bc

My Secret Love

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
sex
contract marriage
one-night stand
family
love after marriage
friends to lovers
drama
sweet
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Terpaksa menikah karena perjanjian mendiang orang tua, Kanara pada akhirnya harus merasakan sakit hati tak terhingga. Pasalnya, Reno, pemuda yang menikahinya, sama sekali tidak mencintainya. Dia bahkan tega menganggap Nara sama seperti pembantu di rumahnya.

Tapi Nara dalam kesedihannya, berhasil menemukan pelitanya sendiri. Perlahan bangkit dari rasa sakit, dan mulai menemukan pelitanya sendiri.

~Mungkin aku tak akan bisa lepas darimu selamanya, tapi bukan berarti tak bisa kutemukan bahagia dengan caraku.~

-Kanara Sheva

chap-preview
Free preview
Bagian 1: Pernikahan Bangsat
"Sah!" Serentak seluruh yang hadir dalam acara pernikahan itu. Para orang tua tersenyum lega. Pasalnya ucapan ijab qobul harus diulang empat kali karena ke tidak fokusan mempelai laki-laki. Berbeda dengan senyuman para hadirin, kedua mempelai justru tersenyum tipis, kecut. Helaan napas keduanya terlihat berat, pun sorot mata menunjukkan pengingkaran atas janji suci hari itu. Reno Putra Brawijaya, pemuda gagah nan tampan berusia 29tahun, tingginya 179cm, dengan bahu bidang, garis wajah yang tegas dan alis tebal. Dia putra pertama keluarga Brawijaya, pemilik perusahaan yang bergerak di bidang tekstil, furniture, bangunan dan masih banyak lagi. Selain sempurna soal fisik, keuangan dan pendidikannya juga sempurna. Satu-satunya yang tidak sempurna adalah: kisah cintanya. Sedangkan gadis yang dia nikahi adalah, Kanara Sheva Purnomo, putri dari almarhum Pak Purnomo, sahabat pak Wijaya. Usianya baru menginjak 19tahun, semester 2 kuliah jurusan psikologi, kulitnya putih bersih, dengan mata bulat, pipi yang sedikit chubby, dagu dan bibir mungil, dia cantik secara keseluruhan. Tingginya tidak mencapai 160cm, lebih tepatnya hanya 157cm, mungil. Yup! Pernikahan ini adalah perjanjian antara dua orang sahabat sedari muda dulu. Dan Pak Wijaya merasa harus melaksakan janji itu setelah sahabatnya meninggal. Itu sebabnya senyuman kaku yang menghias bibir keduanya, pernikahan tanpa keinginan apa lagi cinta. "Selamat datang di keluarga Brawijaya, Kanara. Di sini, kamu bukanlah orang lain, kamu adalah bagian dari kami, dan akan senantiasa seperti itu selamanya. Sebagaimana betapa baiknya almarhum Purnomo dulu, semoga saya dan seluruh keluarga Brawijaya bisa membalasnya dengan memperlakukanmu sebaik yang kami bisa." Pidato pak Wijaya membuat senyum merekah di bibir semua undangan. Tapi justru membuat kedua mempelai semakin tegang wajahnya. "Terima kasih banyak sudah menerima putri saya sedemikian rupa. Dengan ini saya sangat berharap putri tunggal saya mendapat perhatian yang layak dari keluarga Brawijaya. Juga semoga Kanara mampu menjadi menantu yang baik, serta menjadi istri terbaik pula untuk Reno." Sambut bu Arini, ibunda Kanara dengan tulus. Nara meremas gaunnya kencang, hatinya memberontak tapi tidak bisa berkata apa-apa. Sedang Reno bersikap acuh, mengalihkan pandangan, berpura-pura menyapa hadirin. Pelaminan itu, sedang menguji seberapa hebat kedua pemeran utama ber-akting di depan mata para tamu. Tawa menggema, sebagian tertawa tulus, sebagian sebatas basa-basi, dan yang lain menutupi luka hati. ********* "Hanya selama ada orang tua kamu tidur sama saya, besok begitu orang tua pulang, sudah saya siapkan ruangan sendiri." Reno berkata dengan suara datar dan dingin. "Oke," Nara menjawab cuek. Dia sebenarnya takut, dan risih tidur satu kamar dengan lelaki asing. Tapi mau tidak mau, dia harus melakukannya. Dengan memakai celana training dan jaket tebal, Nara berdiri canggung di ujung ruangan. Haruskah dia tidur di samping laki-laki itu? Reno menatap sekilas Kanara. "Tidur aja seperti biasa, saya juga tidak tertarik dengan makhluk kecil sepertimu." Jawabnya dengan intonasi dan wajah tak berdosa. Nara mendelik sebal. "Siapa juga yang berharap kamu tertarik. Dasar tiang bendera berjalan." Dengus Nara kesal. Akhirnya dia memutuskan untuk tidur di sofa pojok ruangan. Sesaat dia membuka kopernya, berusaha mencari sesuatu. "Tolong jangan berisik," suara Reno mendadak rendah dan berat. Nara seketika berusaha pelan-pelan mengambil barang yang dia cari. Setelahnya, Nara merebahkan diri di sofa, mencari posisi nyaman, tapi matanya tetap mengawasi Reno yang sudah terlelap di ranjang. Nara curiga, benarkah Reno sudah tidur? perlahan dia bangkit dari sofa, mendekati Reno dan mengibaskan tangannya di depan lelaki itu. Tak ada respon. Denga hati riang, Nara kembali ke sofa dan merebahkan diri. Tak butuh waktu lama, Nara sudah terlelap tenggelam dalam mimpinya. Reno memicingkan mata sedikit, tersenyum sinis. 'Dasar bocah,' batinnya seraya kembali memejamkan mata. ******* Nara membuka mata, dia menatap ranjang, lelaki itu sudah pergi entah kemana. Dengan riang dia menuju kamar mandi yang tampak terbuka sedikit. "Aaa!!!!" Teriak Nara sekeras mungkin, di dalam kamar mandi, Reno hanya memakai handuk setelah mandi. Dia ikut terkejut dan seketika mendekap mulut Nara. "Diam bego! Nanti ketahuan kita enggak malam pertama," desis Reno. Nara mendelik ke arah Reno dan berusaha melepaskan dekapan. "Dasar om-om m***m, gila, galak!" dengus Nara begitu dekapan terlepas. "Kamu yang enggak ketuk pintu sebelum masuk," Reno tak mau kalah. "Makanya kalau di kamar mandi tuh ditutup, dan pastikan pintu terkunci," Nara menjauh dari tubuh telanjang Reno. Pipi Nara memerah sempurna ketika melihat badan Reno dengan jelas, lalu seketika menutup mata. "Pake baju gih! minggir!" Nara panik sendiri. Reno tersenyum sinis, lalu mendekat dan berbisik pada Nara. "Kamu tergoda sama badan saya? Maaf, saya tidak tertarik bocah cebol kerempeng seperti kamu." Nara mau menjawab, tapi dorongan satu tangan Reno sudah cukup membuatnya masuk ke dalam kamar mandi, dan Reno menutup kamar mandi dari luar. "Kerempeng gini gue masih segel! Ori!" Teriak Nara. "Jelas! siapa yang tertarik sama kamu," Reno menjawab enteng. Nara terus mengomel di dalam kamar mandi, sedangkan Reno tidak ambil peduli lagi dengan ocehan gadis itu. Setelah memakai baju dengan rapi, Reno segera turun, memakan sarapan tanpa menunggu Nara datang. "Reno," Pak Wijaya menghampiri putranya di meja makan. "Nara mana?" tanya beliau ketika melihat sang putra menatapnya. "Masih mandi," jawabnya dingin. "Kenapa enggak ditunggu? kalian pengantin baru." Bu Lisa ikut menanyakan sekaligus menegur. "Buru-buru, harus cepat ke kantor, ada klien penting," Reno menjawab acuh tak acuh. Bu Lisa dan Pak Wijaya hanya menggeleng pelan dan menghela napas panjang. Seusai sarapan, lagi-lagi tanpa menunggu Nara, Reno bergegas berangkat ke kantor. Dan tepat ketika mobilnya meninggalkan garasi, Nara menuruni tangga menuju ruang makan. "Nak, maaf ya? Reno memang workholic, kalau soal pekerjaan sama sekali tidak bisa diganggu gugat." Bu Lisa mencoba memberi pengertian pada Nara. "Iya Tante, tidak apa-apa, Nara paham," jawaban manis Nara menimbulkan seulas senyum di bibir Bu Lisa dan Pak Wijaya. 'oh, jadi om-om m***m itu udah berangkat? bagus, deh, aku bisa santai tanpa harus menghadapi wajah menyebalkannya,' batin Nara senang. "Kamu masih manggil tante? kaya sama siapa aja, ini sudah jadi mama kamu, loh," goda Bu Lisa, Nara hanya menunjukkan cengiran manis dan sedikit malu-malu. "Hmmmm, lain kali jangan panggil om sama tante lagi, panggil mama sama papa, okay?" Pak Wijaya menyambung. "Ok Om, eh Pa, hehe," Nara kembali tersenyum lebar. Sedangkan mertuanya tertawa lepas melihat Nara yang tampak menggemaskan. "Oh iya, setelah sarapan ini, kami akan pulang ke rumah. Dan mungkin hanya hari minggu saja kami bisa berkunjung kesini. Kamu boleh bawa teman atau siapa saja ke rumah ini, boleh ngapain saja, bebas, ya?" Bu Lisa memberi tahu Nara. "Baik, Ma. Nara sudah biasa di rumah sendirian sejak Ayah meninggal, karena Bunda jadi semakin sibuk di kantor. Mama sama Papa enggak perlu khawatir," jawaban Nara membuat hati suami istri di hadapannya trenyuh. Pasalnya mereka sangat tau betapa dekat Nara dengan almarhum ayahnya. "Iya kami tahu, kamu yang sabar, ya? Dan ini rekening pribadi kamu, uang bulanan dari Papa sama Mama boleh kamu gunakan apa saja. Nanti yang dari Reno ada lagi." Pak Wijaya memberikan sebuah kartu atm pada Nara. Dengan lembut Nara menolak. "Tidak perlu, Pa. Ini terlalu berlebihan, Nara cukup sama apa yang sudah dikasih kemarin saja, Pa." Pak Wijaya mengernyit, dalam hati dia kagum dengan didikan Purnomo, bahkan putri tunggalnya saja bisa tumbuh menjadi gadis yang tidak matre. "Ini adalah janji dan rasa tanggung jawab saya, jadi terimalah, Nak." Akhirnya setelah didesak demikian, Nara menerima kartu itu, lalu memasukkan ke dalam dompetnya. Tak lupa ucapan terima kasih dia haturkan. ******** Mobil yang ia kendarai melintas jalan raya, beradu cepat dengan waktu dan impian para manusia yang gila harta. Tinggal sekian ratus meter lagi ia sampai ke kantor, tapi justru ia berbelok ke kanan, masuk ke kawasan elite, terus meluncur tenang dan berhenti di sebuah apartemen yang tampak glamor di tengah bangunan pencakar langit. Reno turun, menyemprotkan parfum, merapikan rambutnya. Lalu melangkah masuk ke apartemen itu. Tatapan rindu dsn seringai tipis menghias wajah tampannya. Di sana, di dalam sana, orang yang dia rindu berada.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook