Istri yang Tak Dipilih
“Kenapa kamu mau?”
Aku tersenyum lemah. “Karena kamu memintanya.”
“Itu ginjalmu.”
“Bukankah sejak awal, tubuhku memang untukmu?”
Dia terdiam. Tatapannya melewati wajahku, lalu menuju perempuan di balik kaca ICU.
“Aku akan menebus semuanya,” katanya lirih.
Aku mengangguk. “Tidak perlu. Aku tidak memberi untuk dibalas.”
“Lalu untuk apa?”
Aku menutup mata saat brankar didorong masuk.
“Supaya kamu hidup tanpa rasa bersalah… meski bukan bersamaku.”
Bertahun kemudian, saat dia mencariku sambil menangis. Aku hanya berkata, “Kamu terlambat. Aku sudah pulang ke diriku sendiri.”
***
Nama suamiku Ethan Blackwood.
Dan sejak hari pertama pernikahan kami, aku tahu kalau aku bukan perempuan yang dia cintai.
Aku berdiri di depan cermin besar kamar pengantin dengan gaun putih yang masih sempurna. Riasan wajahku rapi. Bibirku tersenyum, tapi sorot mata ini kosong.
Gaun ini mahal dengan cincin di jari yang berkilau. Pesta di luar tadi penuh tepuk tangan dan ucapan selamat.
Semua orang menyebutku perempuan paling beruntung hari ini. Mereka tidak tahu bahwa pernikahan ini dibangun di atas kekosongan.
Ethan berdiri di belakangku, membetulkan manset kemejanya. Gerakannya tenang, nyaris terlalu tenang untuk seorang pria yang baru saja menikah.
Ethan tidak gugup tapi juga tidak antusias. Tidak ada tanda bahagia di mata pria yang menikahi perempuan yang dicintai.
Karena dia memang tidak mencintaiku.
Aku yang jatuh cinta padanya.
“Aku akan tidur di sofa malam ini,” katanya datar.
Aku mengangguk, tidak terkejut dan tidak bertanya kenapa.
“Oke,” jawabku pelan.
Seolah itu sudah menjadi kesepakatan tak tertulis sejak awal.
Kami menikah setelah dua tahun berkenalan. Dua tahun cukup lama untuk membuat orang berpikir kami pasangan ideal.
Ethan mapan, cerdas, bertanggung jawab. Tapi dia dingin.
Aku Elena Hart, perempuan biasa yang hidup sederhana dengan hati yang terlalu mudah berharap cinta.
Sejak awal berhubungan, ada satu nama yang selalu hadir di antara kami. Tidak diucapkan keras-keras, tapi selalu terasa.
Lydia Blackwood.
Adik angkat Ethan. Perempuan yang dibawa pulang orang tuanya ke rumah besar keluarga mereka lima belas tahun lalu.
Perempuan yang sakit-sakitan. Perempuan yang selalu membuat Ethan berubah menjadi versi dirinya yang paling lembut.
Versi yang tidak pernah sepenuhnya aku miliki.
Aku tahu tentang Lydia sejak kencan pertama. Ethan mengatakannya dengan jelas.
“Keluarga sangat penting bagiku,” kata Ethan waktu itu. “Terutama Lydia.”
Nada suara Ethan berubah ketika menyebut nama itu. Ekspresi wajahnya terlihat lebih hangat dan hidup.
Aku tidak cemburu saat itu.
Aku hanya berpikir, Ethan adalah lelaki yang baik. Dia mencintai keluarga.
Aku tidak tahu bahwa ada cinta yang tidak pernah berubah bentuk, hanya dikubur lebih dalam.
Malam pertama kami sunyi.
Aku berbaring di ranjang besar sendirian, menatap langit-langit kamar yang terlalu luas untuk satu tubuh.
Dari sofa di ruang duduk, aku bisa mendengar napas Ethan yang teratur. Dia tertidur dengan cepat. Seolah pernikahan ini tidak membawa beban apa pun di pundaknya.
Aku memejamkan mata, mencoba tidur, tapi pikiranku terus memutar satu adegan dari siang tadi.
Di pesta pernikahan, saat semua tamu berdiri memberi tepuk tangan, Ethan tidak menatapku.
Ethan menatap pintu masuk.
Seolah menunggu seseorang.
Dan ketika pintu itu akhirnya terbuka, matanya berubah.
Lydia datang terlambat. Mengenakan gaun biru. Wajahnya pucat dengan tubuh kurus.
Ethan langsung melangkah turun dari panggung, lalu menghampiri dan menahan lengannya dengan cemas.
“Kamu seharusnya istirahat,” kata Ethan pelan. Terlalu pelan untuk seorang adik.
“Aku tidak mau melewatkan hari ini,” jawab Lydia sambil tersenyum lemah.
Hari ini.
Bukan harimu, tapi hari ini.
Aku berdiri beberapa langkah di belakang mereka, menjadi penonton di pernikahanku sendiri.
Saat itu aku mengerti bahwa aku istri yang sah, tapi bukan yang dipilih hatinya.
Pagi pertama sebagai istri Ethan dimulai dengan aroma kopi. Aku bangun lebih awal, mengenakan kemeja panjang, lalu menuju dapur.
Ethan duduk di meja makan, menatap layar ponselnya dengan alis berkerut.
“Kopi?” tanyaku.
“Terima kasih.”
Aku menuangkan kopi ke cangkir. Tanganku nyaris menyentuh tangannya, tapi dia menariknya cepat.
Aku berpura-pura tidak melihat.
“Lydia masuk rumah sakit lagi,” katanya tiba-tiba.
Aku berhenti bergerak. “Kapan?”
“Tadi malam. Setelah pesta.”
Hatiku tenggelam perlahan. “Kenapa kamu tidak ke sana?”
Ethan terdiam sejenak. “Dia tidak mau aku datang. Katanya dia tidak ingin mengganggu malam pertama kita.”
Ada jeda. Sunyi.
Aku tersenyum kecil. “Dia baik.”
Ethan mengangkat wajahnya menatapku. Ada sedikit rasa bersalah di sana, tapi tidak cukup untuk berubah.
“Aku mungkin akan sering ke rumah sakit,” katanya. “Aku harap kamu mengerti.”
Aku mengangguk lagi. Sejak kapan aku tidak mengerti?
Hari-hari setelah pernikahan berjalan seperti rutinitas yang disepakati dua orang dewasa tanpa emosi.
Kami sarapan bersama. Makan malam bersama, tapi tidur terpisah. Bahkan kami bicara seperlunya.
Tidak ada sentuhan yang tidak perlu. Tidak ada ciuman selamat pagi.
Tidak ada pelukan selamat malam.
Setiap kali ponsel Ethan bergetar dan nama Lydia muncul di layar, dia selalu berdiri. Selalu menjawab lalu pergi.
Suatu malam, hujan turun deras. Aku menunggu Ethan pulang. Jam menunjukkan hampir tengah malam ketika pintu akhirnya terbuka.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Bagaimana Lydia?”
“Demamnya turun.” Ethan melepas jasnya. “Dokter bilang dia butuh donor darah lagi. Golongan darahnya langka.”
"Apa?"
"AB."
Aku terdiam lalu menatapnya. “Apa kamu sudah menemukannya?”
Ethan menatapku lama. Terlalu lama.
“Elena…” suaranya turun. “Golongan darahmu sama.”
Aku tersenyum. Refleks. “Kalau itu bisa membantu, tentu.”
Ethan menghela napas, seolah lega. Bukan karena aku tidak keberatan tapi karena masalahnya terselesaikan.
“Terima kasih,” katanya.
Aku ingin bertanya apakah dia khawatir jika aku akan menolak. Namun, aku tidak bertanya. Karena aku tahu jawabannya akan menyakitkan.
Malam itu, saat aku berbaring sendirian lagi, aku akhirnya mengakui satu hal yang sejak awal sudah aku ketahui.
Aku menikahi seorang pria yang hatinya sudah dimiliki perempuan lain.
Aku tahu risikonya.
Aku tahu posisiku, tapi aku tetap melangkah.
Karena bodohnya aku percaya, cinta bisa tumbuh dari kebersamaan.
Karena bodohnya aku berpikir jika kesabaran bisa mengalahkan masa lalu.
Karena aku adalah istri yang tidak dipilih, tapi tetap berharap suatu hari akan dipeluk sepenuh hati.
Di luar kamar, lampu ruang duduk masih menyala.
Ethan belum tidur. Aku tahu, pikirannya masih di rumah sakit. Bersama Lydia.
Dan aku istri sahnya hanya bayangan yang berusaha cukup.