Love 29

1551 Words
Nami berlari di sebuah lorong gelap. Setiap hari ia diperhatikan dan diikuti oleh para pengawal yang diperintahkan untuk mencari squinoid. Tentu saja ia jadi merasa hidupnya tak tenang. Bahkan hari ini ia terus diikuti dan ditunggu oleh para pengawal sejak ia kuliah sampai bekerja malam ini. Langkah kakinya cepat memasuki lorong-lorong perumahan yang sepi dan sempit. Sementara di belakang ada dua orang laki-laki mengejarnya. Setelah gagal melakukan misi ia ketakutan akan dibunuh orang-orang yang menangkapnya beberapa waktu lalu. Yang harus Nami lakukan kini adalah, agar ia bisa menemukan kembali squisy itu dan harus segera mengembalikan kepada kedua orang yang terus saja mengancam dan mengganggu hidupnya. Namun, tentu saja itu akan menjadi hal yang sulit. PAra squinoid telah berubah menjadi manusia dan juga masuk ke dorm BTL bukanlah hal yang mudah. "Ah, kenapa malah jadi kacau begin sih?" gadis itu mengeluh sambil terus berlari menghindari. *** Yunki telah kembali ke dorm setelah kesehatannya dinyatakan stabil dan kini harus melakukan pengalihan. Sebenarnya, yang lain meminta agar ia lebih baik kembali k rumah agar ia bisa beristirahat dengan baik. hanya saja si pucat itu keras kepala sekali dan memilih untuk kembali ke dorm. Ia memikirkan tentang comeback BTL. Berada di rumah akan membuat ia banyak kehilangan info tentang comeback yang akan mereka lakukan. Dan ia akan cepat memberikan saran atau perbaikan jika tinggal di dorm. Saat ini ia tengah memejamkan matanya untuk beristirahat. ia terbangun cukup pagi sehingga siang ini ia merasa cukup mengantuk. Saat itu pintu terbuka, menunjukkan sosok Reya yang berjalan masuk. Gadis itu membawakan makan siang dan juga beberapa obat yang harus diminum Yunki. Reya berjalan mendekat, ia melihat Yunki yang terpejam lalu meletakan nampan berisi makan siang itu ke atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Reya lalu duduk di samping tempat tidur, ia menepuk pelan bahu Yunki. "Yunki-ya, aku buatin kamu bubur abalon sama obat nih. Ayo bangun makan dulu. Kamu harus minum obat tadi Namjun bilang ke aku." Yunki membuka kedua matanya menatap Reya yang duduk di hadapannya. Ia memerhatikan kalau Reya terlihat pucat, tentu saja itu membuatnya khawatir. "Kamu sakit?" tanyanya kemudian duduk di bantu oleh reya. Sebenarnya pertanyaan yang terlontar dario bibir Yunki membuat Reya heran. Tentu saja karena Reya ingat kalau yunki enggan berbicara dengannya. "Enggak sakit kok." Reya menjawab seraya mengambil mangkuk bubur yang ia buat. Yunki masih memerhatikan Reya, ia jelas begitu khawatir. Apalagi ia tau betul kalau gadis di hadapannya selalu menyembunyikan apa yang ia rasakan jika merasa sakit atau mengalami hal yang sulit. "Rey, bener kamu enggak apa-apa?" Yunki bertanya lagi. Reya menatap ke arah cermin yang berada di sudut dinding menatap dirinya yang memang terlihat pucat. Reya hela napas, kemudian kembali menatap Yunki. "Aku sehat kok. Mungkin ini karena nggak make-up aja. Yaudah, kamu makan dulu." Gadis itu kemudian bergerak menyuapi Yunki. Yunki membuka mulutnya menerima suapan dari Reya. Hatinya sepertinya sudah sedikit melunak. "Eomma, katanya kangen sama kamu." Ucap Yunki tanpa berani menatap Reya. "Aku juga kangen sama Eomma," sahut Reya masih sambil masih menyuapi Yunki. "Aku seneng akhirnya kamu mau ngomong sama aku. Makasih udah mau ngomong lagi kaya gini," kata Reya sambil tersenyum ke arah Yunki. "Hmm, setelah aku pikir— mungkin aku belum bisa nerima ini semua. Cuma aku aku pasti akan belajar menerima. Ya memang akan ada waktunya dimana kita harus menjauh dan mundur. Dan aku nggak akan melawan takdir tuhan." Yunki melirik Reya ia menatap dalam mata gadis itu. Masih ada perasaan yang telah lama ia pendam. Hanya saja kini ini harus mundur perlahan. "Aku senang akhirnya kamu kaya gini. Aku bisa tetap punya teman terbaik," ujar Reya kemudian kembali menyuapi Yunki. Setelah pembicaraan itu tak banyak yang mereka bicarakan. reya hanya menyuapi pria itu yang masih saja menatap karena merasa cemas. Apa yang dikatakan yunki jelas membuat perasaan Reya lebih baik. Gadis itu tak perlu lagi merasa bersalah karena telah menolak Yunki dan lebih memilih Jimmy sebagai kekasihnya. Meski memang seharusnya ia tak merasa bersalah karena pilihannya sendiri. Setelah memastikan Yunki telah selesai makan dan meminum obatnya. Reya memilih berjalan ke luar dari kamar dan saat ia berjalan menuju dapur, Reya berpapasan dengan Soogi dan Jijji yang baru saja datang. Mereka datang ke sana untuk mengantarkan kembali Bongbong yang beberapa hari ini memang menginap di rumah Soogi karena Jiji liburan dan Bongbong menemani Jijji. "Baru datang?" tanya Reya. Soogi menganggukkan kepala. "Tapi, aku enggak lama karena aku emang mau nganterin Bongbong aja," jawab Soogi seraya melirik Bongbong yang kini tengah mengobrol bersama Jijji dan Bonbon ruang tengah. "Ah gitu, aku masak sup ayam kalau kamu atau Jijji mau makan siang dulu?" tawar reya lagi. Soogi gelengkan kepalanya ia tak ingin berlama-lama berada di sana. Wanita itu memerhatikan reya. "Gwencahana?" (Kamu baik-baik saja?) "Nde gwechanayo, waeyo?" (Iya aku baik-baik saja, kenapa?) Tak percaya dnegan apa yang dikatakan Reya, Soogi berjalan mendekat dan memegang kening Reya yang memang tak terasa demam. "Iya, enggak demam." "Belum make-up aja aku" "Ah, jinjjayo? Kaya pucet banget." (Benarkah?) "Hmm," sahut Reya diiringi anggukan. "Aku ke dapur dulu ya Eon, aku mau taruh piring ini." Reya segera berjalan menuju dapur ia meletakkan piring ke mesin pencuci piring kemudian berjalan kembali ke luar. Ia duduk di samping Soogi yang masih duduk di ruang tengah menemani Jijji yang tengah bermain bersama duoB. Soogi memerhatikan Reya, jelas sekali gadis di sebelahnya tak sebaik biasanya. Soogi tau kalau ia tak bisa memaksakan seseorang untuk mengatakan apa yang mereka pikirkan atau rasakan jika tak berkenan. Maka soogi memilih untuk diam. Andai saja Reya tau kalau Soogi juga dalam keadaan yang sama tentu akan lebih mudah baginya untuk buka suara. Reya lalu merebahkan kepalanya di bahu Soogi. Sejujurnya apa yang terjadi buat i a pusing sendiri. Apalagi kehamilan juga menambah keresahan yang ia rasakan. Soogi menepuk-nepuk tangan Reya layaknya seorang kaka kepada sang adik. "Rey, kamu tau kan kalau kamu bisa cerita apapun ke aku?" soogi bertanya coba beri keyakinan kalau ia bersedia menjadi tempat bersandar bagi gadis itu. "Iya, aku tau. Terima kasih banyak Eon. Aku akan cerita kalau kalau ada masalah." *** Sebuah kamar dengan nuansa cream dan peach. Kamar itu di dekorasi dengan sederhana, tapi begitu cantik dilihat. Ruangan yang tak terlalu besar dengan kesan simpel dan elegan. Hanya saja ada yang janggal, beberapa lembar pakaian berserakan di lantai. Pakaian wanita dan laki-laki yang terlihat seolah baru saja dibawa terbang oleh angin yang seolah baru saja meluluh lantahkan pakaian yang mereka kenakan. Di atas tempat tidur, Minji perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah karena apa yang tengah malam ia lakukan bersama sang kekasih. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya. Menatap jam yang menunjukan pukul sembilan pagi. Beruntung hari ini ia tak ada kegiatan apapun dan Minji dengan bebas mengistirahatkan dirinya. Gadis itu menatap ke sisi samping tempat tidur dan tak menemukan Namjun di sana. Ia mengenakan pakaian dengan cepat. Lalu mendengar suara keributan di luar kamar, hal itu membuat Minji segera berjalan ke luar. Ia segera berjalan menuju dapur. Di sana gadis itu melihat kekasih yang tengah membuat sandwich. Bibir pria itu tersenyum menunjukkan lesung pipinya yang membuatnya semakin tampan. "Pagi, aku buat sarapan ini. Dan maaf," ucap Namjun karena ia membuat dapur kekasihnya berantakan. Minji mengangguk lalu bejalan mendekat, "Oke enggak apa-apa," jawab gadis itu ia mengerti kalau kekasihnya itu memang orang yang ceroboh. Namjun melarang kekasihnya mendekat ia malah meminta Minji duduk dengan menggerakkan tangannya pada kekasihnya itu. Minji mengerti, langkahnya terhenti saat ia berada di meja makan lalu segera duduk di sana seraya memerhatikan sang kekasih yang kini tengah sibuk menghias sarapan yang telah ia buat. Namjun coba menghias santapan yang telah ia buat. Ia menghias bagian atas roti dengan saus sambal yang ia buat berbentuk hati dengan sangat cantik. Setelah merasa hasilnya sempurna, pria itu segera berjalan menghampiri wanita yang ia cintai yang kini duduk menunggunya. "Silahkan Nona," ucap namjun mempersilahkan Minji untuk segera menikmati sarapan buatannya. "Terima kasih," ucap Minji lalu menatap sandwich buatan namjun. Minji tersenyum senang meski bentuk love yang dibuat kekasihnya itu terlihat berantakan. Namjun menatap reaksi sang kekasih, ia menggaruk tengkuknya karena merasa canggung dengan sajian yang ia buat. "Jelek ya?" Minji gelengan kepala, baginya yang lebih penting adalah niat dan usaha yan telah Namjun lakukan untuknya. "Boleh aku cobain?" Namjun menggerakkan tangannya, mempersilahkan kekasihnya menyantap makanan yang sudah ia buat. "ternyata membuat sarapan itu lebih sulit dibandingkan buat lagu," keluh pria itu. "Tapi, ini enak kok," ujar Minji tak ingin kekasihnya berkecil hati. Namjun menatap sang kekasih seolah mencoba mencari jawaban apa yang dikatakan Minji adalah sebuah kebenaran? Sang kekasih mengangguk ia meyakinkan namjun kalau sarapan pagi ini enak. Melihat itu Namjun segera mencoba makanan yang ia buat. dan benar saja rasanya cukup enak meski bentuknya tak terlalu bagus. Saat itu Ponsel namjun berdering, ia segera mengambil ponsel dari kantong celananya. Ia membuka pesan dari salah satu staf Bhome. Ia menatap Minji kemudian kembali menatap ponsel. Hal itu tentu saja membuat Minji penasaran dan berjalan mendekati kekasihnya itu. SEOJIN BTL DIKABARKAN BERKENCAN DENGAN AKTRIS PENDATANG BARU YANG MENJADI LAWAN MAINNYA. SEOJIN BTL TERTANGKAP KAMERA BERSAMA MINJI WANG YANG MENJADI LAWAN MAINNYA DI DRAMA TERBARU. SEOJIN BTL BERKENCAN? Seluruh berita di artikel berisi tentang berita tentang dirinya dan Seojin. Padahal sebenarnya yang berada di mobil itu adalah Namjun. Tapi, media terlanjur berspekulasi. Karena Namjun menggunakan mobil yang biasa Seojin pakai saat akan berangkat shooting drama yang mereka bintangi bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD