"Oya, kedatanganku ke sini adalah untuk memberikan hasil Rontgen dan visum. Hasil Visum ini sangat penting buat kamu mengajukan gugatan cerai pada suami brengsekmu itu."
Annet menoleh pada perawat yang masuk bersamanya. Dengan gerakan bola matanya yang berwarna coklat, Annet meminta perawat itu memberikan dua amplop besar yang dipegang perawat tersebut kepada Zara. Sang perawat mengangguk dan langsung memberikan dua amplop itu pada Zara. Zara menerima dan langsung mengeceknya. Sedetik kemudian keningnya mengerut. Dia tidak mengerti cara membaca hasil Rontgen.
"Jadi hasilnya bagaimana?" tanya Zara kemudian. Wajah cantiknya terlihat penasaran. "Aku... baik-baik saja bukan?"
Annet tersenyum. "Yap, kamu baik-baik saja dan tidak ada luka dalam. Jadi... kamu bisa pulang. Tapi ingat, kalau ada keluhan langsung lapor. Terus ada obat oles dan minum untuk kamu yang harus kamu gunakan rutin kamu konsumsi setiap hari. Satu lagi, jangan putus komunikasi denganku ketika kamu sudah di rumah."
Zara membalas senyum. "Pasti Annet. Itu pasti. Bisa bertemu denganmu saja seperti mendapatkan mimpi yang indah. Aku ingin kembali seperti dulu lagi. Terima kasih sudah menjagaku dari semalam di sini."
"Oh, kalau itu jangan berterima kasih. Mengurus pasien adalah kewajibanku."
"Kalau aku tidak boleh berterima kasih, lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Bagaimana kalau berjanji?"
Kening Zara mengerut. "Berjanji? Maksudnya berjanji apa?"
Annet mendekatkan wajahnya ke telinga Zara. "Berjanji untuk bekerja di perusahaan kakakku. Dengan bekerja, pikiran kamu lebih terbuka dan... bahagia. Annet menarik wajahnya kembali. "Oke?"
Zara tersenyum. "Ya. Aku pun berpikir begitu. Tapi tunggu lebam dan luka di tubuhku sembuh dulu ya."
"No Problem."
Sementara itu di tempat lain, yaitu di sebuah mobil. Demian tampak kesal. Ucapan Annet terus terngiang-ngiang di telinganya.
"Sebenarnya siapa dokter itu? Mengapa dia mengatakan sudah mengenal Zara lebih dulu dariku? Mana bilang Zara sebentar lagi akan bekerja dengan posisi bagus lagi. Memangnya perusahaan mana yang bakal menerima orang yang tidak berijazah perguruan tinggi? Paling banter juga cleaning service atau OB. Mana Zara mau pekerjaan seperti itu?"
Bella yang ada di sebelah Demian menipiskan bibir. "Memangnya kenapa kalau Zara bekerja dengan posisi yang bagus, mas? Bisa saja apa yang dikatakan dokter tadi benar. Mungkin tanpa sepengetahuan mas, Zara mempunyai kenalan seorang pemilik perusahaan. Jadi ijazah tidak penting."
Deg.
Seperti ada yang menyentak hatinya, jantung Demian langsung berdegup kencang. Kalau Zara bekerja bisa dibayangkan akan ada banyak pria yang mengantri untuk istrinya itu seperti waktu Zara masih kuliah. Zara itu adalah tipe wanita yang sangat menarik dan tidak pernah bosan untuk dipandang. Itu sebabnya dulu dia melarang istrinya itu kuliah dan memintanya berhenti. Jika yang dikatakan dokter itu benar, Zara pasti tidak akan ragu untuk mengugat cerai dirinya karena merasa mandiri.
Demian kian gelisah. Dia tidak mau bercerai dengan Zara dan tetap ingin memiliki wanita itu. Tapi buat memenuhi keinginan Zara untuk melepaskan Bella, itu juga berat. Demian ingin memiliki keduanya.
"Mas, mas belum menjawab pertanyaanku." Bella mengingatkan Demian.
Demian menoleh pada Zara sekilas sebelum akhirnya kembali fokus dengan jalanan di depannya. "Aku... tidak suka dia mandiri. Karena jika itu terjadi, dia tidak akan ragu menggugat cerai diriku," jawab Demian kemudian.
Bella menghela nafas berat begitu mendengar jawaban Demian. Memang Demian sudah mengatakan kepadanya bahwa calon suaminya itu sangat mencintai Zara dan tidak ingin kehilangannya. Akan tetapi setiap kali mendengar perasaan Demian pada Zara, tetap saja dia cemburu. Inilah juga yang dirasakan Zara. Hanya saja, cinta telah membutakan hati Bella sehingga tega menyakiti wanita lain.
***
"Terima kasih ayah dan ibu sudah mau menjemput," ucap Zara sembari memeluk Cahaya. Baru semalam tidak bertemu, Cahaya sudah sangat merindukan mamanya tersebut.
"Kamu ini kenapa jadi kaku seperti itu? Kami ini orangtua kamu, bagaimana bisa membiarkan kamu pulang sendirian," jawab Raharja sembari menenteng dua amplop hasil Rontgen dan fysum.
"Iya, Zara. Sudah kewajiban kami untuk mengurusmu. Ayo, kita pulang sekarang."
Pasangan suami istri, menantu, dan cucu itu keluar dari ruang perawatan dimana Zara menginap semalam. Untung saja apa yang dialaminya tidak membuatnya terluka parah dan harus menginap di rumah sakit lebih lama. Meskipun rumah sakitnya bagus dan nyaman, tetaplah nyaman ketika berada di rumah sendiri.
30 menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah Raharja. Puspa langsung mempersilahkan Zara masuk dengan ramah seolah menantunya itu tamu yang istimewa.
"Zara, ibu rasa kamu tidur berdua saja dengan Cahaya ya di kamar tamu. Pakaian kamu juga sudah ibu ambilkan dari rumah Demian berikut beberapa barang milik kamu."
Mata Zara melebar. "Ibu ke sana untuk mengambil barang-barangku?"
"Bukan ibu tapi ayah. Malam setelah mengantarmu ke rumah sakit, ayah langsung kembali ke rumah Demian dan mengambil barang-barang milikmu."
"Lalu bagaimana reaksinya? Dia tidak marah?"
"Dia tidak akan bisa marah jika menghadapi ayahnya. Tadi malam juga sebenarnya Demian mau menjengukmu ke rumah sakit. Tapi ayahmu melarang dengan mengatakan bahwa kamu butuh istirahat. Akhirnya dia tidak jadi pergi meski wajahnya tampak menyesal."
Mendengar itu, Zara terdiam. Ternyata Demian masih memiliki rasa khawatir kepadanya. Tadinya dia mengira bahwa Demian tidak datang ke rumah sakit malam tadi adalah karena tidak perduli.
"Dia datang siangnya Bu...."
Puspa terhenyak. "Oya?"
Zara mengangguk. "Iya. Tapi bersama calon istri barunya."
Mendengar itu, Puspa mengepalkan tangannya. "Benar-benar bikin emosi tuh anak. Bagaimana bisa dia datang menjengukmu dengan membawa calon istrinya yang baru? Dia pikir kamu tidak punya perasaan apa?"
Zara menghela nafas panjang untuk menghilangkan sesak di dadanya. Membicarakan Demian membuatnya seperti hampir kehilangan nafas akibat rasa sebak itu.
"Sudahlah, Bu, aku tidak mau menceritakannya lagi. Aku... mau beristirahat dulu sebentar. Badanku belum fit."
"Ya ya ya, kamu istirahat saja ke kamar. Ibu tau tubuhmu masih sakit-sakit karena cambukan dan pukulan Demian. Pergilah!"
"Terima kasih, Bu." Zara bergerak menuju kamar tamu bersama Cahaya yang menggandeng tangannya.
***
Di sebuah ruangan yang bernuansa maskulin.
"Bagaimana? Jelaskan hasil penyelidikannya. Siapa suami Zara dan dimana tempat kerjanya?"
Rian, assisten pribadi Alvano mengangguk. "Iya, tuan. Akan saya jelaskan. Tapi sebelumnya ini sangat mengejutkan saya. Saya pun hampir tidak percaya dengan apa yang dapatkan."
Alvano menatap pria itu seksama. "Maksud kamu apa ya? Hal apa yang mengejutkanmu?"
Rian menelen salivanya sebelum akhirnya menjawab. "Pria itu adalah... Demian tuan. Salah satu manager di perusahaan ini."
Alvano terhenyak. "Benarkah?"
"Iya, tuan. Bahkan saya mendapat berita kalau Demian akan menikah untuk yang kedua kali. Padahal dia sudah punya istri cantik dan seorang putri yang berusia empat tahun."
Alvano mengencangkan rahangnya. "Aku tidak menyangka kalau di perusahaan kita ada pria seperti itu. Mendengarnya saja aku sudah merasa jijik. Pria yang tidak bisa menghormati perasaan seorang wanita bukanlah pria baik-baik. Aku tidak menyukai orang seperti itu. Sekarang perintahkan seseorang untuk mengawasi dia."
Rian mengangguk. "Baik tuan. Akan saya laksanakan. Apa sekarang saya boleh undur diri?"
"Ya, pergilah."
Rian beranjak dari tempatnya dan meninggalkan ruangan itu.
Alvano menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Miris sekali dia mendengar ini. Selama ini dia mengira Zara menempuh pendidikan di sebuah universitas sehingga tidak berani mengganggu. Dia tidak menyangka Zara putus kuliah dan memilih untuk menikah. Jika tahu begini, dari dulu dia sudah mengungkapkan perasaannya sebelum pria yang bernama Demian itu datang ke kehidupan seorang Zara.
Bersambung....