Ara tidak menyangka, orang yang sedari tadi berada dalam pikirannya ternyata tengah bersamanya. Bagi Ara, ini serasa mimpi. Takut kepahitan yang ia terima jika kenyataan tidak sesuai harapannya. Benarkah pria itu ada di sini?
"Paman, kau di sini?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Ya."
Mendengar jawaban itu, air mata jatuh mengaliri pipi Ara yang chubby.
"Kau tidak menikah?"
"Aku akan menikah."
Kekecewaan terlihat sangat jelas di wajah Ara. Ya, meskipun pria itu bersamanya di sini, tetap saja pernikahan itu akan terjadi. Mungkin, pria itu berniat menghabiskan waktu bersamanya sebelum perpisahan yang sesungguhnya terjadi.
"Jadi, pertemuan kita hanya sebentar sebelum akhirnya Paman meninggalkanku. Begitu?"
"Paman tidak bisa menjelaskan padamu sekarang. Paman harap, kau bisa diajak kerja sama Ara. Diam dan duduklah di sana dengan tenang," ujar Andrew seraya menatap spion dalam mobil yang mengarah ke kursi belakang tempat di mana Ara duduk di sana.
Ara terlihat tidak berniat menanggapi, perempuan muda itu malah menyandarkan kembali punggungnya pada sandaran kursi. Tatapan matanya pun tak lagi tertuju pada kursi pengemudi. Ara memilih menatap jalanan yang sedari tadi menjadi objek penglihatannya.
Bagi Ara, ini akan menjadi perpisahan yang sesungguhnya. Saat ini ia tengah berpikir bagaimana seharusnya perpisahan ini dilakukan? Haruskah ia membuang perasaannya begitu saja meski tidak mudah juga butuh waktu yang entah sampai kapan untuk benar-benar lupa atau memilih menahan pria itu untuk tetap di sini sehingga bisa menjadi miliknya seorang diri?
Ara tersenyum miris, yang terakhir itu tidak mungkin terjadi. Hanya ada dalam mimpi. Cinta pria yang tengah menyopiri dirinya sekarang bukanlah untuk dirinya. Percuma saja bersikap egois, bisa jadi raga punya tapi, hati? Mustahil dimiliki. Ara merasa iri, betapa beruntungnya wanita yang akan menjadi pendamping seumur hidup pria yang dicintainya ini.
Dunia ini memang adil. Kehidupan seseorang yang terlihat sempurna di luar belum tentu sempurna juga di dalam. Kata orang dia anak yang beruntung, lahir di keluarga kaya, memiliki ibu dan ayah yang mencintainya juga saudara-saudara yang menyayanginya. Semua terasa lengkap dan seakan dijauhkan dari kesedihan dan bahaya. Padahal jika di telisik lebih dalam lagi, tidak ada kehidupan yang sempurna. Dia mungkin beruntung memiliki semua itu tapi, apalah daya ia tak beruntung dalam cinta. Perjalanan cintanya tak semulus perjalanan cinta oran lain. Ara sungguh merasa iri ketika melihat pria dan wanita saling jatuh cinta dengan cinta yang sama besarnya. Mereka pasti selalu diiringi kebahagiaan. Hah, menyebalkan.
Larut dalam kesedihannya tanpa sadar membuat Ara terlelap. Ia tidur dengan nyenyak di kursi belakang. Efek kurang tidur semalam mungkin mempengaruhinya.
Andrew melihat spion tengah, spion yang mengarah di mana Nona mudanya berada. Nona muda? rasanya Andrew ingin tertawa menertawakan dirinya sendiri. Kegilaan ini, ia lakukan secara sadar. Tahu konsekuensi, tahu salah, tapi nekad melakukannya.
Dunia ini terlalu kejam padanya. Dari kecil tidak pernah beruntung. Tidak pernah mendapat apa yang ia mau. Hidupnya diatur tanpa menanyakan keinginannya sendiri. Ia sangat menghargai atasannya. Orang yang telah menariknya dari kerasnya dunia jalanan, menyelamatkannya dari kehidupan suram, menuju ke kehidupan yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Ia bahagia dan bersyukur, hanya saja ia ingin bebas. Keterikatan itu terasa mengikatnya terlalu dalam. Janji setia memang ia ucapkan sebagai bentuk terima kasih. Itu dulu sebelum ia mengenal cinta dan ketertarikan terhadap seorang wanita. Untuk kali ini saja, biarkan ia egois. Terucap maaf tulus dari hati kepada orang-orang yang telah ia kecewakan. Maaf, tekadnya sudah bulat. Ia ingin meraih kebahagiaannya sendiri.
Tujuh jam perjalanan darat Andrew tempuh tanpa lelah. Kini, ia sudah sampai di sebuah rumah panggung sederhana yang terbuat dari bambu yang di kelilingi perkebunan dan rumput yang rimbun. Ini ada di pelosok, minim penduduk bahkan jarak rumah satu dengan yang lainnya masih jauh.
"Kalian sudah menyiapkan semuanya?"
Andrew bicara pada dua orang yang keluar menyambutnya dari dalam rumah.
"Semua sudah beres. Lima belas menit lagi, kalian harus pergi ke tempatnya. Mereka sudah menunggu."
Andrew tidak langsung menanggapi, ia percaya pada koneksi yang ia punya. Ia hanya sedang memperkirakan rumah ini dan lingkungan sekitar ini aman serta nyaman untuk ditinggali.
"Kondisi?"
"Kacau tapi tetap terkendali."
"Aku tahu. Minta semua orang mengawasi."
"Ini tidak akan berlangsung lama," timpal seseorang lagi yang sedari tadi diam.
"Aku tahu, tidak mudah, aku akan membuatnya lama."
"Kau sudah yakin akan keputusanmu. Kita tahu risikonya, kita akan bersamamu apapun kondisinya nanti."
"Kalian tidak akan terlibat."
Meski ragu, kedua orang itu menganggukkan kepala. Terlibat atau tidak, bukan masalah besar. Nyatanya mereka memang terlibat. Risiko apapun nanti memang harus diterima, sebab orang itu tidak bisa dipermainkan begini, apalagi permainan yang melibatkan keluarga, pasti tidak akan tinggal diam. Orang itu, tidak bisa diremehkan.
"Kita harus pergi."
"Tunggu sebentar."
Andrew meminta waktu pada temannya. Ia perlu membangunkan Ara sebelum kedua temannya membawa pergi kendaraan ini.
Dibukanya pintu di mana Ara berada, Andrew langsung disuguhkan dengan cantiknya gadis itu saat sedang tidur. Tersadar akan sesuatu, Andrew tidak ingin terlarut. Ia mengelus pipi Ara agar Ara segera bangun dari tidurnya.
Hanya butuh tiga kali elusan di pipi, Ara mulai mengerjab dan perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat saat matanya terbuka adalah sosok Andrew yang tersenyum padanya.
"Keluar, kita sudah sampai."
Empat kata yang keluar dari mulut Andrew membuat Ara melihat sekitar, memastikan keberadaannya sekarang. Tidak ada apa-apa yang bisa ia lihat. Hanya ada rumah bambu dan tumbuhan hijau.
"Turunlah, kita harus cepat pergi."
Ara melihat uluran tangan di depannya sesaat, entah naluri atau apa ia menerima uluran tangan tersebut sebelum kemudian keluar dari dalam mobil.
"Kalian pergilah."
Kedua pria itu mengangguk. Mereka berdua masuk mobil lalu tancap gas meninggalkan Ara dan Andrew di sana.
"Kita di mana?"
"Aku tidak bisa menjelaskan sekarang. Ayo ikuti aku!"
Andrew menggandeng tangan Ara, mereka berdua berjalan menurun. Ara yang masih kebingungan, mengikuti tanpa banyak bicara.
Setelah sepuluh menit berjalan mereka tiba di sebuah masjid, lebih tepatnya mushola. Di sana sudah ada beberapa orang yang sepertinya tengah menunggu mereka.
"Kita mau apa di sini?" tanya Ara, ia menahan Andrew untuk terus berjalan.
"Melakukan yang kau inginkan," balas Andrew dengan tenang.
"A-apa? apa yang aku inginkan? Bukankah kau harus menikah. Kenapa kita di sini? Kau sungguh membuatku bingung. Paman A, jika kau ingin lepas dariku tidak begini caranya. Kau membawaku ke tempat asing, kemudian meninggalkanku, begitu maumu? Jika itu rencanamu, kau kejam, Paman. Aku bahkan akan berusaha merelakan mu tanpa berpikiran keji begini." Rentetan pertanyaan sekaligus protes keluar dari mulut Ara. Gadis cantik itu, mungkin sudah sadar dari efek bangun tidurnya.
Andrew menghadap Ara tanpa melepaskan genggaman tangannya. Di tatapnya dalam sepasang mata bengkak yang kini menatapnya dengan sendu.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku memang akan menikah. Di sini, sekarang juga."
"Lalu di mana calon pengantin perempuanmu?" Pertanyaan itu keluar ada alasannya, alasannya?karena Ara sama sekali tidak melihat seorang berpakaian pengantin di dalam sana. Ia hanya melihat sekitar lima orang atau tujuh orang laki-laki. Dan ia sama sekali tidak melihat kedua orang tuanya yang lebih dulu datang. "Lepaskan tanganmu juga Paman, aku tidak mau dia salah paham." Ara berusaha melepaskan gegaman tangan Andrew yang begitu erat menggenggamnya. Jari-jari pria itu masuk ke sela-sela jarinya, sulit membuatnya lepas diri.
"Tidak ada yang akan salah paham Ara."
"Maksud, Paman?" Ara berhenti berontak.
"Tidak ada pengantin perempuan lain di sini selain dirimu."
Ara terkejut. "Aku?"
Dengan tersenyum tipis, Andrew mengusap puncak kepala Ara.
"Ya, hari ini kita akan menikah."