Noid 18

1432 Words
Haloo.. Mulai dari part ini dialognya aku buat lebih santai ya. . . Pagi-pagi Reya sudah bangun setelah mencuci muka dan menyikat gigi ia segera berjalan ke dapur. Berniat menyiapkan sarapan untuk Jijji dan Jimmy. Langkahnya terhenti saat melihat Jimmy yang tengah membuat kopi. Pria itu menoleh tersenyum mendapati kekasihnya telah bangun pagi ini. "Mau kopi?" tanya pria itu. Reya mengangguk kemudian berjalan mendekati. Tangan Jimmy terulur begitu Reya semakin dekat dengannya. Setelah mereka bersebelahan pria itu dengan lembut mengecup bibir Reya. Membelai lembut pipi Reya, mengecupnya sekali lagi seraya berbisik jika sang kekasih begitu cantik pagi ini. Reya memukul d**a bidang Jimmy perlahan. "Aish," Jimmy terkekeh, saat itu kopi siap. Pria dengan tatapan sayu itu. menuangkan kopi ke cangkir. "Mau manis?" anyanya. Reya menggeleng. "Jangan terlalu manis. Aku buat sarapan dulu ya. Nanti setelah sarapan, kita antar Jijji pulang." *** Sementara pagi ini di dorm Yunki, Heosok dan Jeon-gu berada di ruang makan. Menanti sarapan yang tengah di buat oleh Minmin dan kedua kembar. "Tae ke mana tumben dia nggak bilang kalau nggak pulang?" tanya Yunki tang hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala kompak. dari Heosok dan Jeon-gu. . "Kenapa mereka pergi nggak bilang-bilang sih?" Gerutu Yunki kesal. "Kalau Namjun Hyung aku tau dia udah ke studio tadi pagi, Seojin Hyung berangkat shooting, Jimmy Hyung mungkin nginap ke rumah Reya nuna," jelas Jeon-gu tanpa ia sadari ada hati yang terluka saat mendengar ke mana Jimmy pergi dan tak pulang malam tadi. Heosok menyenggol bahu Jeon-gu. Bungsu di grup menatap Heosok dengan tatapan bersalah. Ia benar-benar tak ingat perihal perasaan Yunki pada Reya. Sementara apa yang terjadi di dapur? Bongbong menggoreng telur, belakangan mereka senang menggoreng telur atau sosis. Sementara Minmin menyiapkan sup. Bonbon menatap Minmin ia berdiri di belakang gadis itu. Jelas Minmin merasakan hawa aneh dari belakang tubuhnya. Ia kemudian menoleh dan menatap Bonbon yang menatapnya tajam. "Ada apa? Kenapa kaya gitu ngeliatinnya?" tanya Minmin. Bonbon hanya menggeleng. "Eonni, jangan mabuk, jika pada akhirnya melupakan sesuatu yang menurut orang lain penting," ujar Bonbon kemudian tersenyum aneh. Minmin bergidik ngeri melihat anak telur di hadapannya. Ucapan itu terdengar seperti ancaman meski ia tak mengerti apa maksudnya. Selesai memasak mereka menyajikan ke meja. Dan selesai semua segera menyantapnya. Saat semua menyantap sarapan pikiran Minmin melayang entah ke mana. Ia memikirkan ucapan Bonbon. Mencoba mencari tau apa maksud dari squinoid itu. Kemudian .... Uhhuuuuuuuukkkk "Kamu baik-baik aja? Hati-hati Min." tanya Jeon-gu sambil menepuk punggung Minmin khawatir. Minmin mengangguk, Heosok memberikan air minum, Yunki? Ia bahkan tak tau Minmin tersedak. Ia kini tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. "Makannya pelan-pelan Min," ucap Jeon-gu perhatian. Minmin hanya mengangguk. Sementara Hoseok malah terkekeh mengetahui adik sepupunya itu tersedak. Sungguh Minmin malu saat ini. Ia juga mulai mengingat mengapa Jeon-gu kemarin menanyakan kejadian saat ia mabuk. Ternyata itu karena ulahnya sendiri. Minmin berjalan cepat keluar. Ia tak yakin masih bisa menatap Jeon-gu. Bruukkk "Maafkan aku," ucap Nami. Minmin menatap name tag Nami. Di sana tertulis Junghee. Minmin mengangguk lalu baru saja Nami hendak menolong Minmin, Jeon-gu keluar. Ia berjalan cepat menghampiri Minmin, kemudian membantu gadis itu berdiri. "Nggak apa apa kan?" Tanya Jeon-gu. Minmin mengangguk, kemudian berlari meninggalkan tempat itu. Junghee alias Nami, menatap Jeon-gu dengan terkejut. Bagaimana tidak? Ia adalah seorang penggemar BTL. Jeon-gu menatap Nami. "Kamu pegawai baru?" tanta Jeon-gu. "Iya benar," jawab Nami. "Aah begitu. Kena untuk sampai di lantai ini harus punya id khusus. sepertinya kamu salah jalan," jelas Jeon-gu kemudian berlari mengejar Minmin. Nami mengamati dan mengingat kamar tempat Jeon-gu keluar tadi. "Jadi disitu ruangan BTL," gumamnya kemudian bejalan meninggalkan tempat itu. * Jeon-gu mengejar Minmin ia melihat sekelebat bayangan gadis itu berlari menuju atas gedung. Tempat mereka berciuman kala itu. Pria itu berlari menuju atas gedung. Benar saja Minmin ada di sana. Duduk seraya memukuli kepalanya sendiri. Jeon-gu menghela napasnya lalu berjalan mendekat, ia lalu duduk di sebelah Minmin. "Kamu kenapa sih Min? Sakit?" tanyanya khawatir. Minmin menggelengkan kepala. "Aku malu." Jawab Minmin, yang akhirnya mengakui kenapa ia berlari . "Malu kenapa?" tanya Jeon-gu lagi. Minmin menggelengkan kepalanya, lalu menutup wajahnya. Jeon-gu terdiam sejenak memikirkan kemungkinan kenapa gadis itu malu dan berlari menghindarinya seperti itu. Hanya satu kemungkinan. "Kamu inget kejadian di sini pas mabuk?" Minmin mengangguk, lalu bergerak dengan kesal karena kebodohannya sendiri. Jeon-gu tersenyum, ia lalu mengacak rambut Minmin yang malu setengah mati. Bagaimana bisa ia melakukan hal menggemaskan semacam itu? Pria dengan susunan gigi layaknya kelinci itu memegang dagu Minmin, kemudian menaikan wajah gadis di hadapannya. Cuupppp. Tanpa aba-aba Jeon-gu mengecup bibir Minmin. "Aku suka kamu Min," ungkap Jungkook setelah melepas panggutannya. *** Saat ini Seojin dan Minji tengah mempersiapkan diri untuk pengambilan gambar mereka. Sejak tadi sudah beberapa kali gagal karena keduanya yang terlihat canggung. "Ya kita mulai!" perintah sang sutradara. "Semua siap? Kamera! Rolling! Take 4 scene 699! Actionn!!" Adegan dimulai saat adegan saat sang pria tak ingin wanitanya pergi. Minji berjalan cepat, Seojin mengejar gadisnya. Ia lalu menarik sang gadis ke dalam pelukannya. Pelukan Seojin terlihat kaku sekali. Jelas semua yang ada di sana bisa merasakan kecanggungan itu. "CUT!" Teriak sutradara kesal. "Kenapa kaku sekali. Coba lebih mesra. Lebih menggunakan perasaan seolah kalian benar-benar pasangan. Pikirkan pasangan atau orang yang kalian sukai." Sang sutradara coba memberikan masukan agar suasana lebih cair. Seojin dan Minji saling menatap canggung. Ya, bagaimana mereka bisa melakukan itu? Keduanya bukan kekasih. Terlebih, Minji kekasih Namjun sahabat dan orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. Namun, ia mencoba untuk bisa mendalami perannya. Seojin dan Minji saling tatap lalu keduanya mengangguk meyakinkan diri bahwa mereka bisa melakukan dengan baik kali ini. "Baik kita mulai! Semua siap?! Kamera! Rolling! Take 5 scene 699! ACTIONN!!" Adegan dimulai saat Seojin mengejar Minji. Jin memeluk Minji dari belakang. Erat dan intim Minji dan Seojin kali ini lebih mendalami perannya. "Jangan pergi, hmm?" ucap Seojin lirih. Ia kemudian membalik tubuh Minji, menatap manik mata wanita itu lekat. "Aku mohon tetap bersamaku" "Aku tak bisa terus bersamamu." Giliran Minji yang mengutarakan dialognya. Jin menggeleng, kemudian menarik Minji kedalam pelukannya. Lalu memaksa mencium bibir lawan mainnya. "Cut!!! Baguuss!!" Puji sutradara. Seojin mengangguk, ia lalu berjalan cepat meninggalkan Minji. Minji mengerti sekali mengapa jin bersikap demikian. *** Reya dan Jimmy berada di luar rumah Soogi. Jimmy melangkahkan kaki terlebih dahulu. Sementara sang kekasih masih membantu Jijji membenahi bawaannya. Reya membelikan beberapa buku untuk Jijji. Jimmy berjalan mendekati pintu masuk. Ia segera membuka pintu yang ternyata tak terkunci. Ia melihat ke dalam dan tampak sangat berantakan. "Sayang, kamu di situ dulu sama Jijji jangan masuk." Jimmy melarang Reya dan jijji masuk. Ia takut jika di sana mungkin saja ada penjahat. Melihat situasi yang begitu berantakan. "Kenapa Jim?" tanya Reya khawatir. Jimmy tak menjawab hanya menggerakkan tangannya. Mengisyaratkan agar Reya dan jijji tak beranjak. Jimmy berjalan masuk, tempat ini benar-benar berantakan. Dan banyak pakaian bertebaran? Tunggu? Pakaian? "Tae?!" panggil Jimmy setelah melihat celana sahabatnya tergeletak di lantai. Sebenarnya Jimmy hanya menduga, karena melihat lambang Gucci di celana dalam itu. Di dalam kamar keduanya rebah. Perlahan Soogi membuka mata mendengar suara Jimmy. Ia merasakan kepalanya yang sakit lalu merasakan hembusan nafas di kepalanya. Terkejut saat menatap dihadapannya ada wajah Tae. "Sial," gumamnya pelan. ia memerhatikan tubuhnya yang tak mengenakan apapun. Terlebih, ada benda asing yang belum ia keluarkan dari tubuhnya. Ia menarik tubuhnya menjauh. "Astaga!!" Pekik Soogi sambil menutup wajahnya tapi membuka jarak di antara jarinya. Tae perlahan membuka mata. Ia kelelahan karena Soogi benar-benar liar saat mabuk. Intinya ia tak sanggup melawan karena terlanjur menikmatinya. Soogi melilitkan selimutnya ke tubuh. "Apa yang kita lakuin kemarin?" "Apa aku harus jelasin ke kamu Noona?" tanya Taehyung yang kesal. Bagaimana bisa Soogi bertanya itu. Dia yang merenggut kesucian seorang Kim Taetae. Saat itu Jimmy membuka pintu ia terkejut lalu kembali menutu pintu. "Aku akan bawa Jijji keluar. Kalian selesaikan yang harus diselesaikan." "Kamu buang kemana spermma kamu?" tanya Soogi. Taehyung dengan gemetar menunjuk tubuh Soogi. "Kenapa harus di tunjuk coba kalau bisa ngomong?" tnya Soogi kesal. "Di mana?" "Di dalam Noon." "HAH?!!" * Sementara itu Jimmy berjalan ke luar. Ia menatap Reya dan jijji. "Jijji kita jalan-jalan dulu yuk," ajak Jimmy. "Kenapa jalan-jalan Jim?" Tanya Reya bingung. "Ada yang harus Noona Soogi urus," jawab Jimmy sambil berjalan masuk juga menggandeng Jijji masuk ke mobil. Meski masih penasaran Reya tetap menyusul masuk ke dalam mobil. "Apa yang harus diurus?" tanya Reya lagi. "Sesuatu, yang sama kaya kita saat mati lampu." ucap Jimmy sambil tersenyum penuh arti. Reya membulatkan matanya. "Heh, mereka berdua?" Jimmy mengangguk. "Om, rumah Jijji lampu nya rusak ya?" tanya Jijji polos. "Iya Jijji, lampunya lagi dibenerin sama Om Tae. Jadi kita jalan-jalan aja dulu ya?" Jijji hanya mengangguk. Jimmy kemudian menjalankan mobilnya. *** .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD