7. Wanita Malang

1290 Words
Ara menatap satu persatu orang yang beranjak meninggalkan rumahnya. Rumah ya? Ara mengelus pondasi bambu untuk memperkuat atap di sampingnya. Perasaannya sekarang campur aduk. Bahkan tadi ia tak berhenti menangis kala ia telah sah menjadi seorang istri. Ara tersenyum tipis saat matanya menatap seorang pria yang kini berjalan menuju ke arahnya setelah mengantar kepergian orang-orang tadi. Air matanya kini kembali jatuh mengaliri pipi. Andrew yang melihat istrinya menangis lagi, merentangkan tangannya dan membawa sang istri dalam pelukannya. Ara pun membalas pelukan suaminya sama erat dengan pelukan yang ia dapat dari suaminya. "Kau menyesal?" Ara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyesal. Aku ... Bahagia," balasnya seraya tersenyum lebar. "Maaf pernikahan kita tidak res--" Sebelum perkataan Andrew berlanjut, Ara lebih dulu memotongnya dengan mencium sekilas bibir Andrew. Ara menjadi blak-blakan sekarang, hanya sekedar menunjukkan rasa cintanya walaupun sedikit pemalu. "Jangan katakan lagi, aku tidak mau mendengarnya. Apapun itu, baik buruknya yang kita lakukan merupakan perbuatan bersama. Jangan menyalahkan dirimu sendiri," jelas Ara sambil mengusap pipi Andrew dengan lembut. "Lagipula ini keinginanku, kau hanya menurutinya." "Aku melakukannya dengan sadar." Tangan Ara sengaja dikalungkan pada leher Andrew. Masih dengan tersenyum, Ara sama sekali tidak mengalihkan pandangannya. "Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan. Kita akan menikah dengan benar suatu hari nanti." Andrew tahu, dirinya memang pengecut. Tidak hanya pengecut tetapi juga egois. Sungguh, sama sekali bukan dirinya. Dirinya yang sekarang terlalu gegabah mengambil keputusan. Orang lain mungkin berpikir, harusnya ia batalkan pernikahan itu dan mengejar restu dengan benar. Ya, pemikiran orang waras pasti begitu, pemikiran yang tentu saja sangat benar, jikalau ia secara berani dan tegas menghadapi sekalipun ada penolakan nantinya. Selain itu, tangisan dan permohonan Ara tak bisa ia tidak memikirkannya. Selalu menghantuinya dan membuatnya memutuskan jalan pintas. Balik lagi, ia terlalu pengecut memutuskan tentang hidupnya sendiri sehingga orang lain memutuskan untuknya. Harusnya dengan berani ia mengakhiri itu. Apapun risikonya harus ia hadapi. Sudah terlanjur begini, risiko yang ia dapati pastinya bakal lebih besar dibanding ia jujur dan mengakhiri semuanya dari awal. Entah kenapa, keberanian itu mendadak hilang. Keberaniannya menghadapi musuh-musuh yang sudah pernah ia habisi seolah lenyap. Sebuah kecupan mendarat di pipi Andrew, membuat pria yang sudah berumur empat puluh tahun lebih itu sadar dari lamunannya. "Jangan katakan itu. Tolong jangan sesali walau perbuatan kita salah dan tidak bisa dibenarkan meskipun kita saling mencintai." Ara menyentuh pipi Andrew. Ia ingin meyakinkan suaminya, bahwa semua akan baik-baik saja, suaminya tidak boleh larut dalam kesedihan. Menurutnya dengan begini, mereka akan mendapat restu dengan mudah suatu hari nanti. Ra hanya berharap, kedua orang tuanya bisa mengerti. "Sayang, aku bahagia sungguh. Terima kasih sudah mewujudkan keinginanku." Senyum Ara mengembang melihat tatapan sendu Andrew serta senyum tipis yang tertuju padanya. "Aku tahu, Paman A kesayanganku, tidak akan meninggalkanku. Paman sudah berjanji untuk selalu ada di sisiku, maka lakukanlah. Sungguh, Paman sama sekali tidak diizinkan pergi dariku walau selangkah pun." Andrew menganggukkan kepalanya. Ia cium kening sosok perempuan yang sudah menjadi istrinya ini. Gila karena cinta, benar adanya. Kini ia menyadari ia telah terjerat dalam cinta anak kecil yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Kata-kata yang dulu ia ucapkan secara ngawur di depan ayah istrinya, telah menjadi kenyataan. Aku menunggu Ara dewasa. Kata-kata itu menjadi bumerang sendiri untuknya. Sesal? Tidak perlu ada yang disesali. Benar, ia bahagia. Tidak ada hal yang bahagia selain bisa memiliki seseorang yang dicintai. Bisa bersamanya dan menghabiskan waktu dengannya. Perihal restu, ia percaya suatu saat nanti ada restu di jalan pernikahannya. Besar kemungkinan tidak akan mudah. Ia hanya perlu menyiapkan diri untuk menghadapi atasannya sekaligus majikannya sekaligus tuannya. Andrean Cudson. Tidak tahu hal ini akan bertahan lama atau tidak, ia berharap Tuhan mengizinkannya bahagia walau hanya sesaat. "Terima kasih, Ara. Kehadiran mu sudah membuatku bahagia." Andrew membawa Ara dalam dekapannya. Kali ini ia peluk dengan lebih erat. Menyiratkan bahwa ia tidak ingin kehilangan gadisnya ini. "Paman, jangan panggil Ara lagi. Aku sekarang bukan orang yang harus Paman layani. Aku sekarang ..." Ara menjeda ucapannya, ada getar dalam nada suaranya, rasa haru melingkupinya, baginya semua ini masih terasa seperti mimpi. " ... istrimu, Paman," tambahnya sembari menahan tangis. "Benar, kau istriku, Ara." Andrew mengecup puncak kepala Ara. "Istriku, aku juga bukan Pamanmu. Orang yang kau anggap Paman ini ... sudah menjadi Suamimu." Tangisan Ara runtuh. "Benar! Kau suamiku!" Seru Ara dengan bahagia walau teredam pelukan dari sang suami yang ia balas dengan pelukan sama eratnya. Jalan mereka salah tapi, mereka bahagia. Tidak ada yang bisa menyalahkan perasaan seseorang. Terkadang rasa cinta hadir tanpa izin. Membelenggu dan bisa melukai diri sendiri. Status, suku, usia atau apapun, tidak bisa menghalangi takdir cinta dua insan yang saling mencintai. Ya, semoga mereka bisa menunjukkan cinta mereka dengan cara yang benar suatu hari nanti hingga semesta turut bahagia bersama mereka. Sementara di tempat lain, usai terjadi kericuhan. Sebuah pernikahan tetap terlaksana. Hanya saja ada perbedaan. Pengantin prianya berbeda dari yang seharusnya. "Bagaimana ini?" gumam seorang wanita yang kedua tangannya digenggam erat oleh seorang pria di sebelahnya. "Semua akan baik-baik saja," balas pria itu mencoba menenangkan. "Kenapa Andrew melakukan ini, Andrean? Kenapa dia pergi di hari pernikahannya?!" gumaman dengan nada geram terdengar dalam setiap kata yang wanita itu ucapkan. "Apa dia mau mengul--" "Marsha, jangan katakan apapun." Marsha menipiskan bibirnya, emosi dalam dirinya masih belum reda. Pernikahan ini ia siapkan dengan sepenuh hati untuk seseorang yang begitu setia kepada keluarganya yang sudah ia anggap keluarga sendiri. Berputar pertanyaan di otaknya, kenapa orang yang ia anggap keluarga itu mengecewakannya? Pergi tanpa mengatakan apapun, hanya pesan singkat tertulis dalam sebuah surat di kamar. Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Aku menghargai kebaikan kalian tapi ini bukan keinginanku. Izinkan aku mengejar kebahagiaanku. Terima kasih untuk semuanya dan maaf sekali lagi terkhusus untuk Nyonya Marsha dan Tuan Andrean. Maaf. "Apa Andrew memiliki wanita lain, Andrean?" pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulut Marsha. "Wanita yang dia cintai?" Andrean menggelengkan kepalanya sambil terus menggenggam erat kedua tangan istrinya. Ia tatap sepasang mata istrinya itu yang kini berkaca menahan tangis. "Aku tidak tahu." "Harusnya dia bilang sehingga kita tidak perlu menjodohkannya dengan orang lain. Pikirkan perasaan wanita itu Andrean? Hatinya pasti hancur, dia terluka!" "Tenangkan dirimu, Marsha. Aku mohon." "Jika aku tahu, aku tidak akan melakukannya. Mereka berdua sama-sama orang kita. Malu mereka malu kita. Andai diminta memihak, tentu saja aku memihak Resi. Wanita itu tidak bersalah. Salahnya dia mencintai pria yang salah, aku mengetahuinya, dan aku mencoba mendekatkan mereka." Tangis Marsha pecah dan Andrean memeluknya. Beruntungnya, mereka sudah berada di luar acara sakral itu. Mereka memilih duduk berdua di luar. "Aku menyesal, Andrean. Aku sungguh menyesal." "Jangan salahkan dirimu, Marsha. Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kita hanya bisa berharap, Resi bisa bahagia dengan pengganti Andrew. Mungkin tidak mudah yang pasti Resi berhak bahagia. Aku sudah berbicara dengan Agil. Dia mengaku mencintai Resi sudah lama. Aku rasa, Resi bersama orang yang tepat dan semoga Agil bisa mengambil hati Resi," jelas Andrean seraya mengelus punggung sang istri. "Aku harap begitu." "Sekarang kita harus pulang. Ara tidak datang. Aku mengkhawatirkannya. Orang rumah tidak bisa dihubungi. Entah dimana anak itu?" "Bagus kalau Ara tidak datang. Dia jadi tidak perlu tahu kebrengsekan Paman tersayangnya." Kekecewaan Marsha terhadap Andrew masih begitu kentara. Ia masih tidak habis pikir saja Andrew bisa berbuat demikian. "Sebelum itu, aku mau meminta maaf pada Resi." Marsha yang akan beranjak dari duduknya, ditahan oleh Andrean. "Ini bukan waktu yang tepat. Kita tunggu kondisinya membaik saja." Marsha paham, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menurut. Maafkan aku, Resi. Sebelum Marsha meninggalkan acara, dalam hatinya ia berucap kata maaf untuk wanita malang di dalam sana. Wanita yang kini menatap kosong acara pernikahannya sendiri. Di dunia ini, tidak ada seorang wanita yang ingin memiliki nasib seperti yang Resi alami. Mungkinkah ini sudah takdirnya atau karena keegoisan manusia saja? Apapun itu, yang sudah terjadi tetap terjadi, sekarang tinggal menjalani dan menerimanya saja. Kau berhak bahagia, Resi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD