Tak urung obrolannya dengan Demian membuat Zara tertunduk sedih. Mau berapa kali pun dia mencoba untuk membuat Demian kembali membuka mata, sepertinya itu tidak akan membuahkan hasil. Jika ditanya tentang hatinya, tentulah sudah hancur lebur tak berbentuk. Pengorbanannya selama ini ternyata tidak dihargai oleh Demian. Begitu mudahnya Demian menduakan cintanya.
Zara menyandarkan kepalanya di penyangga tempat tidur. Rasanya malam ini dia akan sulit tidur. Sakit di hati dan sakit di sekujur tubuhnya yang menjadi pemicunya. Padahal malam kian beranjak larut, suasana rumah sakit terasa sunyi. Pasien yang lain mungkin sudah berpindah ruh ke dunia mimpi.
Klak.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Dari baliknya Annet muncul dengan senyum indah di bibir. Terlihat begitu tulus. Sudah malam begini, dokter itu masih terlihat segar bugar.
“Lho, belum tidur, Zar?” tanya Annet sembari melangkah mendekati tempat tidur Zara.
Zara menegakkan punggungnya. “Belum bisa. Barusan suamiku telpon. Aku jadi semakin tidak mengantuk.”
Annet menyeringai dengan kedua alis yang terangkat ke atas. “Dan kamu masih menerima telpon darinya setelah apa yang dilakukannya?”
“Tidak ada alasan bagiku yang masih berstatus istrinya untuk tidak menerima telpon darinya. Aku masih berharap dia menyadari kesalahannya. Tapi ternyata…” Zara menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. “meskipun dia meminta maaf karena telah menyiksaku, dia tetap akan menikah dengan wanita itu.”
“Lebih baik mulai sekarang kamu tidak berharap apa pun lagi padanya. Itu akan membuatmu lebih bahagia. Lakukan sesuatu yang membuatmu lupa kepadanya.”
Zara menoleh pada Annet. “Contohnya?”
“Bekerja. Keluarlah dari rumahmu yang nyaman dan sibukkan diri dengan hal yang menghasilkan.”
Zara menghela nafas panjang. Saran Annet terlihat menarik, akan tetapi siapa yang akan menerimanya bekerja dan pekerjaan apa yang cocok untuknya yang bukan seorang sarjana.
“Ya, kamu benar, An. Tapi… aku putus kuliah. Siapa yang akan menerimaku bekerja?”
Annet tersenyum lebar dengan kedua tangan masuk ke dalam saku jas dokternya. “Tentu saja ada. Dia akan menerimamu bekerja dengan senang hati.”
Dahi Zara mengerut. “Maksud kamu?”
“Kakakku. Kakakku akan bersedia memberikan pekerjaan padamu di perusahaannya. Dia butuh seorang sekretaris.”
Sejenak Zara terdiam sebelum akhirnya tertawa kecil. “Ngacok kamu, An. Aku bukan sarjana, bagaimana aku bisa menjadi sekretaris.”
“Kamu pasti bisa. Kamu dulu siswi yang pintar bukan?”
“Itu dulu zaman masih sekolah. Kalau sekarang otakku mungkin sudah tumpul karena setiap hari mengurus rumah, anak, dan suami.”
“Pintar dari lahir tidak akan bisa tumpul, Zar. Aku yakin kamu masih pintar seperti dulu.”
“Ya, baiklah, baik. Tapi bagaimana caramu memohon meminta pekerjaan untukku pada kakakmu?” canda Zara bercampur penasaran. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Alvano kakaknya Annet. Zara mengira pria itu pasti sudah menikah dan mempunyai keluarga bahagia. Dia juga yakin Alvano mendapatkan wanita cantik dan anak-anak yang lucu.
“Aku tidak memintanya. Aku hanya menceritakan keadaanmu padanya. Dia yang mengusulkan kamu untuk bekerja di perusahaannya. Katanya, jika kamu memutuskan untuk bercerai dengan suamimu maka kamu tidak akan kelabakan lagi mencari pekerjaan. Kamu pasti butuh uang untuk menjadi seorang single parent. Ingat, kamu tidak boleh lemah menghadapi pria seperti suami kamu itu.”
Zara menghela nafas berat. Wajahnya terlihat sedih. “Jadi Kak Alvano sudah tau keadaanku? Malu juga rasanya orang-orang yang dulu mengenalku kini menyaksikan kehancuranku.”
Annet mengambil duduk di samping Zara dan mengusap pundak wanita itu lembut. “Aku tidak menceritakannya kepada siapa pun selain kepada Kak Alvano. Itu pun karena kebetulan dia tadi mampir ke sini. Dia lupa kalau aku ship malam. Dia berniat untuk menjemputku.”
Zara langsung menoleh pada Annet dengan mata yang melebar. “Jadi Kak Alvano tadi ke sini?”
Annet mengangguk cepat. “Iya, bahkan sekarang pun dia masih di sini. Dia sedang membeli kue untukmu. Katanya dia ingin bertemu denganmu. Kalian sudah lama bukan tidak bertemu?”
Zara langsung mengusap rambutnya panik. “Aduh, tapi aku kacau begini. Penampilanku acak-acakkan dan wajahku memar serta ada perban di kepala.”
Bukan apa-apa. Terlepas Alvano sudah menikah atau belum, dia ingin bertemu dengan kenalan lamanya dalam keadaan yang terlihat baik. Bukan seperti keadaan dirinya sekarang yang kacau balau.
“Namanya orang habis kena musibah, pasti dimaklumi meski acak-acakan. Anggap saja baru kecelakaan. Meski begitu, kamu tetap cantik kok.”
Zara menyiku bahu Annet. “Ah, kamu memang pandai merayu ya.”
Keduanya tertawa renyah.
Klak.
Tiba-tiba pintu kamar rawat terbuka. Tawa kedua wanita itu langsung terhenti dan keduanya langsung menoleh ke arah pintu. Seorang pria tampan, mengenakan setelan jas, dan membawa sebuah bungkusan plastik muncul di baliknya. Dengan senyum yang mengembang begitu manis, pria itu melangkah masuk.
Senyum itu, senyum ciri khas seorang Alvano. Zara masih ingat bagaimana Alvano yang dulu meskipun dingin dan irit bicara, pria itu mempunyai senyum yang teramat manis. Ternyata, Alvano tidak banyak berubah. Malah terlihat lebih tampan dan gagah di mata Zara dibanding dulu saat pria itu masih berstatus mahasiswa. Annet dan Alvano sendiri mempunyai jarak usia 5 tahun.
Untuk membalas senyum Alvano, Zara pun ikut tersenyum. Sejujurnya dia ingin menyembunyikan wajahnya yang lebam dengan bantal atau selimut, tapi Alvano sudah terlanjur melihatnya.
“Aku membawakan red velvet kesukaanmu,” ucap Alvano seraya menaruh plastik di tangannya ke atas nakas. Jawaban itu membuat mata Zara melebar. Dia tidak menyangka Alvano masih ingat dengan kesukaannya.
“Kak Al tidak lupa kalau aku suka red velvet?”
“Tentu saja tidak. Aku selalu ingat apa pun tentangmu,” jawabnya santai. Tapi jawaban itu membuat Zara dan Annet menatap Alvano penuh selidik. Alvano menyadarinya dan langsung meralat jawabannya itu. “Maksudku, apa pun yang berhubungan dengan Annet, aku tidak akan lupa. Karena dulu kamu adalah sahabatnya Annet, maka aku ingat semua tentang kamu.”
“Ooo…” Zara angguk-angguk tanda mengerti. Alvano pun langsung menghela nafas lega karena hampir saja rahasianya selama ini terbongkar oleh kelalaiannya sendiri.
Tiba-tiba Annet berdiri dari duduknya. “Kak, aku bisa minta tolong untuk temani Zara dulu? Aku baru saja dapat pesan dari IGD. Aku harus segera kembali ke sana karena ada pasien yang baru masuk.”
Alvano mengangguk. “Iya, bisa. Tenang saja. Kamu kembali saja ke IGD, biar aku yang menemani Zara. Lagian, aku ingin mengobrol dengannya setelah lama tidak bertemu.”
“Bagus deh kalau begitu. Aku bisa tenang.” Annet menoleh pada Zara. “Zar, kamu dengan Kak Al dulu ya. Nanti kalau urusanku di IGD selesai, aku akan kembali lagi ke sini.”
Zara tersenyum. “Iya, pergilah. Kamu jangan terlalu khawatir, Net. Aku baik-baik saja kok ditinggal sendirian.”
“No, aku tidak mengizinkan kamu sendirian. Karena itu aku meminta Kak Al untuk menemani kamu di sini.” Annet mengalihkan pandang pada Alvano lagi. “Kak, aku ke IGD ya. Zara tolong dijaga dengan baik. Jangan diapa-apain."
Alvano tertawa kecil. "Zara aman dengan kakak. Pergilah!"
Tanpa permisi untuk yang ke-dua kali, Annet langsung melangkah ke luar kamar. Kini yang tinggalah Zara dan Demian di dalam ruangan itu. Zara agak menundukkan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang lebam meskipun apa yang dilakukannya itu tidak berpengaruh. Alvano tetap dapat melihat wajah Zara termasuk lebam di wajah wanita itu.
Sementara itu, Alvano bingung akan memulai obrolan dari mana. Sudah lama tidak bertemu membuatnya kaku. Namun satu hal yang pasti, perasaannya pada Zara tidak pernah berubah sejak dulu hingga sekarang.
Bersambung...