Aku Menyesal

1192 Words
Keluarga Raharja sudah sampai di rumah sakit. Beberapa perawat IGD menghampiri dan mendekatkan kursi roda ke pintu mobil. Zara pun turun dari dalam mobil dengan pelan-pelan dan kemudian duduk di kursi roda tersebut. Setelahnya, kursi roda yang sudah duduk Zara di atasnya, didorong oleh salah seorang perawat masuk ke dalam IGD. Sementara kedua mertua dan Cahaya menunggu di luar. Seorang dokter wanita, mendekati Zara yang sedang berbaring di tempat tidur perawatan. Matanya menyipit mencoba menandai wajah cantik Zara yang kini terlihat memar kebiru-biruan. “Za-ra…” sapa dokter itu ragu. Mendengar namanya disebut, Zara menoleh dengan wajah sedikit tengadah. Seperti juga sang dokter yang semula menandai wajah Zara, Zara juga demikian. “Annet!” Dokter yang dipanggil Annet itu tersenyum lebar. “Iya, aku Annet. Rupanya kamu masih ingat padaku.” “Mana mungkin aku bisa lupa. Kita dulu selalu bersama bukan?” tanya Zara lirih namun penuh antusias. Annet ini adalah sahabatnya ketika SMA. Dulu mereka selalu bersama-sama. Bahkan Zara sering menginap di rumah Annet karena orangtua Annet sering ke luar negeri. Annet sering di rumah dengan kakaknya saja yang bernama Alvano. Kakaknya Annet mempunyai wajah yang elok seperti Annet, tapi sangat pendiam dan dingin. “Pantas mataku kedutan saja dari kemarin, tenyata mau bertemu dengan sahabat lama,” sahut Annet asal. “Ah, bagaimana dokter sepertimu percaya dengan mitos kedutan?” balas Zara dengan senyum geli. Atmosfer tiba-tiba sunyi. Sebagai seorang dokter, Annet melaksanakan tugasnya untuk mengobati luka Zara terkhusus yang bagian kepala. . . “Kamu bagaimana bisa mendapatkan semua luka-luka ini? Siapa yang melakukannya padamu?” tanya Annet sembari terus mengobati luka Zara. Sesekali Zara meringis menahan perih dan sakit. Zara memandang sekitarnya. Para perawat tengah sibuk menangani pasien lainnya. Kebetulan saja ranjangnya sekarang berada di pojokan sehingga agak jauh dari mereka semua. “Aku… dianiaya suamiku,” jawab Zara lirih. Dia tidak ingin membuat kehebohan. Untuk sementara, biar Annet saja dulu yang tahu meskipun nantinya mungkin perawat di ruangan ini tahu semua. Setidaknya, dia ingin membuat mereka tahu secara perlahan dan tidak mengejutkan. Namun, Annet tentu terkejut. Wanita itu tampak terperangah dengan ucapan Zara. “Bagaimana mungkin wanita sebaik kamu bisa mendapatkan suami seperti itu?” serunya tertahan. “Ceritanya panjang. Dulu dia tidak seperti ini. Tapi semua berubah akhir-akhir ini.” “Apa karena ada perempuan lain?” Meskipun mencoba mencari tahu, Annet tetap terus mengobati Zara. Dia tetap fokus dengan luka-luka Zara. Zara tidak bisa berbohong karena situasinya sekarang sedang dalam penanganan Annet. Wanita itu pun mengangguk lirih. “Ya, dia jatuh cinta pada perempuan lain dan berniat untuk melakukan poligami. Tapi aku tidak setuju. Aku menolak niatnya itu.” Annet menyeringai. “Wanita mana yang mau dipoligami, Zara? Tidak ada. Kalau pun ada, itu karena sesuatu hal. Bisa jadi dia adalah wanita yang tidak bisa melawan suaminya, tidak bisa memberikan keturunan, sakit, atau karena sebab lain. Jika menurutkan kata hati, wanita itu tidak ada yang mau dipoligami. Poligami itu bentuk kekerasan dalam rumah tangga juga yang menyakiti perempuan. Sedangkan kamu itu cantik, sehat, dan memberikan anak.” Zara mengerjapkan matanya. “Suamiku itu sekarang seorang manager. Karena jabatannya itulah, dia merasa mampu untuk menghidupi dua istri.” “Itulah salah satu cobaan laki-laki, yaitu di saat kaya. Karena merasa mampu itulah, dia berpikir untuk memiliki banyak wanita. Kenyataan yang miris. Penolakanmu pada keinginan suamimu sudah benar, Zara. Wanita juga harus tegas. Kamu tidak boleh menyakiti diri kamu sendiri.” Zara tersenyum kecil. Dari dulu Annet adalah pribadi yang baik dan bisa membuat hati adem. Zara tidak menduga bakal bertemu dengan sahabat masa SMAnya ini setelah lama tidak bertemu. Selepas SMA, Zara dan kakaknya ikut pindah ke luar negeri bersama kedua orangtuanya. Zara tidak menyangka Annet akan kembali ke negara ini lagi. “Oya, dua orang tadi… mertuamu ya?” hati-hati Annet menanyakan itu. Bukan tanpa sebab Annet bertanya seperti itu. Annet sudah tahu wajah kedua orangtua Zara. Zara sejak kecil sudah ditinggal oleh ayahnya sehingga hanya tinggal bersama ibunya. Dan ibunya Zara menyusul ayahnya ketika Zara kelas dua SMA. Zara memang malang. Sudah kehilangan kedua orangtuanya dan sekarang dianiaya suaminya. Zara mengangguk. “Ya, dia mertuaku. Aku bersyukur memiliki mertua seperti mereka yang menganggapku seperti anak sendiri. Bahkan dalam hal ini, kedua mertuaku membelaku. Mereka juga menentang keinginan suamiku." Annet tersenyum. Dia lalu fokus mengobati Zara tanpa melontarkan banyak pertanyaan lagi. *** Beberapa jam kemudian, Zara sudah berada di ruang rawat. Annet menyarankan wanita itu untuk menginap selama satu hari demi memastikan tidak ada luka dalam serius di tubuh wanita itu. Terkhusus bagian kepala yang berbenturan dengan dinding. Zara dan kedua mertuanya pun menuruti saran Annet. Mereka meninggalkan Zara di rumah sakit sendirian tanpa mereka karena Puspa harus mengurus Cahaya di rumah dan Raharja tidak nyaman ditinggal berdua dengan menantunya. Annet berjanji bahwa malam ini dia yang akan menjaga Zara karena kebetulan memang sedang bertugas ship malam. *** Jam sudah menunjukkan pukul 22.05. Tapi Zara belum bisa tertidur karena rasa sakit di seluruh tubuhnya. Dia memilih untuk duduk bersandar penyangga tempat tidur sembari melihat sosial media. Tapi tiba-tiba sosial media di layar ponselnya tertutup dan berganti dengan tampilan sebuah panggilan. Panggilan dari Demian. “Dia telpon…” ucap Zara lirih. “Mau apa dia telpon? Apakah mau memaki-maki diriku?” Ponselnya terus bergetar. Zara bimbang antara menerima panggilan telepon itu atau tidak. Di satu sisi, dia sangat marah atas perselingkuhan suaminya dan penganiayaan yang telah terjadi. Tapi di sisi lain, dia masih berharap Demian menyadari kesalahannya. Akhirnya setelah menghela nafas panjang, Zara pun menerima panggilan tersebut. “Halo…” ucap Zara lirih. “Halo, Zara. Kamu dimana sekarang? Apa masih di rumah sakit?” terdengar suara Demian di seberang. “Ya, begitulah. Ada apa?” tanya Zara ketus. “Aku mau meminta maaf atas apa yang sudah aku lakukan tadi kepadamu. Aku benar-benar khilaf. Aku terbawa emosi. Aku menyesal. Aku janji aku tidak akan menganiayamu lagi.” “Oya? Benarkah begitu? Lalu apa mas tidak akan menganiaya hatiku lagi? Apakah mas mau membatalkan rencana pernikahan mas dengan Bella?” Hening untuk beberapa saat. Hingga kemudian terdengar Demian berkata lirih. “Kalau soal itu, aku minta maaf aku tidak bisa, Zara. Keluarga Bella sudah bersiap-siap untuk menyambut hari pernikahan itu. Aku tidak bisa melukai perasaan mereka. Aku harap kamu mau mengerti.” Rahang Zara langsung mengetat. Hatinya panas sekaligus hancur mendengar itu. Demian lebih memperhatikan perasaan Bella dan keluarga gadis itu daripada perasaannya sendiri. “Baiklah, aku mengerti. Silahkan mas menikah dengan dia, tapi bersiap-siap saja menerima panggilan dari pengadilan agama. Aku akan menggugat cerai seperti yang sudah aku rencanakan.” Tegas sekali Zara mengatakan itu. Dia memang masih berharap Demian menyadari kesalahannya dan membatalkan rencananya menikahi Bella. Akan tetapi, dia tidak akan gentar untuk menggugat cerai seandainya Demian bersikukuh dengan keinginannya. “Zar, bisakah kamu tidak punya niat seperti itu? Aku janji akan bersikap adil kok. Aku masih mencintai kamu dan tidak ingin melepaskanmu. Sungguh." “Sudahlah mas, tidak perlu dibahas lagi. Kalau mas bersikukuh untuk tetap menikah lagi, maka aku pun tetap bersikukuh akan menggugat cerai mas!" “Tapi Zar, aku…” Tep. Zara mematikan ponselnya dengan wajah geram. Demian sepertinya memang tidak bisa disadarkan. Pria itu sudah hanyut dalam cinta barunya. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD