ini setelah kita menikah bukan? Itu artinya, ini rumahku. Karena kita punya anak, ini juga rumah Cahaya. Dan Cahaya adalah anakku. Jadi yang harusnya pergi adalah mas. Aku tidak sudi rumahku ini ditempati oleh calon istri kedua mas itu.”
Meskipun kepalanya perih karena jambakan Demian, Zara tidak takut sedikit pun. Dia harus menyuarakan isi hatinya karena apa yang dikatakannya adalah benar.
Demian kian menggeram mendengar ocehan Zara. Nafsu sudah merajai otaknya. Demian sudah tidak merasa kasihan lagi ketika dia mendorong kuat tubuh Zara sehingga kepala wanita itu membentur dinding kamar.
BUGH!
“AKH!” jerit Zara kesakitan. Dia merasakan cairan mengalir dari kepalanya hingga menetes ke lantai. Zara menunduk melihat itu. warnanya merah.
Zara mengepalkan jemarinya. Mencoba menahan semua rasa yang bercampur aduk. Sakit hati karena diselingkuhi serta akan diduakan, perih di pipi bekas tamparan, dan kini sakit di kepala karena terbentur dinding. Tapi sedikit pun Zara tidak akan mau mengalah pada Demian. Semua sudah terlanjur terjadi.
Bersambung…