Senyap.
Setelah Annet keluar, atmosfer mendadak senyap. Untuk beberapa saat Zara dan Alvano saling mendiamkan. Keduanya bingung hendak mengatakan apa.
Tanpa sepengetahuan Zara, Alvano sebenarnya lebih gugup. Ini aneh, Alvano tidak pernah gugup ketika menghadapi klien atau pun saingan bisnis. Tapi malam ini, dia malah gugup hanya karena berhadapan dengan Zara.
Sementara itu, Zara diam bukan hanya karena bingung mau mengatakan apa. Tapi juga karena dia malu dengan keadaan dirinya sekarang. Wajahnya mungkin tampak jelek di mata Alvano akibat beberapa kali mendapatkan tamparan Demian.
"Maaf Kak Al, aku.... e... maksudku maaf keadaanku kacau. Wajahku babak belur. Aku pasti terlihat jelek," ucap Zara dengan nada merendah. Tapi ucapannya itu, memancing Alvano untuk berbicara.
"Siapa bilang? Aku justru dari tadi tidak memperhatikan lebam di wajah kamu. Yang aku rasakan ketika melihat kamu adalah..." Alvano mengigit bibir bawahnya. Dia hampir keceplosan lagi.
Zara menyipitkan matanya. "Adalah apa kak?"
Alvano menelan salivanya. Harusnya dia mengendalikan diri mengingat status Zara masih istri orang.
"Aku tadi itu mau bilang kalau aku tidak memperhatikan lebam di wajah kamu. Aku hanya merasa senang ketika bisa bertemu kamu kembali. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu bukan?"
Zara tersenyum lega. Jawaban Alvano memberikan sedikit rasa kepercayaan diri kepadanya. Ah, bukankah sejak dulu Alvano adalah sosok yang hangat meskipun agak dingin?
"Aku juga senang bisa bertemu Kak Al dan Annet lagi. Aku tidak menyangka kalian bisa kembali ke Jakarta. Aku pikir kalian akan terus bersama kedua orangtua kalian di sana."
"Kami sudah dewasa, jadi kami bisa memilih. Kami lahir dan besar di sini, tentu saja kota ini tidak bisa tergantikan." Alvano melirik tepi tempat tidur dan menunjuknya. "Boleh aku duduk di sini?"
Mata Zara melebar mendengar tanya itu, tapi jika menolak tentu merasa tidak enak.
"Oh, boleh kok kak," jawab Zara sembari menggeser duduknya agar tidak bersentuhan dengan Alvano. Bagaimana pun dia adalah seorang istri yang harus menjaga jarak dengan pria lain.
Tanpa sikap canggung, Alvano duduk di tepi tempat tidur itu. Ini adalah bekas Annet duduk. Sebenarnya ada sofa di ruangan ini, tapi terlalu jauh. Tidak nyaman kalau mengobrol dengan posisi berjauhan.
"Oya, tadi apakah Annet mengatakan bahwa aku berniat menawarkan pekerjaan kepadamu?" ucap Alvano kemudian
Zara mengangguk. "Iya. Kalau tidak salah sekretaris ya?"
Alvano mengangguk. "Iya. Betul. Kamu harus bekerja atau keluar rumah agar mempunyai pergaulan dan bisa mandiri. Terlepas kamu single parent nantinya atau... tidak."
Ketika mengatakan kata yang terakhir, ada rasa sesak di d**a Alvano. Bukan tanpa alasan, sudah terlalu lama dia memendam perasaannya. Dulu dia tidak menyatakan perasaannya, bukan karena pengecut. Tapi karena Zara masih sekolah. Masih SMA. Mungkin juga belum pantas untuk berpacaran. Lain halnya dengan dirinya yang sudah dewasa waktu itu. Dia tidak ingin mengganggu konsentrasi Zara dan akhirnya memilih memendamnya. Akan tetapi, di saat dia ingin mengungkapkan perasaannya, dia dan Annet dijemput oleh orangtua. Niat menyatakan perasaan itu pun kandas.
Zara tercenung. Tidak ada yang salah dengan ucapan Alvano. Bagusnya, dia juga bekerja.
"Tapi begitu mendengar ceritamu, lebih baik kamu sudahi rumah tanggamu," lanjut Alvano. "Maaf, suamimu bukan pria yang baik jika sampai melakukan KDRT seperti ini. Bahkan kamu bisa mengadukan ke pihak yang berwajib. Apalagi dia berniat menikah lagi. Wanita sepertimu terlalu berharga diduakan. Terkecuali dia mengurungkan niatnya untuk menikah."
Zara menarik nafas panjang, lalu perlahan menghembuskannya kembali. Hatinya masih terasa sakit. Dan telpon dari Demian tadi membuatnya semakin merasa sakit.
"Ya, aku tau hal itu, kak. Aku berpikir untuk menyudahi rumah tanggaku jika suamiku tetap bersikeras menikahi pacarnya itu. Namun, itu tidak akan aku lakukan jika suamiku membatalkan pernikahan itu. Bagaimana pun, kami sudah mempunyai seorang putri."
Alvano angguk-angguk kecil. "Aku mengerti. Memberi kesempatan pada orang tidaklah salah. Kamu melakukan hal yang benar."
"Lalu Kak Al sendiri bagaimana? Apa Kak Al sendiri sudah menikah?"
Alvano tersenyum kecil setengah menunduk. "Belum. Aku masih sendiri hingga kini. Pernikahan adalah sesuatu yang tidak mudah bagiku."
Dahi Zara mengerut. "Tidak mudah? Maksudnya tidak mudah bagaimana, kak?"
"Tidak mudah karena wanita yang aku sukai, sulit untuk didapatkan. Sedangkan aku, tidak bisa mencintai wanita lain selain dia hingga sekarang. Itu sebabnya, aku belum juga menikah. Aku ingin menikah dengan wanita yang aku cintai."
Zara mendengar cerita Alvano dengan seksama. Rasanya aneh jika ada wanita yang tidak mau dengan seorang Alvano. Dia tampan dan berasal dari keluarga terpandang nan kaya raya.
"Aneh sekali. Harusnya wanita itu mau menerima Kak Al," ucap Zara kemudian.
Alvano hanya membalas ucapan Zara dengan senyuman. Jelas saja wanita itu sulit untuk didapatkan karena dirinya memang tidak pernah mengungkapkan perasaannya.
"Oya, bagaimana dengan tawaranku? Apa kamu mau menjadi sekretarisku?" Alvano mengalihkan pembicaraan. Sebab, membicarakan tentang wanita yang disukainya sangat rumit.
"Aku sebenernya mau, kak. Tapi kakak lihat keadaanku sekarang, wajahku lebam dan kepalaku terluka. Aku tidak mungkin bekerja dengan kepala seperti ini bukan? Aku masih menunggu hasil pemeriksaan. Semoga tidak ada luka dalam."
"Tentu saja bukan untuk besok. Kamu bisa mulai bekerja jika kamu sudah sehat. Dengar-dengar tubuhmu juga terluka ya?"
Zara mengangguk. "Iya, kak. Suamiku mencambukku dengan ikat pinggangnya."
Rahang Alvano langsung mengencang saat itu juga begitu mendengar apa yang diucapkan Zara. Bisa-bisanya seorang pria yang berstatus suami Zara tersebut memperlakukan wanita ini sekejam itu? Membuat jiwa laki-lakinya bergelora. Dia seperti ingin menantang suami sahabat adiknya tersebut untuk berkelahi dan jika pria itu kalah, maka akan dimintanya untuk melepaskan Zara.
Alvano tidak menjamin bisa menahan emosi jika terus mendengar cerita Zara. Menurutnya ini sangat tragis. Alvano pun langsung turun dari tempat tidur.
"Kamu sudah mengantuk belum? Rasanya aku terlalu banyak bicara. Bukankah ini waktu istirahat kamu? Lihat, sudah jam dua belas malam." Alvano memperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Zara melirik jam Alvano. "Iya, sudah larut. Tapi aku kesulitan untuk tidur."
"Kenapa? Apa karena ada yang sakit di tubuhmu? Ada yang harus aku bantu?"
Zara menggeleng pelan. "Tidak ada Kak Al. Kalau begitu, aku akan mencoba untuk tidur."
"Ya, tapi biarkan aku tetap berada di kamar ini sampai kamu terlelap."
Zara yang hendak membaringkan tubuhnya terhenyak mendengar apa yang dikatakan Alvano. "Kak Al tidak pulang?"
"Besok pagi saja bersama Annet." Karena Annet ship malam, maka akan pulang pagi. Begitu maksud Alvano.
"Oh, iya deh." Zara tidak bisa mencegah meskipun rasanya canggung ditunggu semalaman dengan pria yang bukan suaminya. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin mengusir Alvano. Dia tidak ingin menyinggung perasaan pria baik itu. Lagian dia juga percaya Alvano tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.
Zara pun membaringkan tubuhnya perlahan-lahan karena banyak dari bagian tubuhnya yang luka. Alvano membantu dengan menyelimuti tubuhnya.
"Tidur yang nyenyak ya. Semoga mimpi indah," ucap Alvano sebelum akhirnya mengambil duduk di sofa dan mengecek ponselnya.
Zara tersenyum. Perlakuan Alvano padanya membuatnya seperti memiliki seorang kakak. Dari dulu, itulah yang membuat Zara iri pada Annet. Annet mempunyai kakak yang tampan, baik, dan perhatian pada adiknya. Dia jadi ingin mempunyai kakak seperti Alvano. Kakak yang penyayang dan hangat. Sayang sekali dia terlahir sebagai anak tunggal dan sekarang sudah yatim piatu.
Zara mengatupkan matanya. Dia mencoba untuk tidur meski dia merasa ini akan sulit. Penyebabnya bukan hanya karena sakit di tubuhnya, tapi juga hatinya.
Bersambung...