Dengan agak sempoyongan, Zara berdiri. Kepalanya sakit dan terasa agak pusing. Matanya pun mulai berkunang-kunang. Tapi posisi tubuhnya menghadap Demian seolah menantang laki-laki itu.
“Mas sudah benar-benar dibutakan oleh cinta. Hati dan otak mas sudah buta oleh cinta itu. Aku ini istri mas, istri yang sudah mendampingi mas selama lima tahun. Aku mengabdikan hidup dan hati aku buat mas hingga aku rela tidak meneruskan kuliah. Aku juga wanita yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengurus putri mas. Tapi sejak mas jatuh cinta pada wanita lain, semua yang aku lakukan seolah nihil di mata mas. Mas bukan hanya menduakan cintaku, tapi telah melakukan kekerasan kepadaku.”
Demian menyeringai. “Kamu memang pantas menerimanya! Kamu istri pembangkang!”
“Kalau aku yang setia ini adalah istri yang pembangkang, lalu mas yang selingkuh, suami seperti apa? Hah? Suami kurang ajar?”
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat kembali di ke pipi Zara. Kali ini lebih kuat dari tamparan yang tadi. Zara kembali jatuh tersungkur ke atas karpet. Kali ini, daya tahannya sudah menyusut. Dia tidak mampu lagi untuk berdiri.
“Kamu sangat luar biasa, Zara! Kamu bukan lagi Zara yang aku kenal! Sepertinya pelajaran bertubi-tubi tidak mampu menyadarkanmu! Oke, akan menambahnya lagi agar matamu terbuka!”
Demian melepas ikat pinggangnya yang terbuat dari kulit. Dia memegang kepala ikat pinggang itu dengan erat dan membiarkan sisanya menjuntai. Dia mengangkat tangannya yang memegang ikat pinggang itu ke atas dan…
CEPLAK!
“AW!”
CEPLAK!
“AW!”
Demian mencambuk Zara dengan ikat pinggang kulitnya itu. Zara menjerit kesakitan merasakan cambukan itu. Tubuhnya sampai memeluk karpet karena tak kuasa lagi untuk mengangkat diri.
Demian menyeringai puas. “Bagaimana? Apakah pelajaran dariku ini sudah menyadarkanmu?”
Zara menoleh lemah. Matanya sudah sayu dan seperti tak mampu lagi untuk membuka. Rupanya, dia masih belum ingin kalah dari Demian. Pertanyaan Demian dijawabnya.
“Menyadarkan bagaimana? Aku tidak bersalah, jadi kenapa harus sadar? Yang salah itu kamu, mas. Kamulah yang harusnya sadar.”
Bibir Demian berkedut dengan rahang mengencang. Ternyata apa yang sudah dia lakukan, tak membuat wanita itu menyerah.
“Oke, itu artinya mata hati kamu masih belum terbuka. Aku akan terus memberimu pelajaran hingga kamu menyadari kesalahanmu,” ucap Demian lembut tapi bernada kemarahan. Dia mengangkat lagi tangannya ke atas, siap untuk mencambuk. Tapi sebuah suara keras menghentikannya.
“DEMIAN! APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN!”
Demian tersentak kaget dan menoleh. Dia tidak percaya begitu melihat ayah dan ibunya berdiri di pintu masuk.
Tangan Demian turun ke bawah. "Ayah! Ibu! Kenapa kalian bisa ada di sini?”
“Cahaya yang menelpon kami pakai ponsel Zara! Dia menangis memohon pada kami untuk datang dan menolong mamanya! Ternyata yang dikatakan Cahaya benar! Kamu menyiksa Zara! Kamu sudah keterlaluan Demian!”
Dari belakang tubuh Puspa, Cahaya muncul. Wajahnya tampak ketakutan menatap Demian dan tangannya memeluk kaki Puspa dengan erat. Kekagumannya pada sang papa sudah sirna sejak dia melihat kekerasan Demian pada Zara.
Sementara itu, Demian terdiam seperti patung di tempatnya. Dia merasa terpojok saat ini. Dia tidak menyangka kalau Cahaya bisa melakukan itu, yaitu mengadu kepada kakek dan neneknya.
Raharja mendekati Zara yang tergolek tak berdaya di atas karpet beludru. Dia sedih melihat keadaan menantunya yang sudah penuh luka-luka. Wajahnya lebam, kepalanya berdarah, dan tubuhnya mungkin saja sudah lecet-lecet akibat cambukan Demian.
Raharja menyentuh bahu Zara lembut. “Zara, kamu masih mendengar panggilan ayah?”
Zara mengangguk. “Iya, ayah. Aku masih mendengar.”
“Syukurlah. Kalau begitu sekarang kamu ikut ayah. Kita ke rumah sakit. Kita obati semua luka kamu."
Zara tidak bisa menolak ketika tubuhnya di angkat oleh Raharja karena kepala dan seluruh tubuhnya sudah sakit semua. Bahkan dia seperti sadar dan tidak sadar.
Meskipun sudah tua, Raharja sangat kuat. Dia memiliki postur tubuh tinggi besar seperti Demian. Itu sebabnya, dia bisa membopong Zara dengan mudah keluar kamar dengan diikuti Puspa dan Cahaya di belakang. Mereka sudah tidak lagi menyapa Demian dan hanya melewatinya begitu saja. Mereka sudah sangat marah kepada Demian.
Demian mengintip dari jendela kamar ketika kedua orangtua, istri, dan anaknya memasuki mobil. Dia lalu terduduk di tepi tempat tidur dengan nafas yang tidak beraturan. Wajahnya tengadah ke atas seolah menyadari apa yang sudah dilakukannya adalah sebuah kesalahan.
“Kenapa aku bisa sampai menyiksa Zara? Oh, apa yang sudah aku lakukan?”
Demian membuang ikat pinggangnya ke lantai dan menangkupkan kepalanya di kedua tangannya. Dia menyesal, sangat menyesal. Kalau begini, Zara akan semakin mudah untuk menggugat cerai dirinya. Dia tidak yakin bisa melepaskan Zara. Karena Zara itu cantik dan selama ini begitu penurut. Melepaskannya, sama saja membiarkan wanita itu di kelilingi banyak laki-laki.
Dulu saja, dia butuh perjuangan untuk mendapatkan Zara karena memang wanita itu adalah salah satu bunganya kampus. Saingannya pun berat-berat. Banyak orang kaya. Tapi akhirnya, Zara berhasil dia taklukan. Tapi kejadian ini akan membuat Zara semakin yakin untuk menggugat cerainya.
Tidak! Sepertinya dia harus segera meminta maaf. Dia tidak mau kehilangan Zara dan akan mencoba menyakinkan lagi wanita itu kalau pernikahan keduanya tidak akan menyakiti siapapun. Apalagi Zara.
.
.
Sementara itu di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit, Raharja terus saja memaki-maki orang yang tidak ada di dalam mobil tersebut.
“Sudah menjadi iblis si Demian itu! Bagaimana dia bisa tega menyiksa istrinya sendiri sementara dialah yang bersalah! Aku tidak akan tinggal diam! Dia harus diberi pelajaran! Aku akan melaporkannya ke polisi!”
Mendengar kata polisi, Zara yang tergolek lemah di kursi belakang, terhenyak. “Jangan ayah! Jangan buru-buru melakukan itu!”
Meskipun Zara merasa sakit disekujur tubuhnya, dia masih sanggup untuk berbicara meskipun dengan susah payah.
"Apanya yang jangan!" sahut Raharja dengan suara yang tinggi. "Kalau saja Cahaya tidak menelepon dan kami tidak datang, mungkin kamu sudah mati disiksanya!"
"Iya, aku tau itu. Tapi aku tau Mas Demian melakukan itu karena tidak bisa menguasai emosinya, yah. Aku tadi menjawab semua perkataannya."
"Kamu wajar menjawab, karena kamu memang benar! Istri mana yang tidak marah jika suaminya berniat menikah lagi tanpa alasan yang bisa dibenarkan?!"
"Betul, ayah memang betul. Akan tetapi, kasihan Cahaya jika kita sampai melaporkan Mas Demian ke polisi. Dia bisa dipenjara dan Cahaya akan dibilang punya papa penjahat oleh teman-temannya. Jadi lebih baik, kita tangguhkan dulu. Aku masih berharap Mas Demian sadar dengan kesalahannya dan membatalkan pernikahannya dengan wanita itu."
"Ibu rasa yang dikatakan Zara benar," sahut Puspa. "Kita beri dia kesempatan untuk menyadari kesalahannya dan kembali ke dia yang dulu. Bagaimana pun, dia Putra kita. Jadi, berilah dia kesempatan."
"Oke, ayah akan mendengarkan saran kalian. Tapi jangan halangi ayah untuk melakukan tes fisum. Ini adalah bukti bahwa dia pernah melakukan kekerasan pada Zara. Mungkin suatu hari berguna."
Zara dan Puspa tak lagi membantah. Lagian Zara merasakan kepalanya begitu pusing. Dia memilih untuk tidur selama perjalanan menuju ke rumah sakit.
Bersambung...