Sayangnya meski sudah satu jam lewat, Zara masih belum bisa tidur. Sekujur tubuhnya merasa sakit sehingga dia merasa agak demam. Selain itu pikirannya kalut akan masa depannya pernikahannya yang kemungkinan besar hancur. Hatinya masih merasa sesak begitu ingat bahwa Demian tetap memilih untuk menikah lagi.
Zara melirik Alvano yang berbaring di sofa. Pria itu tidur dalam keadaan terlentang dengan tangan bersedekap di depan d**a. Tampak tenang. Alvano memang pria yang baik. Sangat baik. Alangkah beruntung wanita yang menikahi pria itu kelak. Batin Zara dalam hati.
Zara menghela nafas panjang. Kali ini dia harus bisa tertidur. Hari sudah larut malam dan dia butuh istirahat.
Zara memejamkan matanya dan mencoba memindahkan ruh ke dunia mimpi.
.
.
Zara berhasil tertidur setelah berusaha dengan susah payah. Namun kini usai ruh Zara berpindah ke dunia mimpi, Alvano justru terbangun dari tidurnya. Zara tidak pernah tahu bahwa Alvano tidak pernah benar-benar tertidur. Pria itu perlahan mendekati Zara dan menatap wanita itu lekat. Betapa dia begitu merindukan gadis itu. Dan cinta yang dia punya pun, tidak hilang bersama waktu yang tertinggal. Lalu untuk pertama kalinya bertemu setelah sekian lama tidak, hatinya marah melihat keadaan Zara.
Marah yang sejak tadi ditahannya hanya demi menjaga perasaan Zara.
Alvano melangkah keluar dari ruang perawatan Zara. Pria itu langsung menelpon seseorang begitu sampai di luar ruangan.
"Rian," ucapnya begitu teleponnya tersambung dengan orang yang ditelponnya.
"Ya tuan," balasan dari seberang.
"Aku punya pekerjaan buatmu."
"Apa itu, Tuan?"
"Menyelidiki seseorang. Aku ingin mendapat kabar tentang orang itu secepatnya."
"Siapa orang itu, Tuan?"
Alvano menyebutkan namanya dan kemungkinan tempat bekerja sesuai dengan cerita Annet. Setelah Rian merasa jelas dengan penjelasan Alvano, obrolan berakhir.
'Kamu harus secepatnya berpisah dengan pria itu, Zara. Aku akan masuk dalam kehidupanmu setelah ini,' gumam Alvano dalam hati.
***
"Dengar ya, Zar, bodoh jika kamu masih mengharapkan suamimu itu. Lihat saja, kamu bukan hanya dikhianati. Tapi kamu juga sudah disiksa. Ini KDRT. Dengan bukti ini, kamu bisa mengurus perceraian kamu dengan mudah." Yesi yolot. Dia sangat geram dengan tingkah suami sahabatnya itu. Sepulang dari kantor, setelah tahu apa yang terjadi dengan Zara, gadis itu menyempatkan diri untuk menjenguk sebentar.
"Aku mengharapkannya kembali demi anak, Yes. Demi Cahaya. Tapi itu pun jika dia mau melepaskan calon istrinya. Jika tidak, maka aku akan melepaskannya," jawab Zara yakin. Sudah kering airmatanya jika membicarakan perihal Demian.
"Baguslah kalau kamu punya pikiran seperti itu." Yesi mengambil tasnya dari atas meja. "Aku tidak bisa lama. Ibu lagi kurang sehat di rumah. Jika besok kamu masih di sini, aku akan mengunjungimu lagi. Kamu mau dibawakan apa?"
Zara menggeleng. "Tidak perlu repot-repot. Mungkin malam ini atau pagi aku pulang. Aku menunggu keputusan dokter Annet. Dia ship malam."
"Kalau begitu, apapun hasilnya nanti hubungi aku ya."
Zara mengangguk.
Yesi mengucapkan kata pamit, Yesi keluar ruang perawatan Zara. Namun tak lama Yessi pergi, datang dua tamu yang membuat panas hati. Demian bersama Bella. Zara tidak habis pikir kenapa Demian membawa wanita itu ke sini. Bukankah ini sangat keterlaluan.
"Sayang bagaimana kabarmu?" Tangan Demian hendak menyentuh wajah Zara ketika wanita itu langsung menepisnya kasar.
"Jangan sentuh aku!" Zara merasa begitu marah dengan Demian yang membawa Bella ke hadapannya.
"Hei, kenapa marah begitu?" tanya Demian dengan dahi mengerut karena bingung.
Zara mendongakan kepala demi mencapai wajah Demian yang berdiri menjulang di hadapannya. Dia menyipitkan mata, menatap Demian penuh kebencian.
"Bisa-bisanya kamu bertanya kenapa aku marah? Apa kamu tidak sadar dengan perbuatanmu, Mas? Kenapa kamu membawa wanita itu kesini?!"
Zara menunjuk Bella yang berdiri di samping Demian, memeluk tangan pria itu seolah tidak mau lepas. Benar-benar wanita tidak tahu malu. Dia tidak sadar kalau sedang memeluk tangan suami orang.
"Aku datang ke sini dengan maksud baik, Zar. Aku ini ingin melihat keadaanmu. Dan Bella setelah tau kamu di rumah sakit, dia langsung ingin menjenguk. Kamu lihat, betapa perhatiannya bukan dia padamu? Harusnya kamu bisa menerimanya sebagai madumu."
Zara mengepalkan jemarinya mendengar penjelasan Demian. Hati Demian memang tidak memiliki mata sehingga tidak bisa melihat luka hati istrinya.
Zara mengalihkan pandang pada Bella dengan tatapan yang sangat tajam, membuat calon istri Demian itu kian merekatkan pelukan di tangan Demian.
"Hei! Kamu yang sedang bucin dengan suami orang. Coba kamu pikirkan sekali lagi untuk menikah dengan Mas Demian. Kamu lihat wajahku yang babak belur ini, ini adalah akibat perbuatannya. Dia menyiksaku hingga aku jadi seperti ini. Memangnya kamu tidak takut akan disiksa juga jika menikah dengannya?"
"Zara stop! Kamu bicara apa, sih? Aku memukulmu karena melawan! Aku tidak akan melakukan itu jika kamu tidak begitu. Apa salahnya sih mengizinkan suami menikah lagi. Toh, aku tetap nafkahin kamu. Banyak kok di luar sana perempuan yang dimadu." sahut Demian.
"Dan kamu membenarkan perbuatanmu itu?" balas Zara cepat.
"Ya karena...."
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu membuat Demian tidak jadi meneruskan perkataannya. Sedetik kemudian pintu terbuka dan memunculkan Annet beserta dua perawatnya.
Annet yang baru masuk itu, memandangi Demian dan Bella penuh selidik. Entah mengapa feelingnya mengatakan bahwa dua manusia itu adalah suami Zara dan calon istri barunya.
"Emm, kalian siapa ya?" tanya Annet tanpa rasa sungkan. Dokter itu melangkah mendekati tempat tidur.
Demian tidak menjawab. Entah mengapa dia merasa tidak enak. Karena tidak mendapatkan jawaban dari Demian, Annetpun bertanya pada Zara.
"Apa dia suami kamu?" tanya Annet tanpa merendahkan suara yang secara otomatis bisa didengar oleh semua orang yang ada di ruangan ini. Zara tidak merasa bersalah melakukan itu.
Dan Zara merasa tidak ada yang harus disembunyikan. Wanita itu pun mengangguk kecil.
Zara menyeringai mendapati jawaban Zara. Dokter itu lalu menoleh dan menyelidik Wanita yang bersama Demian. Cinta memang buta ya. Meskipun Bella cantik, Zara lebih cantik. Demian akan menyesal jika melepaskan istri seperti Zara. Annet yakin itu.
"Maaf ya, Pak Bu. Pasien saya butuh ketenangan. Jadi, lebih baik kalian pulang saja. Kedatangan kalian akan menyulut emosi yang bisa membuat keadaan pasien memburuk. Bisa-bisanya menjenguk istri tapi membawa selingkuhan. Lagian, sebentar lagi Zara akan menjadi mantan istri. Dia mau mengajukan gugatan cerai bukan pada Bapak?"
Demian terhenyak mendengar ucapan Annet. Ternyata Zara tidak main-main dengan ancamannya untuk menggugat cerai dirinya. Buktinya, Dokter yang di matanya asing ini tahu perihal itu. Dari mana lagi kalau bukan dari Zara.
"Jadi kamu memang mau menggugat cerai, Zar?" tanya Demian tegas.
"Tentu saja. Aku sudah bilang bukan kepada Mas, kalau Mas nekat menikah dengan wanita ini, maka aku akan menggugat cerai. Bukankah Mas tetap akan menikahinya bukan? Maka aku pun akan tetap mengugat cerai Mas."
Rahang Demian mengencang. "Pikirkan baik-baik keputusanmu, Zar. Mau makan apa kamu bercerai denganku?"
"Oh, kalau soal itu jangan risau ya, Pak." Annet dengan geramnya menyahut. "Zara sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan terkenal. Malah dia mendapatkan posisi yang lumayan."
"Dokter siapa ikut campur masalahku dengan istriku?!" Demian mulai emosi.
"Kenapa anda bertanya seperti itu? Sudah jelas saya adalah Dokter di rumah sakit. Tapi jika Bapak ingin tahu siapa saya bagi Zara, saya adalah orang yang lebih dulu mengenal Zara sebelum Bapak mengenalnya. Jadi sekarang silahkan anda pergi dan jangan pernah menjenguk Zara lagi jika hanya akan menyakiti hati Zara. Dimana pikiran anda bisa-bisanya datang dengan membawa wanita lain. Anda memang bukan hanya kejam telah menyiksa Zara tapi juga buta hati."
Demian menggeram mendengar ucapan Annet. Tapi dia tidak bisa membalas karena Annet lebih punya kuasa di rumah sakit ini, sementara dirinya tidak. Apalagi Annet tahu bahwa dia yang menyiksa Zara.
Tak mau memperpanjang masalah, Demian langsung menarik Bella ke luar ruangan tanpa kata-kata.
"Huh, akhirnya si buta hati keluar," gumam Annet puas. Dia lalu mengalihkan pandangan pada Zara lagi. "Dengar ya Zar, aku tidak mau kembali lagi dengan suamimu yang b******k itu. Rasanya ingin aku penyet tau. Lihat saja dengan mudahnya dia membawa calon istrinya ke sini. Dikiranya kamu tidak punya perasaan."
Zara tersenyum lalu menggenggam tangan Annet. "Makasih ya kamu sudah marah demi aku."
"Tidak ada orang yang tidak marah dengan kelakuan suami kamu itu," jawab Annet ketus.
Zara kembali tersenyum. Annet terlihat tetap cantik ketika marah.
Bersambung...