Love 25

1705 Words
Reya, melajukan mobilnya menuju coffeshop miliknya. Setiap hari gadis itu selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi coffee shop yang ia bangun dengan tabungannya sendiri itu. Sejak tak lagi menjadi trainee ia selalu memikirkan cara untuk bisa memiliki usaha sendiri. Beruntung berkat dirinya yang rajin menabung dari pekerjaannya menjadi penata rias paska keluar dari Bhome akhirnya impiannya itu ia wujudkan dengan membangun sebuah Coffee shop. Semua itu juga karena ia begitu menyukai kopi, salah satu minuman favorit Reya apapun jenisnya. Selama perjalanan Reya tak bisa tenang ia terus memikirkan Yunki setelah mengetahui kalau pria itu tengah terbaring sakit. Meskipun kini Jimmy lah yang menjadi pilihan hatinya, tetap saja sebagai teman Yunki, Reya tetap khawatir. Apalagi sepertinya belakangan Yunki sering sekali sakit. Jujur itu membuat gadis itu semakin cemas. Reya lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Segera menghubungi sang kekasih yang dengan cepat mengangkat panggilan. "Halo, sayang kenapa?" tanya Jimmy ketika ia menerima panggilan. "Gimana keadaan Yunki?" Reya bertanya sambil fokus pada kemudi. "Yunki Hyung baik-baik aja kok, kamu mau ke sini? Kamu dimana sekarang?" "Mau ke kafe, kamu di sana sama siapa sekarang?" "Tadi sebenarnya Tae mau minta tolong Soogi untuk ke sini nemenin aku. Tapi, Soogi sepertinya enggak bisa deh. Soogi harus temenin Ji—" "Ya udah aku ke sana sekarang ya?" Reya memotong jawaban Jimmy. Lalu mengendarai mobilnya untuk segera menuju ke rumah sakit. "Oke, hati-hati ya?" Lalu bagaimana, kisah malam Tae dan Soogi semalam? Semalam TAe benar-benar mengungkapkan kecemasannya. Pria itu benar-benar takut kalau apa yang ia dan Soogi lakukan malam itu membuat Soogi hamil dan ia tak ingin menjadi laki-laki yang lepas dari tanggung jawab. Entah apa yang terjadi pada malam itu di antara keduanya. Yang jelas pagi ini Soogi telah kembali melakukan kegiatannya sebagai seorang ibu. Ia tengah mengantarkan Jijji ke sekolah. Sejak tadi ia menatap kosong pada jalan yang padat. Sesuatu mengusik pikirannya. Wanita itu bahkan tak menyadari kalau sedari tadi buah hatinya menatap dirinya, memerhatikan sang ibu yang tak terlihat seperti biasanya. "Ibu," panggil Jijji. Panggilan dari Jijji membuat Soogi menoleh lalu tersenyum. "Hmm, kenapa sayang?" "Kemarin ibu sama Om Tae jadi diet?" Jijji bertanya dengan polos. Soogi menatap Jijji, mencoba mencerna pertanyaan barusan. "Gimana Nak?" Jijji hela napas sebenarnya ia kesal jika harus mengulangi apa yang ia tanyakan tadi. "Ibu jadi dietnya sama Om Tae?" Soogi berdeham seraya menggaruk pelipis mata kirinya yang bahkan tak terasa gatal. "Hmm, diet ya? Syukur lancar kok. Dan sepertinya Ibu pasti ce[at kurus deh," jawab Soogi kemudian menoleh pada buah hatinya. Andai saja jijji bukan anak kecil tentu saja ia akan curiga dengan sang ibu. Apa arti kata lancar yang dikatakan Soogi? apa semalam mereka mengulang kejadian ranjang binal? Jijii mengangguk, tentu saja ia senang karena sang ibu bisa berdiet dengan bantuan TAe. "Ibu, apa Jijji harus lebih sering lagi nginap di rumah Imo Reya?" tanya Jijji polos. "Jangan!" Soogi menjawab cepat ia bahkan menggelengkan kepalanya dnegan kencang. Jijji membulatkan matanya menatap sang ibu. Apa salahnya sehingga ungkapannya ditanggapi seperti itu? itu yang ada dipikiran Jijji. Sementara kini Soogi tersenyum canggung merasa malu atas refleks yang ia lakukan tadi. "Kenapa ibu teriak?" Jijji bertanya bingung, Soogi hela napas lalu mengusap lembut kepala gadis kecilnya. "Maaf ya Ji. Ibu lagi banyak pikiran. Ibu cuma enggak mau jauh lagi dari Jijji. Ibu kangen kalau Jijji jauh dari ibu." "Hmm," jawab Jijji. Sebenarnya, ia sudah hampir menangis tadi setelah mendengar teriakan dari Soogi. Sekarang, ia mencoba memahami apa yang dipikirkan sang ibu. Meski jelas apa yang ia pikirkan dengan sang ibu adalah hal yang berbeda. *** Profesor Go berkutat di ruangannya. Ia meneliti kembali penemuannya. Ia tak berharap lagi squinoid yang ia ciptakan sebelumnya kali. Ia akan membuat versi terbaru. Meskipun ia kesulitan membuat uraian dan rincian pembanding. Sebagai perbandingan perubahan dan perbaikan squinoid versi baru dan versi lama. Ia mencoba mengolah semua bahan yang ia butuhkan. Yang paling penting adalah DNA dari sosok yang akan ia jadikan squniod buatannya yang terbaru. tentu saja DNA manusia begitu penting dalam penelitian ini. Karena itu adalah bahan utaman untuk membuat squinoid menjadi sosok manusia. Saat ia tengah sibuk dengan segala peralatan laboratorium. Saat itu terdengar pintu do ketuk. "Siapa?" "Aku Choi Nara." "Ah,masuk." Saat itu asistennya nona Choi masuk kedalam sambil membawa sebuah laporan. "Profesor," sapanya seraya berjalan mendekat. Profesor Go yang sebelumnya sedang sibuk kini mengalihkan pandangannya dengan serius menatap ke arah asistennya tersebut. "Apa kamu sudah dapat?" Tanyanya. "Maaf, tapi rambut yang anda bawa tak menyertakan akar ataupun bagian jaringan kulit dari pemilik." ucap Nara pada profesor Go. "Ah sial." Sang profesor memaki kesal. Tentu saja ia harus mengulang kembali mencari bahan yang ia butuhkan untuk melanjutkan risetnya. Dan itu jelas akan memperlambat proses pembuatan Squinoid terbaru, Itulah resiko melakukan pengecekan DNA melalui rambut. Ada kemungkinan gagal jika yang dibawa hanyalah sehelai rambut tanpa alat dan juga jaringan. Dan ia memang terpaksa melakukan itu karena akan sulit untuk tetap menjaga rahasia dari eksperimen yang ia lakukan. Karena tak kan ada yang bisa menjamin orang lain akan tetap diam. Tentu saja akan membahayakan jika rahasia ini diketahui dan bocor. Apalagi ini adalah sebuah eksperimen yang dilakukan di bawah kendali pemerintahan ini bukan hanya akan menggagalkan proyek squinoid, tapi juga akan mengancam nyawanya. "Apa anda tau. Kalau, profesor Sam dari Kanada memerintahkan orang untuk mencari squinoid?" "Apa? Prof Sam?" Nona Choi mendekat, dan memperlihatkan laporan yang ia dapatkan dari mata-mata yang menjaga kerahasian proyek mereka. Sengaja laporan itu diberikan pada Prof Go. Tim tak ingin sang profesor terlalu santai hingga membuat ia lalai yang bisa saja mengakibatkan hal yang fatal. Atau bahkan membuat rancangannya bocor ke tangan orang lain. "Hmm," gumam Prof Go karena merasa ia harus lebih berhati-hati lagi kini. Ini adalah bukti kalau Sam tau bahwa Squinoid miliknya hilang dan tentu saja ia juga harus bergerak lebih cepat untuk menemukan squinoid miliknya yang tak ia ketahui apakah sudah berubah menjadi manusia atau mash berupa Squizy. "Sepertinya, ia masih terobsesi dengan penemuan anda." Profesor Go terdiam sesaat seolah memikirkan sesuatu. "Ia ingin mencari tahu komposisi dan kemungkinan akan membuatnya. Biarkan saja mereka mencari. Mereka tak akan menemukannya. Mereka tak tau kalau squinoid berubah menjadi manusia. Aku sangat yakin kalau squinoid milikku sudah menetas. Mereka tak akan melakukan apapun. KArena tak akan pernah menemukannya." *** Yunki kini masih terbaring dan tertidur. Tadi ia sudah sadar dan kembali memejamkan mata karena mengantuk. Memang dokter juga menyarankan agar si pucat itu harus beristirahat penuh. Di sampingnya masih ada Tae yang duduk seraya memainkan ponselnya. Sebenarnya, tadi si pemilik senyum kotak itu akan berangkat ke studio. Hanya saja karena Soogi tak bisa datang lebih cepat ke rumah sakit jadi ia memilih untuk menemani Yunki terlebih dahulu sampai ada yang datang untuk menemani Yunki. Lagipula, ia bisa melakukan take vokal terakhir jadi tak terlalu masalah baginya. Saat itu pintu terbuka, Tae menoleh lalu tersenyum saat melihat sosok Reya yang berjalan masuk ke dalam. "KAmu sendirian Tae?" tanya Reya. TAe anggukan kepala. "Aku harus take vokal, apa enggak masalah kalau aku berangkat sekarang?" "Iya, aku ke sini supaya kamu bisa ke studio." "Dokter bilang kalau sadar, Hyung harus minum obat yang di sana." Ucap Tae sambil menunjuk obat yang terletak di atas nakas yang berada di samping tempat tidur Yunki. Reya mengangguk mengiyakan pesan dari Tae. tae kemudian berdiri merapikan tas kecil yang ia bawa. Ia menepuk bahu Reya beberapa kali dan segera pamit untuk pergi dari sana. "Aku jalan ya, nitip Hyung." "Oke semoga lancar ya?" Tae mengacungkan ibu jarinya sambil berjalan ke luar. Ketika Tae sudah benar-benar menghilang dari pandangan gadis itu berjalan mendekat Yunki. ia memerhatikan pria yang kini tengah memejamkan matanya itu. Ia memegang kening kemudian merapikan selimut Yunki. Reya tersentak kaget saat tangan Yunki dengan tiba-tiba meraih tangannya yang tengah merapikan selimut. Reya menatap Yunki yang kini memerhatikan dnegan wajah datar. Yunki tak melepaskan genggaman tangannya dan semakin menggenggam dengan erat. "Ngapain kamu ke sini?" tanyanya dingin namun terdengar lemah. Reya tak menjawab ia hanya diam beberapa saat dan memerhatikan Yunki yang terlihat pucat dan lemah. Tentu saja Reya merasa iba dan kasihan melihat keadaan Yunki saat ini. "Kata Tae kamu harus minum obat," uap Reya sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan yunki. "Aku minum obat nanti. Jawab dulu kenapa kamu di sini?" pertanyaan Yunki terdengar seolah ia tak menginginkan Reya berada di ruangan ini. "Aku nemenin kamu sampai nanti ibu datang," jawab Reya berusaha tetap tersenyum pada Yunki. Yunki melepaskan genggaman tangannya. Kemudian kembali memejamkan mata. "Aku mau tidur, aku minum obat nanti kalau ada ibuku datang." "Ayo minum dulu, Tae bilang tadi kalau dokter bilang kamu harus minum obat setelah bangun." bujuk Reya. "Jangan perhatian ke aku, nanti aku nggak bisa lepasin kamu. Aku nggak mau nyakitin Jimmy." Ucap Yunki kembali membuka matanya menatap reya dengan serius kemudian memejamkan matanya. "Aku cuma nemenin di sini sementara. Jangan berpikir terlalu jauh. Aku di sini karena yang lain harus rekaman." Reya mencoba menyahuti ucapan Yunki barusan. Bukankah ini hanya sekedar mengingatkan minum obat? Mengapa Yunki jadi sedikit berlebihan? "Justru hal besar berawal dari yang kecil. Aku kenal kamu, dan aku tau kamu masih ada rasa ke aku. Walaupun sedikit, jadi berhenti sekarang." Yunki memperingatkan Reya, ia kemudian berusaha memiringkan tubuhnya mengalihkan tatapannya dari gadis yang ia sayangi itu. "Aakhh," pekiknya merasakan bagian perutnya yang sakit. Reya bergerak ingin membantu namun mengurungkannya. Dalam hati ia cemas, tapi ucapan yang ia dengar dari Yuni barusan seolah membuta dinding pembatas bagi dirinya untuk memberikan perhatian lebih. "Jangan berpikir lebih,aku begini karena kamu teman aku," jelas Reya. "Kita dulu juga awalnya teman. Kamu sama Jimmy juga teman kan? Hati-hati dengan pertemanan kita nggak tau seberapa jauh perasaan berjalan," ucap yunki masih dengan memejamkan matanya. Reya akhirnya memilih berjalan menjauh dan duduk di sudut kamar rawat. Ia menatap Yunki, entah apa yang ia rasakan kini. Sejujurnya ia kesal dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Yunki yang begitu keras kepala. Hanya saja ia tau dnegan baik kalau si pucat itu memang begitu keras kepala pada kemauannya. Reya hanya menghela napas. Sementara Yunki membuka matanya menatap ke arah pintu masuk. Jauh di dalam hatinya ia merasa senang karena Reya kini berada di sampingnya. Hanya saja apa yang ia lakukan malah bersanding terbalik dengan hatinya. Ia merasa kesal dan ingin membuat Reya agar menjauh karena merasa cemburu dan sakit hati dengan penolakan gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD